
Willy menyelimuti tubuh Hanaria yang.sudah tertidur lelap, setelah membantu isterinya itu membersihkan tubuhnya dikamar mandi dari aktifitas panas mereka. Willy berjalan keluar kamar, dan menutup pintu dengan rapat.
Rasa rindu yang tiba-tiba menyergap hatinya, membawa langkah Willy menuju kamar anak adopsinya. Sepanjang hari ini, dirinya memang tidak sempat menjumpai Elvano karena pulang kemalaman dan lanjut mengobrol dengan Hanaria.
Ceklek!
Willy mendorong knop pintu dengan hati-hati, lalu masuk dan tidak lupa menutup lagi pintu kamar dengan rapat dibelakangnya.
"Selamat malam tuan," sapa bibi Nani, yang langsung terjaga saat mendengar suara pintu kamar terbuka.
"Bibi Nani? Kemana bibi Salu?" tanya Willy heran, karena bukan pengasuh Elvano yang ada dikamar itu.
"Bibi Salu sedang sakit Tuan, jadi untuk sementara waktu sayalah yang menggantikan tugasnya untuk menjaga den Vano Tuan," jelas bibi Nani.
"Baiklah, tidurlah kembali Bi, saya hanya ingin menengok Elvano, saya merindukannya karena tidak melihatnya sepanjang hari ini," ujar Willy dan mendekati ranjang Elvano.
"Iya Tuan," bibi Nani kembali merebahkan tubuhnya diranjangnya yang berada disudut kamar Elvano.
Elvano sudah tidak tidur diranjang bayi lagi. Tubuhnya yang sudah semakin besar, kini tidur diranjang barunya yang seluas ranjang orang dewasa.
Willy sengaja menyuruh asisten rumah tangganya untuk menggantinya dengan yang baru supaya sewaktu-waktu dirinya dan Hanaria bisa menemani Elvano tidur barang sebentar.
Seperti malam ini, Willy naik keranjang Elvano, meraih tubuh gembul dan bongsor itu kedalam pelukannya. Ya, Elvano sebentar lagi berusia dua tahun, tapi tubuhnya cepat meninggi melebihi usianya.
Elvano yang begitu lelap terbuai mimpi, sama sekali tidak terganggu oleh pergerakan Willy yang berbaring disebelahnya sambil memeluk tubuhnya.
"Sayang, Daddy merindukanmu," gumam Willy sambil mencium rambut Elvano yang tebal dan hitam.
"Apakah kau hari ini sangat nakal hingga membuat pengasuhmu jatuh sakit?" guman Willy lagi sembari tertawa kecil, dan terus menciumi Elvano yang terlihat semakin menggemaskan saat sedang tertidur.
Willy terus bergumam seorang diri, seolah Elvano yang tertidur pulas itu mendengar apa yang ia katakan.
__ADS_1
"Kenapa harus ada manusia seperti nenekmu dan ayahmu, menyusahkan Mommy Hana saja kerjaannya," gumaman Willy kini berubah menjadi omelan.
"Tapi tidak masalah, Daddy akan membantu Mommy Hana semampu Daddy," ucap Willy kembali bermonolog pada dirinya sendiri, sembari termenung, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Sementara esok harinya, dia tidak tahu bagaimana caranya harus membayar semua daftar saham yang dijual oleh pemilik saham itu.
Willy terus mengusap lembut punggung mungil Elvano, sementara bayi itu semakin terlelap dalam tidurnya, merasakan belaian kasih sayang ayah sambungnya itu.
"Sepertinya Daddy sudah tahu, apa yang harus Daddy lakukan sekarang," Willy tersenyum sumringah seorang diri, memandang wajah Elvano yang masih terlelap tanpa ekspresi.
"Terima kasih sayang, mengobrol denganmu membuat Daddy punya ide bagus. Ini pasti bisa membantu Mommy Hana, Yess!" Willy kegirangan sendiri. Ia lalu melepaskan pelukannya perlahan dari Elvano.
Sebelum bangkit dari posisinya, Willy terlebih dulu mencium pipi gembil Elvano dengan gemas, aroma khas bayi itu menguar dari tubuhnya membuat Willy enggan meninggalkan tempat itu.
Namun ia harus bergerak cepat malam ini, ingin menjalankan idenya saat ini juga, supaya dirinya tidak khawatir lagi pada Hanaria.
