
Hanaria mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, menatap asing ruangan dimana dirinya sedang terbaring, dengan langit-langit ruangan serba putih.
"Anda sudah sadarkan diri Nona Hana," ucap dokter Rosalia mengulas senyum hangatnya.
"Saya dimana Dokter?" tanya Hanaria sambil mengumpulkan segenap keasadarannya yang belum pulih sepenuhnya.
"Nona berada di ruang rawat keluarga Agatsa karena sempat tidak sadarkan diri beberapa waktu yang lalu," jelas dokter Rosalie masih menampilkan senyum diwajah cantiknya, sambil duduk dengan manis disisi pembaringan Hanaria.
"Willy, dimana dia Dok?" tanya Hanaria yang sudah mulai sepenuhnya sadar. Ia ingat, sebelum dirinya tidak sadarkan diri, ia sedang bersama suaminya itu.
"Willy siapa Nona?" tanya Rosalia pura-pura tidak mengerti dengan senyum menggoda.
"Tentu saja suami saya Dok," sahut Hanaria spontan, ia mendadak tersipu malu menyadari jawabanya sendiri.
"Kedengarannya sangat tidak romantis," ujar dokter Rosalia masih dengan gaya senyum menggodanya.
"Tapi kami berdua sudah saling setuju memanggil satu sama lain hanya dengan nama saja Dok," ucap Hanaria dengan wajah bersemu merah.
"Kalau kalian belum menikah mungkin tidak masalah, dan itu terdengar wajar saja Nona. Tapi sekarang status Nona sudah menjadi isteri dari tuan Willy. Ditambah lagi, status nona Hana dan tuan Willy sebentar lagi akan bertambah menjadi seorang ayah dan seorang ibu," ungkap dokter Rosalia mengalir begitu saja dengan santainya.
"Maksud dokter Rosalia apa?" Perasaan Hanaria begitu berdebar, ia berusaha memastikan apa yang dirinya dengar pada kalimat terakhir sahabat suaminya yang berstatus dokter kandungan itu adalah benar seperti apa yang sedang ia pikirkan.
"Nona Hana sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, karena saat ini Nona sedang mengandung buah cinta kalian berdua," ulang dokter Rosalia dengan mata berbinar.
"Apa? Saya sudah mengandung?" tanya Hanaria seakan tidak percaya, ia menelisik wajah dokter Rosalia, berharap berita baik yang ia dengar itu bukan halusinasinya semata.
"Iya, Nona benar-benar mengandung. Kita akan memeriksanya ulang setelah tuan Willy keluar dari toilet nanti," kata dokter Rosalia.
"Apa nona Hana tidak menyadarinya?" kata dokter Rosalia menatap wajah Hanaria yang masih memandangnya dengan tatapan tak percaya.
"Iya Dok, memang seingatku, aku sudah tidak mendapat tamu bulanan mulai bulan kemarin," sahut Hanaria sambil mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya belakangan ini.
__ADS_1
Ceklek!
Hanaria dan dokter Rosalia sama-sama menoleh kearah pintu, memandang Willy yang baru keluar dari toilet dan berjalan kearah keduanya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang Hana?" tanya Willy, setelah berada didekat ranjang pasien dimana isterinya berbaring dan menatapnya.
"Aku, sudah merasa lebih baik," sahut Hanaria pelan.
"Syukurlah kalau begitu. Apakah kau tidak mau mengucapkan selamat padaku?" tanya Willy semakin mendekatkan dirinya pada Hanaria. Sementara dokter Rosalia hanya tersenyum memperhatikan keduanya dari duduknya.
"Ucapan selamat? Selamat untuk apa?" tanya Hanaria heran sambil mengerutkan keningnya.
"Ucapan selamat, karena telah berhasil membuat dirimu mengandung," kata Willy dengan senyum menggoda sambil mengerlingkan matanya.
Hanaria langsung tertawa kecil dengan wajah kembali memerah mendengar ucapan konyol sang suami. Dokter Rosalia yang turut mendengar-pun ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata sahabatnya itu tidak berubah, masih seperti yang dulu, fikirnya didalam hati.
"Kau ada-ada saja Willy," Hanaria masih tertawa memandang suaminya yang juga ikut tertawa bersamanya," Yang ada, suami yang mengucapkan selamat pada isterinya, bila tahu isterinya sedang mengandung. Bukankah seperti itu yang sering terjadi dokter Rosalia?" kata Hanaria berharap mendapat dukungan.
"Itu biasanya, tapi aku ingin hal yang berbeda. Jadi berilah ucapan selamat pada suamimu ini Hana?" desak Willy sambil terus mengerlingkan matanya disertai senyum menggodanya.
"Baiklah, karena ini adalah kabar yang baik, aku tidak akan membantahmu Willy," ucap Hanaria yang tidak mengedepankan keras kepala seperti yang biasa ia lakukan.
