HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
175. Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Disini, dipusat perbelanjaan yang menawarkan barang-barang branded inilah sekarang sekretaris Morin berada. Selepas pulang berkerja ia langsung mampir ditempat itu, tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi setelah donaturnya menghilang entah kemana.


Sekretaris Morin sedang lapar mata, tangan kanan dan kirinya sudah penuh dengan barang-barang belanjaannya, namun jiwa shoping-nya benar-benar tidak dapat ia kendalikan.


"Hm, sepatu ini manis sekali, serasi dengan gaunku," gumam sekretaris Morin seorang diri sambil memasang sepatu berwarna peach polos pada kakinya, padahal dirinya baru saja memilih enam pasang sepatu.


"Mbak, tolong bawakan barang-barang belanjaan saya ini kekasir," panggil sekretaris Morin pada seorang pegawai toko yang berdiri tidak jauh darinya, setelah ia memutuskan tetap membeli sepasang sepatu berwarna peach itu untuk menambah koleksinya.


"Baik Nona," sahut pegawai toko. Ia segera mendekat dengan membawa kereta belanja kosong bersamanya, lalu memasukkan barang belanjaan sekretaris Morin kedalamnya dan membawanya menuju kasir.


Sekretaris Morin memperhatikan kasir yang sedang mengeluarkan barang-barang yang ia beli satu persatu dari kereta belanja sambil menghitung semua belanjaannya.


"Nominalnya sekian Nona," kata sang kasir.


Sekretaris Morin menatap layar monitor yang berukuran mini dihadapannya. Dengan susah payah ia menelan saliva-nya, ketika melihat angka belanjaannya yang mencapai ratusan juta rupiah. Bila ia nekat membeli semua barang pilihannya itu, tentu didalam rekeningnya hanya bersisa saldo sekitar empat puluh juta sekian-sekian rupiah saja.


Namun bila tidak membelinya, dirinya juga tidak rela. Pertama, gengsi mengembalikan barang yang sudah ia pilih karena sudah berlagak orang kaya saat memasuki toko branded itu. Kedua, dirinya sudah bertekad mengganti semua barang-barang bututnya dengan yang baru, yang lebih bermerek dan berkelas menurut hematnya.


Walau dengan berat hati, sekretaris Morin tetap menyodorkan kartu debit miliknya pada kasir dihadapannya. Sang kasir dengan penuh semangat menerimanya lalu segera memvalidasinya.


Dengan paper bag yang penuh ditangan kiri dan kanannya, sekretaris Morin keluar dari pusat perbelanjaannya itu. Walau serasa merepotkan dan menyulitkan dirinya saat berjalan, ia tetap berusaha santai menenteng semuanya itu dikedua tangannya.


Ketika melewati belokan, tangan seseorang tiba-tiba menariknya ke sudut, membuat sebagian belanjaan ditangannya terlepas dan terhempas kelantai. Dengan perasaan geram sekretaris Morin menatap kearah orang yang telah menarik tangannya.


"Apa yang kau lakukan?! Kau tidak tahu kalau semuanya itu barang mahal, huh!" umpat sekretaris Morin dalam geramnya, hatinya sangat dongkol atas apa yang telah dilakukan orang itu padanya.


"Kau-," suara sekretaris Morin tiba-tiba tercekat ditenggorokannya, ketika menyadari siapa yang telah menarik tangannya dan memegangnya dengan erat.


"Iya, ini aku. Kau terkejut? Kenapa kau selalu lari dari padaku Morin?" sentak pria itu garang.


"Lepas! Lepaskan aku sialan!" sekretaris Morin berusaha meronta untuk melepaskan dirinya..Namun pria itu semakin kuat mencengkram pergelangan tangannya.

__ADS_1


Apa yang sedang keduanya lakukan memang menjadi perhatian beberapa orang yang lalu lalang didekat mereka, namun orang-orang itu kembali berlalu dengan acuh.


"Tidak, tidak akan pernah kulepaskan, sebelum kau mengatakan dimana anakku," paksa pria itu. Kali ini ia memutar lengan sekretaris Morin hingga tubuh wanita itu masuk dalam pelukannya.


"Anakmu sudah mati! Aku tidak sudi melahirkannya!" sahut sekretaris Morin masih berusaha berontak keluar dari sergapan pria yang memeluknya. Namun pria itu semakin erat memeluk tubuhnya dari belakang.


"Omong kosong! Aku tidak percaya!" pria itu masih bersikeras.


"Terserah kau, aku-" ucapan sekretaris Morin mendadak terhenti, ketika matanya tiba-tiba melihat Hanaria sedang sibuk berbelanja bahan makanan bersama Willy tidak jauh dari mereka berada.


"Cepat pergi dari sini, aku tidak mau mereka melihatku bersamamu," kata sekretaris Morin memelankan suaranya. Pria itu ikut mengarahkan pandangannya pada Hanaria yang dilihat oleh sekretaris Morin.


"Aku akan pergi, tapi tidak sendiri. Aku akan membawamu tetap bersamaku," pria itu kembali menarik tangan sekretaris Morin dengan kasar dan membawanya pergi, tidak lupa mengambil beberapa paper bag yang sempat terjatuh dilantai sebelumnya.


