HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
182. Tidak Mencapai Target


__ADS_3

Antonio, sang manager Manager melirik sejenak kearah nyonya Mingguana dan dua anak buahnya yang duduk tenang disamping kiri dan kanannya sebelum memulai pelaporan penjualan dari bagian departemennya.


Beberapa kali pria paruh baya itu mengambil nafas dan menghembuskannya kembali dengan penuh beban. Semua pasang mata memperhatikan layar monitor dihadapan mereka masing-masing, yang sedang menampilkan laporan penjualan selama tiga bulan terakhir oleh sang manager marketing, Antonio.


Sesekali mulut manager Antonio komat kamit memberi penjelasan pada setiap data yang ia tampilkan, hingga rencana pemasaran product untuk tiga bulan mendatang.


"Sekian Nyonya, laporan penjualan, dan rencana penjualan product-product Mega Otomotif selanjutnya," kata Manager Antonio mengakhiri pelaporan dan rencana kerjanya.


"Laporan penjualan yang sangat menyedihkan!" timpal nyonya Mingguana memberi respon setelah mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh manager marketing Perusahaannya itu.


"Manager Antonio, tampilkan data penjualan selama tiga tahun terakhir lagi! Perlihatkan pada kami semua!" Perintah nyonya Mingguana, suaranya terdengar menggema memenuhi ruangan rapat yang senyap.


"Baik Nyonya," sahut Antonio, ia lalu membuka file pada laptopnya, tangannya terlihat gemetar sebelum menampilkan data penjualan tiga tahun terakhir sesuai perintah nyonya Mingguana.


"Kenapa terlalu lama? Apakah sulit menemukan file-mu manager Antonio, apakah kau tidak menyimpannya dengan baik?" tanya nyonya Mingguana tidak sabar.


"Iya, mohon maaf Nyonya, masih loading, datanya terlalu berat, karena Nyonya meminta hingga tiga tahun kebelakang," sahut Antonio memberi alasan dengan suara terdengar bergetar.


Hanaria menatap sekilas wajah Manager Antonio saat mendengar suara atasannya itu terdengar bergetar, begitu pula dengan Nyonya Mingguana dan asisten David.


Kling!


Bersamaan dengan bunyi yang terdengar, layar monitor langsung menampilkan data penjualan tiga tahun terakhir. Manager Antonio memejamkan matanya sambil menahan nafasnya sejenak, ia pasrah pada apa yang akan dikatakan nyonya Mingguana, pemilik baru Perusahaan Mega Otomotif itu.


Nyonya Mingguana menatap lama pada layar monitor dihadapannya, wajah datarnya tidak bereaksi apapun menatap tampilan laporan penualan tiga tahun terakhir yang ia minta.

__ADS_1


"Tuan Rudolf Bong, anggota dewan direksi yang menangani bidang keuangan Perusahaan, berapa seharusnya target penjualan setiap bulannya, agar Perusahaan sekelas Mega Otomotif ini dianggap sehat?" tanya nyonya Mingguana datar, pandangannya beralih dari layar monitor dihadapannya, menatap kearah tuan Rudolf dan manager keuangan yang duduk disebelahnya.


"Sekitar empat puluh unit alat berat, sembilan ratus unit mobil, dan dua ribu empat ratus unit sepeda motor Nyonya," sahut tuan Rudolf gamblang.


"Bukankah begitu Manager Genio?" kata tuan Rudolf mengharap dukungan dari manager keuangan yang duduk disebelahnya, yang adalah orangnya.


"Benar tuan," sahut manager keuangan memberi dukungan.


"Itu artinya, target yang harus dicapai sudah tidak terpenuhi selama tiga tahun terakhir seperti yang telah kita lihat bersama dilayar monitor masing-masing. Dan penjualan yang tidak mencapai target itu masih berlanjut di tiga bulan terakhir ini, setelah menjadi milik saya. Dan sangat wajar bila Perusahaan ini hampir-hampir gulung tikar," ungkap nyonya Mingguana melirik manager Antonio yang sudah mengeluarkan keringat dingin ditempat duduknya.


"Kenapa harus bertahan dengan metode penjualan yang tidak bisa menaikkan penjualan hingga mencapai target Manager Antonio?" nyonya Mingguana menatap datar kearah pegawai senior dari Perusahaan yang baru ia beli selama empat bulan terakhir itu.


Antonio terdiam, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, entah apa yang membuatnya bungkam.


