HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
240. Menggelitiki si Bayi Gembul


__ADS_3

"Nona, maafkan saya. Saya benar-benar tidak terlibat," ucap asisten David bersungguh-sungguh, ia khawatir Hanaria mencurigainya atas demo warga hari itu.


Sore itu mereka baru bisa kembali, setelah mengunjungi salah satu warga desa sebelah sesuai kata Hanaria, supaya tidak ada kecurigaan dari para warga yang sedang berdemo siang itu.


"Semuanya akan terbukti dikemudian hari asisten David," ucap Hanaria menatap lurus kedepan. Ia merasa David memang tidak terlibat apapun dengan masalah yang terjadi hari ini. Hal itu dapat dilihatnya dari ketidak siapan asistennya. Untung saja para warga itu tidak tahu siapa dirinya dan asisten David.


Walau demikian, Hanaria tetap bersikap waspada, ia belum bisa mempercayai siapapun termasuk asisten David untuk saat ini, terlebih setelah kejadian hari ini. Bila tidak ada kakak iparnya yang dimintai bantuan mengawalnya secara rahasia, memberi tahu apa yang sedang terjadi, dan menyuruhnya berganti pakaian, dan menggunakan mobil lain, mungkin dirinya sudah menjadi bulan-bulanan warga yang sedang marah pada 'sang pemilik' perusahaan.


Mendengar ucapan Hanaria, asisten David tidak berani bertanya banyak hal lagi. Hari ini, dirinya bisa melihat, betapa cerdiknya majikannya itu. Menggunakan pakaian rumahan layaknya wanita desa, menggunakan mobil pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat desa lingkar tambang, lalu ada beberapa orang yang berpenampilan warga desa dengan menunjukan sebuah benda bergambar garuda emas. Semuanya itu tidak luput dari perhatiannya, membuat asisten David lebih mawas diri, supaya dirinya tidak menjadi korban hal yang tidak ia ketahui, karena dirinya benar-benar tulus berkerja untuk menafkahi keluarganya.


"Nona, hari ini kita gagal bertemu para petinggi perusahaan tambang itu karena terhalang para pendemo tadi, apakah saya harus mengubah jadwal yang sudah ada?" asisten David memberanikan diri membuka suara lagi, setelah mobil yang ia kemudikan memasuki jalan perkotaan.


"Tidak perlu, biarkan seperti yang sudah terjadwal," ucap Hanaria.


"Kabarkan padaku, siapa saja yang nantinya akan menanyakan alasan kenapa kita tidak jadi datang sesuai jadwal hari ini. Tapi jangan katakan kalau kita sudah ke lokasi tambang dan bertemu dengan para pendemo itu." ucap Hanaria, mengingat kejadian saat dirinya bertemu para warga itu.


"Baik Nona."


"Tadi kau bisa lihat sendiri alasan para warga itu melakukan demonya, banyak lahan mereka yang diserobot oleh perusahaan kita. Cari tahu kebenaran itu, dan beritahu aku secepatnya siapa saja yang kau curigai dalam mencurangi para warga itu," ucap Hanaria.


"Baik Nona."

__ADS_1


"Hari ini adalah audit terakhir Mega Otomotif, berikan aku hasilnya, juga detailnya. Dan berikan juga aku daftar nama pegawai yang telah memiliki kendaraan yang diproduksi oleh perusaan kita. Aku ingin tahu, apakah mereka mengindahkan instruksiku," ucap Hanaria dengan pandangan menerawang.


"Baik Nona," asisten David membelokan kemudinya, memasuki area restoran yang mereka kunjungi tadi pagi untuk kembali menukar mobil dan mengembalikan kotak makanan milik restoran.


Asisten David ikut membungkuk hormat, saat dilihatnya Billy sudah berdiri tegap menunggu mereka diarea parkir yang hanya menggunakan jeans dan kaos berkrah, dirinya menyangka bila yang berdiri itu adalah Willy, suami Hanaria.


