
"Dari keseluruhan kisah yang kak Hana sampaikan, aku pribadi merasa tuan Moranno dan nyonya Yurina itu, mereka sepertinya tulus kak, menerima kakak menjadi menantu keluarga mereka." Ucap Firlita sambil menatap wajah Hanaria yang masih terlihat kelabu dan berkabut.
"Sangat berbeda dengan nyonya Mingguana, nyata - nyatanya putranya sudah menghamiliku, dan telah melihat hasil DNA yang ditunjukan pihak kepolisian, masih saja mau berkilah dan mencari cara untuk bisa lepas dari tanggung jawab. Sebenarnya aku tidak mau membandingkan kak, tapi apa mau dikata...... ya, begitulah kenyataannya yang terjadi."
"Kak Hana....... Alangkah baiknya, kalau kakak cerita pada ayah dan ibu didusun, supaya kakak tidak terlalu berat memikirkannya seorang diri., mereka pasti mengerti, apa lagi kakak adalah putri mereka, mereka pasti lebih mengenal kakak lebih dari siapapun." Ucap Firlita menyarankan.
"Kau benar Fir..... Kakak memang harus cerita semuanya, karena cepat atau lambat, ayah dan ibu pasti tahu juga. Lebih baik mereka dengar sendiri ceritanya dari kakak, dari pada mendengar dari orang lain yang bisa saja menimbulkan salah faham."
"Terima kasih ya Fir untuk saranmu. Kakak lumayan merasa lega sekarang......." Ucap Hanaria sambil memeluk Firlita dengan erat.
"Sama - sama kak...... Kita istirahat dulu yuk, aku udah mengantuk nih...... " Firlita melonggarkan pelukannya.
"Yuk..... Kakak juga sudah mengantuk, berbagi cerita denganmu membuat kakak sepertinya bisa tidur malam ini Fir....." Ujar Hanaria turut melepaskan pelukannya.
...***...
Seperti biasanya, lalu lintas menuju kantor selalu ramai dan macet, keadaan itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Hanaria. Pagi ini hatinya cukup lega karena sudah di refresh oleh perbincangan dirinya bersama kedua orang tuannya lewat telepon mengenai masalah yang tengah ia hadapi.
Walau sempat diwarnai keterkejutan yang luar biasa dari kedua orang tuanya saat mendengar berita dari putrinya pagi itu, namun mereka tetap menanggapinya secara bijak sebagai orang tua.
Hanaria memarkirkan mobilnya dilahan parkir pegawai, lalu dengan langkah ringan ia menuju lobby samping untuk naik lift. Ia menghentikan sejenak langkahnya saat dilihatnya Willy baru keluar dari mobilnya.
Dengan cepat, Hanaria langsung bersembunyi dibelakang mobil pria itu supaya keberadaannya tidak terlihat.
__ADS_1
Deg! Deg! Deg! Jantungnga mendadak berdetak tidak beraturan. Tapi itu bukan karena cinta, hanya ada perasaan takut saat bertemu dengan Willy, setelah pembahasan semalam yang belum mendapatkan penyelesaiannya dari dirinya.
Hanaria berusaha menenangkan jantungnya yang tidak mau berkompromi dengan dirinya, hingga membuat nafasnya terasa sedikit sesak. Ia terpaksa mengambil nafas dari mulut dan mengeluarkannya juga dengan mulutnya supaya lebih lega.
"Apa yang kau lakukan dibelakang mobilku nona Hana?"
Suara bariton itu sudah sangat ia hafal. Kenapa juga pemilik suara itu harus memergoki dirinya bersembunyi dibelakang mobilnya. Sekarang dirinya harus menjawab apa, ucap Hanaria didalam hati sambil memejamkan mata, berfikir keras harus berkata apa.
"Nona Hana..... Apakah kau mendengarkanku? Apa yang sedang kau lakukan dibelakang mobilku?" Tanya Willy lagi, menatap curiga pegawai perempuannya itu.
"Tidak ada tuan muda....... Saya hanya bersembunyi saja disini. Lalu untuk apa tuan muda malah kebelakang mobil ini, bukannya langsung ke lobby." Ucap Hanaria memberanikan diri karena sudah kepalang basah.
