
"Suamiku, kau telihat letih, mau aku pijitin?" Yurina menatap suaminya yang baru saja selesai dengan pekerjaannya di ruang kerjanya, dan mendekati dirinya yang sedang bersandar disandaran tempat tidur sambil membaca buku untuk menunggunya.
"Tidak perlu sayang, kau juga pasti lelah mengatur rumah sepanjang hari ini." Ucap Moranno sambil ikut bersandar bersama isterinya disandaran tempat tidur.
"Bukan aku yang kerja suamiku, aku hanya pandai memerintah saja, selebihnya dilakukan oleh bibi Nani dan para pelayan lainnya." Ucapnya sambil tertawa kecil.
Moranno ikut tertawa, ia lalu merangkul isterinya itu dan menyandarkannya didadanya. Ia tahu isterinya tidak mengatakan yang sebenarnya. Yurina adalah tipe isteri yang selalu ingin suaminya memakan hasil masakan tangannya sendiri.
"Suamiku...... Aku ingin memperlihatkan padamu kegiatan Willy selama berada didusun mas Arta." Ucap Yurina sambil meraih ponselnya yang berada diatas nakas.
Moranno memperhatikan jari - jemari Yurina yang mulai mengusap layar ponselnya sambil mencium rambut isterinya yang wangi.
"Lihatlah suamiku...... Willy turun ke sawah dan ikut menanam padi disawah kedua orang tuanya nona Hana. Anak manja itu memang nerepotkan, bibit padi yang ia tanam tidak berdiri dengan baik, sehingga orang tua nona Hana harus membenarkan hasil pekerjaannya." Ucap Yurina lagi dengan suara tawa kecilnya.
"Siapa yang mengirim foto - foto itu sayang?" Tanya Moranno sambil ikut memperhatikan layar ponsel milik Yurina.
"Mas Arta, aku yang memintanya untuk mengabadikan ini. Supaya kita juga bisa tahu kegiatannya disana suamiku." Jelas Yurina, sambil terus memperlihatkan satu persatu foto - foto yang dikirim oleh ayah Reymon itu.
"Apakah kau pernah menghubungi Willy sayang?" Tanya Moranno setelah mereka selesai melihat - lihat foto putra mereka itu.
"Belum...... Beberapa kali aku menghubunginya selalu saja diluar jangkauan. Memang sinyal jaringan disana agak sulit kata mas Arta, bila ingin menelpon atau sekedar mengirim pesan, mereka harus naik kesalah satu bukit yang ada diperbatasan dusun. Kenapa suamiku?" Tanya Yurina.
"Aku ingin berbicara pada Willy, ternyata aku merindukannya juga, tapi bagaimana bila sulit sinyal jaringan seperti yang kau katakan itu sayang." Ucap Moranno sambil berfikir.
__ADS_1
"Itu mudah suamiku. Lihat sekarang aku akan mengirim pesan pada mas Arta, untuk membuat janji mau menelpon putra kita, besok bila mereka kebukit yang ada sinyalnya, pesan ini langsung masuk." Yurina langsung mengetik beberapa kata di ponselnya untuk mengirim pesan pada pak Arta.
Setelah selesai mengirim pesan, Yurina bangkit dari sandaran dada suaminya, dan meletakan ponselnya kembali diatas nakas.
Ia lalu menuangkan air putih dari teko kedalam dua gelas, dan memberikan satu gelas pada suaminya, dan satu gelasnya lagi untuk dirinya, itulah kebiasaan keduanya sebelum tidur dimalam hari.
Setelah selesai meletakan gelas dirinya dan suaminya diatas nakas, Yurina naik keatas tempat tidur dan kembali bersandar didada suaminya itu.
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu suamiku? Aku dapat melihat kegelisahan dimatamu." Ucap Yurina, ia memainkan kedua jari - jemari tangan suaminya diatas permukaan perutnya.
"Apakah aku terlihat seperti itu sayang?" Moranno balik bertanya.
"Iya suamiku..Apakah pekerjaan kantor terlalu banyak dan berat? Berbagilah denganku, setidaknya aku bisa menjadi pendengar, walau tidak bisa membantu mencari solusinya." Ucap Yurina sambil terus memainkan jari jemari suaminya itu.
