HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 118 Lania


__ADS_3

"Bagaimana perasaanmu sekarang Firlita?" Tanya Hanaria, saat dirinya menemani Firlita berjemur di taman rumah sakit, dimana Firlita dirawat.


"Sudah lebih baik kak. Hari ini aku sudah boleh pulang kata dokter Rosa. Tapi......" Wajah Firlita tiba - tiba berubah khawatir.


"Tapi apa Fir......?" Tanya Hanaria yang melihat kegundahan terpancar dari wajah adik angkatnya itu.


"Aku takut kak....... Aku tidak mau kembali lagi kerumah itu. Aku selalu dihantui rasa ketakutan mengingat perlakuan Mahendra padaku. Dia sepertinya sangat membenciku. Aku takut dia membunuhku, seperti yang terakhir kali ia lakukan padaku kak Hana." Ucap Firlita gemetar.


"Ibu mertuaku itu, ia selalu mengatakan padaku, bahwa setelah sembuh nanti, ia akan membawaku pulang kerumahnya, setiap kali ia datang menjengukku. Tolong aku kak, aku tidak mau pulang kesana lagi. Aku mau ikut kak Hana saja. Aku takut......" Firlita mulai menangis sesenggukan.


Hanaria langsung memeluk Firlita, pengalaman kekerasan yang dilakukan oleh Mahendra hingga dua kali padanya, ternyata meninggalkan trauma berat pada wanita muda itu.


Sambil menenangkan Firlita yang masih menangis dalam pelukannya, Hanaria mendesah pelan. Ia merasa sedang memikul beban yang berat sehingga nafasnya terasa sesak.


"Kasihan kau Firlita." Desah Hanaria didalam hati."Seharusnya wanita yang mengandung sepertimu mendapat kasih sayang dari suamimu. Namun kenyataannya, selama kau mengandung bayi suamimu, kau harus menyimpan sakitmu secara fisik dan batinmu untuk dirimu sendiri." Desah Hanaria lagi.


"Semoga saja wanita - wanita diluar sana, tidak mengalami hal yang serupa sepertimu Firlita. Tidak mudah percaya pada laki - laki buaya seperti Mahendra. Karena bila sudah terjadi, sangat sulit untuk keluar dari kemalangan itu." Kembali Hanaria bermonolog pada dirinya sendiri didalam hati, sambil terus mengusap rambut Firlita untuk menenangkannya.


"Sudahlah, jangan takut Firlita. Kakak akan berusaha menolongmu. Tenangkan dirimu, kasihan bayimu, ia akan turut gelisah bila kau gelisah, takut, dan khawatir." Ucap Hanaria membuyarkan lamunannya sendiri, ia melonggarkan dan melepaskan pelukannya dengan perlahan dari tubuh Firlita.


"Kakak berangkat berkerja dulu, sudah waktunya." Sambung Hanaria sambil melihat arloji tangannya. Ia meraih tas ranselnya, dan menggendongnya dipunggungnya.


"Iya kak..... Hati - hati dijalan." Ucap Firlita sambil menghapus air matanya dengan jari - jari tangannya sambil mengulas senyum tipisnya. Ia masih duduk dikursi taman untuk menerima sinar matahari pagi bagi tubuhnya.


Hanaria membalas senyum tipis Firlita dan segera meninggalkan tempat itu. Langkahnya tiba - tiba terhenti saat matanya melihat seorang gadis kecil duduk dikursi taman sambil mendekap pigura dalam pelukannya dengan wajah sedih.


Ingatan Hanaria langsung membawanya mengarah ke satu nama 'Pak Paris', ya gadis kecil itu adalah putri pak Paris yang pernah ia lihat waktu melewati area tempat gadis kecil itu bersekolah.


Hanaria menyerongkan langkahnya, mendekati gadis kecil itu yang tidak menyadari kehadirannya.


"Hallo adik kecil yang cantik......" Sapa Hanaria sambil berjongkok, menyamakan dirinya dengan tinggi tubuh gadis kecil itu yang sedang duduk dikursi taman.


Gadis kecil itu menoleh kearah Hanaria, ia tidak tersenyum, walaupun Hanaria sedang tersenyum manis padanya. Kelopak matanya masih penuh dengan airmatanya yang belum sempat jatuh.

__ADS_1


"Tante siapa?" Tanya gadis kecil itu sambil menatap Hanaria, ia memperhatikan seragam kerja yang dikenakan oleh Hanaria yang berjongkok dihadapannya.


"Kenalkan...... Nama tante Hanaria, cukup panggil tante Hana. Adik kecil namanya siapa?" Tanya Hanaria lagi, masih dengan senyum manisnya.


"Lania......" Sahut gadis kecil itu singkat.


"Lania..... Ngapain disini sendiri. Nggak kesekolah?" Tanya Hanaria.


"Lania sedang dirawat, kata ayah Lania sedang sakit jadi harus disini dulu beberapa hari." Jelas gadis kecil itu.


"Memangnya..... Lania sakit apa?" Tanya Hanaria menatap gadis kecil itu yang terlihat pucat. Lania hanya menggelengkan kepalanya.


