
"Mau kemana kalian?" tanya Margareth, saat dilihatnya Edrine, Marina, dan Malizha menyeret lengan Willy dengan paksa.
"Biasa, shopping mom," sahut Edrine masih berusaha menarik tangan kakak sepupunya itu dibantu Marina dan Malizha.
"Apakah kalian lupa, kalau kakak kalian itu sudah memiliki isteri, tidak bisa seenaknya membawanya pergi begitu saja seperti dulu," kata Margareth mengingatkan Edrine putrinya dan kedua keponakan kembarnya itu.
"Ingat mom, itu sebabnya kami lewat sini, sekalian mengajak kakak ipar untuk ikut shopping bersama kami," sahut Edrine lagi, sambil mengerlingkan matanya pada Hanaria yang sedang melihat ulahnya dan dua sepupu kembarnya.
"Owh! Tidak bisa, kakak ipar kalian sudah punya jadwal yang padat, jadi kalian tidak boleh mengganggunya sampai pesta resepsi pernikahan mereka tiga hari kedepan," ucap Margareth sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya rusuh mengarah pada tiga gadis bergaya korea bule itu.
"Bukankah begitu kakak ipar?" Margareth melirik kearah Yurina, untuk meminta dukungannya.
"Iya, itu benar," sahut Yurina membenarkan, sambil manggut-manggut.
"Yach?! Jadi siapa yang mentraktir kami shopping kalau begini caranya," keluh Marina dengan wajah menekuk.
Ketiganya langsung melepaskan cengkraman tangan mereka dilengan kiri dan kanan Willy, membuat pria itu merasa lega.
"Belanjaan Willy akan secara otomatis dibayar, saat notifikasi masuk keponsel isterinya," kata Yurina menatap wajah ketiga gadis itu.
"Dan kalian bertiga, mulai sekarang harus membayar belanjaannya masing-masing, bukankah mommy dan mommy Margareth selalu rutin menstransfer keperluan kalian untuk satu bulan," ungkap Yurina menatap dua putri kembarnya dan keponakannya itu.
"Iya, tapi kan kurang mommy," protes Malizha.
"Sudah resiko bila kalian tidak mau berhemat," sahut Yurina acuh.
"Kakak kalian Willy, sudah tidak bisa mengikuti kemauan kalian lagi,"
"Banyak tagihan yang harus ia lunasi karena pernikahannya, termasuk harus membiayai hidup isterinya." jelas Yurina.
"Ya sudah, tidak jadi shoppingnya, gatot deh," ucap Marina meniru bahasa setempat dengan logat bulenya yang tanggung, lalu membalikkan tubuhnya diikuti oleh Edrine dan Malizha yang ikutan merasa kesal.
Yurina yang melihat wajah muram tiga gadis itu merasa kasihan. Memang selama ini, Willy selalu royal pada ketiga adiknya itu saat di Singapura, sehingga ia harus menstransfer dana lebih setiap bulannya ke rekening Willy saat putranya itu menyelesaikan program magisternya diluar negeri.
"Baiklah, hari ini kalian boleh belanja sepuasnya, mommy akan transfer ke rekening kalian bertiga, dan kalian boleh mengajak kakak kalian Willy untuk menemani kalian berbelanja, " ucap Yurina akhirnya sebelum ketiganya pergi menjauh.
__ADS_1
"Hore! Shoppingnya gak jadi gatot!" Seru ketiganya hampir bersamaan.
"Mommy memang yang terbaik," Marina, Malizha, dan Edrine segera berbalik, dan menghambur kearah Yurina lalu mendaratkan kecupan mereka di pipi kiri dan kanan Yurina bertubi-tubi, membuatnya merasa kegelian akibat ulah tiga gadisnya itu.
"Tapi ingat, setelah makan siang, kalian harus segera mengembalikan kakak kalian itu pada isterinya, karena ada jadwal mereka kesalon hari ini."
"Beres mommy," sahut Marina dengan gaya centilnya.
"Ayo buruan!" Seru Malizha yang sudah tidak sabar, setelah mereka selesai berpamitan pada semua orang tua yang duduk disofa tamu itu.
"Willy?!" panggil Yurina.
"Iya mom," sahut Willy, ia menghentikan langkahnya sambil menoleh kearah ibunya yang memanggilnya.
"Begitu caramu berpamitan? Kenapa pada Hanaria kau tidak berpamitan, apakah kau lupa ada isterimu disini?" ucap Yurina menatap Willy yang salah tingkah mendengar ucapan ibunya.
