
"Apakah telingamu masih bisa berpungsi untuk mendengarkan nona Hana?" Ucap Willy saat Hanaria hanya menatapnya penuh curiga.
"Iya tuan muda..... saya masih bisa mendengar....." Hanaria berusaha menahan dirinya menatap tuannya yang melihat kearahnya sambl menyodorkan sendok berisi nasi, dan lauk pauk kemulut Hanaria.
"Kalau begitu..... Segeralah buka mulutmu seperti apa yang aku katakan tadi." Ucap Willy kembali mengulang perkataannya.
"Ijinkan saya saja yang menyuapi diri saya sendiri tuan muda, saya tidak mau merepotkan anda....." Pinta Hanaria berusaha sopan.
" Ini memang sangat merepotkan. Tapi aku tidak mau dikatakan pimpinan yang tidak bertanggung jawab pada pegawainya yang mengalami kecelakaan kerja didepan mataku. Tanganmu masih sulit digerakan, aku tidak mau kau menjatuhkan kotak makananmu ini sama seperti kau telah menjatuhkan ponselku." Jelas Willy.
"Tapi tidak harus anda tuan muda yang melakukan ini.... masih banyak perawat dirumah sakit sebesar ini, yang bisa merawat pasien seperti saya tuan......" Hanaria masih berusaha menolak. Terus terang dirinya merasa malu kalau harus dilayani tuannya itu. Menurut Hanaria, dirinya hanya seorang pegawai biasa yang tidak pantas dilayani sang pimpinan, terlebih Willy adalah salah satu anggota pemilik perusahaan dimana dirinya berkerja.
"Jangan banyak membantah..... Ayo cepat makan.... buka mulutmu....ini perintah....." Willy mulai tidak sabar menghadapi pegawainya itu.
"Tidak mau..... saya tidak akan bisa makan kalau tuan yang menyuapi saya..... tuan muda itu bos saya, bukan suami saya." Ucap Hanaria kesal dan asal. Ia tidak habis pikir mengapa tuannya itu bersikeras mau mengurus bahkan menyuapi pegawai seperti dirinya. Pasti bosnya itu mau balas dendam atas perbuatannya saat terakhir dirinya mengemudikan mobil tuannya itu dengan seenaknya saja ketika mereka pulang dari lokasi proyek.
Willy terkesiap mendengar ucapan Hanaria yang asal itu. Mulut pegawai perempuanya ini memang harus diberi pelajaran supaya tidak berbicara seenaknya saja lagi pada dirinya.
"Pegawai keras kepala.... Cup......" Hanaria mendadak kaku, matanya mendelik menatap wajah tuannya seolah tidak percaya. Bibirnya masih basah akibat ciuman bibir Willy yang terbilang singkat.
Tangan Hanaria langsung melayang keudara hendak memukul wajah tuannya itu. "Tidak sopan.....!!!" Teriak Hanaria kesal. Willy segera menangkap tangan Hanaria dengan satu tangannya membuat wanita itu meringis kesakitan, karena tangkapan tangan Willy tepat memegang lengannya yang baru saja dijahit akibat luka sobeknya.
"Aaww..... " Hanaria menatap lengannya yang sedikit gemetar menahan rasa sakit. Willy yang berniat untuk melindungi dirinya segera melepaskan tangannya dari lengan Hanaria yang diperban.
"Yang tidak sopan itu adalah mulutmu nona Hana. Kata - katamu sering tidak sopan saat berbicara padaku, hmm...... sampai - sampai aku terpakasa harus memberimu SP1 beberapa hari lalu, tapi itu tidak membuat dirimu jera, bahkan kau masih saja berbicara sesuka hatimu padaku." Kilah Willy ikut kesal.
"Tapi bukan begitu caranya. Tuan muda sama saja cari kesempatan dalam kesempitan....." Hanaria merasa tidak terima.
"Kau berbicara seperti itu, seolah - olah dirimu baru pertama kali melakukannya. Aku tidak percaya, wanita dewasa seperti dirimu tidak pernah melakukan hal itu pada lawan jenismu." Willy memperlihatkan senyum mengejek membuat Hanaria bertambah muak melihat wajah tuannya itu.
Kalau saja kondisi dirinya bisa bergerak dengan leluasa tentu saja Hanaria akan langsung membuat perhitungan dengan laki - laki yang sudah berani kurang ajar padanya itu, ia tidak perduli sekalipun pria itu adalah pimpinan dan anggota keluarga pemilik perusahaan dimana dirinya berkerja.
__ADS_1
"Tuan muda bertindak sewenang - wenang......saya bisa saja melaporkan anda......" Ucapan Hanaria langsung dipotong oleh Willy.
"Melaporkan apa? Melaporkan kepolisi seperti apa yang sudah kau lakukan pada pria yang telah menghamili adikmu itu??" Hanaria langsung mendelikkan matanya menatap garang kearah Willy yang berucap yang tidak pantas menurutnya.
"Maafkan aku....." Wlly yang langsung menyadari ucapannya berusaha meralat apa yang terlanjur keluar dari mulutnya.
"Aku.... tidak bermaksud berkata seperti itu...." Wajah Willy nampak menyesal.
"Sekarang buka mulutmu.... kau harus segera makan.... aku akan membantu menyuapimu...." Suara Willy terdengar melembut.
"Saya tidak lapar tuan muda..... tuan muda saja yang makan......"Hanaria masih menolak sambil membuang mukanya, hatinya masih tersulut emosi.
