HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 68 Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Mendengar perkataan dokter Herman, Moranno langsung berdiri tegak, memperbaiki posisi berdirinya dihadapan dokter Herman, dan sedikit menghadap kearah Willy yang masih duduk dibelakang mejanya.


"Tuan Moranno.... saya pamit dulu, saya ada janji dengan pasien pagi ini dirumah sakit." Ucap dokter Herman yang nampak terburu - buru.


"Baiklah dokter..... Terima kasih banyak....." Sahut Moranno.


"Tuan muda Willy..... Saya pamit dulu....." Ucap dokter Herman, sambil menatap wajah Willy sekilas.


"Iya dokter...... terima kasih sudah datang....." Sahut Willy, sambil memaksakan senyum tipisnya. Dokter Herman membungkuk hormat, lalu pergi membawa tas dokternya, dengan diantar oleh Moranno, hingga kedepan pintu.


Setelah kepergian dokter Herman, tinggallah Moranno yang tengah memperhatikan Hanaria sekilas, yang tertidur dikursi sofa. Wajah gadis itu terlihat lusuh, dan bermandi keringat, begitu juga seragamnya yang nampak sedikit kumal.


Moranno membalikkan tubuhnya, ia menyilangkan kedua tangannya didepan dada, dengan gaya bersedekap, ia menatap wajah Willy yang terlihat kikuk, duduk dikursi, dibelakang meja kerjanya.


Willy menunduk, menatap mejanya, tidak berani melihat kearah ayahnya yang terus menatapnya. Hatinya sudah merasa galau sejak melihat Hanaria hampir pingsan didalam lift pribadi pemilik perusahaan. Kini perasaan galaunya itu semakin bertambah - tambah, dan berlipat kali ganda, ia dapat melihat kecurigaan dari pancaran mata sang ayah yang tengah menatapnya dengan pandangan menyelidik.


"Willy...... Penjelasan apa yang bisa kau sampaikan pada daddy? Kenapa nona Hana sampai bisa seperti itu?" Tanya Moranno datar, ia masih menatap wajah putranya, berusaha menemukan apa yang tengah disembunyikan oleh putranya itu.


"Sekretarismu, nona Morin.......menelpon daddy, memberitahukan kalau kau keluar dari lift, dengan membopong nona Hanaria yang sudah hampir pingsan. Itulah sebabnya, daddy datang kemari dan bertemu dengan dokter Herman didepan ruang kerjamu." Tambah Moranno lagi, matanya terus menatap lekat pada putranya, yang masih diam seribu bahasa.


Willy meremas jari - jemarinya sendiri diatas meja, ia bingung harus menjawab apa, dan memulainya dari mana. Semuanya menjadi serba salah bila dirinya ceritakan, ayahnya pasti akan salah paham padanya.

__ADS_1


"Willy! Jangan paksa daddy untuk memukulmu, baru kau buka suara!" Suara Moranno mulai meninggi, Willy sangat mengenal ayahnya, pria paruh baya itu tidak akan segan - segan memberi hukuman bila ia lambat memberi jawaban.


"Nona Hana tiba - tiba masuk kedalam lift, lift yang biasa kita gunakan daddy. Aku tidak tahu, mengapa ia masuk kedalamnya. Ia menabraku saat masuk, lalu tubuhnya oleng, dan aku.....aku tidak sempat menahan tubuhnya yang berat, sehingga nona Hana terjatuh dilantai dengan sesak napas. Aku panik, lalu menggendongnya keluar, memberi tahu sekretaris Morin untuk menyiapkan oksigen dan memanggil dokter Herman untuk datang kemari." Jelas Willy. Suaranya terdengar sangat gugup.


"Kau yakin..... sudah menceritakan semuanya, tidak ada yang kau sembunyikan....." Tegas Moranno. Willy menganggukan kepalanya, ia masih belum berani menatap wajah ayahnya, yang pagi itu nàmpak menakutkan menurutnya.


"Lalu ini apa?" Moranno mencuil noda merah, dibibir Willy dengan jari telunjuk kanannya, lalu menunjukan dan memperlihatkan jari telunjuknya itu didepan mata Willy. Willy terkesiap, kepalanya langsung terasa begitu pusing, melihat noda merah diujung jari telunjuk ayahnya, dirinya sampai menahan napasnya, berusaha menemukan jawaban yang tepat.


"Mungkin...... noda lifstik nona Hana itu......, menempel pada bibirku dad, saat aku memberi nafas buatan padanya tadi. Daddy dan dokter Herman juga melihatnya tadi." Jawab Willy hati - hati, sambil menatap wajah ayahnya dengan rasa takut.


