
Hanaria terperangah, saat seisi ruangan Divisi Arsitecture menyambut kedatangannya bersama tuan Doffy, dan Edrine, dengan berdiri berbaris berjejer dibelakang mejanya masing - masing. Ketiganya saling berpandangan satu sama lain didepan pintu masuk.
"Apakah mereka sudah tahu kalau perusahaan kita menang tender kak? Sehingga mereka menyambut kedatangan kita seperti itu?" Bisik Edrine ditelinga Hanaria.
"Entahlah nona Edrine......." Sahut Hanaria ikut berbisik.
Tuan Doffy maju beberapa langkah lebih masuk kedalam ruangan Divisi Arsitecture. Mengedarkan pandangannya pada seluruh pegawai bawahannya itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya tuan Doffy masih memperhatikan satu - persatu semua bawahannya itu.
"Kami mau mengucapkan selamat untuk nona Hanaria yang sebentar lagi akan menikah dengan tuan muda Willy, CEO Agatsa Properti Group." Ucap Harison, mewakili semua pegawai yang ada, dengan senyum terulas diwajahnya.
Wajah tuan Doffy nampak terkejut, ia menoleh kearah Hanaria yang berdiri dibelakangnya bersama Edrine.
"Apa benar anda akan menikah dengan tuan muda nona?" Tanya tuan Doffy dengan wajah tidak percaya.
Hanaria melirik kearah Edrine yang berdiri disebelahnya. Edrine yang dilirik Hanaria hanya menganggukan kepalanya memberi respon.
"Iya tuan Doffy....." Lirih Hanaria sambil mengangguk lemah.
Sekerika wajah tuan Doffy yang awalnya terkejut langsung berubah ceria. Ia menghampiri Hanaria dengan senyum lebarnya.
"Saya senang sekali nona..... Saya dulunya berharap nona bisa berpasangan dengan tuan muda. Ternyata harapan saya sebentar lagi menjadi kenyataan, saya senang sekali. Selamat nona Hana......!" Ucap tuan Doffy, wajahnya menggambarkan rasa bahagianya.
"Terima Kasih tuan....." Sahut Hanaria dengan senyum canggungnya. Dirinya merasa aneh dan tidak percaya kalau sebentar lagi ia akan menikah dengan bosnya sendiri.
Tuan Doffy kembali membalikkan tubuhnya, melihat kearah para pegawai yang masih berdiri menatap dirinya dan Hanaria.
"Bagaimana kalian bisa tahu, kalau nona Hana akan menikah dengan tuan muda Willy?" Tanya tuan Doffy lagi, ia menatap para pegawai yang menampilkan senyum mereka bersama.
"Kami mendapat ini......! Undangan pernikahan tuan muda Willy dan nona Hanaria.....!" Seru mereka bersamaan, membuat ruangan Divisi Arsitecture itu mendadak riuh, sambil mengangkat tangan keudara, dan melambai - lambaikan surat undangan ditangan mereka masing - masing.
Hanaria dan Edrine saling berpandangan, demikian juga tuan Doffy. Mereka tidak mengerti dari mana para pegawai itu bisa mendapatkan surat undangan pernikahan itu.
"Kami semua mengucapkan.......!!!" Harison memberi aba - aba pada semua pegawai yang berdiri itu.
__ADS_1
"SELAMAT UNTUK NONA HANARIA, YANG SEBENTAR LAGI AKAN MENIKAH DENGAN TUAN MUDA WILLY.......!!!" Seru mereka serempak dan kompak. Suara mereka terdengar menggema diruangan Divisi Arsitecture hingga kelorong - lorongnya.
Setelah mengucapkan ucapan mereka itu, para pegawai langsung berhambur memeluk Hanaria, baik pegawai pria maupun pegawai wanitanya.
Ditengah hiruk - pikuk keramaian para pegawai Divisi Arsitecture itu, ponsel tuan Doffy tiba - tiba berdering. Tuan Doffy segara meraih ponsel disakunya, saat ia melihat siapa yang sedang menelponnya, ia segera menjauhkan diri dari keramaian itu, masuk keruangannya dan menutupnya dengan rapat.
"Hallo asisten Rudi......." Sapa tuan Doffy sambil menempelkan ponsel ditelinganya.
"Tuan Doffy, ada keributan apa di Divisi anda, suaranya sampai kemari." Tanya asisten Rudi.
"Maafkan kami asiaten Rudi. Baru saja para pegawai Divisi Arsitecture memberi ucapan selamat untuk nona Hanaria yang akan menikah dengan tuan muda Willy, itulah yang menyebabkan keributan yang anda dengar barusan." Jelas tuan Doffy.
"Baiklah, tolong kondisikan untuk tetap tenang, supaya tidak mengganggu divisi - divisi lainnya yang sedang berkerja." Ucap asisten Rudi mengingatkan.
"Baik asisten Rudi, sekali lagi maafkan kami." Sahut tuan Doffy. Ia kembali menyimpan ponselnya kedalam saku, setelah sambungan teleponnya dengan asisten Rudi sudah terputus.
