HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
178. Aku Ingin Bayi


__ADS_3

Hanaria melangkah masuk, ia mendekati Firlita yang berusaha membujuk bayi Elvano supaya mau menyusuinya. Sementara nyonya Mingguana hanya terpaku ditempatnya berdiri, ia tidak menduga Hanaria tiba-tiba ada dirumahnya sepagi itu.


"Fir, berikan baby Elvano padaku," Hanaria mengulurkan tangannya, meraih bayi mungil itu dari gendongan ibunya.


"Peras ASI-mu masukan kewadah botol dot, semoga saja ia mau menyusui dengan cara itu," kata Hanaria memberi ide.


Bibi Narsih segera memberikan botol dot yang bersih yang sudah disiapkan diatas meja disudut kamar Firlita. Buru-buru Firlita menerimanya, dan segera melakukan seperti apa yang dikatakan Hanaria padanya.


Hanaria memperhatikan bayi Elvano sambil terus menimangnya, ternyata bayi itu tidak seperti apa yang ia duga sebelumnya. Bayi merah itu terlihat lebih kurus, dengan kulit tubuh dan biji mata yang menguning.


"Bayimu sakit Fir," ungkap Hanaria. Hatinya terasa perih memandang kondisi bayi Elvano yang tidak sehat, bayi itu terus saja menangis.


Dengan tergesa-gesa, dan hampir berlari, Hanaria membawa bayi Elvano keluar dari kamar Firlita. Nyonya mingguana, yang melihat hal itu segera mengikutinya bersama Firlita dan bibi Narsih dibelakangnya.


"Hana? Kau mau kemana?" tanya Willy yang sedang duduk diruang tamu, saat melihat isterinya yang berjalan setengah berlari dan diikuti oleh ketiga wanita lainnya dibelakanngnya.


"Ke halaman depan," sahut Hanaria terus melangkah cepat. Willy yang mendengar jawaban Hanaria segera ikut menyusul kehalaman depan seperti yang dikatakan isterinya itu.


Hanaria membawa bayi Elvano duduk dikursi taman menjemurnya dibawah sinar matahari pagi.


"Berikan botol ASI-mu Fir," pinta Hanaria, menatap Firlita yang baru tiba didekatnya.


"Belum penuh kak," tunjuk Firlita memperlihat botol ASI tanggung yang bahkan belum setengah isinya.


"Tidak apa, berikan saja. Kau isilah lagi menggunakan wadah yang lain," kata Hanaria sambil mengulurkan tangannya.


"Iya kak," Firlita memberikan botol ASI pada Hanaria, setelahnya, ia bergegas kembali kekamarnya, melakukan apa yang dikatakan Hanaria padanya.


Hanaria menyodorkan pucuk botol dot ASI kemulut bayi Elvano, namun bayi itu menolaknya sambil menangis. Hanaria tidak kehabisan akal, ia meneteskan ASI itu kebibir sang bayi, hingga masuk kemulutnya yang sedang terbuka, sambil terus berusaha membuat bayi itu mersepon pucuk botol yang ia tempelkan kemulutnya, dan itu berlangsung beberapa menit lamanya.

__ADS_1


Entah karena haus atau kepanasan, bayi Elvano yang sudah mengeluarkan keringat, dengan kulitnya yang semakin memerah akhirnya menyedot pucuk botol dot dengan beringas, hal itu membuat perasaan Hanaria langsung merasa lega, semua yang memperhatikan itu ikut merasa lega, demikian pula dengan Willy.


Dalam sekejap, ASI yang tidak sampai setengah botol itu sudah kosong, untung saja Firlita datang tepat waktu dan memberikan botol ASI tanggung yang telah berisi penuh.


Bayi Elvano kembali menyedot botol ASI dengan beringas, ia terlihat sangat haus setelah berjemur dibawah sinar matahari pagi. Keringat semakin banyak keluar dari tubuhnya yang terbuka, hanya menyisakan popoknya saja, dan tangisannya juga sudah terhenti semenjak ia menyusui dot ASI-nya yang diberikan Hanaria.


"Firlita, apakah kau lupa membawa bayimu berjemur setiap pagi?" tanya Hanaria disela-sela kesibukannya menyeka keringat bayi Elvano sambil tetap membantu memegang botol ASI ditangannya.


"Iya kak," lirih Firlita, sebenarnya ia merasa malu mengakuinya pada Hanaria.