"Dimana ayah dan ibu Lania?"


"Ayah sudah berangkat berkerja sejak tadi pagi setelah menemani Lania tidur, ibu dirumah, menjaga adik - adik Lania." Sahutnya.


"Itu pigura, poto siapa? Boleh tante lihat?" Ucap Hanaria meminta ijin, sambil menunjuk benda dengan isyarat wajahnya.


"Ini foto ibunya Lania tante......." Lania lalu memberikan pigura yang didekapnya kepada Hanaria sambil mengusap air matanya.


"Ini ibumu Lania?" Tanya Hanaria memastikan ia menatap wajah gadis kecil itu dengan lekat.


"Iya tante......" Sahut Lania sambil menganggukan kepalanya.


"Tidak mungkin...... ini tidak mungkin terjadi..... Setahuku, isteri pak paris bukan wanita ini." Hanaria bergumam seorang diri sambil mengeleng -ghelengkan kepalanya. Ia kembali menatap wajah wanita pada foto dalam pigura itu.


"Siapa nama ibumu ini Lania?" Hanaria kembali menatap wajah gadis kecil yang polos itu.


"Mama Morin......" Sahut gadis kecil itu lagi.


Hanaria kembali terkesiap, sebelumnya ia berharap hanya wajahnya saja yang mirip, tapi kenapa namanya pun sama. Apakah 'mama Morin' yang disebut Lania itu adalah orang yang sama dengan sekretaris Morin? Batin Hanaria. Tapi isterinya pak Paris, bukanlah sekretaris Morin, tapi wanita yang lain. Karena ia pernah bertemu beberapa kali saat pesta perusahaan dan melihat pak Paris membawa isterinya.


Tapi kenapa gadis kecil ini mengaku kalau wanita dalam foto pigura itu adalah ibunya, batin Hanaria. Ia berusaha keras untuk tidak mempercayainya. Mungkinkah pak Paris ada hubungan terlarang dengan sekretaris Morin? pikirnya lagi.

__ADS_1


"Oya, kenapa Lania tadi menangis saat tante Hana baru datang? Tanya Hanaria kembali menatap wajah Lania sambil mengulas senyum tipisnya.


"Mama..... tidak pernah menengok Lania dirumah sakit ini tante. Lania merindukan mama. Sudah lama Lania tidak melihat mama." Ucap gadis kecil itu kembali menangis.


Hanaria meraih tubuh kecil Lania kedalam pelukannya, ia turut merasakan kesedihan gadis kecil itu, sambil mengusap - usap rambut panjangnya, ia berusaha menenangkan hati Lania.


"Lania......?!" Panggil seorang suster dengan lembut.


Hanaria segera melepaskan pelukannya dari tubuh Lania, ia melihat seorang suster sudah berdiri didekat dirinya dan Lania.


"Maafkan saya nona, anda siapa?" Tanya sang suster sambil memperhatikan Hanaria yang terlihat akrab dengan Lania.


"Nama saya Hanaria, saya satu tempat kerja dengan ayahnya Lania suster. Saya kebetulan akàn pergi berkerja setelah menemani adik saya yang bernama Firlita, yang menjadi pasien dirumah sakit ini. Dan saya melihatnya duduk sendiri ditaman ini, jadi saya menghampirinya." Jelas Hanaria.


"Nona teman kerjanya pak Paris ?" Ucap suster memastikan, sambil memperhatikan seragam kerja yang dikenakan Hanaria mirip dengan ayah Lania.


"Benar suster." Sahut Hanaria.


"Oh begitu..... Selama Lania disini, hanya ayahnya saja yang bolak balik menjenguk dan menemaninya, itu sebabnya saya bertanya, mungkin saja anda keluarganya." Ucap suster itu tersenyum tipis.


"Nona saya permisi dulu, sudah waktunya Lania sarapan pagi dan kembali melakukan beberapa pemeriksaan." Ucap suster itu dengan sopan.


"Iya suster....... Silahkan...... " Sahut Hanaria mempersilahkan.


"Suster.......?!" Panggil Hanaria lagi.


"Iya nona......" Sahut suster itu menoleh. Ia sudah hendak berbicara dengan Lania.


"Kalau saya boleh tahu..... Lania...... Sakit apa?" Tanya Hanaria hati - hati.


"Maafkan saya nona, saya tidak bisa menjawabnya, nona bisa langsung bertanya pada ayahnya, atau dokter yang menangani Lania nona." Sahut suster itu.


"Baiklah suster...... Terima kasih." Hanaria memaklumi atas jawaban suster itu, mungkin maksudnya agar tidak didengar oleh Lania. Karena mungkin saja penyakit gadis kecil itu adalah penyakit yang serius pikirnya.

__ADS_1


"Lania ayo kita sarapan pagi dulu, supaya cepat sembuh ya......" Ucap suster itu dengan lembut pada Lania. Lania Hanya menganggukkan kepalanya menurut dan segera berdiri dari duduknya.Tatapan matanya terlihat kosong.


"Bagus...... Anak pintar......" Ucap suster itu tersenyum lebar, lalu meraih tangan Lania dan membawanya pergi.


__ADS_2