HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
296. SYOK


__ADS_3

Hartawan dan Rosalie duduk berdampingan tepat dihadapan dokter Faraz. Pria itu terdengar sedang menelpon seseorang untuk mengantarkan minuman ke ruangannya.


"Maaf, karena telah meminta tuan Hartawan dan dokter Rosalie datang ke ruangan saya." ucapnya dengan senyum ramah bergelayut pada ujung bibirnya. Ia menyimpan ponselnya kembali kedalam saku jas dokternya setelah menutup sambungan teleponnya.


"Ah, tidak apa Dok, justru kami berterima kasih sudah diajak kemari. Kami juga ingin mendengar langsung tentang kondisi putri kami Rosalia," sahut Rosalie mewakili.


"Dokter Rosalia baik-baik saja, dia tidak mengidap sakit yang serius. Hanya saja--" ucapnya membuka suara, berusaha membuat dua tamu istimewanya itu tidak merasa tegang karena mengkhawatirkan kondisi kesehatan putri mereka.


"Hanya saja apa Dok?" Rosalie cepat memotong dengan tidak sabar, ia menatap tegang pada wajah dokter Faraz yang masih ingin melanjutkan ucapannya.


"Mah, dengarkan saja dulu. Dokter Faraz pasti menyelesaikan kalimatnya," Hartawan mengusap tangan isterinya, sebenarnya dirinya juga tidak sabar dengan keterangan dokter itu selanjutnya.


"Maafkan kami. Kami memang sangat menghawatirkan Rosalia," Hartawan kembali menatap dokter Faraz didepannya.


"Saya mengerti Tuan," sahut dokter Faraz maklum.


"Dokter Rosalia sangat rajin berkerja. Dia sangat bertanggung jawab pada setiap tugasnya. Bahkan tugas beberapa dokter lain yang berhalangan sering dialihkan padanya. Dan saya mengetahuinya sejak dirinya baru pertama kali berkerja dirunah sakit ini," terangnya tanpa maksud memuji.


"Akhir-akhir ini saya perhatikan, dokter Rosalia lebih giat berkerja, melebihi waktu-waktu sebelumnya. Awalnya saya berfikir dia sedang mengejar satu prestasi, ternyata dugaan saya salah."


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" seru dokter Faraz sambil memandang kearah pintu.


Seorang perawat memunculkan dirinya setelah pintu berhasil terbuka, di tangannya ia membawa nampan berisi pesanan minuman dokter Faraz sebelumnya.

__ADS_1


"Letakan saja diatas meja Sus. Dan terima kasih banyak." ucapnya pada suster.


"Sama-sama Dokter," suster itu membungkuk hormat pada dokter Faraz, begitu pula pada Rosalie dan Hartawan, lalu beranjak pergi dari sana.


"Mari, silahkan diminum dulu tuan Hartawan dan dokter Rosalie." Dokter Faraz mengangkat dua gelas keluar dari nampan bersama tatakannya dan meletakannya dengan hati-hati di depan dua tamunya.


"Terima kasih banyak Dok, kami bisa mengambilnya sendiri," ucap dokter Rosalie yang melihat keramahan sang kepala rumah sakit dimana putrinya berkerja.


"Tidak masalah," ujarnya sambil tersenyum.


"Dokter Rosalia tidak memiliki riwayat penyakit berat, sekalipun ibu kandungnya dulu pernah menderita penyakit kanker. Ia hanya punya riwayat sakit lambung karena pola makannya yang tidak dijaga dengan baik," lanjut dokter Faraz lagi.


Baik Rosalie maupun Hartawan, mereka tidak kaget bila dokter Faraz mengetahui tentang putri mereka sampai sedetail itu. Sebagai kepala rumah sakit dirinya pasti telah memeriksa data-data pribadi yang telah diajukan oleh para medisnya yang menjadi syarat utama bisa berkerja disana, dengan tujuan demi kelancaran dalam mereka melaksanakan tugasnya.


