
"Bisa-bisanya dia yang berteriak sekencang itu, sedangkan nona Hana saja yang akan melahirkan masih bisa menguasai dirinya," gerutu Rosalia tidak habis fikir.
Billy jarang sekali tertawa lepas seperti malam ini. Dokter Rosalia terus saja berceloteh meluapkan rasa kesalnya tentang Willy, wanita itu seperti tidak pernah kehabisan kata-kata membicarakan segala kelakuan adik kembar Billy selama proses persalinan Hanaria didalam ruang bersalin.
Billy terus memeluk perutnya yang terasa kram karena tidak bisa menahan tawa.
"Kenapa kau tidak mengusirnya saja supaya situasi aman terkendali?" ucap Billy disela-sela tawanya.
"Aku sudah mengusirnya Billy, tapi nona Hanaria memohon padaku supaya tidak mengeluarkan suami tercintanya itu dari sana. Jadi aku terpaksa menyuruh suster mengikat mulutnya dengan kain supaya aman."
"Maunya di lakban, sayangnya lakban tidak ada disana," imbuh Rosalia lagi.
Billy masih tertawa, membayangkan tingkah polah adiknya itu. Sebagai saudara kembar, ia sangat hafal tentang sipat menyebalkan saudaranya itu. Dirinya juga tidak merasa kaget mendengar aduan Rosalia padanya, hanya saja ia tidak bisa menahan rasa gelinya.
Dibalik rumpun bonsai yang rindang, Willy sedang menyelinap untuk mendengar percakapan apa yang membuat kakak kembarnya itu tertawa bahagia dikursi taman yang berada dekat ruang rawat inap Hanaria bersama dokter Rosalia.
Tentu saja dirinya begitu gemes pada keduanya, setelah tahu bahwa dirinyalah yang tengah menjadi topik keseruan mereka.
"Awas ya kalian," geramnya, namun bingung harus melakukan apa pada keduanya.
"Ayo dimakan dulu makananmu, kau pasti lelah dan lapar setelah membantu persalinan adik ipar," Billy mendekatkan 4 kotak makanan yang ia bawa secara khusus untuk dokter cantik dihadapannya itu.
"Terima kasih Billy, sudah repot-repot membawakan makan malam untukku," ada rasa bahagia menyeruak didalam dadanya. Ini untuk kesekian kalinya Billy membawakan dirinya makan malam.
Walau laki-laki itu beralasan bila dirinya membawakan makan malam itu sebagai ungkapan terima kasih karena telah membantu persalinan Hanaria, adik iparnya, tetap saja perasaan hangat itu menjalar dihati dokter cantik itu dan melambungkan segala angan-angan indahnya yang terus ia pupuk belasan tahun lamanya untuk laki-laki yang selalu hadir dalam benaknya itu.
"Kau tidak ikut makan? Menunya cukup banyak ini," Rosalia memandangi satu persatu isi 4 kotak makanan yang berisi nasi putih, tumisan brokoli, cumi steak crispy, dan rica daging.
"Aku diet," sahut Billy seadanya. Ia memang laki-laki yang irit bicara.
"Diet? Untuk apa?" Rosalia menyendok tumis brokoli dan memasukannya kedalam mulutnya.
Dokter cantik itu memang sangat menyukai sayuran, selain penambah asupan vitamin untuk tubuhnya, sayuran yang ia konsumsi juga sangat berguna untuk perawatan dan menjaga kesehatan kulitnya dari dalam agar selalu terlihat bersih dan bersinar.
"Untuk kesehatan," ujar Billy singkat.
__ADS_1
Rosalia kembali tersenyum. Kali ini ia memasukan nasi putih bersamaan dengan rica daging kedalam mulutnya. Rasa pedasnya membuat bibir sensualnya semakin memerah.
Sedari mereka kanak-kanak, Billy memang suka melihat bibir bervolume Rosalia yang terlihat lebih plumpy, apalagi sedang makan. Jakun pria yang berkerja sebagai abdi negara itu terlihat naik turun memandang bibir Rosalia yang terus bergerak mengunyah makanannya.
"Apa yang kau lakukan?" Billy memundurkan wajahnya ketika sadar bila tangan Rosalia menjulur kearah mulutnya dengan sendok makan yang berisi nasi dan rica dagingnya.
"Menyuapimu. Ayo, buka mulutmu," cetus Rosalia, sementara ujung sendok hampir menempel dibibir bagian bawah Billy.
"Rosa, aku diet--" tolaknya dengan wajah semakin dimundurkan.
"Jakunmu saja.sudah naik turun, itu tandanya kau lagi ngiler melihatku makan," Rosalia tidak kehabisan jawaban, walau sebenarnya ia tahu bukan makanan yang membuat Billy memperhatikan dirinya, tapi hal yang lain.
Ia sengaja berkata demikian, hanya sebagai pengalihan saja untuk menyembunyikan debaran dan kegugupan yang menyerangnya tiba-tiba.