"Adakah masukan atau ide-ide yang baru dari Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya peserta rapat yang terhormat, supaya lebih meningkatkan penjualan product-product Perusahaan kita ini?" nyonya Mingguana melemparkan pertanyaan pada peserta rapat, setelah dilihatnya sang manager marketing itu tidak mampu menjawab pertanyaannya. Ia menatap satu-persatu wajah para pemegang saham, anggota dewan direksi dan manager-manager yang ada.


"Saya rasa, Manager Antonio sudah berkerja keras selama ini sebagai manager marketing di Perusahaan Mega Otomotif ini nyonya Mingguana, beliau sudah mendedikasikan seluruh kempampuannya untuk berusaha semaksimal mungkin. Bisa jadi daya beli coustomer yang menurun Nyonya, sehingga penjualan Perusahaan ini ikut pula menurun," ugkap nyonya Miasa Laura membela orangnya.


"Itu artinya Anda pasrah pada keadaan, dan tidak ada ide baru yang bisa kita jalankan supaya Perusahaan Mega otomotif yang bangkrut ini bisa bangkit?" kata nyonya Mingguana seraya menatap semua yang hadir dalam rapat itu, berharap ada yang memberi respon pada ucapannya itu.


Nyonya Mingguana melirik arloji tangannya yang sudah menunjukan pukul dua belas lewat satu menit, sudah waktunya memasuki istirahat jam makan siang. "Waktu meeting kita sudah habis." kata nyonya Mingguana.


"Tapi saya tidak merasa puas karena rapat hari ini belum mendapatkan solusi untuk meningkatkan penjualan supaya bisa mencapai target. Saya putuskan, kita akan menambah waktu dua puluh menit lagi. Karena sebelumnya, kita telah membuang waktu yang sia-sia selama dua puluh menit diawal rapat ini," ungkap nyonya Mingguana lagi.


"Saya tidak rela, Perusahaan Mega Otomotif yang sudah saya beli ini, dan telah menjadi milik saya selama seratus dua puluh hari, hanya berjalan ditempat, tidak bisa berkembang lebih maju. Bahkan lambat laun Perusahaan ini bisa hanya tinggal nama bila tidak ada kegerakan dari kita semua yang ada didalamnya,"

__ADS_1


Suara nyonya Mingguana yang terdengar menggema diudara, memenuhi seluruh ruangan rapat hanya ditanggapi datar oleh semua peserta rapat, membuat nyonya Mingguana mengatupkan rahangnya dengan kuat, melihat ketidak perdulian para pemegang saham, dan para anggota direksi itu.


"Nona Hanaria, presentasikan apa yang telah kau tunjukan padaku saat ada diruanganku," perintah nyonya Mingguana pada Hanaria yang duduk disisi kanannya.


"Interupsi Nyonya, disini forum rapat eksklusif para pemegang saham, para anggota dewan direksi, dan para manager. Jadi, tidak diperkenankan seorang pegawai biasa berbicara di forum ini," sanggah tuan Rudolf sambil mengangkat satu tangannya keudara.


"Asisten David, bacakan ulang peraturan rapat kita hari ini pada point tiga dan lima. Sepertinya sang Raja Badut lupa ingatan," perintah nyonya Mingguana pada asisten pribadinya yang duduk disisi kirinya.


"Baik Nyonya, bunyinya :



Peserta rapat boleh bersuara dan berbicara, bila telah mendapat ijin langsung oleh pemimpin rapat.


Keputusan rapat yang buntu akan diputuskan oleh owner." ucap asisten David membacakan peraturan sesuai permintaan sang majikannya.



"Sudah dengar tuan Rudolf?" tuan Rudolf tidak menjawab, ia hanya berdiam diri dengan wajah datar dan terkesan semakin tidak menyukai nyonya Mingguana yang menjadi pemilik baru Perusahaan dimana ia bernaung didalamnya.


"Nona Hanaria, aku memberi waktu lima belas menit padamu untuk menyampaikan rencana kerja marketingmu, juga desainnya." kata nyonya Mingguana melirik Hanaria disampingnya.


"Sepertinya Nyonya Mingguana salah alamat membawa nona Hana yang notabenenya seorang arsitek bangunan ketempat ini," celetuk nyonya Miasa Laura tertawa kecil ditempat duduknya, sehingga mengundang gelak riuh kembali seluruh peserta rapat eksklusif diruangan itu.


Dok! Dok Dok!

__ADS_1


"Diam! Saya tidak mengijinkan kalian, Para Badut mentertawai yang saya anggap penting!" seru nyonya Mingguana sambil memukul meja dengan palu yang digunakan oleh asisten David sebelumnya untuk membuka rapat.


__ADS_2