...***...


Hanaria bergegas turun dari mobilnya setelah berhasil memarkirkannya diparkiran khusus kantor Agatsa Properti Group. Ia terlihat berjalan tergesa-gesa menjauhi mobilnya hendak menuju lobi.


Hanaria menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya kearah datangnya suara. Entah dari mana datangnya, sekretaris Morin sudah berdiri tepat dihadapannya, seolah memang sengaja menunggu kedatangannya.


"Selamat siang juga sekretaris Morin," Hanaria balas menyapa sambil melemparkan sedikit senyuman pada sekretaris pribadi suaminya itu.


"Tidak biasanya sekretaris Morin menyapa saya seperti itu, sepertinya ada sesuatu yang sangat istimewa," Hanaria masih mengulas senyum tipisnya memandang sekretaris Morin yang bersiap mengatakan sesuatu yang ada dihatinya.


Sekretaris Morin tidak langsung berujar, ia hanya tertawa sambil memandangi tentengan kotak makanan yang dibawa oleh Hanaria seperti biasanya untuk suaminya.


Hanaria melirik kotak makanan yang ia bawa, mungkin ada sesuatu disana hingga membuat sekretrais pribadi suaminya itu tergelak, tapi tidak ada yang aneh disana menurutnya.


"Hari ini saya merasa sangat senang sekretaris Morin. Hanya dengan membawa kotak makanan yang saya tenteng ini saja, saya sudah bisa membuat sekretaris Morin tertawa bahagia, tentu suami saya akan sangat berterima kasih pada saya. Bila Anda bahagia, Anda tentu akan berkerja lebih baik lagi bagi Perusahaan," Hanaria sengaja mengucapkan kata penuh sindirian.


Tawa sekretaris Morin memudar, ia tidak menduga bila Hamaria mampu berucap demikian membuat dirinya yang ingin mengata-ngatai kotak makanan yang dibawa Hanaria langsung menguap begitu saja.

__ADS_1


"Supaya sekretaris Morin bertambah bahagia lagi, saya rela berbagi isi didalamnya, karena saya membawa porsi yang cukup banyak," imbuh Hanaria lagi, masih dengan senyum tipisnya.


"Terima kasih nona Hana, Anda memang sangat dermawan. Tapi sayang sekali, saya tidak level makan-makanan rumahan seperti itu, alergi. Saya terbiasa makan di restoran-restoran yang berkelas," ujar sekretaris Morin berusaha terlihat sombong.


"Sayang sekali kalau begitu, padahal aku tulus mau berbagi denganmu sekretaris Morin. Sehari saja aku tidak berdarma, rasanya jiwa dermawanku meronta-ronta mencari orang yang berhak menerimanya," ungkap Hanaria. Sekretaris Morin yang mendengarnya langsung tersenyum sinis.


"Baiklah, saya permisi dulu. Suami saya pasti sudah lapar karena menunggu saya yang terlalu lama berada disini," ujar Hanaria kemudian, ia lalu berbalik hendak pergi dari tempat itu.


"Nona Hana," panggil sekretaris Morin.


Hanaria tidak menjawab, namun ia menghentikan langkahnya lalu berbalik kembali menatap sekretatis Morin yang memanggilnya.


"Sepertinya yang lebih pantas berada diparkiran khusus kantor itu adalah mobil baru ku ini nona Hana, bukan mobil bututmu itu," tunjuk sekretaris Morin pada mobil barunya yang hanya berjarak dua meter saja dari ia berdiri.


Hanaria memandang kearah mobil baru yang ditunjuk oleh sekretaris Morin padanya, seorang sopir sudah duduk dibelakang kemudi siap mengantarkan tuannya untuk keluar makan siang.


"Mobil bututku dan mobil baru mahalmu itu memang sangat jauh berbeda," kata Hanaria kembali tersenyum tipis.


"Tentu saja nona Hana, bukankah keduanya bagaikan langit dan bumi?" sahut sekretaris Morin dengan nada mengejek diselingi tawanya.


"Kau benar sekretaris Morin," sambar Hanaria.


"Mobil bututku hanya hasil tetesan keringatku karena berkerja keras. Sedangkan mobil baru dan mahal-mu itu hasil dari kau menjual sumsum tulang belakangmu untuk sahabat kecilku,"


Sekretaris Morin terdiam, perkataan Hanaria menyentak hingga kejantungnya, membuat ia menyadari betapa bodohnya dirinya, tega menjual salah satu organ tubuhnya demi uang.


Itu hanya berlangsung beberapa detik saja, setelah itu ia kembali berpikir masa bodoh, apapun yang akan terjadi kemudian, akan ia fikirkan nanti.


"Jangan lupa dengan jadwal operasinya sekretaris Morin," kata Hanaria membuyarkan lamunan wanita itu.


"Selamat atas mobil baru-mu, jangan lupa membayar pajak setiap tahunnya, juga sopir pribadimu setiap bulannya. Kusarankan, belajarlah menyetir, supaya kau lebih berhemat," ucap Hanaria sambil berlalu meninggalkan sekretaris Morin yang masih mencerna semua ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2