
"Udah..... diam dulu Hana...... coba liat ini" Norsa menunjukan video berdurasi 6 detik yang ada diponselnya. Hanaria begitu kaget, seperti tersengat listrik, kepalanya langsung terasa begitu pening, keringat dingin tiba - tiba mengucur deras dari tubuhnya.
...***...
Sore itu, Willy pulang kerumah besar keluarganya, sesuai janjinya pada ayahnya. Bibi Nani, kepala pelayan dirumah keluarga Agatsa itu menyambutnya dengan senyum ramah, sambil membungkuk hormat.
"Selamat sore tuan muda......" Sapa bibi Nani ramah.
"Selamat sore juga bibi Nani. Mommy dimana?" Tanya Willy, sambil mengunci mobilnya menggunakan kunci kontak ditangannya.
"Nyonya....... ada didapur tuan, menyiapkan makan malam berama pelayan yang lain.
"Baiklah, terima kasih bi, saya akan kesana menemui mommy." Ujar Willy.
"Baik tuan......." Bibi Nani kembali membungkuk hormat, pada majikannya itu.
Willy begegas masuk, lalu naik kelantai dua, untuk menuju dapur. Sesampainya disana, ia melihat ibunya sedang sibuk dengan bumbu - bumbu dapur, sambil bercengkrama dengan para pelayan yang sedang membantunya.
Willy mendekati ibunya dengan diam - diam, beberapa pelayan yang melihatnya disuruhnya diam dengan isyarat tangannya. Dengan hati - hati dipeluknya pinggang ibunya dari belakang dengan begitu erat tanpa suara. Yurina nampak terkejut, saat merasakan sepasang tangan memeluknya erat, ia langsung berbalik untuk melihat siapa yang sedang memeluknya.
"Mmm..... putra mommy sayang......mommy kira daddymu tadi." Ujar Yurina sambil mencium kedua belah pipi putranya itu gemes.
"Ahh mommy, fikirannya selalu daddy....... saja." Sungut Willy.
"Willy..... Willy..... Kau aneh - aneh saja, iya jelas dong sayang, selalu daddy....... 'kan daddy saja yang rajin pulang kerumah, sedangkan dirimu, kakakmu, dan juga adik - adikmu...... semuanya sibuuuukk...... dengan urusannya masing - masing." Keluh Yurina, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum kelembutan.
__ADS_1
"Willy merindukan mommy......."Ucap Willy kemudian, sambil tetap memeluk ibunya dengan erat, wajahnya ia telusupkan kedada ibunya. Yurina membiarkan putranya itu bermanja - manja padanya, ia membelai lembut rambut kepala putra keduanya itu dengan penuh kasih sayang.
"Aduhhh.......!!" Willy merasakan sakit pada daun telinga kanannya, ia terpaksa mengangkat wajahnya dari dada ibunya, saat dirasanya tangan seseorang menarik daun telinganya semakin kencang.
"Cepat mandi sana! Jangan ganggu mommymu yang sedang sibuk menyiapkan makan malam." Perintah Moranno Agatsa pada putranya itu, tangannya masih menarik telinga putranya itu dengan kencang
"Daddy cemburu ya? Willy baru saja bertemu dengan mommy, wajar saja kalau Willy memeluk mommy." Kepala Willy masih termiring - miring menahan sakit, karena ayahnya belum melepaskan jepitan jarinya dari daun telinganya.
"Suamiku...... Jangan seperti itu, lepaskan tanganmu itu, kau menyakiti putra kita......" Bujuk Yurina lembut pada suaminya itu.
"Baiklah sayang, karena dirimu yang minta......"Ucap Moranno pada isterinya.
" Sekarang juga, kau harus segera mandi Willy, setelah makan malam, kita akan mengobrol." Moranno Agatsa melepaskan jepitan jarinya dari daun telinga putranya.
"Sudahlah Willy, ayo segera turuti apa kata daddymu, mommy akan masak makanan kesukaanmu, bagaimana? Katakan, kau mau makan apa, mommy akan memasaknya, spesial untukmu sayang......"Ucap Yurina membujuk putranya itu.
"Sini, Willy bisikan pada mommy, kalau daddy dengar, nanti bisa ikutan juga mau dimasakan yang sama."Ucap Willy melirik wajah ayahnya yang terus memperhatikan dirinya.
Yurina lalu memasang telinganya, Willy mendekati ibunya, lalu menempelkan mulutnya ke daun telinga ibunya. Moranno Agatsa yang melihat hal itu, kembali menarik daun telinga kanan Willy yang baru saja ia jewer.
