HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
233. Petuah Keluarga Besar


__ADS_3

"Hana, Mommy meminta kita pindah ke rumah besar," ucap Willy sambil mengunyah sarapannya.


"Kenapa?" Hanaria yang tengah sibuk menyuapi bayi Elvano menghentikan sejenak aktifitasnya. Ia memandang ke arah Willy.


"Beberapa hari ke depan, kau akan kembali berkerja setelah semua administrasi perusahaan atas namamu itu selesai dinotariskan. Jadi, di apertemen ini hanya ada Elvano dan bibi Salu yang merawatnya saat siang hari,"


"Menurut Mommy, alangkah baiknya kalau kita pindah ke rumah besar. Disana akan banyak orang yang mengawasi Elvano dan juga Mommy akan membantu, supaya kau bisa lebih tenang dan berkonsentrasi dalam berkerja, juga tidak terlalu lelah dalam masa kehamilanmu ini," jelas Willy.


Hanaria berfikir sejenak, apa yang dikatakan ibu mertuanya lewat suaminya itu benar. Pekerjaan baru yang akan dirinya lakoni nanti, tentu akan menyita waktu, fikiran, dan lainnya yang belum dapat ia duga, tentu saja tawaran sang ibu mertua akan sangat membantu dan meringankan bebannya dikemudian hari.


Sementara bayi Elvano yang tengah duduk dikursinya menarik sendok ditangan Hanaria dan menjilatnya. Hanaria tersenyum melihat apa yang dilakukan anak adopsinya itu.


"Maaf ya sayang," Hanaria lalu mengambil alih sendok dari tangan bayi Elvano lalu menyendok bubur lembut ke mulut bayi itu. Dengan lahap bayi Elvano menerimanya sambil menatap wajah Hanaria dengan bola mata beningnya yang menggemaskan.


"Iya, aku setuju," ucap Hanaria kemudian.


"Kalau kau sudah setuju, aku akan mengabarkannya kembali pada Mommy. Dan Mommy akan meminta pada para pelayan untuk menyiapkan semuanya termasuk kamar untuk Elvano," sahut Willy sambil membersihkan ujung-ujung bibirnya dengan tissue yang diambilnya dari atas meja.


"Aku berangkat dulu," pamit Willy seraya berdiri dari duduknya. Ia mendekati Hanaria dan mencium dengan sayang bagian kening isterinya itu. Bayi Elvano yang belum menyelesaikan sarapan paginya menatap Willy yang pergi begitu saja mengabaikan dirinya.


"Willy," panggil Hanaria, ia berdiri meraih bayi Elvano masuk kedalam gendongannya dan menyusul Willy.


"Ada apa?" tanya Willy menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Kau melupakan Elvano, aku perhatikan selama ini kau tidak pernah menciumnya. Bukankah dia sekarang putra kita?" ucap Hanaria yang merasa heran akan sikap Willy.


"Apakah kau tahu Hana? Bayi lahir dari hasil hubungan suami isteri," ucap Willy dengan kalimatnya yang menggantung.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Lalu?" Hanaria nampak bingung sekaligus penasaran apa yang akan dikatakan suaminya itu. Fikirannya berusaha menebak perkataan aneh apa lagi yang akan dilontarkan suaminya itu.


"Aku tidak mau mencium sp**ma pria gila yang berwujud bayi ini," ucap Willy pelan sambil menjauhkan tangan mungil bayi Elvano yang menggapai-gapai kearahnya.


Hanaria hanya bisa tercengang mendengar ucapan Willy, rupanya itu alasan konyol suaminya selama ini. Rasanya ingin tertawa, namun sebenarnya hatinya ingin marah mendengarnya, mengingat Elvano sekarang adalah putra mereka.


...***...


Sementara itu di lapas, disuatu ruangan, asisten David memberikan beberapa berkas-berkas penting yang harus majikannya itu tanda-tangani.


"Ha-ha-ha, dasar bodoh!" tawa nyonya Mingguana setelah selesai menanda-tangani semua surat-surat yang disodorkan oleh asisten David padanya.


"Kau pikir, kau lebih pintar dari padaku? Dasar perempuan bodoh!" kembali nyonya mingguana tertawa jahat, ia merasa sangat puas karena berhasil membodohi Hanaria.


"Asisten David, kau akan lihat. Perempuan itu akan membayar harga yang sangat mahal, karena berani berurusan denganku. Dia juga akan menjadi penghuni salah satu ruangan lapas ini," ucapnya lagi sambil tertawa puas.


"Dan lewat perempuan yang sok baik itu, pihak keluarga suaminya juga akan terkena imbasnya. Mereka semua juga akan tamat, termasuk perusahaan-perusahaan mereka," geram nyonya Mingguana dengan sorot mata tajamnya memandang lurus menembus jendela ruangan dimana dirinya sekarang berada.


Sorot mata tajam nyonya Mingguana beralih pada asisten pribadinya itu.