"Semalam sebelum dokter Rosalia tumbang pagi ini. Saya mendapatkan dirinya masih berada diruang operasi, hanya untuk beres-beres. Yang harusnya menjadi tugas petugas kebersihan."


Hartawan dan Rosalie saling berpandangan sesaat. Tidak ada seorangpun dari keduanya berusaha memberi jawaban, terkesan saling menunggu.


"Saya jadi teringat ucapan dokter Rosalia semalam, katanya--Saya hanya ingin menghabiskan waktu saja Dok. Saya tidak ingin diam, saya ingin terus berkerja, saya ingin terus menyibukkan diri--," dokter Faraz mengutip kata-kata Rosalia yang ia dengar semalam.


"Itu sebabnya saya berfikir bila dokter Rosalia sengaja menyibukan diri untuk melupakan sesuatu. Mungkin saja sesuatu itu adalah hal yang begitu berat untuk ia tanggung dan fikirkan sendiri," duga dokter Faraz sambil memperhatikan perubahan raut wajah Rosalie maupun Hartawan.


Ia berharap kedua orang tua Rosalia mau sedikit terbuka demi kesembuhan putri mereka. Tapi, setelah beberapa saat menunggu tidak kunjung ada jawaban dari keduanya.


Dokter Faraz mengambil napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Maaf, bila saya harus mengatakan ini sekarang." dengan sedikit gerakan, dokter Faraz memperbaiki posisi duduknya. Hartawan dan Rosalie memperhatikan dirinya, menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh sang dokter tentang putri mereka.


"Bolehkah saya meminang dokter Rosalia menjadi isteri saya?"


DEG!


Seakan terkena sengatan aliran lìstrik, Hartawan dan Rosalie terpaku mendengarnya. Tidak pernah sama sekali ada dalam benak mereka bila.dokter Faraz akan melontarkan pernyataan mengejutkan itu.


Apa mungkin sang kepala rumah sakit Pemerintah itu benar-benar menyukai putri mereka secara diam-diam selama ini?


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya sadar, waktunya memang kurang tepat, apalagi sekarang dokter Rosalia sedang sakit." dokter Faraz kembali bersuara, terdengar sangat tenang.


"Saya memang seorang duda tanpa anak. Dan berharap, bila menikah dengan Rosalia, kami bisa segera memiliki keturunan dari pernikahan kami," imbuhnya masih terlihat tenang.


Entah mengapa, Rosalie merasakan sesak didadanya, dan itu terasa sangat ngilu. Pernyataan dokter Faraz begitu membebani fikirannya, ia merasa syok. Dengan ekor matanya, ia melirik sekilas kearah Hartawan, suaminya itu masih terpaku, sepertinya sama syoknya dengan dirinya.


"Dokter," Rosalie berusaha membuka suaranya yang terdengar sedikit bergetar, ada emosi disana, memikirkan kepala rumah sakit berani-beraninya melamar putrinya.


Sebagai seorang yang sama-sama berprofesi sebagai seorang dokter, sebisa mungkin ia menjaga attitudenya.


"Iya, silahkan dokter Rosalie," dokter Faraz mengarahkan atensinya pada Rosalie yang menatapnya.


"Untuk yang baru saja Dokter sampaikan, berikan kami waktu untuk menjawabnya. Karena ini bersifat sangat pribadi sekali, dan yang berhak memutuskannya adalah Rosalia sendiri. Setahu saya, putri kami sudah memiliki pilihan hatinya, namanya Billy," terang Rosalie gamblang. Ia sengaja mengatakannya, berharap pria berumur dihadapannya bisa undur diri dari maksudnya setelah mendengarnya.


"Baiklah Dokter, saya setuju. Saya tidak terburu-buru, kita tunggu sampai dokter Rosalia benar-benar sembuh," sahut dokter Faraz tidak terganggu sama sekali dengan penuturan Rosalie, rautnya tetap terlihat tenang dan bersahaja.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2