HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
180. Diremehkan


__ADS_3

"Kemarilah nona Hana," panggil nyonya Mingguana saat melihat pegawai barunya itu muncul didepan pintu. Hanaria mendekat lalu duduk pada kursi kosong yang ada dihadapan sang majikan barunya.


"Nona Hana, sudah satu minggu ini kau berkerja di Perusahaan ini, perlihatkan padaku, apa yang telah kau fahami mengenai pekerjaanmu, dan apa rencanamu sebagai seorang marketing?" kata nyonya Minģguana. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya, sambil memutar-mutar ballpoint dijarinya.


Hanaria mengambil buku tulisnya lalu membuka catatan tugas yang telah menjadi harga mati untuknya yang telah ditetapkan oleh nyonya Mingguana dihari pertama dirinya berkerja. Ia mulai berbicara, menyampaikan apa yang ia fahami tentang pekerjaan sesuai permintaan nyonya Mingguana.


Untuk beberapa menit berjalan, nyonya Mingguana merasa tidak ada yang istimewa dari apa yang ia dengarkan, karena semua penyampaian Hanaria sama persis dengan apa yang pernah ia jelaskan pada pegawainya itu diawal pemberian tugasnya.


Wanita paruh baya yang berpenampilan modis itu akhirnya tertegun sejenak. Memang benar, apa yang diucapkan Hanaria memang sama persis dengan yang pernah ia ucapkan, seperti ada mesin foto copy saja didalam kepala pegawai barunya itu.


"Lalu, apa rencanamu?" tanya nyonya Mingguana kemudian.


"Bolehkah saya minta ijin untuk menggunakan laptop pribadi saya untuk menunjukan rencana kerja saya Nyonya?" kata Hanaria meminta persetujuan.


"Silahkan," sahut nyonya Mingguana, ia sedikit menggoyang-goyangkan kursi kebesarannya. Pandangannya terus memperhatikan setiap gerakan Hanaria yang mengambil laptop miliknya dari tas yang ia bawa dipunggungnya.


Hanaria meletakan benda pipih lebar miliknya diatas meja nyonya Mingguana. Ia mulai membuka dan menyalakannya, tidak lama, jari-jemarinya mulai menekan-nekan beberapa tombol yang tersedia laptpnya.


Kletak! Kletak! Kletak! Kling!


Suara-suara tombol-tombol pada laptop Hanaria mulai riuh terdengar, seirama dengan jari-jemarinya yang mulai lincah bergerak kesana-kemari diatas keyboard laptopnya.


"Nyonya ini rencana kerja saya," Hanaria menggeser dan membalikan laptopnya menghadap nyonya Mingguna secara sempurna.


"Apa ini?" tanya nyonya Mingguana menatap layar laptop Hanaria.


"Desain dan rencana kerja saya Nyonya," jelas Hanaria singkat.


"Dengan sekilas lihat saja semua orang juga tahu itu desain. Untuk apa kau membuat desain?" nyonya Mingguana memperbaiki posisi duduknya, sehingga tubuhnya duduk tegak dibelakang mejanya, ia menatap Hanaria serius.


"Atau mungkin kau lupa? Sekarang kau berkerja di Perusahaan-ku, Mega Otomotif, menjual product-product otomotif,"


"Lupakan saja pekerjaan ditempat lama-mu nona Hana. Disini kau bukan seorang arsitek seperti di Perusahaan Agatsa Properti Group milik keluarga suami-mu itu, tapi disini kau adalah seorang marketing dan pegawaiku. Apakah sampai disini kau mengerti apa yang aku katakan?" tekan nyonya Mingguana menatap wajah Hanaria.

__ADS_1


"Sangat mengerti Nyonya," jawab Hanaria tegas.


"Mohon berikan saya waktu lima menit untuk memberi penjelasan atas apa yang sudah saya buat ini Nyonya. Anda tidak akan tahu sebelum mendengarnya," kata Hanaria menatap datar pada sang majikan baru.


"Baiklah, saya memberimu waktu lima menit saja, karena setelah ini saya ada pertemuan dengan dewan direksi dan para pemegang saham," sahutnya datar.


"Baik Nyonya, dalam waktu tepat lima menit saya akan selesai. Bolehkah saya meminjam mesin proyektornya supaya saya mudah menjelaskannya pada Nyonya," kata Hanaria.


"Baiklah. Tunggu sebentar," nyonya Mingguana mengangkat gagang telepon yang ada diatas mejanya.


"Asisten David, masuklah," panggil nyonya Mingguana pada asisten pribadinya lewat sambungan telepon.


Tidak lama, pintu ruang kerja nyonya Mingguana terbuka, asisten David datang dengan langkah tergopoh-gopoh mendekati majikannya.


"Nyonya memanggil saya?" tanya asisten David, sesaat ketika dirinya sudah berada disisi meja nyonya Mingguana.


