HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
301. Privasi Yang Terselubung


__ADS_3

Dokter Faraz tersenyum kecut. Ia melangkah meninggalkan pintu ruang rawat inap milik Rosalia. Entah kenapa hatinya terasa panas, apa dia cemburu? Ini gila, bagaimana mungkin dirinya bisa jatuh cinta sedalam ini pada rekan kerja seprofesinya, yang menjadi bawahannya.


"Bagaimana keadaan putri saya Dok?" Hartawan berdiri, dan mendekati Faraz yang baru saja keluar dari ruang rawat inap putri kesayangannya.


"Dokter Rosalia sudah lebih baik. Saya lihat dia sudah mau makan. Sepertinya dalam satu atau dua hari kedepan, dokter Rosalia sudah bisa pulang dan beristirahat dirumah untuk memulihkan tenaga, setelah itu baru bisa berkerja kembali." jelasnya dengan memamerkan senyum ramahnya.


Pria itu membungkuk hormat saat melihat Moranno bersama isteri dan ibunya juga hadir disana, ikut berdiri disisi Hartawan. "Selamat Malam Tuan Moranno, Nyonya, dan Nyonya besar," sapa Faraz ramah. "Senang bisa bertemu dengan Tuan, dan Nyonya-Nyonya."


"Selamat malam juga dokter Faraz, kami juga begitu," Moranno tersenyum begitu pula dengan Yurina disampingnya. Sementara nyonya Agatsa bersikap datar tanpa ekspresi.


Faraz menyadarinya, namun ia tidak terlalu memperdulikannya. Sebagai kepala rumah sakit Pemerintah ia cukup mengenal sosok pemilik Agatsa Hospital itu, seorang yang arogan dan bukan wanita tua biasa. Nyatanya, salah satu rumah sakit swasta yang ia bangun, kini memiliki kredibilitas sangat baik dihati sebagian besar masyarakat kota mereka dibanding rumah sakit yang tengah ia pimpin.


"Saya permisi, masih ada pasien yang akan saya tangani lagi." Pamit Faraz sambil tersenyum lalu kembali membungkuk hormat.


"Silahkan Dok," sahut Hartawan mewakili para tamu yang bersamanya.

__ADS_1


Faras yang sudah beberapa langkah menjauh, kembali berbalik mendekat. "Maaf, bolehkan tuan Hartawan menemui saya satu jam lagi dari sekarang diruangan saya. Ada yang ingin saya obrolkan mengenai kesehatan dokter Rosalia."


"Tentu saja boleh. Saya akan keruangan Anda dok, satu jam lagi." setuju Hartawan.


"Baik, terima kasih." Dokter Faraz tersenyum, lalu meninggalkan tempat itu.


"Apa lagi yang ingin diobrolkan?" nyonya Agatsa masih memberikan tatapan datarnya, memandang kepergian dokter Faraz yang semakin menjauh.


"Bukankah tadi sudah jelas, dia sendiri yang mengatakan kalau Rosa sudah lebih baik, dan dalam satu atau dua hari kedepan boleh pulang dan beristirahat untuk pemulihan sebelum memulai berkerja kembali. Dasar dokter aneh."


Moranno menoleh pada ibunya. Ia merasa tidak enak mendengar cercaan ibunya pada dokter Faraz yang telah menangani Rosalia, apalagi sang ibu mengatakan itu dihadapan Rosalie dan Hartawan.


"Privasi yang terselubung? Heuh!" nyonya Agatsa tersenyum sinis. Ia lalu mengarahkan atensinya pada Hartawan yang berdiri tidak jauh darinya.


"Semoga saja dokter tua itu tidak meminta Rosaliaku yang cantik dan muda itu menjadi isterinya yang kesekian. Aku pastikan Rosalia pasti tidak akan pernah mau bersanding dengan pria tua," setelah berucap demikian nyonya Agatsa berlalu begitu saja meninggalkan Hartawan yang mematung bersama Moranno dan isteri-isteri mereka.

__ADS_1


Wanita berambut putih dan masih terlihat enerjik dengan gaya elegannya itu memasuki ruang rawat inap dimana Rosalia dirawat.


"Maafkan Mommy saya tuan Hartawan. Tahu sendirii 'kan? Kalau Mommy orangnya memang begitu. Apa yang ada didalam hatinya, ia tidak pernah sungkan mengungkapkannya. Tolong jangan diambil hati," mohon Moranno. Sejak dulu, sikap ibunya yang blak-blakan itu sering membuatnya pusing, dan ujung-ujungnya dirinya lah yang akan memohonkan maaf untuk ibunya.


".....--"Hartawan baru membuka mulutnya, namun Rosalie telah mendahuluinya.


"Saya 1000 persen mendukung pernyataan Nonya besar." Rosalie menatap serius pada Moranno.


"Rosalia TIDAK akan pernah setuju bersanding dengan seorang dokter tua!" tekan Rosalie mengalihkan pandangannya menatap datar pada suaminya.


Moranno dan Yurina saling berpandangan tidak mengerti. Baru kali ini sepasang suami isteri itu melihat Rosalie bersikap demikian pada Hartawan.


"Mari Nyonya, kita masuk menyusul Nyonya besar," ajak Rosalie menyentuh lengan Yurina tanpa menoleh pada suaminya yang tengah mengunci mulutnya.


"Suamiku, aku masuk duluan," pamit Yurina pada Moranno, walau ia masih belum mengerti apa yang tengah terjadi pada Rosalie dan Hartawan yang saling bersikap dingin.

__ADS_1


Setelah mendapat anggukan suaminya, Yurina gegas menyusul Rosalie yang telah melangkah lebih dulu meninggalkan tempat mereka berdiri.


Bersambung...👉


__ADS_2