"Bibi, aku kembali dulu," pamit Willy pada kepala asisten rumah tangga keluarganya itu.
"I-iya Tuan," sahut bibi Nani terbata-bata. Ia segera bangkit lalu membungkuk hormat, saatvWilly beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
Willy meninggalkan kamar Elvano, menuju kamar kedua orang tuanya, ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu, karena jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Pasti kedua orang tuanya juga sudah terlelap, batinnya.
Willy akhirnya memutuskan untuk tetap mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
Setelah beberapa detik menunggu, terdengar knop pintu diputar dari dalam dan pintu pun terbuka, muncul wajah ibunya yang tersenyum lembut padanya.
"Ada apa sayang, kok belum tidur?" tanya Yurina, sembari menerima kecupan putranya pada kedua pipinya.
"Belum Mom, apa Daddy sudah tidur?" tanya Willy pada ibunya.
"Daddy masih di ruang kerjanya sayang, ada apa?" tanya Yurina lagi.
"Biasa Mom, urusan laki-laki dewasa," ucap Willy sembari tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu--, susul saja Daddy-mu di ruang kerjanya," ucap Yurina lagi, dengan senyum lembutnya yang masih setia mengembang.
"Iya Mom, Willy ke ruang kerja Daddy dulu ya. Selamat tidur Mom," Willy kembali mengecup kedua belah pipi ibunya secara bergantian lalu bergegas pergi.
Yurina menatap kepergian putranya, tentu ada perihal yang begitu penting, sampai selarut ini putranya itu belum tidur dan ingin bertemu suaminya.
Willy segera mengetuk pintu, setibanya ia didepan pintu ruang kerja ayahnya. Ia segera memutar knop pintu dan mendorongnya pelan, begitu mendengar ayahnya mempersilahkannya masuk.
"Tumben belum tidur?" ucap Morrano, begitu melihat wajah putranya yang muncul didepan pintu.
"Iya Dad," sahut Willy seraya duduk tepat dihadapan meja kerja ayahnya.
"Apa Willy mengganggu?" tanyanya menatap Morrano yang tengah sibuk dengan berkas-berkas yang terhampar diatas mejanya.
"Sejujurnya iya. Tapi katakan saja, apa yang membawamu datang kemari untuk mengganggu Daddy-mu? Heum?" tanyanya lagi. Ia meletakan kacamatanya diatas berkas-berkasnya lalu pokus menatap putranya yang tengah memperhatikan setiap gerak geriknya.
Tangan Willy menyelinap masuk dibalik baju jaketnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar kerttas dan menyodorkannya pada ayahnya.
"Apa ini?" tanya Morrano sembari menerima apa yang disodorkan putranya itu.
"Lihat saja dulu, nanti Willy jelasin," sahutnya sembari menyandarkan punggung lebarnya pada sandaran kursi dibelakangnya.
"Apa maksudnya dengan saham-saham ini?" tanya Morrano mengerutkan keningnya, setelah beberapa detik ia membaca tulisan pada halaman depan, lalu terus membuka lembaran demi lembaran kertas yang sedang dipegangnya.
"Yang sedang Daddy baca itu, adalah daftar saham yang ingin dibeli Hanaria dari para pemegang saham perusahaan Mega Otomotif," Jelas Wily menatap raut ayahnya yang seketika berubah tegang.
"Apa ada masalah?" tanya Morrano penuh selidik.
"Tidak ada Dad." sahut Willy cepat. "Hanaria hanya sedang mengidam saham. Dan itu mahal sekali Dad, aku tidak punya tabungan sebanyak itu," raut wajah Willy dibuat memelas, membuat Morranno ingin sekali menyentil dahinya, karena putranya itu sangat tidak cocok bergaya demikian.
"Lalu, kalau isterimu yang mengidam--, apa harus Daddy yang menalanginya?" Morrano menatap wajah Willy yang seketika berubah sumringah mendengar perkataannya.
__ADS_1
"Nah, itu maksud Willy Dad. Malam ini tumben Daddy cepat nyambungnya. Kalau begini caranya, asik juga punya Daddy yang kaya," cerocos Willy yang kelewat bahagia, tidak sadar bila wajah ayahnya kini berubah garang, mendengar celotehannya yang menyebalkan, dan menyinggung perasaan.
Bersambung...👉