HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 58 Berhutang


__ADS_3

"Nak Willy..... duduk disebelah bapak....." Pak Muri menepuk sofa tunggal disebelahnya saat melihat Willy muncul didepan pintu. Semua tersenyum ramah menyambutnya, terkecuali Hanaria yang masih sedikit dongkol.


Willy tersenyum tipis pada pak Muri, ibu Muri, dan juga Firlita, ia mengambil tempat duduk disofa yang telah ditunjuk oleh pak Muri untuknya.


"Apa ini nak Willy?" Tanya pak Muri saat melihat Willy meletakan Parcel buah dan hampers roti yang dibawanya.


"Sedikit buah - buahan dan roti, kebetulan saja lewat saat pulang tadi....." Sahut Willy.


"Aduh nak Willy baik sekali...... sebenarnya tidak usah repot - repot seperti ini..... tapi, terima kasih banyak ya nak Willy..... Ayo diminum dulu tehnya." Willy kembali tersenyum menerima keramahan dari pak Muri padanya.


"Terima kasih pak......" Willy mengambil cangkir tehnya, dan menyesapnya. Ia mendengarkan dengan sabar saat pak Muri menceritakan perjalannya hari itu bersama isterinya dari dusun. Sesekali dirinya ikut tertawa ringan mendengar ayah Hanaria yang berkisah dengan gaya humorisnya, sambil ikut menikmati camilan ringan yang disuguhkan Firlita dan roti yang dibawanya.


Setelah beberapa waktu berlalu, Willy melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Wah tidak terasa...... sudah pukul 5 sore pak...... saya ijin pamit dulu..... bapak dan ibu juga perlu istirahat." Ucapnya sambil berdiri.


Willy mengulurkan tangannya lalu cepat disambut dengan hangat oleh pak Muri. Willy langsung mencium punggung tangan ayah Hanaria, membuat pria tua itu sedikit terpaku, lalu lekas - lekas menepuk lembut punggung Willy. Willy juga melakukan hal yang sama pada ibu Muri, membuat ibu Hanaria jadi terkesan pada kesopan - santunan pria muda itu.


"Nak Willy terima kasih banyak ya, sudah mengantarkan Hana pulang, dan juga membantu bapak mengangkat banyak barang bawaan......"


"Sama - sama pak......"


"Ini ada sedikit buah tangan dari dusun, kalau dikota memang banyak dijual, tapi ini beda nak Willy, dari hasil kebun bapak sendiri." Pak Muri memberikan setandan pisang dan beberapa kantong plastik buah - buahan lokal yang sangat menyengat baunya.

__ADS_1


"Kalau ini bukan sedikit pak, tapi terlalu banyak....." Ungkap Willy melirik tumpukan pemberian yang disisihkan oleh ayah Hanaria untuk dirinya.


"Bapak juga membawanya cukup banyak nak Willy, nanti akan dibagikan kebeberapa tetangganya Hana juga, kalau dimakan sendiri tidak akan habis, malah bisa - bisa nantinya akan sempat membusuk....... Ayo kita bawa kemobilnya nak Willy......" Pak Muri langsung mengangkat 1 tandan pisang yang jumbo menuju mobil Willy yang diparkir dipekarangan rumah.


Willy mengatur bagasi mobilnya supaya bisa memuat dengan banyaknya pemberian dari pak Muri itu.


"Salam buat orang tuamu ya nak Willy......" Ucap pak Muri masih tersenyum ramah sambil berdiri bersisian dengan isterinya bersama Hanaria dan Firlita diteras rumah.


"Baik pak..... Nanti akan saya sampaikan.... Terima kasih banyak juga untuk semua oleh - olehnya pak....." Sahut Willy sambil membungkukkan sedikit tubuhnya sopan lalu masuk kemobilnya. Tak lama terdengar ia menyalakan mesinnya.


Hanaria yang teringat sesuatu segera menyusul Willy kemobilnya sebelum pria itu meninggalkan rumahmya.


Willy menurunkan kaca mobilnya saat Hanaria mengetuknya dari luar.


"Mmm.... saya lupa menanyakan berapa semua harga pakaian yang tuan muda belikan untuk saya selama dirumah sakit..... saya akan berusaha menggantinya dengan cara mencicilnya tuan muda....." Tanya Hanaria sopan sambil berdiri disisi mobil Willy.


