
Perhatian !!!
Area Dewasa !!!
+21 Tahun
Hanaria baru saja tiba dikantor Agatsa Properti Group, dengan tergesa - gesa, dirinya mempercepat langkah kakinya hingga setengah berlari menuju lift pegawai yang ada dilobby samping.
Divisi Arsitekture lantai 6 nampak lengang. "Pada kemana orang - orang..... " Gumam Hanaria saat memasuki ruangan yang kosong. Perasaannya tiba - tiba menjadi tak enak. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 8 pagi tepat.
Ponsel Hanaria berderit didalam sakunya. Ia segera meraihnya untuk melihat siapa yang menelpon.
"Hallo......." Hanaria langsung mengangkat ponselnya saat dilihatnya Linda yang menelpon.
"Kau dimana Hana.....?? Cepat keruang pertemuan dilantai 7. Jangan lama - lama......! Hanya kau saja yang masih kami tunggu Hana.....! " Ucap Linda dari sambungan telepon.
"Ada pertemuan apa disana Linda?" Tanya Hanaria penasaran, dirinya tidak tahu apa - apa karena sehari sebelumnya ia tidak turun kerja karena kegiatan wisuda dikampusnya.
"Jangan banyak tanya !!! Buruan.....!!! " Linda langsung memutuskan panggilannya. Hanaria menjauhkan ponselnya dari daun telinganya. Suara Linda terlalu memekik nyaring hingga kegendang telinganya.
"Apaan sih Linda.......!" Sungut Hanaria, ia lalu menyimpan kembali ponselnya didalam sakunya. Setelah mengabsen wajahnya, Hanaria buru - buru meninggalkan ruang divisinya menuju satu lantai diatasnya dengan membawa tas ransel dipunggungnya.
Ting...... Tong......!!! Suara lift terbuka, Hanaria langsung masuk dengan tergesa - gesa karena takut terlambat mengikuti perremuan, tanpa memperhatikan lift apa yang sedang dirinya masuki.
Kaki Hanaria tidak sengaja tersandung besi pada pintu masuk, membuat dirinya oleng dan menubruk seseorang yang ada didalam lift, dan lift itu lalu menutup dengan sempurna.
Khawatir dirinya terjatuh, Hanaria memeluk erat pria yang ada didalam lift. Kejadian itu terlalu cepat. Pria itu dengan spontan menangkap tubuh Hanaria yang hampir terguling kelantai, hingga punggung Hanaria menempel pada dada laki - laki itu.
Hanaria sempat terpaku...... saat merasakan remasan sepasang tangan pria dibelakangnya pada dua gunung kembarnya. Setelah mengumpulkan tenaganya, Hanaria segera menegakan posisi berdirinya dan menepis dengan kasar sepasang tangan yang menyentuh dada keperawanannya. Ia segera berbalik untuk mengetahui siapa pria kurang garam itu.
__ADS_1
"Tuan muda......!!!???" Seru Hanaria.
"Nona Hana.......!!!???" Willy tidak kalah terkejut. Keduanya sama - sama memekik didalam lift.
"Dasar.......!!!" Hanaria hendak memaki, tapi ucapannya.teetahan, karena buru - buru dipotong oleh Willy. Wajah Hanaria memerah karena geram, hal ini sudah untuk kesekian kalinya terjadi, selalu ada pertengkaran diantara keduanya saat bertemu berduaan seperti ini.
"Ternyata kau lagi......!!! Kau memang perempuan ceroboh......!!! Sengit Willy.
"Hmm..... aku tahu, kau memang sengaja masuk ke lift bosmu.....!!! Pura - pura tersandung, supaya dirimu bisa memelukku......!!! Lalu kau akan berdalih, mengatakan kalau aku dengan sengaja menyentuh 'itu' mu......!!! Begitu....!!!???" Tuduh Willy dengan gencar.
Hanaria tidak bisa terima dengan perkataan yang telah dilontarkan Willy padanya. Emosi Hanaria naik sampai ke ubun -ubun, saat memdengar perkataan Willy yang tidak masuk akal itu. Tangan gadis itu segera melayang dengan cepat diudara.
Willy bertindak dengan cepat sebelum tangan Hanaria mendarat di pipi mulusnya, ia dengan sigap menangkap tangan Hanaria dan memutarnya kebelakang lalu mengunci dan menekannya dengan kencang.
"Kau ingin menamparku.... Hmmm?? Ucap Willy ditelinga Hanaria yang kini memunggunginya.
"Lepaskan.....! Anda menyakitiku tuan muda......!" Hanaria meringis, merasakan sakit pada persendian tangannya yang telah dikunci oleh Willy.
"Saya tidak bersalah tuan muda.......!!. Justru anda lah yang salah......!" Sahut Hanaria ketus.
Ting.....Tong.....! Pintu lift terbuka karena sudah tiba dilantai 7. Willy yang menyadari hal itu, segera menekan tombol, sehingga lift kembali tertutup rapat.
"Ooh..... !!? Pertahankan saja keras kepalamu itu.....! Atau kau akan tetap ada disini sepanjang hari ini.....! Hmm??" Ancam Willy.
Hanaria tidak tinggal diam, ia berusaha memberontak, membanting tubuhnya sendiri kekiri dan kekanan. Tinggi tubuh Hanaria yang hampir sama dengan tinggi tubuh Willy, membuat pria itu kewalahan dibuatnya. Kuncian tangan Hanaria terlepas membuat Willy panik dan memeluknya dengan paksa dari belakang.
