
"Asisten David, Softcopy yang telah kau kirim lewat e-mail-ku, berikan hardcopy-nya sekarang," pinta Hanaria tanpa memandang kearah asisten David.
"Mohon ditunggu sebentar Nona, office boy masih dalam perjalanan menuju kemari," sahut asisten David.
"Hm, baiklah." ucap Hanaria menegakkan tubuhnya dari sandaran kursinya.
"Nona, terima kasih untuk hadiah yang telah Anda berikan pada putri saya kemarin," ucap asisten David sambil membungkuk hormat, mengingat beberapa macam boneka mahal kesukaan putrinya yang dikirim langsung kerumahnya, walau sebenarnya dirinya merasa heran bagaimana bos barunya itu mengetahui putrinya menyukai semua boneka-boneka itu.
"Sama-sama," sahut Hanaria singkat.
"Apakah kau masih rajin mengirim infornasi pada nyonya-mu dipenjara?" tanya Hanaria tiba-tiba sambil memberikan tatapan mengintimidasi.
"Tidak Nona," sahut asisten David cepat.
"Bagus. Perlu ku ingatkan, aku hanya memberi satu kali kesempatan. Bila kepercayaanku dikhianati, ku pastikan tidak akan ada kesempatan kedua," ancam Hanaria dengan nada rendahnya.
"Putrimu sekolah dimana, apa kesukaannya, apa hobby-nya, dan juga makanan favorit-nya, semua aku tahu. Termasuk dirimu dan juga isterimu asisten David," sambung Hanaria.
"Saya mengerti Nona," sahut asisten David, dirinya memang sudah terbiasa berkerja dibawah tekanan semenjak menjadi asisten nyonya Mingguana, pembisnis bergaya mafia itu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap asisten David menatap kearah pintu, begitu pula dengan Hanaria yang duduk dibelakang mejanya.
"Permisi asisten David, permisi Nona," ucap seorang pria berpakaian office boy sambil membungkuk hormat.
"Letakan berkas-berkas itu diatas sini," tunjuk asisten David pada satu meja kosong yang telah dirinya siapakan secara khusus berada didekat meja kerja Hanaria untuk berkas yang dibawa office boy itu.
"Tidak, letakan langsung diatas mejaku saja. Dan semua berkas yang ada dimejaku ini, pindahkan keatas meja kosong itu," ucap Hanaria pada kedua pegawainya itu.
"Tapi Nona, bukankah berkas-berkas itu baru saya lettakan tadi pagi dimeja Anda?" asisten David nampak bingung.
Turuti saja perintahku," ucap Hanaria datar.
"Baik Nona," sahutnya sigap.
__ADS_1
"Tolong, bantu saya memindahkan semua berkas-berkas penting itu dari meja Nona," pinta asisten David pada office boy itu.
Keduanya lalu memindahkannya, sementara Hanaria kembali sibuk menatap layar laptop dihadapannya, dengan jari-jarinya yang bergerak kesana kemari diatas keyboard dengan lincahnya.
"Asisten David, tolong buat jadwal pertemuanku dengan para petinggi empat perusahaan tambang itu dalam dua minggu kedepan," ucap Hanaria disela-sela kesibukan asisten David memindahkan berkas-berkas yang ada.
Pria itu menegakkan tubuhnya kambali, dan memandang sejenak pada majikan barunya yang terbilang jauh lebih muda dari dirinya itu.
"Apa Nona yakin? Bukankah sekarang kita sedang dalam masa mengaudit Mega Otomotif?" tanya asisten David hati-hati.
"Kau meragukan ucapan dan kemampuanku asisten David?" Hanaria balik bertanya.
"Maafkan saya Nona,. B-bukan itu maksud saya," ucap asisten David merasa canggung, melirik sang majikan muda yang tidak sedikitpun nelihat kearahnya.
"Kalau begitu--, lakukan sesuai apa yang kukatakan," sahut Hanaria lagi. Pandangannya masih pokus pada layar laptop yang penuh dengan informasi yang harus ia pelajari dengan cermat dan cepat.
"B-baik Nona," sahut asisten David tanpa membantah lagi. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda
Berkas-berkas yang menggunung sebanyak itu, bagaimana mungkin dapat diselesaikan sang majikan untuk mempelajarinya dalam waktu yang singkat? Sementara dalam lima hari mendatang ,sang majikan mudanya itu juga sudah memaksa para team audit Mega Otomotif untuk segera menyerahkan hasilnya. Asisten David hanya bisa bermonolog seorang diri didalam hatinya, baru hari pertama berkerja, sang majikannya itu seolah sedang berpacu dengan waktu. Ada apakah gerangan? batinya lagi.