"Ini 'kan mobil saya, tentu saja ada yang mau saya ambil dibagasi belakang sini bila saya kemari. Lalu untuk apa nona Hana bersembunyi disini. Memang bersembunyi dari siapa? Tidak mungkin pagi - pagi begini ada hantu!" Ucap Willy dengan tatapan menyelidik.
Willy hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, ia berusaha menahan dirinya, sambil menatap kepergian Hanaria. Wanita itu benar - benar tidak ada kapok - kapoknya fikirnya, sepagi ini, sudah berani mengatakan dirinya hantu.
...***...
"Nona Hana, saya sudah memeriksa pekerjaan yang sudah kau perbaiki itu, dan memperlihatkannya pada tuan Louis tadi pagi. Dia sangat setuju, konsep design mu sangat menarik disudut yang harus kita perbaiki itu." Pujinya.
"Bagaimana kalau siang ini saya mentraktir nona Hana makan siang dikantin. Saya begitu merasa lega. Dapat kau bayangkan nona, bila tuan Louis tidak setuju, kita harus merombak dua sisi tembok beton, bisa - bisa saya mendapat teguran keras dari tuan Moranno mengenai masalah itu." Ucap tuan Doffy dengan senyum sumringahnya.
"Saya heran, lagi - lagi proyek itu dibawah pimpinan proyek pak Paris. Padahal dia sudah diberi surat peringatan. Bila masih terjadi kesalahan, pak paris bisa dipecat secara tidak hormat." Ucap tuan Doffy seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Mendengar perkataan tuan Doffy, Hanaria kembali teringat pada pak Paris, saat terakhir ia bertemu dengan pria itu didepan pintu masuk ruangan tuan Doffy, ia sedang memegang satu amplop yang sempat terjatuh, mungkin itu yang dimaksud oleh tuan Doffy, fikirnya.
"Boleh saja tuan...... Tapi bila tuan mentraktir saya, dibelakang saya akan banyak pasukan yang akan ikut ditraktir." Ucap Hanaria berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tidak masalah nona Hana..... Dari pada saya harus mengganti dua tembok beton yang bisa mencapai hingga puluhan juta rupiah." Kekeh tuan Doffy.
"Baikalah tuan Doffy, kita bertemu dikantin sebentar lagi, saya akan mengantarkan berkas - berkas ini keruangan saya." Hanaria pergi meninggalkan ruangan kerja tuan Doffy. Seperti biasanya, ia membawa berkas - berkas proyek baru dan lama yang harus dirinya design lagi.
"Kau serius Hana...... kalau tuan Doffy juga mentraktir kita - kita?" Tanya Norsa tak percaya.
"Iya serius lah Norsa, masa bohong sih..... Yuk, ah..... Ntar waktu istirahat makan siangnya keburu habis." Ajak Hanaria sembari keluar dari ruangan Divisi Arsitecture diikuti rekan - rekannya itu.
"Aku ikut dong......" Kejar Harison, saat melihat gadis - gadis itu bergerombol memasuki lift pegawai.
"Ayolah...... Hitung - hitung ada pria yang nemani tuan Doffy, masa semuanya para gadis......." Ucap Hanaria sambil mengatur letak berdirinya didalam lift.
"Itu..... dua cewek Korea Bule, apa ikut dengan kita juga?" Bisik Shasie ditelinga Hanaria, saat melihat Edrine dan Stefhany ikut bergabung dengan mereka didalam lift.
"Iya...... mereka kan anak magang asuhanku dan tuan Doffy." Sahut Hanaria ikut berbisik pelan.
"Ting - tong ....!" Pintu lift terbuka dilantai dua. Mereka lalu melangkah keluar lift menuju kantin.
Semua pasang mata pria fokus melihat Edrine dan Stefhany yang terlihat begitu seksi, cantik, imut, dan manis, saat memasuki kantin. Sudah satu minggu belakangan ini, mereka menjadi pusat perhatian mulai awal menjadi anak magang diperusahaan itu.
__ADS_1
Tatapan pasang mata itu langsung teralihkan saat melihat Hanaria yang masuk dibelakang para gadis - gadis itu, ia telihat lebih jangkung sendiri, dari bahu keatas ia memang terlihat lebih tinggi. Namun bukan itu saja yang membuat dirinya jadi pusat perhatian. Apalagi kalau bukan karena video dirinya dan Willy yang sudah jadi konsumsi publik.