HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
255. Perlakuan Ayah Rosalia


__ADS_3

Berulang kali Rosalia menoleh ke arah pintu ruang rawat inap Hanaria, namun Willy yang ditunggunya tidak kunjung keluar dari dalam sana.


Rosalia berdiri dari kursi taman, berniat kembali keruangan kantornya untuk mengambil tas kerjanya dan pulang. Namun kakinya tidak jadi melangkah, begitu melihat sosok laki-laki yang berjalan diujung lorong rumah sakit.


"Billy," guman Rosalia sembari tersenyum senang. Melihat dari kejauhan saja, ia sudah mengetahui bila itu memang Billy. Ayunan langkah kaki tegasnya, gerakan tangan yang suka merapikan rambutnya yang memang selalu rapi, tas jinjing itu selalu ia bawa hampir setiap kali menemuinya.


Perasaan Rosalia kian berdebar, ketika langkah kaki Billy telah menuruni tangga lorong menuju taman dimana dirinya sekarang berada.


Billy buru-buru meletakan apa yang dibawanya diatas rerumputan taman, lalu dengan sigap mengangkat tangan kanannya hingga hampir menempel pada ujung alis tebalnya dengan posisi tubuh tegap menghadap seorang pria seusia ayahnya yang mendekati dirinya yang ingin menghampiri Rosalia.


Rosalia berpaling, mengikuti arah Billy yang tengah memberi sikap hormatnya.


"Papah? Tumben kemari?" Rosalia berbalik, mendekati pria berwajah tegas yang tiba-riba saja muncul bagai siluman dibelakangnya. Ia lalu memeluk pria yang dipanggilnya sebagai ayah dan melabuhkan ciuman ringan pada kedua pipi pria berumur itu.


"Mau menjemputmu Sayang, apa tidak boleh? Papah sudah lama tidak makan malam bersamamu juga Mamahmu," ujar pria itu dengan suara beratnya namun terdengar lembut.


"Boleh dong, tunggu sebentar ya Pah, Rosa ambil tas dulu." Sebelum meninggalkan tempat itu, Rosalia melirik kearah Billy, pria yang selama ini selalu mengisi hatinya itu, seolah enggan beranjak dari sana.


Billy yang di lirik masih geming ditempatnya, dengan posisi tegap menghadap ayah Rosalia yang bersikap santai.


"Tunggu apalagi Sayang?" tegur ayahnya lembut, menangkap sinyal-sinyal keengganan putrinya beranjak dari sana.


"I-iya Pah," Rosalia tergagap, lalu buru-buru meninggalkan Billy berdua dengan ayahnya.


"Turunkan tanganmu Billy," titah Hartawan pada bawahannya itu, setelah putrinya sudah cukup jauh dan tidak mendengar apa yang akan mereka percakapkan.


Sesuai perintah, Billy menurunkan tanganya namun posisi tubuhnya tetap tegap seperti semula, tidak bergerak sedikitpun dihadapan sang atasan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan ditempat ini?" Hartawan mendekati Billy dan hidungnya mulai terlihat kembang kempis seolah sedang membaui sesuatu. "Kenapa aroma parfummu terlalu tajam? Seperti ingin menggoda seorang wanita saja," imbuhnya menatap datar bawahannya itu.


Sorot mata tegas itu seketika membuat Billy gugup, hingga membuatnya tidak berani bersitatap. Jantungnya semakin berdegup kencang, dan lidahnya terasa kelu ketika ingin berucap, tidak biasanya ia merasakan ini ketika berhadapan dengan sang atasannya itu saat sedang bertugas.


Sreeet! Wushh! Bumm!


Secepat kilat, sapuan kaki Hartawan menghantam kaki Billy yang berdiri tegak.


