
"Bagaimana tuan muda bisa tahu kalau saya hendak kemari?" Tanya Hanaria keheranan, saat Willy tanpa bertanya mengantarkan dirinya kekantor polisi, dan memarkirkan mobilnya disalah satu lahan parkir yang kosong.
"Saya pun sedang ada panggilan disini." Sahut Willy, sambil membuka sabuk pengamannya. Hanaria sempat melongo sejenak, lalu tersadar dan membuka sabuk pengamannya. Ia buru - buru turun dari mobil tuannya itu untuk segera menemui polisi yang telah disebutkan dalam surat pemanggilan dirinya.
"Sekretaris Morin. Kau tunggu dimobil saja." Ujar Willy pada sekretaris pribadinya itu.
"Baik tuan....." Sekretaris Morin terpaksa mematuhi perintah bosnya itu. Ia menatap kepergian Willy dan Hanaria yang berjalan beriringan, membuatnya hatinya sedikit panas.
Hanaria melambatkan langkahnya, supaya tuannya itu berjalan lebih dulu didepannya, namun aksi Hanaria itu membuat Willy ikut melambatkan langkahnya pula.
Saat dirasa Hanaria bahwa tuannya itu ikut melambatkan langkahnya, Hanaria kembali mempercepat langkahnya, dan Willy juga ikut mempercepat langkahnya, mengikuti irama langkah pegawainya itu.
"Jangan ikuti langkah saya tuan muda, berjalanlah lebih dulu.....!" Sentak Hanaria, yang masih merasa muak melihat tuannya itu. Ia menghentikan langkahnya membuat Willy tanpa sadar ikut berhenti dan merasa heran melihat pegawainya yang nampak gusar tidak jelas.
"Kau tidak perlu berlaku aneh - aneh disini. Jangan kege'eran! Aku berada disini karena memenuhi panggilan polisi sama seperti dirimu! Sekarang jalan!" Geramnya sambil mengatupkan rahangnya melihat sikap Hanaria.
"Tidak! Silahkan tuan muda jalan lebih dulu, jangan jadikan alasan pemanggilan polisi ini untuk mendekati saya lagi. Saya pun tidak merasa kege'eran sama sekali! Tidak perlu saya jelaskan, mengapa saya bersikap seperti ini terhadap tuan muda!" Hanaria balas menggeram.
"Kau.....! Kenapa sulit sekali diatur! Terserah kau saja!" Willy begitu gemas, kalau saja ini tidak dimuka umum, ia pasti akan memberi wanita itu pelajaran lagi. Willy segera meninggalkan Hanaria seorang diri, mengayuh langkahnya cepat memasuki kantor polisi.
"Selamat sore bu....." Willy menghampiri seorang wanita berseragam polwan yang berada diruang informasi. Wanita itu menoleh, menatapnya sejenak lalu dengan sigap memberi hormat.
"Selamat sore juga AKBP Billy..... Ada yang bisa saya bantu......?" Ucap Polwan itu hormat. Seorang polwan dibelakangnya juga turut memberi penghormatam.
"Maaf...... Saya Willy bu, bukan pak Billy...... Saya ingin bertemu IPDA Syamsie......" Sahut Willy tersenyum tipis. Polwan itu kembali menatap pria didepannya, begitu pula dengan temannya yang ada dibelakang, sejenak keduanya saling berpandangan, lalu kembali menatap pria yang tersenyum pada mereka dengan pandangan heran.
"Maaf pak...... apakah bapak sedang bercanda?" Ujar polwan itu lagi hati - hati, ia takut bertindak tidak sopan pada sang perwira menengah itu.
"Tidak bu..... saya datang kemari karena ada panggilan, ini surat panggilannya. " Willy menyerahkan lembaran putih yang dia ambil dari saku kemejanya.
__ADS_1
Polwan itu menerima surat yang disodorkan Willy padanya, lalu membukanya. Disurat itu memang tertera nama pak Willy seperti yang diakui oleh pria dihadapannya.
"Mohon ijin pak, bolehkah saya melihat E-KTP anda?" Ujar polwan itu lagi.
"Boleh bu.... tunggu sebentar." WIilly lalu mengambil dompetnya yang ada disaku celana bagian belakangnya.
"Ini bu......" Willy menyerahkan E-KTP yang baru ia ambil dari dompetnya. Polwan itu segera menerima dan memeriksanya.
"WILLY MORANNO AGATSA......"Ejanya, sambil memperhatikan dan mencocokkan wajah Willy dengan poto yang ada di E-KTP itu.
