
"Tuan Genio, silahkan buka giro untuk setiap alokasi dana yang akan dibayarkan pada semua daftar nama yang menjual sahamnya," titah asisten David pada manager keuangan.
"Saya inginnya uang tunai nona Hanaria, bukan berbentuk kertas giro." sela tuan Rudolf Bong cepat pada Hanaria yang duduk pada kursi kebesarannya.
"Saya juga Nona Hanaria, kami tidak perlu kertas semacam itu," ucap nyonya Miasa Laura pula.
Hanaria menatap kedua manusia yang selalu mencari celah kelemahannya itu.
"Ternyata tidak salah nyonya Mingguana menobatkan Anda menjadi raja badut di perusahaan Mega Otomotif ini tuan Rudolf Bong," dengan kekehan bernada mengejek Hanaria melontarkan ucapan sarkasnya.
Rahang pria tua yang dimaksud Hanaria itu seketika mengeras dengan otot-otot wajah dan lehernya yang menyembul keluar menahan emosi jiwanya.
"Bagaimana mungkin tuan Rudolf Bong yang terhormat ini bisa berfikir bila pihak bank bisa mengeluarkan dana tunai milik Anda yang nilainya hampir 1 triliun itu," ucap Hanaria masih terkekeh geli melihat kearah pria tua itu.
Tidak ada yang berani ikut terkekeh apalagi sekedar menimpali ucapan Hanaria, semua petinggi itu hanya menyimak dalam diam, termasuk asisten David yang duduk bersebelahan dengan Hanaria.
Selama terjun kedunia kerja, hanya nyonya Mingguana yang ia tahu sering berkata frontal, ternyata setelah setelah nyonya besarnya itu ditarik dari peredaran dunia bisnis karena kasus hukumnya, sifat frontal mantan majikannya itu seolah menitis pada sang Nona majikan barunya, batinnya.
"Dan Anda nyonya Miasa Laura, apa Anda juga sangat menginginkan dinobatkan menjadi ratu badut di perusahaan Mega Otomotif, saya tidak keberatan, saat ini juga saya bisa melakukannya," ucap Hanaria beralih pada wanita yang duduk tepat disamping tuan Rudolf Bong dengan tatapan datarnya.
"Heuh! Orang yang masih muda seperti Nona Hanaria tidak pantas berbicara tidak sopan pada orang yang lebih tua seperti kami, apalagi Nona adalah pemimpin sekaligus pemilik disini," wanita itu berusaha berbicara setenang mungkin, walau hatinya sudah menggelora karena mendapat cercaan dari Hanaria yang dianggapnya tidak pantas bersikap seperti itu pada orang seperti dirinya.
"Terdengar lucu memang, orang yang hobby-nya merendahkan orang lain minta dihargai," Hanaria kembali mengurai tawa kecilnya.
__ADS_1
"Bukankah orang yang lebih tua harusnya lebih dulu memberi panutan Nyonya? Bila kita menginginkan sesama kita memperlakukan diri kita dengan baik, berilah contoh bagaimana cara kita seharusnya memperlakukan sesama kita lebih dulu dengan baik, terlepas kita suka atau tidak suka dengannya," pungkas Hanaria.
Nyonya Miasa tersenyum sumbang, dan ia tidak perduli dengan apa yang ia dengar. Hanaria yang melihat gelagat wanita paruh baya itu hanya bisa mendesah didalam hati, manusia yang memiliki sifat bebal tidak akan bisa menyadari kesalahannya, ucapnya membatin.
"Saya tahu, perusahaan Mega Otomotif sedang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar semua saham para petinggi yang sudah berniat menjual saham-sahamnya, bukankah begitu tuan Genio?" ucap nyonya Miasa Laura beralih memandang pada sang manager keuangan yang nampak tegang ditempat duduknya.
Hanaria turut memandang kearah manager keuangan perusahaannya, menunggu respon pria berusia setengah abad itu untuk memberi tanggapan atas ucapan percaya diri yang dilontarkan oleh nyonya Miasa.
Hingga beberapa detik berlalu, tidak satu patah katapun keluar dari mulut sang manager keuangan, hanya raut ketegangan dengan keringat dingin bergulir dari pelipisnya, padahal Hanaria merasakan suhu diruangan rapat itu sudah cukup sejuk.
"Katakan terus terang tuan Genio, bukankah perusahaan Mega Otomotif milik nona Hanaria ini tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar saham-saham kami?" ulang nyonya Miasa Laura disertai dengan senyum ejekannya yang membuat Hanaria muak melihatnya.