"Tapi semuanya tetap masih dapat dikerjakan oleh semua para pegawai kita."
"Hanya saja, nona Hana, pegawai yang piawai dan menjadi andalan Divisi Arsitecture dalam satu minggu kedepan akan resign dari Agatsa Properti Group. Dirinya Sudah mengajukan surat pengunduran dirinya tepat dihari ia memberi jawaban atas pertanyaan kita mengenai lamaran untuk Willy."
Yurina yang kaget langsung membalikkan tubuhnya, menatap wajah suaminya dengan tatapan serius.
"Jadi nona Hana serius untuk resign dari perusahaan kita?" Moranno hanya mengangguk menjawab pertanyaan isterinya itu.
"Berarti dia benar - benar menjalankan dari persyaratan 10 point yang ia ajukan itu suamiku." Ucap Hanaria, yang langsung teringat salah satu point yang ditulis oleh Hanaria di 10 point permintaannya. Ia kembali membalikkan tubuhnya dan bersandar lagi pada dada suaminya itu.
__ADS_1
"Apakah Kau menyetujui pengunduran diri nona Hana suamiku?" Tanya Yurina yang kini ikut gelisah.
"Tadi pagi, seusai pertemuan untuk persiapan menghadiri undangan tender baru, aku sempat memintanya untuk memikirkan niatnya itu. Semoga saja dirinya berubah pikiran sayang." Moranno kembali mengelus rambut istrinya itu dan mencium wangi aroma yang keluar dari rambut sehat sang isteri.
"Bila kuperhatikan, sepertinya nona Hana ingin melakukan suatu pembuktian, bahwa dirinya benar - benar adalah orang yang menjalani kariernya dengan prestasi, untuk mematahkan tuduhan caption video singkat antara dirinya dan Willy selama beberapa minggu belakangan ini. Itu sebabnya ia menerima tawaran dari nyonya Mingguana." Ucap Moranno kembali menduga.
"Siapa itu nyonya Mingguana suamiku?" Tanya Yurina sambil mengernyitkan keningnya, nama wanita itu sangat asing ditelinganya.
"Dia seorang pengusaha wanita yang sukses dibidang pertambangan. Itu sebabnya kau tidak pernah mengenalnya sayang, apalagi bertemu dengannya. Acara makan malam yang sering kuajak dirimu bersamaku itu, hanya sebatas pengusaha properti saja sayang." Sahut Moranno pada isterinya itu.
"Hmm..... pantas saja namanya baru kudengar dan terdengar sangat asing ditelingaku suamiku." Ucap Yurina.
"Sebenarnya aku mengkhawatirkan nona Hanaria, karena nyonya Mingguana adalah seorang pembisnis yang penuh misteri. Bisa jadi ia memanfaatkan nona Hanaria karena ia melihat nona Hana sangat menyayangi Firlita sebagai seorang kakak. Jadi dia menggunakan kehamilan Firlita untuk mendapatkan Hanaria menjadi pegawainya." Ucap Moranno kembali menduga - duga.
"Bukankah Firlita itu bukan adik kandung nona Hanaria, bagaimana bisa ia mau berkorban sebesar itu?" Ucap Yurina merasa heran.
Moranno mengedikkan kedua bahunya." Entahlah sayang, kurasa nyonya Mingguana sudah dapat melihat celah, dan ia menganggap kebaikan nona Hanaria pada Firlita adalah titik kelemahan dirinya, sehingga itulah yang dimanfaatkan nyonya Mingguana."
"By the way, siapa yang memberi tahumu kalau Firlita itu bukan adik kandung nona Hana sayang?" Tanya Moranno penasaran.
"Rosalia yang cerita, kebetulan tadi siang aku kerumah sakit untuk memeriksa alat kontrasepsi yang ku pasang beberapa tahun lalu pada dokter Rosalie."
"Dan disana ada Rosalia juga, mau menjemput ibunya. Ia menanyakan tentang keadaan Willy, dan bla - bla - bla, akhirnya nyambung kecerita Firlita. Dan semuanya itu, Rosa mendenganrkannya langsung dari mulut nona Hana, saat Firlita dirawat dirumah sakit akibat dicekik oleh suaminya hingga hampir saja kehilangan nyawa." Moranno kembali termenung sesaat, mendengar penjelasan yurina.
__ADS_1