Willy turun dari mobilnya. Biasanya, dirinya akan disambut oleh senyum hangat Hanaria sepulang dari berkerja, tapi hari ini tidak. Mungkin akan seterusnya seperti itu, hingga batas waktu yang tidak ditentukan batinnya.
Dengan langkah gontainya, ia melangkah meninggalkan mobilnya yang sudah terpakir rapi pada garasi rumah besar keluarganya, tanpa menoleh kekiri dan kekanan.
"Dad! Dad!" terdengar suara tidak jelas memanggil, tapi Willy yang sedang tidak pokus tidak mendengar.
Merasa berulang kali tidak dihiraukan, bayi Elvano mulai memekik nyaring, menangis diatas keretanya membuat bibi Salu yang sedang menemaninya bermain ditaman halaman depan kalang kabut.
"Cup-cup-cup, tenang ya den Elvano. Daddy pasti lagi lelah," ujar bibi Salu seraya menggendong bayi mungil itu. Bukannya tenang, Elvano semakin meraung saat dibawa bibi Salu menjauh masuk kedalam taman.
Prok! Prok! Prok!
Bibi Salu membalikan tubuhnya. Ia melihat Willy sedang melambaikan tangan kearahnya, setelah menepuk kedua belah telapak tangan sebagai isyarat memanggilnya. Bibi Salu bergegas mendekat, membawa bayi Elvano dengan hati-hati dalam gendongannya.
"Kenapa Elvano menangis?" tanya Willy pada bibi Salu, ia menatap wajah anak adopsinya yang penuh dengan air mata dan masih menangis walau tidak sekencang sebelumnya.
__ADS_1
"Itu Tuan, saat melihat Tuan tidak menoleh dan menghiraukannya, den Elvano menangis. Saya berusaha membujuknya, tapi tangisnya semakin kencang saja," jelas bibi Salu seadanya.
"Berikan dia padaku," pinta Willy yang tiba-tiba merasa iba, ditambah lagi tangan kecil bayi mungil itu tengah menggapai-gapai kearahnya.
"Ini Tuan," bibi Salu menyerahkan bayi Elvano yang langsung menghentikan tangusnya dengan wajah girangnya saat tangan Willy menraih tubuhnya.
"Siapkan semua peralatan mandinya, aku sendiri yang akan memandikannya Bi," pinta Willy pada sang bibi pengasuh bayi Elvano itu.
"Baik Tuan,," dengan cepat Bibi Salu meraih dan membawa tas kerja Willy dan menyiapkan apa yang diminta oleh tuannya itu.
"Ternyata kau sudah mulai berat juga, heum?" ucap Willy sambil menimang bayi Elvano yang kegirangan dalam gendongannya dan membawanya masuk menyusul bibi Salu yang mendahuluinya.
"Hallo sayang, kau sudab pulang?" sapa Yurina begitu melihat putranya melintas didekatnya.
"Iya Mom," sahut Willy seraya menghentikan langkahnya, ia mencium pipi sang bunda seperti biasanya.
"Hai Vano, senang ya Daddy-mu sudah pulang," ujar Yurina menatap bayi itu dengan senyum mengembang.
"Aaaoo..."sahut bayi Elvano dengan air liurnya yang ikut tertumpah jatuh ditangan Willy.
"Kau jorok sekali Vano," ujar Willy buru-buru meminta tissue pada ibunya.
"Namanya juga bayi, iya begitu," ucap Yurina memarahi putranya sambil memberikan beberapa lembar tissue dari atas meja ruang tamu.
"Kiss Oma dulu sayang," Yurina memajukan pipi kanannya dan menempelkannya pada wajah Elvano, membuat bayi itu semakin kegirangan sambil menjambak dan mengacak rambut sang oma dan tidak lupa meninggalkan air liurnya dipipi oma-nya itu.
Bukannya merasa jijik, Yurina mengusap pipinya dengan satu tangannya dan menempelkannya ke hidung mancung Willy.
"Iiih Mommy sama joroknya dengan Elvano!" sungut Willy kesal, berusaha menghapus ileran Elvano menggunakan satu tangannya yang lain. Sementara bayi Elvano tergelak kegirangan melihat tingkah Willy yang terlihat jijik merasakan lendir yang menempel diujung hidungnya.
"Ini sebagai latihan sayang, dan kau harus mulai terbiasa dari sekarang, saat anakmu lahir nanti, kau sudah berpengalaman." ucap Yurina terkekeh sambil mengelus punggung putranya.
"Willy naik dulu ya Mom, mau memandikan bayi ileran ini," ucap Wily menunjuk bayi Elvano dalam gendongannya.
"Baiklah, nanti segera turun kalau sudah selesai, Mommy akan menyiapkan makan malam," ucap Yurina menyetujui lalu memberi satu ciuman lagi pada bayi Elvano yang kembali kegirangan mendapat ciuman dari sang oma.
__ADS_1
Bersambung...👉