"Itu--, itu tidak benar Nyonya," sahut manager keuangan terbata-bata, melirik dengan raut gugup pada Hanaria yang terus memberikan tatapan datar padanya.
"Setuju!" sahut tuan Rudolf Bong mengangguk dan membenarkan posisi duduknya.
"Kabulkan permintaan ratu dan raja badut itu tuan Genio," ucap Hanaria datar, memandang manager keuangannya yang semakin menegang dan merasa serba salah.
"B-baik Nona," sahut manager keuangan. Jari-jarinya mulai mengetik pada laptop didepannya.
Kling!
Dalam hitungan detik, nominal saldo yang diminta tertera pada layar slide raksasa didepan semua para petinggi itu.
__ADS_1
"Ini--, ini tidak mungkin!" kaget nyonya Miasa Laura seketika menegang, ia dan tuan Rudolf saling berpandangan tidak percaya. Begitu pula dengan sebagian para pemegang saham yang berniat menjual saham milik mereka. Karena kabar yang beredar diantara mereka bahwa perusahan di hari itu tidak memiliki nominal dana yang memadai bila melakukan transaksi.
"Tuan Genio, apa kau sengaja membuat data palsu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bila saldo perusahaan sedang minim?" kali ini tuan Rudolf Bong yang bersuara.
"Itu data yang sebenarnya Tuan," sahut manager keuangan tidak berani berbicara panjang lebar, rasa takut tiba-tiba saja menyerangnya ketika melihat dana yang masuk ke kas perusahaan dan mengubah saldo banknya dalam sekejap mata pada beberapa menit yang lalu, ditambah lagi Hanaria yang terus menatap kearahnya seolah telah menginterogasinya lewat sorot tatapan datarnya.
Hanaria tersenyum didalam hati, menanggapi keterkejutan para pemegang saham itu, yang sempat memberikan tatapan meremehkan padanya saat ia datang diruang meeting itu bersama asisten David.
"Sebutkan, bank mana yang bisa memberi dana tunainya, saya tidak keberatan bila ada diantara para pemegang saham yang ingin menerima dana tunai, nanti para pegawai keuangan bisa mengurusnya," tantang Hanaria mengulas senyum tipisnya.
"Dengan saldo yang ada itu, bahkan harga diri Anda mampu saya beli Nyonya Miasa Laura, tinggal Anda sebut nominalnya saja padaku," ucap Hanaria mengesampingkan etika lisannya yang selama ini ia junjung tinggi sembari menatap wanita paruh baya itu dan tuan Rudolf Bong, hanya untuk membuat kedua manusia sombong itu menyadari bila kekayaan yang mereka miliki tidaklah bisa digunakan untuk merendahkan orang lain sesuka hatinya.
Kali ini, wanita paruh baya itu tidak segera menyahut seperti biasanya, hanya bisa menahan emosinya dengan wajah memerah. Ia sadar, satu kata saja yang ia ucapkan lagi akan membuat dirinya semakin dipermalukan.
Dirinya tidak menyangka bila dalam waktu 24 jam, owner muda yang ia remehkan itu mampu mengumpulkan dana se-fantastis itu.
"Sesuai janji saya kemarin, para pemegang saham yang masih bertahan di Mega Otomotif dan berminat membeli saham-saham yang telah dijual, langsung saja menemui asisten David dan manager keuangan."
"Dan bila pekerjaan ini sudah rampung, saya menunggu kehadiran manager keuangan diruangan saya." setelah berkata demikian Hanaria segera beranjak dari duduknya. Sementara tuan Genio hanya bisa menelan salivanya, ia sudah dapat merasakan sinyal-sinyal bahaya dari ucapan sang pemilik perusahaan.
Para dewan direktris dan pemegang saham itu serempak berdiri dan membungkuk hormat, tidak terkecuali nyonya Miasa Laura dan tuan Rudolf Bong, ketika Hanaria melangkah meninggalkan ruang meeting itu bersama asisten David yang mengantarkannya keluar dan akan kembali lagi sesuai tugas yang diberikan Hanaria padanya.
Hanaria tersenyum hambar didalan hati, pengalamannya dihari itu membuatnya trenyuh, ternyata uang bisa membuat orang menghormatinya walau itu tidak tulus, begitu menyedihkannya penilaian dunia ini, batinnya sembari berlalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Bersambung...👉