
Setelah resepsi pernikahan yang cukup melelahkan dihari itu, masih disambung pesan - pesan, dan petuah - petuah dari para tetua adat di Lamin, pada kedua mempelai dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang baru.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, saat prosesi petuah - petuah penting itu selesai dilakukan.
Hanaria yang merasa sangat lelah segera masuk kebilik pengantin lebih dulu untuk beristirahat.
Didusun itu, setelah menikah, pasangan pengantin baru wajib menginap semalam di Lamin, bersama kedua belah pihak keluarga mereka. Demikian pula para tetua dusun dan sebagian warga akan menemani sambil berkisah satu sama lain hingga menjelang pagi.
"Willy, kau juga harus beristirahat. Ini sudah sangat larut nak." Ucap Yurina pada putranya itu.
"Willy tidur disini saja ya mom......" Pinta Willy sambil mengambil posisi berbaring ditengah - tengah orang banyak yang masih sibuk mengobrol bersama Moranno dan keluarga Agatsa lainnya.
"Willy...... Jangan buat mommy malu pada warga disini. Ayo! cepat masuk kebilik pengantin yang sudah disediakan, beristirahatlah bersama isterimu didalam." Perintah Yurina setengah berbisik.
"Isteri?" Gumam Willy menatap ibunya dengan wajah polosnya.
"Iya..... Apakah kau pura - pula lupa, kalau hari ini kau sudah menikah dengan Hanaria?" Ucap Yurina menatap gemas putra keduanya itu.
"Bukan lupa mom...... Tapi aneh saja, aku kok merasa sedikit lucu saat menyadari kalau aku sudah menikah." Celoteh Willy sambil tertawa geli sendiri.
Yurina yang melihat tingkah Willy langsung memeluk putranya itu dengan erat. Kenangan masa lalu kembali terlintas dibenaknya saat putranya itu masih bayi, selalu bersikap manja dan sesukanya, berbeda dengan kakak kembarnya, yang bersikap mandiri mulai kecil.
"Willy, dengar baik - baik nak..... Sekarang kau bukan lagi Willy bayi atau pria kecil mommy yang manja, yang mengandalkan tangismu sebagai senjata untuk mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Kau sekarang telah menjadi pria dewasa yang sudah menikah dan punya tanggung jawab besar dalam rumah tangga barumu. Kau harus bisa menjaga, melindungi, dan menghargai isterimu yang menjadi teman hidupmu."
"Teman hidup itu...... Teman dalam suka dan duka, sakit dan sehat, susah dan senang, miskin dan kaya...... Semuanya, dan tanpa terkecuali. Mommy percaya padamu Willy, kau akan menjadi suami dan kepala rumah tangga yang baik." Ucap Yurina sambil mengusap kepala putranya yang bersandar padanya.
Beberapa warga sempat melirik sejenak kearah Willy dan Yurina, mereka dapat melihat hubungan yang sangat dekat antara ibu dan anak itu.
"Ayo, mommy akan mengantarkanmu sampai didepan pintu bilik pengantin." Ucap Yurina sambil melepaskan pelukannya dari tubuh putranya, lalu berdiri diikuti Willy.
"Tidak perlu mom, aku tahu kok biliknya yang diujung, dihiasi renda - renda warna - warni itu." Ucap Willy menunjuk kebilik yang hanya berjarak 20 meter dari mereka berdiri.
"Mommy tidak mau kau berbuat macam - macam lagi seperti malam kemarin......" Ucap Yurina, sambil menggiring Wiily menuju bilik pengantin.
"Jangan khawatir mom..... Aku tidak akan mungkin melakukan hal itu lagi. Sekalipun mungkin aku bisa melakukannya, kak Billy pasti tidak akan mungkin mau masuk kekamar pengantinku. Dia kan seperti seorang biarawan." Ucap Willy sambil melirik kakak kembarnya yang sedang fokus berbincang dengan kepala adat dusun.