"Apakah ucapanmu itu adalah tanda kau mulai berubah? Kau akan berubah tidak setia dariku asisten David?" tanyanya dengan tatapan nyalang.


"Maafkan saya Nyonya, saya hanya ingin Nyonya melupakan semua dendam dihati Nyonya selama ini," kata asisten David menundukkan kepalanya, tetap bersikap sopan seperti biasa pada sang majikan. Ia merasa kasihan saja melihat sang majikannya yang masih mau diperbudak oleh rasa dendamnya.


"Kau belum pernah tahu rasanya dicurangi oleh belahan jiwamu asisten David. Itu sangat menyakitkan," guman nyonya Mingguana dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Menghidupi buah hati seorang diri. Lalu membangun usaha dengan keringat dan air mata. Dan saat aku lepas dari semua kata-kata orang yang pernah menghujatku karena kemiskinan yang membelengguku, perempuan sok baik itu masuk dalam kehidupanku dan putra kesayanganku, hingga sekarang kami berakhir disini, didalam jeruji besi laknat ini, dan tidak bisa dengan bebas menikmati jerih lelah kami,"

__ADS_1


"Dan aku bersumpah! Perempuan itu harus membayarnya dengan mengorbankan dirinya sendiri, dan semua orang yang sangat dia cintai. Setelah semuanya itu terjadi, aku baru merasa puas!" ucapnya berapi-api, sambil mengusap bulir-bulir bening yang hampir jatuh.


...***...


Diakhir pekan itu, sesuai kesepakatan keduanya beberapa hari sebelumnya, Willy dan Hanaria akhirnya pindah dari apartemen milik Willy kerumah besar dan mewah milik keluarga Agatsa.


Tidak seperti biasanya, petang itu nampak begitu ramai, semua keluarga besar Agatsa sudah berkumpul dirumah itu untuk menikmati makan malam keluarga sekalian memberi ucapan selamat dan dukungan atas tanggung jawab besar yang sedang di emban Hanaria, cucu mantu pertama keluarga besar itu.


Selesai makan malam, bayi Elvano diajak bermain oleh kedua adik perempuan kembar Willy, Marina dan Malizha, juga adik sepupu kembarnya, Edrine dan Edward.


Sementara itu, Hanaria sedang diberi beberapa petuah-petuah penting dari nyonya besar Agatsa, nenek Willy, juga nenek buyut Naomi diruang keluarga. Begitu pula dengan Moranno dan Harry, latar belakang keduanya yang adalah pengusaha sukses sejak muda, banyak memberikan pencerahan pada Hanaria, membuat dirinya semakkn percaya diri dalam melangkah. Sedangkan Yurina ibu mertuanya,, dan Margareth yang adalah seorang dokter, sudah lebih dulu memberikan petuah-petuah menjadi seorang isteri dan ibu yang tidak boleh lupa akan tanggung jawabnya saat mereka berjalan-jalan ditaman sore harinya.


"Boleh aku meminta waktu sedikit untuk mengatakan sesuatu pada adik ipar?" pinta Billy sambil melirik sekilas arloji tangannya.


"Silahkan, katakan saja," ujar Moranno menatap putra sulungnya yang irit bicara itu. Semua mata memandang ke arah Billy memanti hal apa yang akan disampaikannya.


"Nyonya Mingguana, adalah salah satu pengusaha yang menjadi target kami," ujar Billy membuka pembicaraan.


"Karena semua badan usaha milik nyonya Mingguana sudah dipindah-tangankan ke nama adik ipar. Maka nama adik ipar sekarang sudah terdaftar dalam target kami," tambah Billy tanpa basa basi.


Nampak Hanaria menarik napas dalam, dan menghelanya perlahan. Ia berusaha tetap terlihat tenang dihadapan keluarga besar suaminya. Bila kakak iparnya itu sudah berucap demikian, tentulah yang ia maksud adalah berkaitan dengan hukum dinegara ini, dan tentu saja membuat hati Hanaria gelisah.


Willy yang merasakan kegelisahan Hanaria segera meraih tangan sang isteri dan meletakannya diatas pangkuannya sambil mengusapnya lembut untuk memberi kekuatan. Hanaria menatap Willy yang tengah memandangnya dengan senyum hangatnya, perasaan hatinya-pun berangsur-angsur membaik.


"Apa yang harus aku lakukan kakak ipar?" tanyà Hanaria memandang kearah Billy.


"Jangan lari dari kenyataan, bertanggung jawablah," sahut Billy apa adanya, membuat Hanaria menahan napasnya seketika, dan menelan salivanya dengan susah payah.

__ADS_1


"Tapi jangan khawatir, adik ipar pasti akan tahu, langlah apa yang harus diambil saat semuanya itu terjadi," ucap Billy memberi angin segar saat menutup ucapannya.


Bersambung...👉


__ADS_2