HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
207. Salah Faham


__ADS_3

"Boleh saya minta satu ciuman saja? Saya lagi ngidam. Takutnya anak saya beliuran kalau tidak dituruti," kata sang ibu hamil tua sambil menunjuk satu sisi pipinya pada Willy yang spontan terkaget-kaget mendengar permintaan aneh si wanita hamil tua itu.


"Maaf ya Bu, untuk yang itu saya tidak bisa bantu. Nanti isteri saya marah, dia juga sedang hamil seperti Ibu," kata Willy memberi alasan.


"Permisi," Willy lalu melaju pergi tanpa menoleh, membuat sang wanita terbengong lalu kembali mengekor dibelakangnya. Hampir saja Willy bertabrakan dengan suami sang ibu hamil tua, untung saja tubuh atletisnya yang terbiasa berolah raga itu dengan gesit segera menghindar.


Hanaria tengah mengusap air matanya dengan tissue saat Willy masuk kedalam mobil dengan napas memburu dan keringat mengucur diwajah dan lehernya.


"Apa yang terjadi?" tanya Hanaria menatap wajah panik suaminya yang segera menghidupkan mesin mobilnya dengan terburu-buru.


Belum sempat Willy menjawab, pintu mobilnya sudah digedor-gedor oleh seseorang. Hanaria dan Willy kompak menoleh kearah pintu disebelah kemudi Willy.


Dor! Dor! Dor!


Hanaria menatap heran pada wanita yang terus menggedor dengan semangat pada pintu mobil, seorang pria disebelahnya ikut pula membantu tidak kalah semangatnya.


"Apa yang kau lakukan pada mereka Willy? Kenapa mereka menggedor-gedor mobil kita? Ayo buka, selesaikan urusanmu dengan mereka," tanya Hanaria masih dengan raut bingung, sambil tetap mengusap wajahnya yang basah dengan air mata.


"Kita pergi saja, aku tidak mau berurusan dengan mereka. Mereka itu orang-orang aneh," Willy menginjak pedal dan memasukan gigi, lalu memundurkan mobilnya perlahan, sementara sang ibu hamil bergelantungan di spion mobilnya dengan erat.


"Stop Willy! Kau bisa membahayakan nyawa ibu itu!" teriak Hanaria panik.


Mendengar teriakan Hanaria yang memekikan gendang telinganya, Willy akhirnya mengurungkan niatnya melajukan mobilnya. Sementara beberapa orang yang melihat kejadian itu segera datang mendekat dan ikut membantu menggedor pintu.


"Willy turunkan kaca jendelanya, dengarkan apa yang mereka inginkan," suruh Hanaria yang tidak tahu duduk persoalannya, ia menatap wajah Willy yang nampak kesal pada kelakuan orang-orang yang tengah menggedor-gedor pintu mobilny itu.


"Jangan main pergi gitu dong Mas, selesaikan dulu masalahnya dengan Ibu ini, kasihan Ibu-nya lagi hamil tua itu?" kata salah seorang pria begitu kaca jendela berhasil terbuka.


"Maaf ya Mas-Mas semuanya, saya tidak sedang bermasalah pada Ibu hamil tua ini, begitu juga dengan suaminya," kata Willy pada beberapa warga yang sempat memadati tempat itu.


"Orang kaya turun! Jangan beraninya didalam mobil! Selesaikan diluar sini saja masalah dengan Ibu hamil dan suaminya," bentak salah satu pria lain dengan wajah garangnya.


Willy yang notabenenya seorang CEO diperusahaan tenama milik keluarganya, yang perkataannya selalu dilakukan dengan patuh oleh para pegawainya, tidak pernah menerima perlakuan seenaknya seperti yang ia terima hari itu, ia memutuskan segera membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


"Hana, kau didalam saja," pesan Willy sebelum keluar.


"Jangan buat keributan Willy, aku mohon," kata Hanaria cemas.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan," kata Willy meyakinkan.


Setelah berkata demikian ia segera keluar diikuti tatapan Hana yang cemas karena masih belum tahu duduk permasalahannya, kejadian itu begitu cepat hingga ia belum sempat mendengar penjelasan suaminya itu.


Beberapa warga yang mengerubuti tempat itu sempat terpana sesaat, ketika melihat sosok Willy yang baru keluar dari dalam mobil dan menutup pintu dibelakangnya.


Dari postur tubuh Willy yang menjulang tinggi dan atletis, membuat para pria dan beberapa wanita disitu harus mendongakkan kepalanya melihat wajahnya. Belum lagi wajah mulus glowing miliknya yang selalu bersih dari bulu-bulu halus yang rajin ia cukur setiap hari hingga tidak punya kesempatan tumbuh diwajah tampannya. Dirinya memang terlihat berbeda dari semua orang yang ada disana.


"Ayo Bu, selesaikan urusan Ibu dan suami pada Mas ini, kami yang akan menjadi petengah bila dia tidak mau bertanggung jawab pada kesalahan yang ia buat," kata pria yang sebelumnya memaksa Willy keluar dari mobilnya.


Sang Ibu hamil tua langsung salah tingkah dengan wajah memerah menahan malu, dirinya tidak menyangka apa yang ia lakukan akan mengundang perhatian banyak orang ditempat itu.


"Sudahlah Ma, jangan katakan apa-apa lagi, relakan saja, toh kau juga tidak akan rugi bila merelakannya," kata sang suami sengaja membuat teka teki pada yang mendengarkannya termasuk Willy yang merespon mengerutkan keningnya, didalam hatinya ia pun merasa malu bila isterinya nekat mengatakan niat hatinya seperti yang sudah ia larang sebelumnya walaupun ia akhirnya membantu isterinya itu menggedor pintu mobil Willy.