"Hush...... Jangan mengada - ada. Ayo cepat masuk." Sergah Yurina, dan memerintahkan Willy untuk masuk saat mereka sudah didepan pintu bilik.
__ADS_1
"Baiklah mommy......"
Serelah Willy masuk, Yurina kembali ketempat duduknya semula, dan ikut bergabung mengobrol dengan para warga yang turut serta menemani mereka, sebelum keluarganya berangkat pulang kekota pagi - pagi sekali.
Willy menutup pintu bilik pengantin dengan rapat tanpa menguncinya. Ia menebarkan pandangannya keseluruh ruang bilik pengantin yang sudah didekorasi oleh para perias salon nyonya Mexan.
Ya, nuansa dekorasi untuk pengantin baru yang penuh keromantisan. Sayangnya, Willy malam ini tidak berniat beromantis - romantisan dengan pengantin wanitanya.
Alasannya, tidak mungkin dirinya melakukan malam pertamanya dibilik ini, yang dikelilingi para keluarga besar dari pihak Hanaria dan dirinya, belum lagi ada para warga yang bersama keluarga besarnya.
Bila ia nekad melakukannya, yang ada pasti mereka akan mengintip, setidaknya akan menertawakannya bila mendengar ada suara - suara aneh keluar dari bilik pengantin.
Selain itu, wanita yang telah dirinya nikahi, bukan wanita yang tergolong romantis dan mudah disentuh. Buktinya, sudah dua kali ia menciumnya dengan sengaja, dan selalu saja ia mendapat masalah karenanya hingga berujung pernikahan paksa ini.
"Banyak sekali nyamuk disini." Gumam Willy sambil menepuk beberapa ekor nyamuk yang selalu mengganggunya sejak tadi.
Willy menatap ke ranjang pengantinnya yang diselimuti kelambu tebal hingga tidak terlihat orang yang ada didalamnya.
Ingin sekali rasanya ia masuk kedalam kelambu pengantinnya supaya bisa berlindung dari serbuan nyamuk - nyamuk nakal ini.
Pasti didalam sana sudah ada penunggunya yang akan memaksanya untuk bergulat fikirnya, ia lalu mengurungkan niatnya itu.
Bila ia keluar dari bilik ini, pasti keluarga besarnya dan keluarga Hanaria akan memprotesnya. Tapi kalau tidak, ia pasti tidak bisa tidur semalaman karena tidak ada kasur ataupun selimut, ditambah lagi nyamuk - nyamuk itu semakin banyak saja bergerombol menyerangnya, membuat kulitnya sudah bentol - bentol akibat gigitannya.
Kembali Willy bangkit dari berbaringnya dan menatap kearah ranjang pengantinnya, pasti nyaman ada didalam sana, fikirnya lagi. Tapi rasa ragu kembali muncul dihati Willy. Lalu ia berbaring lagi dilantai.
Nyamuk - nyamuk yang semakin banyak menyerang Willy dan tidak mau berkompromi sedikitpun itu, akhirnya memaksanya untuk bangkit dan menuju ranjang pengantin.
"Jam segini, penunggunya pasti sudah tertidur lelap, jadi dia tidak tahu kalau aku ikut numpang tidur. Besok pagi - pagi sebelum penunggunya itu bangun, aku akan bangun lebih dulu....." Gumam Willy sambil tersenyum sendiri memikirkan apa yang sedang dilakukannya. Ia membuka kelambu pengantin dengan sangat, dan sangat hati - hati.
Deggg!!!
Wajah Willy langsung memucat, saat dirinya berhasil membuka kelambu pengantinnya, ternyata sang penunggu kelambu ranjang pengantinnya belum tidur seperti prediksinya. Bahkan sang penunggu itu sedang duduk bersila sambil menatap garang kearahnya.
"Berhenti disitu! Jangan maju setapakpun dari posisimu!" Ketus Hanaria.
"Buka kemejamu sekarang!" Perintah Hanaria garang, membuat Willy bingung sambil melihat kemeja yang masih melekat ditubuhnya.
"Untuk apa??" Tanya Willy masih merasa bingung.
