HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 53 Pulang Kerumah


__ADS_3

Sudah memasuki hari keenam Hanaria dirawat dirumah sakit Agatsa Hospital. Pagi itu Hanaria merasakan tubuhnya sudah lebih baik. Lututnya sudah mudah digerakkan, tidak terasa sakit lagi. Kemana - mana dalam ruangan itu dirinya sudah bisa melakukannya seorang diri tanpa bantuan suster Nana.


Terdengar suara deringan ponsel. Hanaria segera meraihnya dan melihat nama sopir travel langganannya.


"Mbak Hana..... kemungkinan tengah hari ini saya sudah tiba dirumah mbak Hana bersama kedua orang tuanya mbak Hana."


" iya mas, langsung saja kerumah."


"Baik mbak Hana....."


Setelah sambungan terputus, Hanaria kembali menelpon Firlita untuk memastikan adik angkatnya itu ada dirumah.


"Iya, hallo kak.....gimana kabar kakak hari ini?" Terdengar suara lembut Firlita.


"Baik Fir, hari ini kakak pulang, bagaimana kabarmu?"


"Baik kak..... Syukurlah kalau kakak sudah boleh pulang hari ini. Aku senang sekali, rasanya sepi sekali kakak nggak ada dirumah."


"Kau masuk kerja jam berapa hari ini Fir?" Tanya Hanaria. Tidak terdengar jawaban dari Firlita.


"Fir.... kau masih mendengarkan kakak kan?" Tanya Hanaria.


"Iya kak...... Aku dengar......."


"Hari ini kau masuk kerja jam berapa Fir? Ayah dan Ibu kakak akan tiba dirumah kita siang ini. Mungkin saja mereka sudah lebih dulu sampai dirumah sebelum kakak pulang dari rumah sakit. Tolong tinggalkan kunci ditempat biasa ya Fir sebelum kau berangkat berkerja.


"Seharusnya aku masuk kerja pukul tiga sore kak..... tapi sudah 2 hari ini aku dirumahkan, aku dipecat. Pihak pimpinan tidak memperbolehkan seorang wanita mengandung untuk berkerja." Terdengar suara isak Firlita.


Hanaria mengambil napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Dirinya dapat merasakan beban berat dan kesedihan yang dialami Firlita saat ini.


"Kak Hana hanya bisa memintamu untuk bersabar Fir..... Jalani saja semuanya, semoga kita segera mendapatkan jalan keluar dari persoalanmu ini. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, kita akan mencari pekerjaan yang baru untukmu, sekarang tenangkan dirimu. Ingat bayimu ikut merasakan bebanmu bila kau selalu bersedih. Kak Hana tutup dulu ya, mau beres - beres dulu sebelum pulang.


"Iya kak, terima kasih....."


Hanaria menutup ponselnya, ia tidak langsumg menyimpannya. Sejenak dirinya menggenggam ponsel ditangannya itu sambil berpikir.

__ADS_1


Tak lama, ia kembali membuka layar ponselnya dan masuk aplikasi pemesanan taxi online. Setelah selesai melakukan pemesanan, Hanaria mulai membereskan beberapa barang miliknya yang tidak terlalu banyak.


"Selamat pagi menjelang siang nona Hana......" Sapa dokter Mozes ramah. Suster Nana yang berdiri dibelakang dokter Mozes turut menyapa dan tersenyum ramah.


"Selamat pagi juga dokter Mozes dan suster Nana......" Balas Hanaria dengan ramah pula.


"Sepertinya nona Hana sudah bersiap - siap untuk pulang hari ini?" Dokter Mozes sekilas melihat barang - barang Hanaria yang sudah rapi disisi meja tamu.


"Iya dokter..... saya merindukan rumah juga pekerjaan saya.....' Sahut Hanaria sambil tertawa kecil.


"Saya periksa dulu luka - luka nona Hana ya....?" Ucap dokter Mozes meminta ijin.


"Baik dokter....." Hanaria lalu duduk disofa tamu. Suster Nana dengan hati - hati membantu dokter Mozes membuka perban dilengan Hanaria. Ia mulai membersihkan luka itu. Dokter Mozes memeriksa luka yang terlihat sudah mulai sembuh itu. Ia mengoles salep dan menutupnya kembali dengan perban.


"Luka nona sudah mulai sembuh, tapi masih harus ditutup dengan perban supaya tidak ada debu atau kuman yang menempel pada luka dilengan nona ini. Luka pada lutut dan luka - luka lecet lainnya sudah sembuh tinggal menghilangkan noda - noda bekas lukanya saja. Nona Hana sudah boleh pulang hari ini, bila ada keluhan bisa datang lagi kemari." Jelas dokter Mozes sambil membereskan peralatan medis yang ia gunakan.