"Jangan takut Mas, kami siap menjadi penengah disini supaya jangan ada yang dirugikan," kata pria itu lagi berusaha memberi dukungan. Sementara Willy yang mengetahui kesalah-fahaman para warga yang menghakimi dirinya hanya berdiam diri saja, memberi kesempatan pada Ibu hamil tua itu bicara, karena sebelumnya wanita itu terlihat berniat sekali mengejar hingga membuat para warga itu berkumpul mengitari mobilnya.


"Tidak bisa begitu Bu, katakan saja berapa ganti ruginya? Mas ini sepertinya orang kaya, tidak mungkin tidak bisa membayar kerugian yang Ibu alami, apalagi sekarang Ibu sedang hamil tua, lumayankan untuk biaya persalinan nanti," kata sang pria yang sebelumnya bertindak sebagai pahlwan disiang terik itu.


"Terus terang saja Bu, tidak perlu malu-malu, kalau Ibu minta si Mas ganteng cium pipi," celetuk seorang pria dengan gaya kemayunya yang ternyata adalah sang penjual rujak yang dagangannya dibeli oleh Willy.


"Hayo ngaku! Biar perkara ini cepet selesai Buu," katanya bernada gemas dan sedikit genit.


Sebelumnya, dirinya yang melihat pria dan wanita yang bergerombol merasa penasaran, karena sesama teman penjual rujak yang ia tanya juga tidak bisa memberi penjelasan akan apa yang tengah terjadi dan dipermasalahkan oleh orang banyak yang berkumpul itu.


Spontan saja semua orang yang mendengarnya kaget, namun tidak lama kemudian," Huuuu!!" teriak mereka kompak, lalu terdengar ledakan tawa dari semua mulut orang-orang yang mau menghakimi Willy dengan tatapan mengejek kearah Ibu hamil tua dan suaminya yang sebelumnya menyamarkan apa permasalahan sebenarnya.


Sementara semua orang masih tertawa geli, si penjual rujak kemayu itu menggamit lengan Willy," mana isteri Mas yang hamil itu?" tanyanya.


"Didalam mobil Bang," sahut Willy menunjuk dengan wajahnya.

__ADS_1


Si penjual rujak kemayu lalu memasukan kepalanya lewat kaca jendela yang terbuka guna memanggil Hanaria untuk keluar.


Hanaria yang nampak ragu tetap menuruti dan menggeser duduknya lalu keluar dari sebelah pintu kemudi Willy, karena bila akan keluar dari samping tempat duduknya, para warga masih memadati dan berjubel ditempat itu sehingga pintu tidak bisa terbuka.


"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu! Ini isteri si Mas ganteng, sedang hamil juga!" katanya menunjuk Hanaria yang berdiri disamping Willy.


"Lihat matanya sembab karena menangis, tidak rela suami gantengnya dicium oleh Ibu itu," kata penjual rujak kemayu sok tahu. Hanaria yang mendengarnya hanya diam saja.


"Tentu saja tidak rela, lawong suaminya ganteng tenan," kata salah seorang ibu sambil cengar-cengir membuat ibu hamil tua dan suaminya semakin merasa malu lalu pergi begitu saja meninggalkan kerumunan itu.


Hanaria yang telah mengerti permasalahan itu karena mendengarnya langsung mulai dari dalam mobil menatap kasihan pada wanita hamil dan suaminya yang pergi menanggung malu.


"Mas, saya minta maaf. Saya tidak tahu kejadiannya seperti itu,"kata pria yang sebelumnya sempat membentak dan ingin menghakimi Willy itu dengan perasaan tidak enak tergambar dari wajahnya.


"Tidak apa-apa Bang," kata Willy memaklumi.


"Ayo, kita bubar. Biarkan Mas ini pulang bersama isteri cantiknya," katanya sambil membalikan tubuhnya menghadap para warga yang masih berkerumun.


Willy manarik pergelangan tangan Hanaria agar merapat padanya, ia tidak rela isterinya dilirik pria lain walau hanya sekedar mendapat pujian, hanya dirinya saja yang boleh berkata seperti itu pada wanitanya.


"Terima kasih ya Bang atas bantuannya," ucap Willy dari balik kaca jendela mobil yang terbuka, ketika ia dan Hanaria sudah berada didalamnya.


"Ah si Mas, panggil Mbak dong. Lupa ya?" kata pria kemayu kembali genit.


"Jangan berkata seperti itu ya Bang, isteri saya nanti bisa menangis meraung-raung karena cemburu kalau saya memanggil seperti itu pada si Abang," Willy berusaha keras menahan rasa gelinya menghadapi makhluk jadi-jadian itu sambil meringis kesakitan karena mendapat hadiah cubitan melintir dipahanya oleh isterinya.


Setelah berkata demikian, Willy menaikkan kaca mobilnya dan memundurkan mobilnya lalu berlalu pergi disaksikan para warga yang masih memperhatikan mereka.


Hanaria menatap wajah tampan suaminya yang hari ini tidak sengaja membuat masalah. Willy yang mengetahui dirinya sedang diperhatikan lewat ekor matanya mulai bergumam sombong.


"Itu pula salah satu alasan, kenapa aku tidak mau membeli sesuatu ditempat seperti itu, aku pasti menjadi pusat perhatian," katanya sambil tersenyum bangga.


"Aduh, sakit," keluh Willy yang kembali mendapat cubitan ditempat yang sama.

__ADS_1


"Tanggung Hana, kenapa tanganmu itu tidak sekalian naik keatas sedikit dan menelusup masuk kedalam seperti yang pernah kau lakukan," kata Willy sengaja menggoda isterinya itu sambil menahan perih pada pahanya.


"Willy, kau benar-benar menyebalkan," sungut Hanaria gemas dengan wajah memberangut dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


__ADS_2