"Aku pikir ada yang penting atau barangmu ada yang tertinggal didalam mobilku. Kau tidak perlu menggantinya...... itu semua diperuntukkan untuk orang yang sakit...... Jadi kau tidak perlu merasa istimewa....." Sahut Willy sinis.


Hanaria menelan salivanya, padahal dirinya sudah berusaha bersikap baik dan sopan saat bertanya. Perkataan pria itu memang sering tidak enak didengar. Hanaria sudah terbiasa mendengarnya, namun tetap saja membuat dirinya sering tersinggung setiap kali mendengarnya.


"Saya tahu tuan muda..... itu sebabnya saya tidak suka yang gratisan, apalagi dari tuan muda....." Hanaria balas menjawab dengan sinis.

__ADS_1


"Oo..... Baiklah..... kalau kau berpikir seperti itu, kau hitung sendiri saja berapa potong pakaian selama kau beberapa hari dirumah sakit, dan berapa biaya jasa bosmu yang membuang waktu berharganya pergi berbelanja dan mengantarkanmu kerumah sakit dan pulang kerumahmu ini. Kau sendiri yang mau membuat dirimu berhutang padaku." Setelah selesai dengan kata - katanya, Willy memasang kacamata gelapnya, lalu menaikkan kaca mobilnya. Terlihat sekali kalau dirinya sangat tersinggung pada perkataan Hanaria padanya.


Hanaria tidak bisa berbicara lagi, ucapan Willy membuatnya bungkam. Sebenarnya dirinya tidak bermaksud membuat atasannya itu tersinggung, namun perkataan Willy yang sering tidak enak dipendengarannya memaksa dirinya juga mengucapkan kata - kata yang sama dengan pria itu.


Tuan Muri, isterinya, juga Firlita melambaikan tangan sambil tersenyum, saat mendengar bunyi klakson mobil Willy. Hanaria memundurkan dirinya beberapa langkah kebelakang saat mobil tuannya itu bergerak mundur dan keluar dari pekarangan rumahnya.


"Kau terlihat akrab dengan bosmu itu Hana? Lama sekali mengobrolnya..... Memangnya apa yang kalian bicarakan?" Tanya ibu Hanaria penasaran saat putrinya itu menghampiri dirinya diteras rumah.


Hanaria tersenyum, ia lalu ikut duduk dikursi kayu bersama ibunya dan ayahnya, juga Firlita.


"Sedikit pekerjaan bu..... Hana tidak akrab dengan tuan muda Willy,." Sahut Hanaria singkat.


"Nak Willy itu orang yang baik, mana ada seorang bos mau mengantarkan anak buahnya apalagi tidak akrab seperti yang kau katakan tadi. Itu tandanya kalau nak Willy itu adalah bos yang baik Hana." Puji Ayah Hanaria.


Hanaria kembali hanya bisa tersenyum mendengar perkataan ayahnya. Ia memang melihat langsung bagaimana Willy bersikap baik, sopan dan hormat pada kedua orang tuanya, juga pada Firlita, namun kesan dirinya secara pribadi dengan tuannya itu selama ini tidaklah sama dengan apa yang Willy tunjukan kepada kedua orang tuannya.


"Oh iya.... ayah..... ibu.... ini Firlita..... yang pernah Hana ceritakan dulu saat pulang kampung." Hanaria segera mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau membahas lebih jauh lagi mengenai Willy dengan orang tuanya.


Firlita yang belum sempat berkenalan sebelumnya, langsung berdiri dan menjabat tangan ayah dan ibu Hanaria sambil mencium punggung tangan keduanya.


"Maafkan saya pak, bu.... telah merepotkan kak Hana dan menumpang dirumah ini dengan tidak tahu malu...." Ucap Firlita dengan nada merendahkan dirinya sendiri, sambil bersujud dihadapan pak Muri dan isterinya.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu nak Firlita..... sebagai orang tuanya Hana, kami tidak berkeberatan sama sekali. Bangkitlah, jangan bersikap seperti itu." Ungkap pak Muri. Didalam hatinya terbesit rasa kasihan pada perempuan muda dihadapannya itu, ia melihat perutnya yang sudah mulai membesar. Dirinya teringat akan kemalangan yang telah dialami Firlita, yang sempat diceritakan putrinya beberapa waktu lalu.


__ADS_2