"Terima kasih banyak dokter Mozes dan suster Nana yang telah merawat dan mengobati saya selama dirawat disini....."


"Sama - sama nona Hana..... ini memang tugas kami sebagai tenaga medis. Dan kami juga merasa senang bila pasien yang kami rawat dapat sembuh dan kembali dapat beraktifitas lagi seperti biasa. Kami permisi dulu nona Hana." Setelah berpamitan, dokter Mozes dan suster Nana kembali melanjutkan tugas mereka untuk menemui beberapa pasiennya yang lain.


"Selamat siang suster....." Sapa Hanaria saat berada dimeja kasir.


"Selamat siang nona..... Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya Hanaria, pasien yang dirawat diruang kelas VVIP. Hari ini saya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Mozes, ini surat keterangannya. Berapa biaya yang harus saya keluarkan suster?" Tanya Hanaria sambil berdiri didepan loket kaca yang membatasi dirinya dengan sang suster.


"Ditunggu sebentar ya nona Hanaria." Suster itu lalu mengutak - atik keyboard didepannya sambil melihat layar komputer dihadapannya. Tidak lama kemudian, ia kembali memandang dan memperhatikan Hanaria dengan sangat cermat, membuat Hanaria merasa kurang nyaman.


"Ada apa suster?" Tanya Hanaria merasakan keganjilan dari tatapan sang suster.


"Benar anda yang bernama nona Hanaria??" Tanya suster itu memastikan.


"Iya suster. Ini E-KTP saya....." Hanaria mengeluarkan E- KTP nya dari dalam dompet. Suster itu memperhatikan E-KTP Hanaria dan menccocokan wajah asli Hanaria dengan yang ada di E-KTP nya.


"Boleh kah saya melihat name tag anda nona Hana??" Pintanya lagi dengan tetap bersikap sopan.

__ADS_1


Hanaria membuka retsleting ransel bagian depannya dan mengambil name tag nya yang ia simpan disana. " Ini suster."


Suster itu segera menerimanya dan memperhatikan beberapa data diri Hanaria yang tertulis disana.


"Ada apa suster? Apakah ada masalah mengenai administrasinya?" Tanya Hanaria hati - hati, dirinya agak khawatir, karena terlalu banyak permintaan dari sang suster. Banyak hal yang terlintas dipikirannya saat melihat sikap sustet tersebut.


"Tidak nona Hana, semuanya tidak ada masalah. Saya hanya memastikan saja. Nona Hanaria, Staf divisi arsitekture perusahaan Agatsa Properti Group." Ucap suster itu sambil membaca name tag milik Hanaria.


"Iya itu benar suster. Jadi berapa biaya yang harus saya keluarkan?" Tanya Hanaria menatap wajah suster itu.


"Semua sudah diselesaikan nona. Sudah ditanggung perusahaan Agatsa Properti Group tempat anda berkerja, dan lebihnya sudah dibayarkan oleh tuan Moranno Agatsa." Jelas suster itu.


"Sudah diselesaikan semua??" Hanaria mengernyitkan keningnya tak percaya.


"Iya nona Hana. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya apapun lagi." Ucap suster itu.


"Bolehkah saya meminta diprintkan suster?" Pinta Hanaria, ia sangat penasaran berapa biaya perobatannya selama enam hari dirumah sakit itu.


"Tentu saja nona, ditunggu sebentar ya....." Sang suster segera melakukan apa yang diminta oleh Hanaria padanya. Setelah selesai ia memberikannya lewat lubang kaca loket didepannya. "Ini nona Hana......"


Hanaria segera melihat hasil pada kertas yang diprintkan oleh sang suster. Matanya langsung terbuka lebar dan mulutnya sedikit ternganga saat melihat angka total yang tertera pada deretan paling bawah lembaran kertas itu.


"Aku harus berkerja 14 bulan secara sukarela di perusahaan tempatku berkerja sekarang ini, baru bisa melunasi biaya rumah sakit selama 6 hari aku dirawat disini. Biaya perobatan tidak seberapa, tapi biaya ruangannya yang terlalu mahal." Gumam Hanaria seorang diri. Pantas saja suster itu memperhatikan dirinya dengan cermat seperti tadi, pikirnya.


"Ada apa nona Hana, anda berbicara pada saya??" Tanya sang suster yang sempat mendengar gumaman Hanaria yang tidak terdengar jelas olehnya.


"Ahh.... tidak suster..... Jadi nilainya sebesar ini suster??" Tanya Hanaria memastikan sekali lagi.


"Iya benar nona Hana.... Tapi anda tidak perlu mengeluarkan biaya apapun lagi, semuanya sudah lunas.


"Baiklah..... terima kasih banyak suster."


"Sama - sama nona Hana."


Hanaria lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali mengambil barang - barangnya diruang rawat inapnya.

__ADS_1


__ADS_2