Moranno terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang telah diutarakan putranya itu, memang terdengar masuk diakal. Namun, Moranno merasa masih ada yang disembunyikan putranya itu. Itulah yang ingin dirinya ketahui, dan apa alasannya, sampai putranya itu berniat menyembunyikannya dari dirinya.


"Tadi kau bilang, nona Hana menabrakmu didalam lift, lalu dirinya terjatuh dan sesak nafas. Kau dengarkan Willy?? Bahwa dokter Herman mengatakan, kalau nona Hana tidak mengidap penyakit asma, jadi bagaimana mungkin, hanya karena terjatuh, nona Hana sampai mengalami sesak nafas parah, seperti yang ia alami tadi?" Moranno memberondong putranya itu dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan bertubi - tubi.


Moranno membersihkan noda lifstik diujung jari telunjuknya, menggunakan tissue dari atas meja Willy. Ia membuang tissue bekas itu, kedalam bak sampah yang ada disamping meja kerja Willy.


"Dan apakah kau tahu Willy? Mengapa bibir Nona Hanaria itu membengkak? Seperti ada bekas gigitan disana. Lidahnya juga membengkak, kata dokter Herman tadi, dia sudah memeriksanya." Moranno memasukan kedua telapak tangannya, kedalam saku celananya. Matanya tidak beralih sedikitpun, dari wajah putranya. Dirinya dapat melihat, sorot mata Willy yang gugup, berusaha tenang mendengar pertanyaanya.


"Kalau itu..... Willy juga tidak tahu dad....." Sahut Willy, ia melirik wajah ayahnya sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ketempat lain.


"Bukankah dirimu yang menggigitnya Willy?" Tuduh Moranno, ia berusaha menekan pertanyaanya pada putranya itu.

__ADS_1


"Kenapa daddy bisa berfikir, kalau aku yang melakukannya?" Willy menatap wajah ayahnya datar, sorot matanya terlihat tidak senang, mendengar pertanyaan sekaligus pertanyaan sang ayah yang menyudutkannya.


"Dokter Herman mengatakan, kalau itu bukan gigitan hewan......" Pungkas Moranno.


"Tunggu.... tunggu sebentar......dad......Dokter Herman memang mengatakan seperti itu, tapi bukan berarti daddy bebas menuduhku seenaknya, memangnya Willy drakula, suka menggigit orang.....! daddy yang benar saja......" Sanggah Willy, dengan suaranya yang sedikit meninggi, mimik wajahnya terlihat tidak terima.


"Kau memang DRAKULAnya.....! Seperti katamu tadi....." Balas Moranno sengit.


"Percuma berdebat dengan daddy, Willy capek, Willy lelah. Daddy juga tidak akan percaya." Willy menurunkan nada suaranya, ia berusaha menahan dirinya menghadapi sang ayah yang terus menginterogasinya.


Moranno masih berdiri didepan meja kerja Willy, sambil menatap Willy yang terlihat lelah, menjawab semua pertanyaan ayahnya yang sengaja menyudutkan putranya itu. Willy menyandarkan punggungnya, bertumpu pada sandaran kursi kerjanya, sambil memijit pelipisnya.


"Willy......." Suara Moranno terdengar lirih. Ia menatap keluar, lewat dinding kaca yang ada disebelah meja kerja Willy. Willy melihat tatapan mata ayahnya itu menerawang, jauh melampaui apa yang sanggup matanya lihat.


"Daddy pernah...... pernah mengalami hal serupa sepertimu Willy......."Suara Moranno masih terdengar lirih. Matanya masih menerawang jauh kedepan, seolah menembus ruang dan waktu dimasa lalu. Willy memperhatikan wajah ayahnya, ia penasaran, apa yang akan ayahnya katakan padanya.


"Bibir dady, pernah digigit seseorang...... persis seperti yang terjadi pada bibir nona Hanaria itu." Moranno menjedah ucapannya sejenak. Willy menyimak penuturan sang ayah, dengan penuh minat.


"Daddy sayang pada semua anak - anak daddy, termasuk padamu Willy. Itu sebabnya, daddy akan berkisah sedikit tentang masa lalu daddy padamu. Rahasia ini daddy ceritakan padamu, supaya kau tidak melakukan kesalahan yang sama, seperti yang pernah daddy lakukan dulu Willy." Moranno mengalihkan pandangannya, lalu menatap putranya itu lekat - lekat. Willy merasa tegang, karena akan mendengar suatu rahasia tentang ayahnya.


"Seseorang itu......... dia adalah......... mommymu......" Willy terkesiap, roman wajahnya terlihat bertambah tegang, saat nama mommynya yang disebut oleh ayahnya.

__ADS_1


...***Terima kasih buat readers yang sudah mampir dan meninggalkan like dan comennya....


...Author sangat menghargainya sebagai dukungan bagi author untuk lebih semangat lagi menulis. 😊🙏***...


__ADS_2