"Aduhhhh..... duhhhh......duhhhhh.......! Sakit daddy! Kenapa hobby sekali main jewer - jeweran seperti ini sih dad......!?" Willy kembali meringis kesakitan, daun telinganya semakin bertambah sakit.
"Kau itu modus!! Sana pergi.......!!" Ucap Moranno Agatsa mendorong tubuh putranya itu dengan kasar untuk menjauhi Yurina, isterinya.
"Dasar daddy....... sama anak sendiri saja cemburu, huhhh......." Willy segera menjauh, beranjak kelantai atas menuju kamarnya, sambil mengusap daun telinganya yang terasa sangat perih.
__ADS_1
"Suamiku...... Jangan memperlakukan Willy seperti itu, kasian dia. Hanya dia anak kita yang sering berkunjung kemari, yang lainnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing - masing." Yurina memandang kepergian Willy dengan hati iba, dirinya juga heran, suaminya suka sekali bertengkar dengan putranya yang nomor dua itu. Padahal ia tahu suaminya itu sangat menyayangi semua anak - anak mereka.
"Sayang...... kau jangan terlalu memanjakannya, dia itu sudah besar, seperti katanya tadi, memang benar dia sudah jadi CEO. Jadi, dia bukan bayi gembul kita yang dulu sayang, yang kita peluk dan cium dengan gemes, dia sudah dewasa sayang, dia sebentar lagi akan menikah, jadi jangan memeluknya seperti tadi, menelusupkan kepala didadamu segala, anak macam apa itu....." Sahut Moranno Agatsa panjang lebar, wajahnya terlihat sangat tidak suka. Yurina tiba - tiba tergelak melihat raut wajah suaminya itu, apalagi mendengar perkataan suaminya yang seolah seperti sedang cemburu.
"Kenapa tertawa?" Tanya Moranno Agatsa heran, sambil mengangkat kedua alisnya menatap wajah isterinya yang masih tergelak. Yurina lalu memeluk leher suaminya dengan kedua tangannya.
"Suami tampanku...... Kau ini lucu sekali, seperti pria yang cemburu, dan cemburunya pada anak sendiri....." Sahut Yurina masih tergelak.
"Sayang...... kau itu harus mengerti, Willy itu bukan anak kecil lagi yang bisa kau manjakan seperri dulu, dia itu sudah besar, sudah menjelma jadi pria dewasa......." Moranno berusaha membuat isterinya itu mengerti apa yang menjadi dasar pemikirannya.
"Suamiku......dengar baik - baik ya...... mau jadi pria kecil kah? Mau menjelma jadi pria dewasa kah? atau menjelma jadi pria yang sudah kakek - kakek....... Willy tetap putra kita, anak kita suamiku. Aku tidak mau dengar, dan lihat kau cemburu seperti tadi lagi....... Mengerti?" Yurina langsung mendaratkan ciumannya dibibir suaminya itu dengan lembut. Moranno langsung menerimanya dan menyesap bibir Yurina yang selalu jadi candu baginya. Huh, untung saja para pelayan dirumah itu selalu menyingkir dan menjauh bila ada Moranno Agatsa mendekati isterinya itu.🤔
"Ayolah suamiku....... kau segera mandi, aku akan melanjutkan acara memasakku bersama para pelayan, nanti malam kita akan lanjutkan dikamar, hmm?" Ucap Yurina, setelah keduanya saling melepaskan ciumannya.
"Janji??" Moranno Agatsa mendekatkan jari kelingkingnya kewajah isterinya.
"Janji suamiku......" Hanaria mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking suaminya, sambil mengulas senyum mesranya. Pria yang sudah hampir setengah abad itu, kembali mengecup ringan bibir isterinya, setelahnya ia segera meninggalkan dapur, menuju kamar pribadinya dan isterinya.
...***...
Willy memasuki apartemennya dengan langkah gontai, wajah tampannya terlihat sangat kusut, apalagi otaknya. Ia menatap keseluruh sudut ruangan apartemennya yang tertata rapi. Ia masuk kekamarnya, dan langsung menuju kamar mandinya.
Ia berdiri dibawah guyuran shower, tanpa melepaskan pakaiannya. Ia berharap, dinginnya guyuran air shower mampu membantu mendinginkan otaknya, untuk mengurai kekusutan yang ada disana.
Sementara Reymon, yang ada dikamar sebelah, belum tertidur. Ia melihat jam dinding menunjukan pukul 01.20 dini hari. Ia mendengar gemericik air dikamar mandi Willy ditengah malam buta itu. Reymon tetap berdiam diri, berusaha tidur. Malam itu, dia harus berjuang keras menidurkan dirinya yang susah tidur setelah bertemu dengan Shasie, sahabat Hanaria.
__ADS_1