
Sore itu, tepat pukul 3, keluarga pengantin perempuan sudah bersiap dihalaman Lamin bersama seluruh warga dusun Rimba, mengenakan pakaian tradisional mereka.
Semua sudah berbaris rapi dan tertib. Acara adat penyambutan keluarga pengantin laki - laki segera dimulai, yang dipimpin oleh seorang kepala adat dusun Rimba.
Saat kelurga Agatsa tiba di halaman Lamin, tarian penyambutan pun segera dilakukan oleh para penari.
Tarian Datun Julud
Tarian Burung Enggang seluruh warga
Tarian Burung Enggang para remaja dusun Rimba
Tarian pengantin pria dan pengantin wanita yang diwakili oleh sepasang pemuda dan pemudi warga dusun Rimba.
Acara penyambutan yang cukup panjang itu akhirnya selesai setelah matahari terbenam diufuk barat. Suasana dihalaman Lamin mulai samar - samar.
Semua anggota keluarga kedua pengantian, bersama warga naik ke Lamin dan melanjutkan acara dirumah panggung itu.
"Willy.......?! Kenapa kau masih ada disini.....? Kau sekarang harus berada bersama Hanaria sebentar lagi. Cepat pergi ketempat yang seharusnya." Perintah Yurina dengan wajah menegang saat melihat Willy duduk didekat nyonya Agatsa neneknya dan Rosalia.
"Mommy...... tenang saja, tidak perlu khawatir, semuanya sudah diatur dan akan berjalan lancar." Ucap Willy santai.
__ADS_1
"Apa maksudmu Willy?" Tanya Yurina curiga. Ia merasa ada yang tidak beres.
"Lihat saja nanti mom......" Sahut Willy masih santai.
Yurina masih tidak bisa tenang, hatinya begitu geram melihat Willy yang bertingkah malam itu, hari sepenting ini, putranya malah terlihat bermain - main. Moranno turut menatap tajam wajah putranya yang pura - pura tidak melihat respon ayahnya.
Semua pasang mata teralihkan pada satu arah, saat musik tradisional kembali dikumandangkan setelah beberapa menit diistirahatkan.
Dari ujung tangga Lamin sebelah utara, muncul Hanaria mengenakan pakaian adat tradisional lengkap dengan pernak - pernik dari ujung kaki hingga kepalanya yang menggunakan mahkota manik - manik dihiasi bulu - bulu burung enggang.
Riasan nyonya Mexan membuat wajah Hanaria yang jarang tersentuh make-up terlihat lebih cantik dari biasanya. Ya, hari itu penampilannya memang seperti seorang ratu yang yang akan dinobatkan.
Semua mata terpesona melihat Hanaria dengan tampilan yang berbeda sebagai pengantin wanita.
Willy yang semula duduk santai sambil mengobrol dengan Rosalia, mendadak terpana, saat tatapannya mengarah pada Hanaria, yang berjalan menuju pelaminan adat dengan gemèrincing gelang tangan dan kakinya.
Dari belakang Hanaria, muncul juga Billy berpakaian tradisional sebagai pengantin pria, yang menaiki tangga Lamin.
"Billy??" Gumam Yurina, Moranno, dan nyonya Agatsa secara bersamaan. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Bagaimana tidak, para warga, dan keluarga besar kedua mempelai memang tidak bisa membedakan mana Willy dan mana Billy, tetapi bagi mereka bertiga, termasuk Rosalia, sangat tahu bahwa yang menjadi pengantin pria di acara adat ini adalah Billy bukan Willy.
"Kau gila Willy..... Hanaria sebentar lagi akan menjadi isterimu, bagamana bisa kau menyuruh Billy ada diposisimu?" Rosalia ikut mengomeli sahabatnya itu.
Willy tidak menjawab apapun, ia masih terpaku ditempat duduknya, menatap Hanaria yang duduk dipelaminan adat bersama Billy kakaknya.
Rasa penyesalan tiba - tiba menyeruak begitu saja dalam batinnya. Ia seakan menjadi seorang laki - laki yang paling pengecut didunia, selalu berlindung pada kakaknya itu saat takut menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia lakukan.
Sementara semua prosesi terus berjalan khidmat hingga larut malam, segala petuah disampaikan para tua - tua dusun itu, sebagai bekal bagi kedua calon pengantin yang akan memulai rumah tangga baru.