"Ternyata Nona sangat ganas juga," batin asisten David, dirinya tidak sengaja melihat noda kissmark yang sangat jelas menempel diarea leher suami sang majikan.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan hari ini sangatlah berbahaya Hana," ungkap Billy mengingatkan adik iparnya itu.


"Tapi kak, kalau tidak seperti ini, mungkin aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dilapangan," sahut Hanaria memberi alasan atas tindakannya.


"Kau benar juga." ucap Billy setengah bergumam. Ia sadar, tanggung jawab besar adik iparnya itu, mengemban tugas sebagai pemimpin perusahaan memang memaksanya harus tahu banyak hal dengan cara melawan arus, tidak berdiam diri dibelakang meja dan menerima mentah hasil laporan pekerjaan para pegawai yang banyak tidak jujur.


"Iya kak, aku mengerti." Hanaria menelan salivanya, perkataan Billy membuatnya sedikit meremang. Terjun langsung sebagai pengusaha sangatlah tidak mudah, apalagi mengambil alih perusahaan yang memang sedang bermasalah, ada banyak hal diluar dugaannya, sehingga ia harus peka supaya bisa mengubah siasatnya.


...***...


"Dad, Dad..." pagi-pagi Elvano sudah menjambak rambut Willy yang masih pulas didalam selimut.


Suara Elvanno samar-samar sampai kegendang telinga Willy yang perlahan sadar dari mimpinya.

__ADS_1


"Hei bandit kecil, kenapa kau pagi-pagi sudah ada disini," gumam Willy berbalik menghadap bayi gembul itu.


"Dad, Dad... Mam-mam," ucapnya masih kurang jelas, tangannya meraba-raba setiap sudut wajah sang Daddy yang masih enggan membuka kedua matanya.


Willy yang baru mengumpulkan kesadarannya, berusaha mencerna apa yang dikatakan bayi itu, sementara tangan mungil Elvano menyentuh dan memasukkan salah satu jari gendutnya kelubang hidung sang Daddy.


Willy tertawa, merasakan geli saat jari anak adopsi dirinya dan Hanaria itu mulai mengorek-ngorek lubang hidungnya.


"Kau nakal sekali, tidak boleh seperti itu.Vano, tidak sopan," Willy meraih tubuh gembul Elvano dan membantingnya pelan kekasur lalu mulai menggelitiki dadanya hingga membuat bayi itu tergelak riang


"Bagaimana rasanya?" Bayi yang baru beberapa hari genap berusia satu tahun itu terus tergelak dan berusaha melepaskan dirinya dari gelitikan ayah adopsinya.


"Dad.... Gi-gi-gi..." pinta bayi itu lagi dengan suaranya yang menggemaskan, ketika Willy menghentikan sejenak aktifitasnya menggelitik dada Elvano.


Mendengar permintaan Elvano, Willy kembali melanjutkan aksinya, suara gelakan Elvano kembali menggema memenuhi kamar. Hanaria yang sedang memilih pakaian kerja suaminya untuk dipakai hari itu ikut tersenyum melihat keakraban keduanya.


"Willy, sudah dong ahh, kasian Elvano," Hanaria mendekati kedua laki-laki kesayangannya itu, ia meraih si gembul bulatnya, memilih untuk menolong bayi itu dari Willy yang saban pagi suka menggelitikinya, bila bayi itu menyelinap kekamar mereka.


"Gi, gi...." ucap Elvano yang sudah berada dalam gendongan Hanaria mengarahkan wajah dan kedua tangannya yang terentang pada Willy yang tertinggal dikasur, dengan senyum lebarnya yang menujukan beberapa gigi susunya yang baru tumbuh pada gusinya.


"Hana! Elvano, masih minta digelitiki lagi! Jangan buru-buru membawanya pergi!" protes Willy mengeraskan suaranya dari tempat tidur.

__ADS_1


"Cepat mandi, kami berdua akan menunggu Daddy sarapan dimeja makan," ucap Hanaria terus melangkah pergi menuju pintu membawa Elvano yang masih tertawa senang dibalik punggungnya menatap Willy yang berusaha mengejar.


Bersambung...👉


__ADS_2