
"Begitu ceritanya....." Ucap Hanaria mengakhiri ceritanya pada teman - temannya itu.
Hanaria melihat ekspresi teman - temannya ikutan kesal.
"Laki - laki yang bernama Mahendra itu memang sangat keterlaluan." Ucap Laras geram sambil mengepalkan tangannya. diatas meja.
"Aku memang pernah mendengar namanya itu, dia memang seorang playboy. Aku mendengar teman SMU adikku, juga pernah menjadi korbannya, tapi tidak sampai hamil seperti Firlita. Sepertinya laki - laki itu suka mengencani anak - anak gadis seusia SMU yang masih belasan tahun. Mungkin menurutnya gadis - gadis seusia SMU itu masih terlihat polos, lugu.... dan tidak berani meminta pertanggung - jawaban padanya." Ucap Norsa menebak.
Linda hanya termanggu - manggu memandang photo Mahendra yang ia buka dari salah satu halaman media sosial.
"Wajahnya tampan, ramah, dan menyenangkan..... tidak seperti penjahat wanita." Ucap Linda masih termangu - mangu menatap photo pria itu.
"Itu sebabnya, sering kita mendengar perkataan 'jangan tertipu dengan tampilan luarnya', ya.... inilah contohnya. Mahendra terlihat baik, bak malaikat saat mendekati para gadis incarannya, ternyata dia perusak dan penjahat wanita." Ucap Norsa lagi menimpali.
"Lalu apa tindakanmu selanjutnya Hana....." Tanya Shasie yang sedari tadi hanya ikut menyimak obrolan teman - temannya itu.
"Karena Mahendra tidak mau bertanggung jawab, aku terpaksa harus melanjutkan kasus itu." Sahut Hanaria mantap sambil menatap teman - temannya itu. Ia menghabiskan jus yang tinggal seteguk saja didalam gelasnya.
"Hana..... aku khawatir padamu...... Mahendra itu bukan pria biasa Hana. Kau tahu kan kalau ibunya Mahendra itu punya segalanya. Mereka bisa saja melakukan hal jahat padamu Hana..." Shasie terlihat khawatir, ia berusaha mengingatkan sahabatnya itu tentang kemungkinan - kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Iya.... kau benar Shasie..... aku juga berpikir seperti itu. Ibunya memang pernah mengancamku, bahwa ia sanggup melakukan sesuatu yang tidak terduga padaku saat kami ada dikantor polisi waktu itu." Ucap Hanaria membenarkan. Teman - temannya yang lain ikut merasa khawatir saat mendengar perkataan Hanaria.
"Hana.... mungkin sebaiknya kau tutup saja kasus itu. Menurutku, hal itu bukan hanya membahayakan dirimu saja, tapi juga Firlita dan keluargamu. Mereka pasti mencari tahu tentang dirimu Hana, keluargamu juga. Tidak sulit bagi mereka mendapatkan informasi yang ada kaitannya dengan dirimu, mereka punya uang, punya segalanya Hana." Shasie kembali menasehati temannya itu. Pekerjaan ayahnya sebagai seorang inteligen membuatnya sangat mengerti seluk beluk itu.
"Shasie benar Hana. Teman adikku yang SMU, yang telah kuceritakan tadi saja tidak sanggup berbuat apa - apa, padahal orang tuanya termasuk keluarga yang terpandang dikota ini." Ucap Norsa menambahkan.
Hanaria terdiam sejenak, otaknya berputar berusaha mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
"Duhh tampannya......" Suara Linda setengah berbisik sambil melihat kesatu arah jauh didepannya.
Hanaria yang tengah berpikir mau tidak mau melihat kearah yang dilihat oleh Linda, begitu juga dengan Norsa, Laras dan Shasie secara bersamaan.
__ADS_1
Hanaria yang tidak menemukan siapa orang yang dimaksud Linda, kembali menoleh kearah Linda. Namun yang terjadi, ia malah mendapatkan keempat temannya itu sedang menatap kesatu arah dengan tatapan penuh kekaguman tanpa mengedipkan mata mereka sedikitpun.
"Siapa yang kalian lihat??" Tanya Hanaria penasaran.
"CEO kita....." Sahut mereka bersamaan, namun tidak satu pun dari antara keempatnya melepaskan pandangannya barang sekejap kesatu arah sejak tadi.