Tuan Doffy kembali keluar menemui para bawahannya yang masih sibuk bercengkrama ria dengan Hanaria. Ia dapat melihat bahwa Hanaria selama ini, dan hingga kini memang disukai oleh semua rekan kerjanya satu divisi.
"Tolong kembalilah ke meja kalian masing - masing, dan lanjutkan pekerjaan. Kembalilah tenang, karena suara kita terdengar sampai keruang kerja Direktur Utama." Ucap tuan Doffy memberitahu.
Dengan sigap mereka tergopoh - gopoh kembali ke mejanya masing - masing. Sementara Hanaria masih berdiri diantara meja Shasie dan dan Norsa.
"Teman - teman.......!" Suara Hanaria terdengar ragu. Para rekan kerjanya itu kembali fokus menatap kearahnya, demikian pula dengan tuan Doffy dan Edrine yang masih ada disitu. Suasana nampak senyap menunggu kalimat Hanaria selanjutnya.
"Aku..... ingin berpamitan pada kalian semua hari ini......!" Ucap Hanaria memecah keheningan ruangan itu.
Semua yang mendengar perkataan Hanaria nampak terkejut.
"Kenapa Bu Hana? Apakah karena tuan muda sudah tidak mengijinkan anda berkerja lagi?" Ucap Norsa sambil merubah posisi duduknya yang semula menyandarkan punggungnya dikursi kerjanya.
Ia pun berusaha memanggil Hanaria dengan sebutan lebih resmi karena tidak ingin mengalami hal yang sama, seperti yang pernah dialami Linda.
"Bukan itu...... Dari pihak tuan muda, tidak pernah melarangku untuk berkerja. Sebenarnya, aku akan pindah kerja ke perusahaan otomotif, berkerja sebagai seorang marketing karena satu alasan yang tidak bisa aku jelaskan disini." Ucap Hanaria dengan nada sedikit bergetar
Suasana bahagia sebelumnya, kini langsung berubah menjadi hening dan sedih. Mulut mereka hanya bisa sedikit ternganga, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Berita Hanaria akan resign itu memang sangat mengejutkan mereka.
__ADS_1
Norsa, Shasie, dan Laras berdiri dari kursinya masing - masing, mereka kembali menghambur kearah Hanaria dan memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
Kebersamaan mereka yang sudah berjalan empat tahun selama berkerja di perusahaan itu, membuat hubungan keempatnya begitu dekat satu sama lain.
Keempat wanita itu tidak dapat menahan kesedihan. Walau mereka sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri, namun tangis keempatnya langsung meledak, rekan - rekan yang lainpun ikut menangis dimejanya masing - masing walau suara mereka tidak terdengar.
Tuan Doffy yang turut merasakan suasana kesedihan itu, akhirnya segera meninggalkan ruangan Divisi Arsitecture, menuju lift pegawai yang ada dilorong.
Sesampainya didepan lift, tuan Doffy segera menekan tombol nomor 7. Begitu lift terbuka ia langsung masuk kedalamnya.
Tidak lama berselang, lift pegawai yang membawa tuan Doffy tiba dilantai 7.
"Ting - tong......!" Begitu lift pegawai terbuka, tuan Doffy bergegas keluar dengan langkah terburu - buru. Ia tidak melihat sekretaris Morin dimeja kerjanya.
Saat akan melintas diruang kerja Willy yang terbuka lebar, samar - samar ia mendengar suara Moranno dan sekretaris Morin dari dalam. Ia menghentikan sejenak langkahnya, ia nampak ragu saat akan mengetuk pintu.
Setelah menunggu beberapa detik lamanya, ia memberanikan diri mengetuk pintu.
"Tok.... tok..... tok.....!"
Moranno, asisten Rudi, dan sekretaris Morin yang berada didalam menoleh kepintu secara bersamaan.
"Tuan Doffy......! Masuklah......!" Moranno mempersilahkan.
"Sekretaris Morin...... Semua undangan pernikahan ini harus kau kirim sekarang juga sesuai alamatnya masing - masing. Dan kau harus menelpon semua nama yang telah diundang, untuk memastikan, surat undangan pernikahan putraku sudah sampai ketangan orang yang diundang. Dan ini menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya." Ucap Moranno pada sekretaris Morin, yang berdiri disisi surat undangan yang menggunung diatas meja sofa tamu.
"Baik tuan......" Sahut sekretaris Morin.
"Dan asisten Rudi, kau bertanggung jawab mempersiapkan pesta pernikahan yang akan dilaksanan dikota ini setelah kami kembali dari pernikahan didusun."
"Pilih hotel ternama yang mampu memuat para undangan, juga event organizernya." Perintah Moranno pada asisten Rudi yang berdiri didekatnya.
"Baik tuan....." Sahut asisten Rudi.
"Hal apa yang membawa anda kemari tuan Doffy?" Tanya Moranno, saat melihat tuan Doffy sudah berdiri didekatnya sambil membungkuk hormat.
__ADS_1