
Suara pecahan gelas itu mengagetkan Willy begitu juga Hanaria. Keduanya sama - sama menatap gelas yang menjadi korban ketakutan Hanaria. Willy beralih melihat kearah Hanaria membuat wanita itu bersiap - siaga.
"Nona Hana, apa yang kau lakukan......?" Ucap Willy berusaha tenang saat rasa kagetnya berangsur menghilang. Ia melihat wajah Hanaria seperti orang ketakutan melihat dirinya. Ia kembali mendekati pegawainya itu.
"Jangan mendekat, menjauhlah dari saya tuan......" Wajah Hanaria masih terlihat takut dan memucat ia tidak perduli bahwa Willy berusaha untuk membantunya.
Hanaria melihat sekelilingnya, tidak ada siapa - siapa diruangan itu selain dirinya dan Willy, hal itu membuat wajahnya semakin memucat karena takut.
Willy segera berbalik dan.keluar dari kamar Hanaria menuju ruang makan mengambil gelas yang baru dan mengisinya dengan air putih. Pintu ruang tamu terbuka, suster Nana masuk seorang diri lalu menutup pintu itu kembali.
"Syukurlah kau sudah datang suster Nana. Tolong berikan gelas ini pada nona Hana tadi ia kehausan. Dan hati - hati, ada pecahan gelas terjatuh dibawah ranjang pasiennya saat aku ingin memberikan nona Hana minum." Jelas Willy sambil menyodorkan tangannya kearah suster Nana.
"Baik tuan muda......" Suster Nana langsung mengambil alih gelas ditangan Willy dan membawanya masuk keruang tidur Hanaria.
Willy duduk disofa tamu sambil memikirkan apa yang telah terjadi pada Hanaria, sehingga wajahnya terlihat seperti takut saat melihat dirinya. Mungkin pegawainya itu sudah tertidur dan bermimpi buruk, sehingga saat terbangun melihat dirinya menjadi takut. "Apa diriku semenakutkan itu??" Gumam Willy. Ia meraih beberapa paper bag yang ia letakan diatas meja tamu saat baru tiba ditempat itu.
Willy masuk kekamar dengan beberapa paper bag ditangannya. Hanaria sudah tidak setakut sebelumnya, wajahnya pun sudah tidak pucat lagi.
"Suster Nana..... apakah nona Hana tidak mengalami demam?" Tanya Willy saat sudah berada didekat suster Nana yang sedang berjongkok membersihkan pecahan - pecahan gelas kaca dilantai.
"Iya tuan muda, nona Hana memang sedikit demam. Tadi saya sudah memberikan obat penurun panas yang sudah kami sediakan dikotak obat. Pasien yang mengalami luka sobek yang dijahit biasanya memang akan mengalami demam." Jelas suster Nana sambil berdiri menghadap Willy.
"Ini berikan padanya....." Ucap Willy sambil menyerahkan beberapa paper bag pada suster Nana. Suster Nana segera menyambut paper bag itu dan memberikannya pada Hanaria.
"Apa ini tuan.....??" Tanya Hanaria saat memegang tiga paper bag ditangannya yang ia terima dari suster Nana.
"Pakaian gantimu. Tadi dokter Mozes menelponku, mengatakan bahwa besok kau belum boleh pulang, luka - lukamu yang mulai membengkak itu akan menyebabkan tubuhmu demam, jadi untuk beberapa hari ini kau harus menginap dirumah sakit ini sampai kau dinyatakan boleh pulang oleh dokter Mozes. Itu sebabnya, aku membelikanmu beberapa potong pakaian ganti selama kau dirawat disini." Jelas Willy datar.
"Iya, tuan muda Willy benar nona Hana, jadi besok anda masih harus ada disini sampai beberapa hari kedepan, sampai luka - luka anda membaik." Suster Nana ikut menjelaskan, karena wajah Hanaria terlihat keberatan bila ia harus berada ditempat itu hingga beberapa hari kedepan.
__ADS_1
"Tuan muda, saya masih banyak pakaian ganti dirumah. Tuan tidak perlu membelinya seperti ini. Dan bagaimana tuan muda bisa tahu size pakaian yang saya gunakan?" Hanaria sempat merasa heran saat memikirkan tuannya itu berbelanja pakaian untuk dirinya.
"Kalau tentang pakaian wanita, kau tidak perlu heran dari mana aku bisa tahu size pakaian yang kau kenakan. Aku sudah terbiasa membelikan mommyku pakaian, begitu juga untuk adik - adik perempuanku, termasuk pakaian dalaman mereka." Hanaria ternganga mendengar ucapan Willy dengan gaya acuhnya saat mengatakan semuanya itu. Sedikitpun pria itu tidak merasa risih mengatakannya.