"Sungguh tidak bisa dipercaya......" Ucapnya lirih pada teman polwannya yang ikut memperhatikan E-KTP milik Willy.
"Ya..... bagaikan pinang dibelah dua....." Sahut polwan satunya lagi dengan lirih pula.
"Bagaimana bu..... Apakah saya bisa bertemu dengan IPDA Syemsie sekarang?" Tanya Willy, saat ia melihat kedua polwan itu saling berguman dengan wajah keheranan satu sama lain.
"Dan ini...... surat panggilan bapak dan E- KTPnya." Polwan itu menyerahkan kembali apa yang diberikan Willy pada mereka.
"Baik terima kasih." Willy mengambil lembaran surat itu dan melipatnya kembali lalu memasukannya pada saku kemejanya, demikian juga dengan E-KTP miliknya, ia masukan kembali kedalam dompetnya dan menaruhnya disaku celana bagian belakangnya.
Willy berbalik, bergegas hendak menuju arah yang telah ditunjukan sang polwan padanya, tatapannya tidak sengaja bertabrakan dengan Hanaria yang entah kapan sudah berada dibelakangnya, menunggu gilirannya bertanya.
Tanpa berbicara, Willy segera mengalihkan pandangannya ketempat lain, dan meninggalkan tempat itu, menuju arah yang telah diterangkan sang polwan.
Hanaria segera maju mendekati polwan yang baru saja memberi keterangan pada Willy.
"Permisi bu...... nama saya Hanaria, saya ada panggilan untuk bertemu IPDA Syemsie." Ucap Hanaria pada polwan tersebut.
"Nona bisa mengikuti pak Willy tadi, kebetulan beliau juga ada panggilan yang sama seperti nona. Naik saja kelantai dua paling ujung, ruang Sat Reskrim IPDA Syemsie nona." Jelas polwan itu ramah.
__ADS_1
"Baik terima kasih bu....."
"Sama - sama...." Sahut polwan itu masih tersenyum ramah.
Hanaria segera beranjak dari tempat itu, menuju arah yang telah diterangkan oleh sang polwan. Sesampainya ditempat tujuan, Hanaria tidak melihat Willy ada disana. Ia menghampiri seorang petugas.
"Selamat siang pak...... Saya Hanaria, saya ada panggilan dari IPDA Syemsie, apakah saya bisa bertemu beliau sekarang?" Tanya Hanaria.
"Ditunggu sebentar ya nona....." Ujar petugas itu. Ia lalu masuk kedalam ruangan. Beberapa detik kemudian petugas itu kembali lagi menemui Hanaria yang menunggunya.
"Silahkan masuk nona, anda sedang ditunggu didalam. Ruangan paling ujung ya nona." Ujar petugas itu lagi.
"Baik pak, terima kasih......" Hanaria lalu masuk kedalam ruangan, melewati beberapa bidang ruangan yang bersekat menuju ruang paling ujung.
...***...
Willy baru kembali setelah tiga jam pemeriksaan dirinya. Hanaria sudah berada didalam mobil tuannya itu sekitar tiga puluh menit yang lalu. Pria itu masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi dengan wajah datarnya.
Sekretaris Morin sangat penasaran, kenapa atasannya itu dipanggil oleh polisi secara bersamaan dengan Hanaria. Namun dirinya tidak memiliki cukup keberanian untuk bertanya disaat yang kurang tepat seperti ini.
"Dimana botol mineralku, yang kutaruh disini?" Tanya Willy menatap dua wanita yang duduk dikabin belakang, lewat spion dalam mobilnya. Hening sesaat.
"Siapa yang membuangnya, ayo mengaku?" Tanya Willy lagi dengan wajah dinginnya, karena belum mendengar jawaban dari salah satu pegawai wanitanya itu.
Hanaria yang tidak tahu menahu akan keberadaan botol mineral itu melirik sekilas kewajah Willy yang sedang menatap dirinya dan sekretaris Morin melalui pantulan spion dihadapan Willy, lalu beralih sejenak pada wajah sekretaris Morin yang tiba - tiba berubah pucat.
"Siapa yang berani membuang botol mineral itu heuuh........!" Tanya Willy dengan nada yang sedikit meninggi.
"Maafkan saya tuan muda...... saya fikir anda tidak sempat membuangnya....... jadi saya berinisiatif untuk membuangnya....... supaya tidak terlihat seperti sampah dimobil anda ini tuan......." Sahut sekretaris Morin akhirnya, dengan kata yang tersendat - sendat.
__ADS_1