Billy melihatnya, dan sebenarnya ia mampu untuk menghindari serangan tiba-tiba yang ditujukan ayah Rosalia terhadapnya, namun ia lebih memilih tidak mengelak, menerima hantaman itu hingga mengubah posisi tubuhnya push-up dengan ujung jari kaki dan jari tangannya menumpu tubuhnya agar tidak menempel pada rerumputan taman.


Hartawan berjongkok tepat disamping kepala Billy.


"Aku paling tidak suka dengan bawahan yang tidak menatap kearahku saat aku sedang berbicara padanya. Dan aku juga paling tidak suka melihat bawahan yang masih harus berfikir saat ditanya. Dan kau tahu, itu tidak ada dalam kamus kita. Apa kau mengerti?" bisiknya pelan, namun tegas.


"Mengerti Pak!" balas Billy tegas.


"Pah!" Apa yang Papah lakukan pada Billy?" Rosalia nampak curiga.


"Tidak ada. Kami latihan saja. Bukan begitu Billy?" Hartawan menoleh pada Billy yang sudah berdiri tegak disampingnya.


"Iya itu benar Nona," sahut Billy bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dan panggilan itu akan selalu ia sematkan setiap kali ada ayah Rosalia diantara mereka, dan Rosalia tidak merasa heran akan hal itu, karena itu adalah perintah dari ayahnya.


"Billy, ayo ikut. Kita makan malam bersama," ajak Rosalia. "Bolehkan Pah?" ia menoleh pada ayahnya, berharap mendapat angin segar.


"Tergantung Billy, Sayang. Dia pasti sibuk," ucap Hartawan menjawab putrinya, sementara tangannya sedang menekan ponselnya dibalik saku celananya.


"Untuk malam ini, tinggalkan dulu tugasmu sebentar saja Billy, mumpung Papah ada waktu bersama kita malam ini," Rosalia beralih pada Billy, menunjukan raut penuh harap supaya pemuda itu mau menerima tawarannya.

__ADS_1


"Aku--" ucapan Billy menggantung.


Drrt. Drrt. Drrt.


Billy buru-buru meraih ponselnya yang bergetar disaku celannya. Ia termangu ketika melihat siapa yang menelponnya saat itu. Setelah menggeser log berwarna hijau, Billy lalu menempelkan ponselnya pada daun telinganya menatap lurus kearah Hartawan yang sedang memperhatikannya begitu pula dengan Rosalia.


"Baik, siap Pak!" Dari raut atasannya itu, Billy sudah tahu apa yang harus ia lakukan.


"Maaf Nona, saya harus pamit. Ada tugas darurat." pamit Billy.


"Tunggu! Bukan Papah 'kan yang menelponmu tadi?" Rosalia melirik ayahnya, merasa curiga.


"Bukan Nona," sahut Billy cepat. Tapi Rosalia tidak merasa puas akan jawaban Billy, ia merasa kalau yang menelpon Billy adalah ulah ayahnya yang super kaku itu.


"Saya pamit dulu," setelah berucap demikian pada Rosalia, Billy kembali mengangkat tangan kanannya dengan ujung jari telunjuknya hampir menempel pada pelipis dan alis tebalnya, memberi hormat pada Hartawan yang berdiri dibelakang Rosalia.


"Tunggu!" Rosalia mengejar Billy yang melangkah pergi meninggalkannya. "Berikan makan malamku.itu," ia menadahkan tangannya.


"Ini--," Billy memandang ragu pada Rosalia yang masih menadahkan tangan padanya.


"Iya, itu makan malamku 'kan? Ayo, berikan padaku," paksanya.


"Tapi, Nona kan mau makan malam keluarga?" tanggap Billy masih memegang jinjingan tasnya.


"Itu benar. Tapi aku mau makan apa yang kau bawa untukku itu," ucapnya lagi percaya diri,.merasa.yakin bila Billy memang membawakannya untuk dirinya.


"Baiklah," Billy menyerahkan tas jinjingnya, lalu segera pergi. Ia sadar sepasang mata atasannya pasti tengah memperhatikannya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2