"Lagi pula, aku tidak tahu dimana rumahmu, jadi bagaimana mungkin aku bisa mengambil pakaian gantimu disana dan membawanya kemari." Sambungnya lagi masih dengan gaya acuhnya.
"Kalau begitu, berapa rupiah saya harus menggantinya tuan?" Tanya Hanaria melihat kearah tuannya itu.
Mendengar ucapan Hanaria, Willy sejenak terdiam. Ia melihat kearah suster Nana yang masih membersihkan sisa - sisa pecahan gelas dilantai.
"Suster Nana apakah kau sudah selesai membersihkan serpihan - serpihan itu?" Tanya Willy saat melihat suster Nana akhirnya berdiri dan mengangkat plastik kecil berisi pecahan dan serpihan gelas.
"Sudah tuan." Sahut suster Nana.
"Kalau begitu, tinggalkan kami berdua sejenak." Pinta Willy datar sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana jeansnya.
"Baik tuan muda...." Suster Nana segera pergi meninggalkan kamar inap Hanaria membawa plastik sampah ditangannya.
"Dengarkan saja perintahku suster Nana....." Ucap Willy lagi menatap suster Nana datar.
"Ba.... baik tuan muda....." Suster Nana lalu pergi menuju pintu.
"Tidak perlu ditutup pintunya suster, biarkan saja terbuka." Perintah Willy sambil mendekati ranjang pasien Hanaria.
"Baik tuan muda....." Suster Nana akhirnya segera keluar kamar.
Bola mata Hanaria menajam saat Willy semakin dekat dengannya. Ia terlihat waspada, dan wajahnya kembali sedikit memucat.
"Sepertinya anda terlihat takut pada saya nona Hana. Saya perhatikan, sejak saya masuk sampai sekarang, anda memperlihatkan wajah takut anda itu pada saya? Apa yang anda takutkan nona Hana?? Hmm....." Tanya Willy memperhatikan wajah pegawai wanitanya itu.
__ADS_1
Hanaria tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya menatap kearah pintu kamar yang terbuka.
"Apa yang membuat anda takut saat melihat saya nona Hana?" Willy mengulang perganyaan nya.
"Tidak ada tuan.... Saya tidak takut, anda salah paham....." Hanaria berusaha membantah.
"Aku bisa melihat dari sorot matamu, bahwa kau takut padaku....." Willy berusaha membuat Hanaria mengatakan sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan.
"Saya sudah bilang tuan.... saya tidak takut.....!" Hanaria mulai meninggikan suaranya karena Willy terus menanyakan hal yang tak mau ia bahas.
"Sungguh..... kau tidak takut padaku......" Willy semakin mendekat. itu dilakukannya untuk membuat Hanaria bicara tentang ketakutannya itu.
"Jangan mendekat......!! Atau.......!!" Ancam Hanaria dengan suara tinggi dan matanya yang menajam melihat kearah Willy yang semakin mendekati dirinya.
"Atau apa......??" Ucap Willy dengan suara setengah berbisik membuat Hanaria merinding mendengarnya.
"Stopp.....!! Berhenti disitu tuan, nanti saya akan berteriak.....!!" Hanaria mulai geram, tangannya ikut memberi isyarat.
"Berteriaklah......Aku ingin tahu sampai dimana nyalimu menghadapiku....." Willy menopang tubuhnya pada kedua tangannya yang bertumpu ditepi ranjang pasien, dengan memajukan wajahnya ke wajah Hanaria.
Plaaaaakkkk.....!!!
Satu tamparan keras mendarat dipipi Willy hingga membuat wajahnya berpaling ketempat lain.
"Kalian pria kaya.....!! Hanya mencari keuntungan dari wanita - wanita kelas bawah seperti kami.....!! Adikku..... sudah menjadi korban kebejatan salah satu dari antara kalian..... Aku benci pria seperti kalian......!!"Teriak Hanaria dengan penuh emosi.
Willy terkesiap, ia menatap dingin pegawai wanita dihadapannya, ia mengusap pipinya yang memerah dengan gambar cap lima jari.
"Apa maksudmu nona Hana.....??" Willy tidak mengerti apa maksud perkataan pegawainya itu.
__ADS_1
"Tuan pasti tahu apa yang saya maksud. Tuan hanya berpura - pura tidak mengerti..... Tuan pikir saya tidak tahu, termasuk jenis apa pria seperti tuan...... cepat pergi dari sini......! Cepat.....!!" Teriak Hanaria membentak.