HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 70 Sekretaris Kepo


__ADS_3

Hanaria menatap matanya yang sembab, dan buliran - buliran bening yang terus mengalir membasahi pipi tirusnya, melalui pantulan cermin yang ada dihadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya, supaya suara tangisannya tidak terdengar oleh siapapun, termasuk dirinya sendiri. Ia menyentuh bibirnya yang membengkak,, beberapa luka itu menyebabkan rasa perih disana.


Bibir Hanaria bergetar, menahan rasa sakit dihatinya, lebih sakit dari luka gigitan yang ia alami. Dirinya merasa sangat terhina atas perlakuan Willy, sang tuan muda, CEO dan sekaligus anak pemilik perusahaan ternama tempat ia berkerja.


Kejadian dalam lift itu, seperti sebuah tayangan yang terus diputar berulang - ulang didalam kepalanya. Jika saja sekarang ia berada dialam lepas, ia pasti akan berteriak sekencang - kencangnya melepaskan segala apa yang ia rasakan, sayangnya, ini kantor, orang - orang pasti akan menanggap dirinya kesurupan, bila melakukan hal itu, akal sehatnya masih dapat ia gunakan.


Terdengar suara ribut - ribut didepan pintu toilet. Hanaria melihat arloji dipergelangan tangannya, kurang empat menit lagi, acara pertemuan akan dimulai. Hanaria segera membersihkan wajahnya menggunakan air dari kran wastafel didepannya.


Dengan sedikit menempelkan bedak diwajahnya, dan lifstik ala kadarnya saja, Hanaria lalu menyisir rambut panjang sepunggung yang sedikit bergelombang. Ia merapikan baju seragam dan rok selututnya yang sedikit kusut.


Hanaria kembali memandang wajahnya dipantulan cermin, seandainya saja ada Firlita disini, tentu gadis itu bisa menyulap wajahnya, supaya matanya yang sembab itu, tidak terlalu kentara terlihat. Setelah dirasa cukup, ia segera membuka puntu toilet yang sengaja dirinya kunci dari dalam saat masuk.


"Ada keributan apa disini?" Tanya Willy, yang baru saja lewat didepan toilet, hendak keruang pertemuan bersama Moranno ayahnya. Para pegawai wanita yang sedang ribut itu langsung bungkam, sambil membungkuk hormat, saat melihat kehadiran owner perusahaan tempat mereka berkerja. Linda, Shasie, Laras dan Norsa segera melepaskan cengkraman tangan mereka dari tubuh sekretaris Morin.


"Mereka berlaku kasar pada saya tuan......"Adu sekretaris Morin, ia beringsut mendekati Willy, sambil merapikan pakaiannya yang sudah kusut.


"Apa yang membuat kalian berlaku kasar pada sekretaris Morin?" Tanya Willy datar, menatap keempat wanita itu, yang ia kenal sebagai sahabat Hanaria. Sekretaris Morin yang berdiri dibelakang Willy, tersenyum mengejek pada keempat gadis yang telah mengganggunya, dirinya begitu bangga mendapat pembelaan dari sang CEOnya itu.


"Saya tidak sengaja melihat sekretaris Morin, sedang mengendap - endap mengikuti Hanaria tuan muda. Setelah saya mengikutinya, rupanya ia sedang mengintip Hanaria yang ada didalam toilet." Jelas Laras, sambil melirik sekilas, kearah sekretaris Morin. Willy memandang sekilas pada Moranno ayahnya, yang masih berdiri disebelahnya, lalu mengalihkan pandangannya pada sekretaris Morin.


"Untuk apa kau melakukannya sekretaris Morin??" Tanya Willy, dengan wajahnya datar.


"Mereka bohong tuan muda...... Saya tidak mengintip nona Hanaria tuan muda, saya hanya berniat masuk ketoilet saja." Bantah sekretaris Morin, wajahnya memerah, dan terlihat gugup.

__ADS_1


"Lalu apa maksud sekretaris Morin menempelkan telinga didaun pintu begitu lama.....?! Kalau bukan ingin mengetahui apa yang dilakukan Hanaria didalam." Tambah Laras lagi berargumen.


Pintu toilet tiba - tiba terbuka, Hanaria muncul didepan pintu. Semua mata terfokus pada wajah Hanaria yang terlihat sembab. Hanaria membuang pandangan matanya kearah teman - temannya, saat tatapannya dan Willy saling bertabrakan, hatinya langsung merasa muak melihat pria itu ada disana.


"Sekarang semuanya bubar.....! Sekretaris Morin, setelah pertemuan, kau harus menemuiku......" Ucap Willy pada sekretaris pribadinya itu. Ia lalu pergi dengan wajah dinginnya, diikuti Moranno yang tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sementara semua pegawai - pegawai wanita itu, membungkuk hormat pada Moranno dan Willy yang meninggalkan tempat keributan itu.


"Berani keroyokan saja......!!" Ujar sekretaris Morin ketus. Setelah berkata demikian, ia bergegas meninggalkan Hanaria dan teman - temannya, kembali kemeja kerjanya, yang ada didepan ruang kerja CEO. Wajahnya berlipat, menahan kesal atas perbuatan keempat teman Hanaria itu padanya.


"Dasar......!! Sekretaris kepo......!!" Balas keempat wanita itu serentak, sambil tertawa, balas mengejek. Namun sekretaris Morin tidak menggubrisnya, ia berusaha keras menahan dirinya.


