HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
203. Usaha Membela Diri


__ADS_3

"Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Firlita? Kasian putranya Elvano yang masih bayi itu," ungkap Hanaria dalam kekalutannya.


"Hana, kau harus tenang. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa, semoga Firlita baik-baik saja," hibur Willy pada Hanaria yang terus terisak disisinya. Ia mengusap lembut rambut Hanaria berusaha memberi ketenangan pada isterinya itu, ia sangat memahami apa yang tengah dirasakan oleh sang isteri.


"Bagaimana keadaan Firlita nona Hana?" tanya nyonya Mingguana yang baru saja tiba.


Hanaria menatap nyalang, emosinya semakin meluap saat melihat nyonya Mingguana datang dengan ekspresi datarnya.


"Firlita adikku sedang tidak baik-baik saja. Dan Nyonya datang dengan wajah tanpa dosa," gumam Hanaria dengan bibir hampir tak terbuka, rahangnya mengeras menahan emosi didadanya.


"Ini sudah kedua kalinya, Firlita mengalami kecelakaan didalam rumah Anda Nyonya. Dimana janji Anda untuk melindungi dan menjaga adik saya," geram Hanaria dalam isaknya.


"Semuanya bukan salah saya Nona Hana. Firlita kebetulan mengalaminya dirumah saya, tapi itu kecelakaan," elak nyonya Mingguana membela diri.


"Nyonya benar-benar tidak berperasaan!Semua kecelakaan itu bukan kebetulan Nyonya, tapi disebabkan putra Anda, si Mahendra laknat itu!" marah Hanaria.


"Semuanya belum terbukti," sanggah nyonya Mingguana lagi berusaha membela putranya.


"Sayang sekali, pernyataan Nyonya sudah terjawab oleh Firlita sendiri sebelum dia dibawa kedalam ruang tindakan. Saya sudah mendengarnya sendiri bersama suami dan beberapa perawat," ungkap Hanaria dengan terus terang membuat wajah nyonya Mingguana berubah memucat secara spontan.


"Kita juga perlu mendengar kesaksian bibi Narsih yang berada di lokasi kejadian saat kecelakaan itu terjadi," kata nyonya Mingguana berusaha tenang, walau dadanya mulai bergejolak diliputi rasa khawatir.


"Bisa saja Nyonya mempengaruhi bibi Narsih untuk memberikan kesaksian palsu, bukankah bibi Narsih adalah pelayan setia Anda selama ini?" sahut Hanaria.


"Anda menuduh saya Nona," ujar nyonya Mingguana menatap dengan raut tak terima.


"Itu bisa saja terjadi. Karena selama ini Anda selalu berusaha melindungi putra Anda yang tidak bermoral itu. Nyonya menghadirkannya didunia ini hanya untuk menjadikan putra Nyonya itu sebagai sampah masyarakat saja!" ketus Hanaria yang sudah tersulut emosinya.


"Jaga ucapan Anda nona Hana, saya bisa saja membuat Anda mempertanggung jawabkan perkataan Anda itu," ancam nyonya Mingguana yang mulai merasa gerah pada sikap Hanaria padanya.


"Nyonya-lah yang seharusnya mempertanggung-jawabkan semua perkataan dan perbuatan Anda bersama putra Anda nyonya," sahut Willy angkat bicara.

__ADS_1


"Kami akan segera membuktikan bahwa putra Anda, tuan Mahendra benar-benar bersalah atas kasus kecelakaan yang menimpa Firlita," imbuh Willy lagi membuat nyonya Mingguana bungkam dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Hueekkk! Hueekkk!" Hanaria tiba-tiba merasa perutnya begitu mual setelah sekian lama menangis,.namun dirinya tidak sempat memuntahkan isi perutnya, wajahnya nampak semakin memucat membuat Willy menatapnya khawatir.


"Kau pasti masuk angin kan? Kau belum sempat mengisi perutmu siang ini," ujar Willy menatap raut Hanaria yang terlihat sayu dan memucat. "Ayo, kita makan dulu. Jangan sampai kau sakit," bujuk Willy.


"Aku tidak lapar," tolak Hanaria. "Aku harus disini, sampai aku tahu keadaan Firlita," kata Hanaria masih sesenggukan.


"Tapi kau tidak boleh mengabaikan kesehatanmu Hana, kau harus makan, bagaimana kalau kau sakit?" Willy tetap membujuk.