"Siapkan mesin LCD-nya untuk Nona Hanaria," perintah nyonya Mingguana.


Setelah meletakan alat tersebut diatas meja yang ada disamping meja nyonya Mingguana, ia langsung menyambungkan perangkatnya pada laptop milik Hanaria.


"Sudah siap Nona Hana," kata asisten David, ia lalu memundurkan tubuhnya untuk menjauhi kedua wanita itu.


"Kau tidak boleh kemana-mana asisten David, aku ingin kau juga turut mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh nona Hana," kata nyonya Mingguana datar.


"Baik Nyonya," asisten David lalu duduk pada kursi dibelakang meja yang ada disebelah nyonya Mingguana.


"Kau boleh memulainya sekarang nona Hana," kata nyonya Mingguana mempersilahkan.


Hanaria mulai menampilkan apa yang ada dilayar laptopnya pada layar LCD yang ada didinding sisi kiri meja nyonya Mingguana lewat mesin LCD yang telah disiapkan oleh asisten David.


Sepasang mata milik nyonya Mingguana dan asisten David turut memperhatikan apa yang tengah ditampilkan Hanaria dilayar LCD. Secepat jari Hanaria bergerak diatas keyboard laptopnya, secepat itu pula ia memberi penjelasan bagai jalan tol untuk semua rencana kerja yang telah ia susun secara terperinci.


"Selesai, tepat lima menit," ucap Hanaria mengakhiri penjelasannya. Ia menatap wajah nyonya Mingguana dan asisten David yang masih terpana melihat kearah layar LCD.yang sudah gelap kembali.

__ADS_1


"Nyonya Mingguana, asisten David," panggil Hanaria, ketika kedua manusia dihadapannya itu masih bergeming ditempat duduknya.


"Asisten David, persiapkan segala sesuatunya, kita akan menghadiri rapat direksi dan para pemegang saham," kata nyonya Mingguana datar, setelah mampu menyadarkan dirinya dari keterlenaannya. Ia berusaha memperlihat kewibawaannya dihadapan Hanaria, walau dirinya terlihat kagum pada penjelasan singkat pegawainya itu yang teramat detail.


"Nona Hana, kau juga, ikut denganku," nyonya Mingguana memandang datar pada Hanaria didepannya.


"Saya Nyonya?" tanya Hanaria sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, telinga-mu masih jelas mendengar bukan?" ucapnya.


"Iya nyonya tapi-, bukankah ini pertemuan penting antara Nyonya dengan dewan direksi dan para pemegang saham itu? Saya tidak pantas untuk ikut Nyonya, saya hanya karyawan biasa," ucap Hanaria.


"Pantas dan tidak pantasnya, bukan kau yang menentukannya nona Hana, tapi saya, majikanmu," tegas nyonya Mingguana.


"Kita ke ruang pertemuan sekarang," nyonya Mingguana berdiri, dan melangkah meninggalkan kursi kebesarannya menuju pintu keluar.


"Tunggu apa lagi? Ayo cepat ikut, atau kau mau digantung?" ujar asisten David yang melihat Hanaria tidak bergerak dari tempatnya. Hanaria tidak bisa membantah lagi, ia terpaksa mengikuti langkah asisten David yang terburu-buru dibelakang nyonya Mingguana.


Jujur saja, dirinya tidak mau digantung oleh majikannya itu seperti yang diancamkan oleh asisten David, dirinya masih punya janji yang harus ditepati nanti malam bersama Willy, suami yang sudah membuat hatinya berdebar-debar, cukup hanya mengingat wajahnya saja.😍


...***...


Semua pasang mata menatap kehadiran nyonya Mingguana yang memasuki ruangan pertemuan eksklusif, dan dua manusia yang mengekor dibelakangnya.


Hanaria nampak bingung harus duduk dimana, membuat semua peserta rapat eksklusif itu tersenyum geli sekaligus meremehkan. Hal itu tidak lepas dari perhatian nyonya Mingguana.


"Selalu ada saja tingkah Nyonya yang membuat lelucon disetiap rapat pertemuan penting kita. Kenapa Anda tidak menyewa seorang badut saja sekalian Nyonya," kekeh seorang dewan direksi tertawa mengejek.


Ucapan pria itu langsung disambut gelak tawa oleh semua peserta rapat eksklusif itu, hingga menimbulkan kegaduhan ringan sesaat diruangan itu.


Mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka tertawai, andai saja hal itu diketahui oleh Willy dan ayahnya, tentu saja mereka akan menanggung penyesalan yang tidak terlupakan.


Sebenarnya yang lebih mereka tertawai adalah nyonya Mingguana, owner dari Mega Otomotif, wanita paruh baya yang ingin mereka jatuhkan.

__ADS_1


__ADS_2