"Hana, apakah kau baik - baik saja? Dan apa yang telah terjadi padamu?" Tanya Shasie, sambil mendekati Hanaria, ia memperhatikan mata Hanaria yang terlihat sembab. Sementara teman - temannya yang lain, ikut menatap wajah Hanaria, mereka hanya bisa saling berpandangan satu sama lain.


"Aku....... Baik - baik saja....... Aku belum bisa cerita sekarang teman - teman, maafkan aku ya...... Sebaiknya kita keruang meeting dulu, ini sudah waktunya...... nanti kita bisa terlambat." Ujar Hanaria lesu, sambil memperlihatkan arloji ditangannya, pada teman - temannya.


Saat memasuki ruangan meeting, Hanaria, dan keempat sahabatnya disuguhkan dengan pemandangan yang tidak biasa. Kursi - kursi tersusun rapi berbaris - baris, tidak ada satupun meja didalam ruangan yang biasanya dipergunakan untuk meeting.


Dilayar panggung, diperlihatkan siaran langsung salah satu televisi swasta, yang sedang menayangkan hasil liputan wisuda Hanaria bersama - sama teman - teman kampusnya, pada saat wisuda kemarin.


"Apa maksud semuanya ini??" Tanya Hanaria bingung, ia berbisik pada Linda, yang berjalan disampingnya. Dirinya merasa tidak nyaman.


"Entahlah...... Aku juga tidak mengerti Hana......" Sahut Linda balas berbisik, sambil mengangkat kedua bahunya. Hanaria, dan keempat sahabatnya terus memasuki ruangan meeting itu, dan duduk dikursi yang masih kosong paling belakang.


Sekilas, Hanaria mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan, wajah - wajah itu yang hadir adalah semua pegawai yang ada di Divisi Arsitekture tempatnya berkerja. Nampak tuan Doffy duduk dikursi paling depan, bersama pemilik perusahaan, tuan Moranno dan putranya Willy, dan ada satu kursi kosong disana.

__ADS_1


Pandangan Hanaria kembali ia arahkan kedepan, dimana saat dirinya sedang menyampaikan kata sambutan, mewakili para wisudawan dan wisudawati masih ditayangkan lewat layar slide.


Tuan Doffy berdiri, ia membungkuk hormat pada Moranno, dan Willy. Setelahnya, pria berkaca mata itu menaiki panggung, dan berdiri dipodium. Sesaat, ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, sambil melemparkan senyum tipisnya.


"Beri up plus pada nona...... HANARIA.......!!!" Seru tuan Doffy sesaat setelah tayangan dilayar slide usai. Suara riuh tepuk tangan menggema, memenuhi ruangan pertemuan itu. Jantung Hanaria mendadak berdetak kencang, saat mendengar namanya disebut, dan gemuruh tepuk tangan, dari seluruh teman - teman pegawai dalam Divisi ia berkeja.


"Segenap pegawai Divisi Arsitekture, mengucapkan selamat......!!! Atas di wisudanya nona Hanaria kemarin.......!!! Yang telah mengukir prestasi gemilangnya di universitas tempat ia mengenyam pendidikan. Saya pribadi turut bangga, karena nona Hanaria, juga adalah salah satu pegawai yang bekerja di Divisi Arsitekture perusahaan Agatsa Properti Group."


"Hal ini, tentu saja sangat berpengaruh dalam meningkatkan minat kerjasama perusahaan - perusahaan yang mau berkerja sama dengan perusahaan kita. Prestasi nona Hanaria membuat perusahaan kita yang sudah mendapat kepercayaan, akan semakin dapat dipercaya."


"Selain itu dalam enam bulan terakhir, ada 13 proyek perusahaan yang ditangani perusahaan kita, sudah selesai dengan hasil yang memuaskan, dan arsiteknya ada nona Hanaria. Dan untuk pegawai arsitek lainnya, kiranya bisa lebih berkerja keras lagi, bisa mencontoh dari prestasi nona Hanaria." Tutur tuan Doffy penuh pujian, dengan rasa bangga pada pegawai kesayangannya itu.


Hanaria yang mengambil duduk paling belakang, dan paling sudut, merasa tersipu mendengar pujian dari tuan Doffy, atasannya yang menjabat sebagai kepala Divisi Arsitecture. Ditambah lagi, keempat sahabatnya yang ikut memuji dan menggoda dirinya.


"Nona Hanaria.....?!!" Suara tuan Doffy yang menggema tiba - tiba mengejutkan Hanaria yang duduk disudut ruangan.


"Anda dipersilahkan naik ke panggung.......!" Lanjut tuan Doffy. Hanaria menoleh kearah teman - temannya, dirinya merasa tidak yakin pada pendengarannya.


"Ayo cepat Hana, tunggu apa lagi...... Kalau namaku yang dipanggil, aku pasti lebih laju meluncur dari pada pesawat......" Ujar Laras menggoda. Hanaria akhirnya berdiri, ia melangkah kedepan, tapi kali ini berbeda, langkahnya terasa begitu berat, karena ia melihat Willy duduk paling depan, disamping ayahnya Moranno.


...***Terima kasih buat readers yang sudah mampir dan meninggalkan like dan comennya....


...Authorl sangat menghargainya sebagai dukungan bagi author untuk lebih semangat lagi menulis. 😊🙏***...

__ADS_1


__ADS_2