Hampir satu bulan ini ia merasakan sikap yang berbeda dari Billy, laki-laki itu seolah punya waktu khusus bertemu dengannya setiap hari dengan memberikan perhatian-perhatian kecilnya yang tidak seperti biasanya, padahal ia tahu kalau Billy sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Sejak mereka kanak-kanak, Rosalia memang lebih menyukai Billy yang lebih pendiam dibandingkan Willy yang suka membuat kekacauan dan membuatnya kesal.
Setelah memperhatikan keduanya untuk beberapa saat lamanya, ide nakal Willy kini sudah bercokol didalam otaknya. Ia merasa curiga dengan kedekatan keduanya, dan hanya ingin memastikan saja.
"M-maaf. Aku--, aku tidak sengaja." Rosalia buru-buru mengambil tisue dari dalam tas kerjanya lalu mengusap noda makanan yang menempel disana. Sementara Billy hanya membeku ditempat duduknya menerima perlakuan Rosalia padanya.
Willy terkekeh senang.
"Dasar pengacau," umpat Rosalia kembali kesal dengan mata mendelik.
Willy tidak mengambil hati atas gelar yang disematkan Rosalia padanya.
"Kak Billy!"
Billy hanya menoleh pada adiknya itu tanpa berkata sepatah kata apapun, ia masih merasakan sisa-sisa sentuhan tangan Rosalia yang membuat jantungnya berdegup tidak beraturan.
"Ternyata, selama ini yang menjadi drakula itu adalah dokter Rosalia rupanya," Willy mulai menjalankan aksinya dan tersenyum penuh arti.
Seketika Billy menepuk jidatnya, tidak menyangka adiknya akan seusil itu padanya, walau sebenarnya ia tahu Willy memang usil.
__ADS_1
"Drakula? Apa maksudmu?" tanya Rosalia nampak bingung.
"Tuh kan? Aku sudah menduganya kalau kau akan berpura-pura tidak tahu." ucap Willy dengan senyumnya yang bertambah lebar.
"Swear, aku tidak mengerti apa yang kau maksud!" sungut Rosalia sambil mengembangkan dua jarinya ke udara membentuk huruf V.
Willy masih tersenyum. Ia mendekati Billy yang masih duduk membisu setelah aksi tepok jidatnya.
"Disini, diceruk-ceruk leher kakakku. Bukankah kau pelakunya?" tunjuk Willy sambil memegang dan menyingkap kerah kemeja kakaknya.
Sementara Billy tidak merespon apa-apa diperlakukan oleh adiknya seperti itu. Sebagai seorang inteligen, ia sudah tau kearah mana tujuan Willy melakukan keusilannya itu.
"Kau 'kan yang memberi kissmark dileher kakakku? Ngaku ayo?" tuduh Willy menjadi. Ia sengaja memperjelas ucapannya membuat wajah dokter Rosalia memerah menahan malu. Sumpah demi apapun, ia tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Willy padanya.
"Apa kau sudah gila! Aku tidak mungkin melakukan itu! Papah pasti akan membunuhku!" Rosalia memukul punggung Willy menggunakan tas kerjanya.
Willy segera berlari menjauh sambil tertawa puas. Ia yakin keributan yang ia ciftakan pasti akan berlanjut.
Wajah merona dokter Rosalia seketika menekuk setelah kepergian Willy.
"Katakan padaku! Siapa wanita itu?Berani-beraninya memberikan kissmark pada batang lehernu!" Berondongnya dengan nada kesal.
Billy ingin tertawa, namun ia tetap mengatupkan mulut dan menahan sekuat tenaga rasa geli yang menggelitik hatinya mendengar ucapan batang leher yang dilontarkan Rosalia. Ia tidak mau dokter cantik itu akan bertambah kesal.
"Tidak ada," sahut Billy menangkis tuduhan Willy yang ditanyakan oleh Rosalia padanya.
"Tapi kenapa Willy berkata seperti itu, dan kau diam saja? Kenapa kau tidak menyangkalnya tadi saat pengacau itu masih ada disini?" cetus Rosalia tidak puas.
"Rosa, kau sendiri yang mengatakan kalau Willy itu seorang pengacau, jadi buat apa ucapan pengacau dipercaya?" ucap Billy lembut untuk meredakan emosi Rosalia atas perkataan tidak jelas Willy.
"Apa ini namanya cemburu? Heum?" imbuh Billy lagi masih dengan nada lembutnya.
"C-cemburu?" Rosalia menatap Billy lama. Ya, dirinya memang cemburu, tapi apa boleh? Apa pantas? Bukankah diantara mereka belum ada ikatan apa-apa? Billy memang baik padanya, tapi laki-laki itu belum pernah mengungkapkan perasaan cinta padanya hingga kini.
Bersambung...👉
__ADS_1