"Itu, karena sepanjang malam aku selalu terjaga, bayi Elvano selalu menangis bila terbangun tengah malam, dan menjelang pagi hari ia baru tertidur lagi, sehingga aku ikut tertidur karena lelah," kata Firlita mengungkapkan apa yang ia alami akhir-akhir ini.


"Bila kau lelah, kau bisa meminta bantuan bibi Narsih, atau yang lainnya Fir. Lihat bayimu itu sampai berwarna kuning karena kau jarang membawanya berjemur dipagi hari," ucap Hanaria.


"Iya kak, maafkan aku," kata Firlita merasa bersalah.


"Baby El sayang, kau harus minum ASI-mu yang banyak. Bibi mau melihatmu segera tumbuh besar, dan melihatmu berlari-lari ditaman ini," ucap Hanaria lembut. Bayi laki-laki itu mengedipkan matanya beberapa kali setelah Hanaria mengatakan hal itu. Entah bayi itu mendengar atau mengerti, Hanaria tetap membawanya mengobrol.


"Fir, ini bayimu, sepertinya dia sudah kenyang," kata Hanaria, setelah bayi merah itu menghabiskan ASI dalam dot botolnya. Ia menyerahkan bayi Elvano dengan hati-hati kedalam gendongan ibunya.


"Besok pagi, jangan lupa membawa bayimu berjemur seperti hari ini ya Fir? Lihat, wajah dan semua kulitnya sudah memerah karena tertimpa sinar matahari pagi,"


"Bila kau rajin membawa bayimu berjemur, kulit dan matanya tidak akan sekuning ini lagi," kata Hanaria.


"Iya kak, terima kasih sudah membantuku," ucap Firlita sambil menggendong bayinya.


"Iya, sama-sama Fir. Jaga kesehatanmu juga bayimu. Kakak berangkat berkerja dulu," kata Hanaria, sambil merapikan pakaiannya sejenak.


"Nyonya, kami permisi dulu," pamit Hanaria pada sang empunya rumah yang telah resmi menjadi bos barunya itu.

__ADS_1


"Iya nona Hana, saya sebentar lagi akan berangkat berkerja juga," sahut nyonya Mingguana. Ia memandang Hanaria dan Willy yang meninggalkan kediamannya.


...***...


Willy menghentikan mobil tepat didepan lobi kantor Mega Otomotif, kantor baru tempat isterinya berkerja. Hanaria membuka sabuk pengaman yang meliliti tubuhnya.


"Begitu caramu berpamitan pada suamimu?" kata Willy melirik Hanaria yang sudah siap membuka pintu mobil disebelahnya.


Hanaria berbalik, ia menatap Willy yang menatap kaca mobil didepannya tanpa menoleh sedikitpun padanya.


"Kau suami yang aneh, saat aku akan berpamitan kau malah tidak mau melihatku," gerutu Hanaria, ia menatap lekat wajah Willy yang hanya memperlihatkan pipi sebelah kirinya saja.


"Aku tidak aneh, itu tandanya aku memintamu mencium pipi kiriku," ucap Willy pelan.


Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Hanaria langsung memajukan wajahnya mendekati pipi Willy.


Cup!


Hanaria tersentak, saat tangan Willy menahan tengkuknya dengan tangan kirinya supaya isterinya itu tidak segera melepaskan kecupan bibirnya pada pipinya.


"Hmm, apa yang kau lakukan?" kata Hanaria setelah berhasil melepaskan ciumannya dan memberi jarak wajahnya dari wajah suaminya itu. Willy hanya menatap wajah Hanaria dalam, membuat isterinya itu mendadak merasa kikuk, ketika mendapat tatapan darinya.


"Aku ingin bayi," ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Willy yang masih menatap wajah Hanaria lekat.


"Kau, ingin bayi?" Hanaria mengulang perkataan Willy yang baru ia dengar. Willy mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Mungkin Willy menyukai bayi Elvano, itu sebabnya suaminya itu membahas tentang bayi, batin Hanaria.


Hanaria mengerjapkan matanya menatap Willy yang masih memandangnya. "Nanti sore kita akan singgah lagi kerumah Firlita, kita bisa membawa Firlita dan bayinya, supaya kau bisa bermain-main dengan baby Elvano," kata Hanaria memberi ide.


"Aku tidak ingin baby Elvano, atau bayi lainnya. Aku ingin bayi kita Hana, bayi kau dan aku," tegas Willy menatap wajah Hanaria.

__ADS_1


__ADS_2