"Aku tidak akan sakit hanya karena tidak makan sehari. Firlita membutuhkanku Willy, mengertilah!" ucap Hanaria sedikit kesal karena dipaksa makan disela-sela tangisnya.


"Hana," Willy kembali berujar selembut mungkin," kita makan dulu ya, setelah itu kita kemari lagi. Lagi pula ada nyonya Mingguana disini. Bila ada apa-apa, beliau pasti akan mengabari kita," kata Willy pelan.


"Tidak! Aku tidak percaya padanya. Firlita sudah dua kali mengalami kecelakaan yang fatal. dan itu semua didalam rumahnya. Dia bukan ibu mertua yang baik!" ucap Hanaria setengah berteriak dengan sorot mata kebencian menatap wajah nyonya Mingguana yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Kembali Hanaria merasa perutnya bergejolak, namun isi perutnya tidak sampai ia muntahkan.


"Hueekkk!"


"Kepalaku sangat pusing," ujar Hanaria sambil memegang kedua pelipisnya yang terasa sangat sakit.


"Kita harus kedokter sekarang," paksa Willy.


"Aku harus menunggu kabar Firlita dulu," tolak Hanaria lagi.


"Keras kepala sekali," ucap Willy merasa gemas pada isterinya. Tanpa meminta persetujuan, Willy langsung menggendong tubuh isterinya dengan kedua tangannya dan segera bergegas.


"Willy! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" teria Hanaria meronta, membuat gaduh didepan ruang tindakan Firlita.


Nyonya Mingguana tidak bereaksi melihat apa yang sedang dilakukan kedua pasangan suami isteri itu. Pikirannya sedang sibuk memikirkan akan apa yang bisa terjadi pada putranya apabila sampai terjadi hal yang buruk pada Firlita menantunya.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu tiba-tiba terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah, peluh masih terlihat didahi dan hidungnya.


"Cepat turunkan aku," pinta Hanaria. Tanpa banyak bicara Willy segera menurunkan isterinya, ia juga penasaran berita apa yang akan disampaikan sang dokter.


Willy lalu mengejar Hanaria yang berlari cepat menghampiri sang dokter yang ada didepan pintu.


"Bagaimana dengan adik saya Firlita Dokter?"


"Bagaimana dengan menantu saya Firlita dokter?"


Hanaria dan nyonya Mingguana saling berpandangan sesaat, ketika keduanya selesai melontarkan pertanyaan hampir bersamaan.


Setelahnya, keduanya kembali mengalihkan pandangan mereka pada dokter dihadapannya, dan melontarkan ulang pertanyaannya seperti sebelumnya.


"Maafkan kami tuan Willy, kami sudah berusaha semampu kami," ucap dokter pada Willy sambil memandang pada Hanaria dan nyonya Mingguana yang nampak tegang. Sebagai seorang dokter ia tetap berusaha bersikap tenang untuk menyampaikan berita yang memang harus ia sampaikan kepada keluarga pasien.


"Nona Firlita, dia sudah meninggalkan kita untuk selamanya," sahut sang dokter.


"Tidak mungkin, Firlita tidak boleh mati," ucap Hanaria sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya, ia tidak bisa menerima berita kepergian adik angkatnya itu. Kepalanya kembali terasa berdenyut, bahkan lebih sakit dari sebelumnya, membuat penglihatannya mendadak berkunang-kunang.


Dengan sigap Willy menangkup tubuh Hanaria sebelum ambruk kelantai. Hanaria yang sudah tidak sadarkan diri segera dilarikan keruang rawat khusus keluarga Agatsa.


Sepeninggal Willy yang membawa pergi Hanaria, nyonya Mingguana hanya terdiam begitu lamanya dihadapan sang dokter yang membawa berita.


Dirinya tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Jujur saja, ia tidak ingin hal ini terjadi. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi setelah ini pada dirinya dan putra kesayangannya membuat tubuhnya serasa melayang.


"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" sang dokter dengan sigap menahan tubuh nyonya Mingguana yang hampir jatuh ke lantai.


"Dokter, saya merasa sedikit pusing," keluh nyonya Mingguana sambil memegang kepalanya yang terasa berput

__ADS_1


"Saya antar Nyonya keruang pemeriksaan saja," ujar sang dokter sambil memegang punggung nyonya Mingguana.


...***...


__ADS_2