__ADS_1
"Jangan banyak tanya! Cepat lakukan seperti apa yang aku katakan!" Ucap Hanaria masih bernada ketus.
Willy yang bingung akhirnya terpaksa membuka baju kemejanya. Ia melepaskan kancing bajunya satu persatu dihadapan Hanaria.
Hanaria langsung membuang mukanya kearah lain, saat dilihatnya kulit tubuh Willy sudah terlihat sedikit demi sedikit.
"Kenapa melihat kearah lain? Bukankah kau yang memintaku untuk membuka kemeja yang kukenakan, hmm? Ayo, lakukan saja padaku apa yang kau kehendaki, aku pasrah....." Ucap Willy sambil mendekati Hanaria yang masih duduk ditempatnya semula. Ia segera membaringkan tubuhnya untuk melepaskan lelahnya. Kemejanya ditaruhnya begitu saja diatas tempat tidur.
"Siapa yang menyuruhmu berbaring. Ayo bangkit!" Perintah Hanaria lagi dengan ketus. Willy yang sudah lelah tetap mengalah. Ia lalu bangkit, mengikuti apa maunya sang penunggu kelambu pengantinnya itu.
"Ulurkan tangan kananmu!" Perintah Hanaria lagi.
Willy kembali mengikuti perintah Hanaria, ia bangkit dari berbaringnya, lalu mengulurkan tangan kanannya pada Hanaria. Ia berusaha sabar ditengah kelelahan dirinya yang sudah menuntutnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya itu.
Hanaria segera memegang tangan kanan Willy yang sudah terulur padanya, ia membolak - balik tangan Willy beberapa detik saja.
"Terima kasih...... Kau boleh berbaring kembali......" Ucap Hanaria pelan, tidak seketus sebelumnya, dan melepaskan tangan Willy dari pegangannya.
"Begitu saja??" Tanya Willy dengan mengernyitkan dahinya.
"Iya, aku hanya ingin memastikan, dirimu itu suamiku atau kakak iparku, dari tanda lahir dipergelangan tangan kananmu." Sahut Hanaria memberi alasan atas apa yang telah dilakukannya.
Willy tiba - tiba mendapat ide baru dikepalanya untuk membalas Hanaria, saat mendengar isterinya itu mengatakan dirinya suaminya.
"Kalau hanya ingin melihat tanda lahir dipergelangan tanganku, kau cukup memintaku untuk menyingsingkan lengan bajuku saja, bukannya memintaku melepaskan kemejaku."
"Lalu, kenapa kau memintaku membuka kemejaku didalam kelambu ini? Kenapa tidak diluar kelambu saja? Bagaimana kalau itu kakakku? Masakan kau berduaan didalam kelambu bersama kakakku yang bertelanjang dada seperti ini?" Ucap Willy dengan pertanyaan beruntun, membuat Hanaria gugup dan bingung menjawab perkataannya.
"Aku tahu......" Ucap Willy sambil menyunggingkan senyumnya.
"Itu semuanya hanya akal - akalanmu saja kan, padahal kau ingin melakukan malam pertama denganku?" Seringai Willy, Hanaria yang mendengarnya langsung memundurkan tubuhnya menempel kedinding kelambu.
"Jangan coba - coba menyentuhku, aku pastikan kau akan mendapatkan pukulan dariku." Ancam Hanaria dengan suara sedikit bergetar.
"Sepertinya seru..... Malam pertama disertai pukulan dan pergulatan, aku mau merasakan sensasinya......" Ujar Willy semakin mendekat.
"Ternyata aku menikahi laki - laki yang tidak waras......" Gumam Hanaria kesal.
"Iya, kita sama...... Aku juga menikahi wanita yang tidak waras saat menyetir mobilku seenaknya saat pulang dari proyek." Balas Willy sengit.
__ADS_1
"Kau.....!!" Suara Hanaria tercekat saat tiba - tiba Willy menerkamnya dan membawanya berguling - guling diranjang pengantin mereka.