"Selamat buatmu suamiku, sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ayah, seorang Daddy untuk anak kita," ucap Hanaria disertai senyum bahagianya.
"Terima kasih induk ayamku," Willy menunduk lalu mengecup kening Hanaria lembut dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa menyebut isterimu induk ayam Willy?" protes dokter Rosalia yang mendengar panggilan aneh Willy pada Hanaria.
"Kami punya kisah tersendiri untuk sebutan itu Rosalia saat pernikahan dikampung beberapa bulan lalu. Bukankah begitu induk ayamku?" ucap Willy disela-sela senyumnya.
Hanaria hanya mengangguk pelan. Wajahnya kembali bersemu merah saat mengingat kenapa suaminya memanggil dirinya seperti itu. Dokter Rosalia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat respon Hanaria, tak urung senyumnya jadi melebar, mengingat kekasihnya juga memiliki panggilan aneh yang tidak kalah menggelikannya dengan panggilan yang disematkan oleh Willy pada isterinya.
__ADS_1
"Dan selamat juga buatmu isteriku. Kau juga sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu dan Mommy untuk anak kita," imbuh Willy meniru kalimat Hanaria sebelumnya.
"Terima kasih suamiku," sahut Hanaria seraya mengulas senyum bahagianya. Ia sama sekali tidak menduga bila dirinya secepat ini bisa mengandung buah hatinya dan Willy. Air mata Hanaria tiba-tiba saja menggenang dikedua pelupuk matanya, ada bahagia dan duka disana berbaur menjadi satu.
"Kenapa kau menangis Hana?" tanya Willy merasa khawatir ketika melihat air mata isterinya tiba-tiba mengalir disudut-sudut matanya. Bagaimana tidak, baru saja isterinya itu terlihat bahagia mendengar berita kehamilannya, dan sekarang ia tiba-tiba menangis tanpa sebab.
"Firlita, adikku itu sudah meninggalkan kita semua untuk selamanya Willy. Dia masih sangat muda, dan meninggalkan seorang bayi yang masih menyusui," sahut Hanaria sambil terisak pilu.
Ingatannya akan Firlita kembali mengusik hatinya. Kemalangan demi kemalangan terus menimpa adik angkatnya itu semenjak dirinya dilahirkan kedunia ini, menjadi anak yatim piatu, entah dimana orang tuanya, hingga ajalnya ia tidak pernah tahu dimana keberadaan orang tuanya, entah masih hidup ataupun sudah tiada.
Saat dewasa, ia salah langkah karena menyerahkan kehormatanya pada seorang pria yang tidak bertanggung jawab hanya karena perasaan cinta dan kenikmatan sesaat yang menjadi penyebab kematiannya diusia muda.
Kesedihan akan kehilangan adik angkatnya itu, membuat Hanaria berfikir harus melakukan perhitungan pada Mahendra dan ibunya, manusia yang menurutnya tidak memiliki perasaan.
Willy mendekap Hanaria dalam pelukannya, mengusap punggung isterinya itu lembut. Ia tahu bila Hanaria sangat terpukul akan kepergian Firlita yang tidak wajar.
Dirinya pun tahu akan kasih sayang Hanaria pada adik angkatnya itu, bagaimana Hanaria rela berkorban meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang arsitek, itu adalah cita-citanya semenjak ia dibangku sekolah, hanya demi bayi Firlita mendapatkan nama ayahnya dibelakang nama bayinya itu.
Selain itu, Hanaria rela membawa Firlita kemanapun ia tinggal sekalipun sudah menikah. Willy terus mengusap punggung isterinya dengan lembut untuk menyalurkan energi ketenangan pada isterinya.
"Hana, aku tahu kau sedang berduka, dan aku pun turut berduka bersamamu. Tapi saat ini kau harus makan dulu, karena kau sudah melewatkan makan siangmu." ujar Willy.
"Ingat, ada buah hati kita di dalam tubuhmu yang sedang membutuhkan asupan makanan dari ibunya," hibur Willy sambil membujuk.
Mendengar perkataan Willy, Hanaria perlahan menghentikan tangisnya. Ia sadar, sekarang dirinya tidak sama seperti dulu, bisa semaunya menuruti kata hatinya yang larut dalam kesedihan. Ia harus memikirkan satu nyawa yang baru tumbih dan mulai berkembang dalam rahimnya.
"Iya, aku mau makan," sahut Hanaria sambil menganggukan kepalanya pelan. Willy dan dokter Rosalia sama-sama mengembangkan senyum mereka ketika mendengar jawaban Hanaria.
"Setelah kau makan, kita akan sama-sama memeriksa kandunganmu lagi, supaya kau dapat melihatnya secara langsung," kata Willy seraya mengusap airmata isterinya dan menyuapkan sesendok sup dari mangkuk yang diberikan dokter Rosalia, yang telah disiapkan diatas meja.
...***...
__ADS_1