
Hanaria menatap wajah nyonya Mingguana dan Mahendra silih berganti. Melihat mereka, membuat hatinya kembali terasa sakit, dua manusia yang telah menjadi penyebab penderitaan adik angkatnya hingga tutup usia.
Kedua ibu dan anak itupun turut menatap Hanaria dengan tatapan yang berbeda, wajah dan penampilan mereka tidak terlihat rapi seperti biasanya, karena sudah dua hari dalam penahanan, terutama Mahendra yang terlihat ada beberapa lebam diwajahnya, juga rambut yang menjadi mahkota kebangganya, membantu eksistensi penampilannya untuk memikat kaum hawa, kini sudah tidak tersisa satu helai pun lagi dikepalanya.
Sementara tuan Margolius Ondes yang turut hadir disana, duduk tenang mendampingi Hanaria sebagai kliennya.
"Nyonya Mingguana, silahkan sampaikan apa yang ingin Anda katakan, saat Anda minta bertemu dengan Nona Hanaria," ucap sang petugas membuka pembicaraan.
Suasana nampak hening sejenak, terlihat nyonya Mingguna melirik kearah putranya yang duduk disebelahnya, sedangkan sang putra nampak acuh tak acuh.
"Ma, untuk apa kita kemari? Buang-buang waktu saja. Hening, dan tidak ada yang berani bersuara. Cih!" ucap Mahendra sinis, lalu menatap kembali pada Hanaria dengan sorot dendam.
"Sudah Mama katakan, biarkan Mama saja yang bicara. Perkataanmu selalu tidak enak didengar dan membawa masalah," tegur nyonya Mingguana pada putranya yang masih menunjukan wajah sinisnya.
"Nona Hanaria, mohon maafkanlah putra saya Mahendra," lirih nyonya Mingguana menatap Hanaria,
"Ma, kau tidak perlu minta maaf untukku pada wanita ini. Akupun tidak merasa menyesal karena telah mendorong adiknya, si perempuan bodoh itu hingga mati!" ketus Mahendara membuat Hanaria meradang.
"Dasar anak tidak punya otak, dalam situasi seperti inipun kau masih saja asal bicara!" marah nyonya Mingguana pada putranya.
"Sudah sejak awal telah aku katakan, aku tidak mau menikahi perempuan bodoh sepertinya. Mama malah memaksaku dan membawanya kerumah kita membuat mataku sakit setiap kali melihatnya melintas dihadapanku!" ketus Mahendra lagi dengan tatapan berapi-api.
"Nona Hanaria, saya mohon maafkanlah Mahendra, saya tahu perbuatannya tidak termaafkan. Dan saya bersedia melakukan apa saja asal Mahendra bisa lepas dari jerat hukumnya," ucap nyonya Mingguana menghiba dengan wajah yang terlihat lelah.
Mahendra menoleh kearah ibunya, selamanya ini ia tidak pernah melihat ibunya itu nerendahkan dirinya seperti itu didepan siapapun.
"Saya rasa tuan Mahendra benar Nyonya, Anda tidak perlu meminta maaf pada saya," kata Hanaria pada bos-nya itu, namun tatapan matanya terarah pada Mahendra yang duduk disebelah ibunya.
__ADS_1
"Tuan Mahendra saja tidak merasa bersalah atas kesengajaannya mendorong mendiang Firlita hingga meninggal, jadi tidak mungkin permintaan maaf itu keluar dari mulutnya," ujar Hanaria berusaha bersikap tenang.
"Nyonya pasti pernah mendengar kata-kata ini, MATA ganti MATA, GIGI ganti GIGI, dan NYAWA ganti NYAWA." Hanaria menghentikan ucapannya, masih berusaha bersikap tenang walau hatinya sangat bergolak ingin menghajar wajah Mahendra dengan tangannya sendiri.
"Apa Nona Hanaria menginginkan kematian putra saya juga?" tanya nyonya Mingguana dengan perasaan was-was.
"Sayangnya ini negara hukum, dan saya tidak sekejam putra Anda Nyonya, saya tidak ingin menjadikan bayi Elvano yatim piatu dan sebatang kara seperti ibunya yang tidak punya siapa-siapa," kata Hanaria dengan raut berubah sedih.
Nyonya Mingguna menghela nafas lega mendengar penuturan Hanaria, namun ia mendadak ikut sedih, saat mengingat bayi Elvano. Dalam hidupnya, selain Mahendra putra kesayangannya, bayi Elvano adalah salah satu harapannya untuk menjadi penerus keluarganya. Walau dirinya pun tidak menyukai mendiang Firlita, ibu dari bayi itu, namun cucunya itu sudah membuat kasih sayangnya pada putranya Mahendra kini telah terbagi.
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah" perintah pak Polisi yang memfasilitasi pertemuan siang itu.