Saat mendengar kata CEO, Hanaria langsung melenguh. Dirinya tidak mau menoleh lagi kearah belakangnya, ia langsung teringat akan dirinya yang sudah diberi SP1 oleh CEOnya itu, Ia merasa tidak mau berurusan lagi dengan tuannya itu.
"Udah yuk, kita kembali keruangan, jam istirahat sudah akan berakhir." Ucap Hanaria berusaha membuyarkan lamunan keempat sahabatnya itu.
"Kau duluan saja Hana, kami masih betah disini...." Ucap Linda masih pokus pada apa yang sedang ia lihat, demikian juga dengan Norsa, laras, dan Shasie.
"Baiklah, aku duluan kalau begitu, pekerjaanku masih banyak....." Ucap Hanaria sambil berdiri dari duduknya. Sementara teman - temannya masih betah pada posisi mereka masing - masing tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
Hanaria melangkah menuju meja kasir yang tidak jauh dari mejanya.
Hanaria memberikan kartu debitnya pada sang kasir.
"Tunggu sebentar.... " Hana menyimpan kartu debitnya kembali, ia melihat masih ada uang cashnya beberapa lembar didompetnya. Ia lalu menyerahkan satu lembar uang cash seratus ribuan pada kasir didepannya.
"Mohon ditunggu sebentar ya kak...." Kasir itu bergegas menuju meja kasir disebelahnya untuk menukarkan beberapa lembar uang yang dipegangnya.
Tidak lama kemudian, kasir itu kembali kemejanya, ia lalu memberikan sisa kembalian dari pembayaran Hanaria.
"Terima kasih mba....." Ucap Hana sambil tersenyum ramah dan dibalas oleh sang kasir.
BRUGGHH.....
Hanaria terkejut saat tubuhnya menabrak tubuh seseorang dibelakangnya saat ia berbalik.
Lembaran uang kembalian yang masih ditangan Hanaria terlepas dan berterbangan diudara hingga berjatuhan satu persatu dilantai kantin.
__ADS_1
"Maafkan saya pak..... Saya tidak sengaja....." Ucap Hanaria pada orang yang ia tabrak.
"Tidak apa - apa nona..... saya mengerti....." Pria itu lalu membantu Hanaria memungut beberapa lembaran uangnya yang terhambur dilantai.
"Ini.... milik anda nona....." Ucap pria itu sambil menyerahkan lembaran uang kertas Hanaria yang ada ditangannya.
"Terima kasih." Ucap Hanaria pada pria yang merupakan pegawai disalah satu divisi yang ada di perusahan itu juga.
"Lain kali.... hati - hati nona, jangan ceroboh. Disini bukan hanya dirimu saja, tapi masih banyak orang lain." Hanaria yang akan melangkah pergi menatap sejenak pada pria yang ia tabrak sebelumnya. Tapi ia yakin bukan orang itu yang berbicara karena suaranya tidak asing ditelinganya.
Hanaria mengalihkan pandangannya pada seseorang yang mengantri berdiri dibelakang pria yang ia tabrak tadi. Hanaria langsung terhenyak, ternyata benar dugaannya. Willy berdiri dengan wajah datarnya disana.
Hanaria langsung memutar bola matanya malas, malas berhadapan dengan majikannya itu lagi, dan malas merespon ucapannya yang tidak enak didengar.
Dengan bergegas, Hanaria melangkah dengan cepat untuk meninggalkan tempat itu.
"Laki - laki itu.... kenapa harus ada dia disana." Hanaria bergumam seorang diri dengan wajah kesal.
"Kenapa dimana - mana, dia selalu ada tiba - tiba." Kembali Hanaria berguman seorang diri sambil melangkah menuju lift pegawai menuju ruangan kerjanya.
"Tapi......" Hanaria langsung tersentak.
"Bagaimana tuan muda Willy tiba - tiba ada dibelakang pria yang kutabrak tadi? Bukankah Norsa, Laras, Linda, dan Shasie sedang sibuk memandang tuan Willy yang sedang makan dimeja yang agak jauh dari meja tempat kami makan siang. Jangan - jangan yang mereka lihat itu adalah kembarannya tuan muda Willy, sedangkan yang berbicara padaku tadi memang tuan muda Willy. Dari cara berbicaranya, kakak kembarannya itu, tidak sejahat tuan muda Willy saat mengeluarkan kata - kata." Hanaria terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Entahlah......" Hanaria malas berpikir lagi, ia segera memasuki lift yang akan membawanya kelantai 6, ruangan divisinya.
...•••...
♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡
Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇
__ADS_1