Sebagai penutup acara, kedua calon pengantin diwajibkan melakukan tarian tradisonal sesuai tradisi yang berlaku.
Hanaria yang lebih dulu dipersilahkan, segera melakukan gerakan tariannya dengan lemah gemulai.
__ADS_1
Bagi keluarga Agatsa, ini adalah hal yang baru mereka lihat, saat melihat calon menantu mereka menari diatas gong.
Rasa berdebar menyelimuti seluruh hati keluarga besar Agatsa, demikian juga seluruh warga, saat Billy yang disangka Willy oleh semua warga setempat diminta untuk menari sambil membawa mandau dan perisai ditangannya.
Billy berdiri dengan pakaian tradisonal dan kelengkapan menarinya, dengan mandau ditangan kanan dan perisai ditangan kirinya. Ia mulai melakukan gerakan tarinya secara luwes, membuat semua pasang mata terpukau. Khusus para warga dusun setempat dan warga dusun tetangga langsung memberi tepuk tangan yang meriah.
Mereka sama sekali tidak menyangka bila Billy yang mereka sangka Willy bisa menari selayakanya suku asli mereka.
Hanaria yang terus menaripun sebenarnya ikut terpana didalam hati, ia tidak menyangka bila calon suaminya itu bisa menari seindah dan seluwes itu.
Rasa kagum Hanaria mendadak lenyap, saat ia melihat tanda lahir sebesar telur ayam berwarna hitam dipergelangan tangan pasangan menarinya. Ia langsung teringat perkataan Edrine, bahwa Billy lah yang memiliki tanda lahir itu.
Kepala Hanaria langsung terasa pusing memikirkannya, karena perasaan kecewanya. Tidak sengaja, kaki kirinya yang bertumpu diatas bonggolan gong terpeleset karena konsentrasinya telah terbagi, membuat dirinya oleng dan terjerembab jatuh menuju lantai.
Billy yang menari disekitar gong tempat Hanaria menari dengan repleks melemparkan mandau dan perisai dikedua tangannya lalu menangkap tubuh Hanaria agar tidak menghantam lantai yang terbuat dari papan ulin.
Peristiwa yang hanya berdurasi beberapa detik itu sempat membuat semua hadirin menahan nafas dengan wajah tegang. Namun, akhirnya mereka kembali bernafas lega saat melihat Billy yang mereka sangka Willy berhasil menangkap tubuh Hanaria dalam gendongannya.
Bukan hanya tepuk tangan, tapi sorakan para warga terdengar riuh rendah sambil suara siulan terdengar bersahut - sahutan.
Wajah nyonya Agatsa, nenek Willy semakin menegang, demikian pula halnya dengan Moranno dan Yurina, kedua orang tua Willy dan Billy, saat menyaksikan adegan yang terlihat romantis, yang seharusnya bukan putra mereka Billy disana, tetapi Willy. Mereka menoleh kearah Willy yang nampak tertegun menatap Hanaria dalam gendongan kakak kembarnya.
"Apakah kau tidak apa - apa nona Hana?" Tanya Billy yang masih menggendong Hanaria.
"Tidak apa - apa kakak ipar...... Tolong turunkan saya......"Lirih Hanaria, supaya tidak didengar oleh orang lain.
Billy terkesiap, bagaimana adik iparnya itu bisa tahu kalau yang sedang menggendong dirinya bukanlah Willy, fikirnya sambil menurunkan tubuh Hanaria dari gendongannya.
"Maafkan saya nona Hana, saya tidak bermaksud tidak sopan." Ucap Billy merasa tidak nyaman.
"Tidak masalah kakak ipar. Terima kasih karena sudah menolong saya, mohon jagalah jarak dengan saya." Ucap Hanaria dengan suara pelan dan tetap bersikap sopan. Billy langsung menuruti perkataan Hanaria, keduanya tetap bersikap biasa supaya orang - orang yang memperhatikan mereka tidak merasa curiga.
__ADS_1
"Lihat..... pengantinnya sangat romantis......" Ucap beberapa ibu - ibu yang berada dibelakang Willy sambil tersenyum simpul satu sama lain, saat melihat Billy dan Hanaria berbicara.
"Tidak disangka, pria kota itu, ternyata juga piawai menari tarian tradisional kita ya..... " Terdengar ucapan warga lainnya membuat telinga Willy alergi mendengarnya.