Hanaria terus berontak hingga membuat keduanya jatuh kelantai lift. Willy tidak rela dirinya dipermalukan oleh seorang wanita, apalagi wanita itu adalah pegawainya sendiri.
"Apa susahnya minta maaf nona.....!! Pegawai keras kepala.....!!" Posisi Wily yang berada diatas tubuh Hanaria membuat dirinya leluasa menekan tubuh Hanaria yang ada dibawahnya.
__ADS_1
"Tuan yang salah.....! sengaja menyentuh organ kewanitaan saya.....!" Hanaria masih mempertahankan pendiriannya. Perbuatan Willy itu membuat hatinya begitu kesal, seenaknya saja menyuruh dirinya meminta maaf, padahal tuannya itulah yang sudah dengan sengaja melecehkannya dirinya sebagai wanita.
"Cup.....". Willy yang begitu gemas dengan sikap keras kepala Hanaria, tanpa pikir panjang lagi, langsung ******* bibir gadis yang ada dibawah tubuhnya itu. Hanaria berusaha keras melepaskan ciuman pimpinannya itu pada bibirnya. Namun, Willy menekan dan menjepit kedua tangan Hanaria dengan kedua kakinya.
Willy sengaja menggigit bibir pegawainya itu, hingga membuat Hanaria meringis kesakitan. Lidah Willy segera masuk kedalam rongga mulut Hanaria yang sedikit terbuka akibat gigitannya.
Semakin Hanaria berontak, semakin Willy menggila melancarkan ******* - ******* kasarnya. Lidah pria itu terus mengobrak - abrik, seluruh rongga mulut Hanaria tanpa ampun.
Hanaria yang sebelumnya terus saja berusaha berontak, akhirnya terkulai lemas. Saat merasakan sudah tidak ada perlawanan lagi dari gadis dibawahnya, Willy akhirnya melepaskan ciuman jahtanya.
Nafas Hanaria tersengal - tersengal karena kekurangan oksigen, ia terlihat sangat sulit mengambil nafas akibat ulah Willy padanya. Willy yang melihat keadaan Hanaria yang hampir pingsan, mendadak khawatir dibuatnya.
"Nona Hana !! Kau tidak apa - apa ???" Willy yang sebelumnya begitu bernafsu memberi hukuman pada Hanaria kini berubah panik. Ia segera berdiri dan menekan tombol pada lift. Begitu pintu lift terbuka, Willy langsung membopong tubuh Hanaria yang terkulai lemah, keluar dari dalam lift pribadinya menuju ruang kerjanya.
Sekretaris Morin yang mendengar suara lift pribadi CEO terbuka, segera berdiri hendak memberi hormat seperti biasanya pada atasannya itu. Namun, dirinya begitu terkejut, saat melihat Willy keluar dari dalam liftnya, dengan membopong seorang wanita. Dan wanita itu adalah Hanaria, orang yang dianggapnya menjadi saingannya.
"Cepat....!!! Siapkan oksigen dan panggil dokter Herman kemari....!!! Sekarang!!!" Perintah Willy pada sekretarisnya. Tanpa banyak bertanya, sekretaris Morin segera meraih telepon yang ada dimejanya, dan menghubungi beberapa nomor telepon sesuai perintah tuannya.
Setelah berada didalam ruang kerjanya, Willy membaringkan tubuh Hanaria disofa tamu dengan hati - hati. Willy berjalan mondar - mandir sambil mengacak - acak rambutnya sendiri hingga berantakan. Hati Willy begitu gelisah, perasaan takut mendadak menyerangnya, takut terjadi hal buruk pada pegawainya itu.
"Berapa lama lagi alat oksigen itu akan datang sekretaris Morin???!!!" Willy yang semakin gelisah sudah tidak sabar menunggu, ia memarahi sekretarisnya itu, yang menurutnya terkesan lambat. Ia berdiri dengan bertolak pinggang didepan pintu kerjanya.
"Sedang menuju kemari tuan....." Sahut sekretaris Morin merasa gugup. Ia berdiri dibelakang mejanya dengan kaki gemetar, baru kali ini dirinya melihat tuannya itu begitu gelisah dan marah hanya karena seorang pegawai.
Willy yang gelisah, kembali kedalam ruang kerjanya, ia memperhatikan wajah Hanaria yang nampak memucat, terbaring dikursi sofa tamunya. Ia menghampiri gadis yang telah ia perlakukan dengan buruk beberapa menit yang lalu didalam lift pribadinya.
Saat ini, ia sangat bingung apa yang harus dirinya lakukan, sementara nafas Hanaria semakin melemah. Dengam sangat terpaksa, Willy akhirnya berjongkok didekat wajah Hanaria. Bibir Willy kembali menempel dibibir Hanaria, kali ini bukan untuk menghukum gadis itu, tapi dirinya berusaha memberi nafas buatan untuk Hanaria. Sementara jari tangannya menjepit hidung Hanaria, Willy mulai meniup mulut Hanaria dengan nafasnya. Hal itu dilakukannya sampai beberapa kali, dan berulang - ulang.
...***Terima kasih buat readers yang sudah mampir dan meninggalkan like dan comennya....
__ADS_1
...Author sangat menghargainya sebagai dukungan bagi author untuk lebih semangat lagi menulis. 😊🙏***...