Bukan Willy namanya kalau tidak segera menetralkan rasa canggungnya, ia menarik nafasnya perlahan dan mengeluarkannya-pun dengan perlahan, sambil mendekati Hanaria yang masih duduk diantara Margareth dan Yurina.
"Hana isteriku," panggil Willy, sambil menenangkan debar jantungnya dan berusaha bersikap tenang didepan semua keluarganya.
Hanaria berdiri, ia terlihat sedikit gugup karena berada ditengah-tengah keluarga suaminya, terlihat sekali ia amat canggung saat berdiri didekat Willy.
"Bukankah begitu mommy dan bibi?" Willy berusaha mendapat dukungan dari ibu dan bibinya.
Yurina dan Margareth saling bertukar pandangan, mereka tahu akal bulus Willy, tapi tidak masalah, fikir Yurina didalam hati, ia merasa suka gaya putranya itu, membuat dirinya mengingat masa mudanya bersama Moranno suaminya.
Selain itu, sebagai ibunya, ia berusaha bagaimana Willy dan Hanaria bisa semakin dekat layaknya suami isteri.
"Iya, Willy benar Hana," sahut Yurina menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya dan Margareth adik iparnya, sambil mengulas senyumnya.
Hanaria menatap wajah ibu mertuanya, ia menelan salivanya dengan susah payah, bagaimana bisa ia mencium Willy ditengah-tengah keluarganya yang sedang fokus menatap kearah dirinya dan Willy.
"Sepertinya isteriku malu mencium pipiku karena kalian semua melihat kearah kami," ucap Willy yang seakan tahu apa yang sedang difikirkan Hanaria saat ini.
"Tutup mata kalian semua sekarang, dan baru boleh membuka mata kalau isteriku sudah selesai mencium pipiku," imbuh Willy dengan senyum liciknya.
__ADS_1
"Kalau bukan karena Hanaria isterimu, nenek buyut tidak mau menuruti permintaanmu Willy," goda buyut Naomi dengan senyumnya, ia sudah dapat menebak bila cicitnya itu sudah punya rencana nakalnya.
"Ayo, cepat tutup mata kalian semua, supaya mereka lekas berangkat dari sini," perintah buyut Naomi disela-sela senyumnya.
"Ayo cepat cium disini, tidak akan ada yang melihatmu," bisik Willy menunjuk bibirnya dengan jarinya, setelah dilihatnya semua keluarganya sudah menutup rapat mata mereka.
"Bukankah tadi kau katakan cium dipipi, kenapa harus diarea itu?" protes Hanaria tidak terima.
"Disni lebih afdol," bujuk Willy penuh harap.
"Tidak mau! Dekatkan pipimu," Hanaria tetap bersikeras pada pembicaraan awal mereka.
"Jangan membantah, aku suamimu," ucap Willy berusaha sabar dengan suara masih berbisik.
"Tidak mau! Berikan pipimu," Hanaria masih bersikeras pada pendiriannya.
"Lama sekali, nenek buyut lelah memejamkan mata," keluh buyut Naomi terdengar tidak sabar untuk membuka matanya.
"Sebentar lagi nenek buyut, isteriku masih malu-malu," sahut Willy memberi alasan.
"Ayo cepat, cium disini," tunjuk Willy lagi pada area bibirnya yang sudah siap menerima ciuman isterinya itu.
Hanaria menatap sejenak wajah Willy yang telah mendekat kewajahnya.
"Tutup matamu juga," pinta Hanaria. Willy menurut, sambil menyunggingkan senyum kemenangannya.
Cup!
Tekanan kecupan Hanaria membuat wajah Willy sampai berpaling arah, tidak ada kelembutan disana.
"Sudah!" seru Hanaria, membuat semua orang akhirnya membuka matanya lega setelah sekian menit lamanya mereka harus menutup mata mengikuti permintaan kedua pengantin baru itu.
"Ta-tapi-" Willy hendak protes. Apa yang dilakukan Hanaria padanya tidak sesuai ekspektasinya, wajahnya terlihat kecewa.
"Ayolah kak, nanti waktunya habis disini saja," kata Malizha sambil menarik tangan kakaknya untuk segera pergi.
__ADS_1
"Apa kau masih kurang puas, lipstik Hana sudah menempel dipipimu Willy," ucap Yurina yang melihat Willy masih belum mau beranjak.
Willy mengusap pipi kirinya yang baru saja dikecup Hanaria, ia terpaksa mengikuti adik-adiknya yang sudah tidak sabar membawanya pergi, namun tatapannya terus menatap wajah Hanaria hingga mereka menghilang dibalik gorden.