"Sekali lagi..... maafkan aku..... aku hanya berkesimpulan saat mendengar kau berpesan pada adikmu Firlita, supaya dirinya harus menjaga kandungannya. Dan aku teringat beberapa minggu lalu, kau melaporkan pria yang menganiya adikmu itu."
"Lupakan saja tuan muda....." Ucap Hanaria tidak ingin membahas tentang Firlita pada Willy.
"Sekarang, kau makanlah.... Aku akan makan setelah kau selesai makan. Aku melakukan ini karena kasihan padamu..Kau belum bisa bergerak leluasa menggunakan tanganmu untuk makan. Itu saja, tidak ada maksud lain." Willy berusaha membuat Hanaria mengerti maksud baiknya.
"Terima kasih karena tuan telah mengasihani saya..... Tapi saya mau perawat saja yang menyuapi saya tuan....." Hanaria masih berusaha menolak.
"Kau ingat.... aku pernah mengatakan apa padamu, bahwa aku bisa melakukan apa saja padamu pegawai wanitaku.... kau ingat itu.....atau kau memang sengaja supaya aku melakukan hal seperti tadi lagi.....??" Willy mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hanaria, sehingga gadis itu memundurkan tubuhnya hingga begitu merapat pada sandaran kursi rodanya.
"Baiklah..... saya akan makan tuan muda......!" Hanaria cepat berucap. Dirinya mendadak merasa takut pada majikannya itu.
Willy tertawa menyeringai. " Pegawai wanitaku yang pintar.... " Willy masih tertawa. Hanaria hanya membungkam, ia tidak berani berucap walau ia sangat ingin mengumpat. Tapi rasa takutnya membuat ia harus berusaha menahan diri, karena diruang rawat inap itu hanya ada dirinya dan tuan mudanya itu saja.
Jangan sampai dirinya bernasib sama dengan Firlita yang hamil tanpa suami. Pikiran yang tidak masuk akal itu membuat Hanaria begidik ngeri menatap wajah Willy yang sedang duduk berhadapan dengan dirinya.
Hanaria membuka mulutnya, menerima suapan pertama yang disodorkan Willy padanya.
"Kenapa?? Tidak enak??" Tanya Willy saat.melihat wajah Hanaria yang sedikit memicingkan kedua matamya.
__ADS_1
"Nasinya sudah agak mengeras, sayurnya juga agak hambar......" Ucap Hanaria mengatakan apa yang ia rasakan didalam mulutnya.
"Tentu saja..... makanan ini sudah dingin.... kau terlalu banyak drama...... kalau sedari tadi kau segera memakannya, pasti rasanya tidak seperti sekarang ini. Aku akan meminta suster memesan yang baru." Willy berdiri dari kursinya dan meraih ponsel didalam sakunya.
"Tidak perlu tuan..... saya makan yang ini saja...." Ucap Hanaria segera.
"Tadi kau bilang nasinya keras dan sayurnya hambar....." Willy mengerutkan dahinya.
"Tidak apa - apa tuan.... Saya sudah sangat lapar.....tidak bisa menunggu..... pasti lama pesanannya baru datang." Sahut Hanaria. Dirinya memang lapar, namun alasannya tidak mau mengganti makanannya supaya dirinya bisa segera menghabiskan makanannya itu, dan tuannya itu bisa segera pergi dari ruang rawat inapnya.
"Baiklah kalau begitu....." Willy kembali duduk dikursinya. Ia mulai kembali menyuapi Hanaria. Hanaria kembali menerima suapan dari Willy.
Dengan susah payah Hanaria berusaha menelan makanan didalam mulutnya, selain makanannya sudah menjadi dingin dan mengeras, dirinya juga merasa tidak nyaman ditatap oleh pimpinannya itu disaat sedang mengunyah makanannya.
"Kau serius..... tidak mau mengganti makananmu ini??" Willy yang memperhatikan wajah Hanaria yang sedang makan merasa kasihan pada gadis dihadapannya itu.
"Iya tuan muda....." Sahut Hanaria masih dengan mulut penuhnya.
"Bisakah tuan muda tidak terus menatap saya..... saya merasakan seolah menelan duri saja bila dilihat terus seperti itu....." Ucap Hanaria jujur setelah berhasil menelan makanannya.
"Baiklah......" Willy kembali menyuapi Hanaria, setelahnya ia melihat kearah lain sambil menunggu Hanaria mengunyah dan menelan makanannya. Bila ia merasa Hanaria sudah menelan makannya ia kembali melihat kearah Hanaria untuk menyuapinya, setelahnya ia akan kembali melihat kearah lain. Dèmikian Willy melakukannya berulang - ulang hingga makanan dalam kotak makanan ditangannya habis.
"Ini gelasmu...... habiskan minummu....." Willy menyodorkan gelas dengan hati - hati kebibir Hanaria untuk membantu pegawainya itu minum.
"Terima kasih tuan muda....." Ucap Hanaria setelah menghabiskan minumannya.
"Sama - sama......" Ucap Willy tanpa melihat wajah Hanaria yang tengah menatapnya. Ia berdiri dari duduknya, dan sedikit menggeser kursi duduknya kebelakang. Lalu beranjak kemeja yang tidak jauh dari tempat dirinya berdiri dan meletakkan kotak makan dan gelas disana.
...•••...
♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡
__ADS_1
Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