Semua mata langsung menatap kearah pintu yang baru terbuka, Mahendra terbelalak menatap seorang wanita memakai baju tahanan sama seperti dirinya dengan rambut terikat menggantung.
Dengan wajah menunduk, menatap tangannya yang sedang terborgol, wanita itu melangkah tertatih-tatih dibawa masuk oleh seorang petugas berpakaian dinas.
"Anakmu sudah mati! Aku tidak sudi melahirkannya!" teriak Morin dengan sorot kebencian.
Dok! Dok! Dok!
"Stop! Tenanglah!" kata pak Polisi dengan suara setengah berteriak setelah memukul meja dengan telapak tangannya.
"Nona Hanaria, sesuai permintaan Anda, kami menghadirkan nona Morin juga diruangan ini," kata pak Polisi itu lagi melihat kearah Hanaria yang tengah menperhatikan Mahendra dan Morin yang saling berteriak satu sama lain.
"Baik, terima kasih Pak," ucap Hanaria menoleh kearah Polisi yang duduk diujung meja.
__ADS_1
"Mohon ijin bicara Pak," kata Hanaria lagi.
"Silahkan!" sahut Polisi itu mempersilahkan.
"Putri Anda yang dilahirkan nona Morin belum mati tuan Mahendra," kata Hanaria menatap Mahendra yang langsung menatapnya.
"Tahu apa kau tentang anakku. Aku saja tidak tahu, anakku itu laki-laki atau perempuan!" ketus Mahendra tidak suka.
"Saya belum mengijinkan Anda untuk bicara tuan Mahendra, ini waktunya nona Hanaria yang bicara!" tegas pak Polisi dengan tatapan tajamnya. Mahendra langsung mengatupkan kedua bibirnya dan membuang tatapan kesembarang tempat.
"Silahkan dilanjut nona Hanaria!" kata sang petugas itu lagi.
"Mendiang Firlita telah memberikan rambut dan sikat gigi Anda untuk test DNA. Dan karena hal itu Anda marah dan tega mendorongnya hingga ia meninggal-"
"Perempuan bodoh itu memang layak mati, karena sudah mengambilnya tanpa seijinku!" ketus Mahendra memotong perkataan Hanaria.
"Stop! Anda belum diijinkan untuk bicara tuan Mahendra! Bila sekali lagi Anda bicara tanpa ijin, petugas disebelah Anda akan memberi tindakan pada Anda!" ancam Polisi itu.
"Silahkan dilanjut lagi Nona Hanaria," ucap Polisi itu lagi.
"Hasil test DNA itu menunjukan bahwa tuan Mahendra dan Lania sembilan puluh sembilan persen adalah ayah dan anak," Mahendra yang menatap kesembarang arah spontan berpaling dan menatap wajah Hanaria yang sedang menatapnya pula. Wajah pria itu terlihat bingung bercampur kaget, ia ingin mengatakan sesuatu namun ia takut menerima pukulan dari petugas yang berdiri didekatnya, sudah cukup pukulan demi pukulan yang ia terima saat di interogasi dalam dua hari yang lalu.
Nyonya Mingguana ikut terkejut, karena selama ini dirinya tidak tahu bila putranya pernah memiliki hubungan dengan wanita yang bernama Morin itu. Memang selama ini, ada banyak wanita yang mengaku-ngaku telah dihamili putranya, namun tidak satupun hasil test DNA-nya positif selain bayi Firlita.
"Kondisi Lania sekarang ada diantara hidup dan mati, bila ibunya, nona Morin tidak segera mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk anak itu," lanjut Hanaria.
"Saya sudah berusaha semampu saya untuk membantu Lania supaya ia cepat mendapat donor itu, dan membayar nona Morin dengan sejumlah uang, namun nona Morin yang telah menikmati uang pemberian saya telah ingkar janji, lalu melaporkan saya dengan tuduhan memaksanya menjadi seorang pendonor," ungkap Hanaria.
__ADS_1
Mahendra mengalihkan tatapannya pada Morin, sorot matanya yang tajam memperlihatkan amarah yang berkecamuk didalam dadanya. Walau saat itu ia tidak sengaja meniduri Morin, saat malam perpisahan kelulusan mereka sewaktu duduk di bangku SMU silam, ia tetap berniat untuk bertanggung jawab akan perbuatannya. Dan ingin membesarkan bayi itu, namun Morin menghilang bagai ditelan bumi, walau ia sudah berusaha mencarinya. Itulah sebabnya, sebagai pelampiasannya, Mahendra akhirnya meniduri gadis-gadis belia seusia anak SMU.
"Untuk tuan Mahendra, nyonya Mingguana, dan juga nona Morin, saya minta pihak yang berwajib segera menindak. Saya harap mereka mendapatakan ganjaran hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku dinegara ini." pungkas Hanaria mengakhiri penuturannya.