
"Kak Hana bisa saja........" Sahut Edrine masih dengan senyum cerianya, sambil melangkah masuk menuju meja kerjanya.
"Wah...... Kak Willy pagi - pagi sudah ada disini." Ucap Edrine dengan wajah kaget saat melihat Willy duduk disofa tamu sambil memandang kearahnya.
"Kenapa??! Memang tidak boleh??!" Tanya Willy pura - pura ketus.
"Siapa yang berani melarang kak Willy, CEO bebas mau ada dimana saja......." Ledek Edrine, membuat Willy tiba - tiba merasa malu mendengar ucapan adik sepupunya itu, yang tanpa sengaja menyindirnya bisa melakukan apa saja dan berada dimana saja sesuka hatinya walau di jam - jam sibuk kerja.
"Bagaimana magangmu selama hampir dua minggu disini? Apa yang kau dapat, kakak mau tahu." Ucap Willy mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan..... Ayo, kemejaku kak......." Ajak Edrine sambil menuju meja kerjanya. Willy mengikutinya, tapi ekor matanya mengawasi Hanaria yang nampak sibuk dimejanya, tidak merasa terganggu sama sekali pada apa yang sedang dilakukan dirinya dan Edrine.
"Lihat kak...... Hasil designku...... "Ucap Edrine dengan bangga, setelah berhasil menyalakan laptop diatas mejanya sambil memperlihatkan design gambar 3D yang ia buat di autocadnya.
"Ini designmu?? Tanya Willy kaget, saat melihat hasil design perumahan yang akan diikutkan pada tender mereka beberapa minggu lagi, pada laptop diatas meja Edrine.
"Iyaa....... Tidak percaya........?? Terserah........!" Ucap Edrine dengan wajah manyun. Sambil melanjutkan dan mengutak - atik laptopnya menggunakan keyboard dan kursor ditangannya.
Willy memperhatikan apa yang sedang dikerjakan Edrine dilaptopnya, bagaimana ia membuat perpaduan garis - garis panjang - pendek, garis putus, circle, perpaduan warna gelap - terang, dengan begitu rapi, membuatnya berdecak kagum pada kemampuan adik sepupunya itu.
"Hebat......! Kalau begini caranya, kau sudah bisa menjadi pegawai Agatsa Properti Group Edrine......" Puji Willy jujur.
"Aku belum hebat kak, ini semua atas arahan pembimbingku, kak Hana......." Edrine lalu mengambil berkas dilacinya dan membukanya. Memperlihatkan lembar demi lembar oretan - oretan tangan Hanaria disana yang tinggal dijiplak oleh Edrine.
Edrine langsung cengengesan saat Willy membulatkan matanya, kekaguman laki - laki itu hilang seketika saat mengetahui design itu bukan asli karya adiknya.
"Memang murid tidak akan bisa melebihi gurunya, setidaknya bisa sama dengan gurunya, itu sudah sangat bagus. Yang penting selama magang disini, kau harus rajin belajar pada gurumu itu." Ucap Willy sambil mengacak rambut Edrine gemes.
"Kak Willy, rambutku berantakan......." Protes Edrine sambil merapikan rambutnya kembali dengan kedua tangannya.
"Iya, maaf......." Ucap Willy lalu menoleh kearah meja kerja Hanaria. Seketika ia berdiri, saat tidak melihat Hanaria disana.
__ADS_1
"Dimana gurumu itu??" Tanya Willy dengan pandangan menyapu seluruh ruang kerja Hanaria.
"Kak Hana maksudnya??" Tanya Edrine memastikan.
"Iya, siapa lagi? Disini kan hanya ada kalian berdua selain diriku yang hanya datang sebentar melihat kemajuanmu belajar." Sahut Willy sambil terus mengitari pandangannya keseluruh ruangan.
"Biasanya keruangan tuan Doffy kak...... Kalau tiba - tiba mengjilang......" Ucap Edrine santai sambil melanjutkan pekerjaannya pada laptop dihadapannya.
"Edrine......! Ayo epat cari gurumu itu, masa jam kerja begini, tidak ada ditempat, katanya sibuk, kenapa kelayapan kemana - mana......" Omel Willy.
" Huuhh.....! Kak Willy seenaknya saja bicara, kak Hana itu tidak seperti itu......! Itu biasa terjadi !" Sahut Edrine, ia maaih fokus pada pekerjaan yang ada dihadapannya tanpa menatap Willy yang terus mengoceh.
"Edrine......! Ayo cepat.......!" Willy menarik pergelangan tangan adiknya itu dengan tidak sabar untuk keluar dari ruang kerja Hanaria. Edrine terpaksa mengikuti kakanya itu dengan perasaan dongkol.
Beberapa pegawai yang sedang berkerja diruangan Divisi Arsitecture merasa heran melihat Willy menarik tangan Edrine keluar dari ruang kerja Wakil Kepala Divisi Arsitecture menuju ruang kerja tuan Doffy disebelahnya.
"Tuan muda Willy kenapa? Hari ini sangat aneh? Pagi - pagi memarahi Linda, sekarang menarik - narik tangan anak magang itu......" Bisik Laras pada Harison dari meja kerjanya.
"Sudahlah...... Tidak perlu memusingkan yang tidak kau mengerti. Ayo, lanjut berkerja." Sahut Harison ikut berbisik.
Tuan muda Willy...... nona Edrine....... " Stefhany yang meja kerjanya berada didekat pintu langsung berdiri dan membungkuk hormat, demikian juga dengan tuan Doffy dan Hanaria yang tengah sibuk berdiskusi.
Pandangan Willy tertuju pada Hanaria yang ada didepan meja tuan Doffy, ia segera melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Edrine, lalu masuk dan mendekati pegawai perempuannya yang ia cari sejak tadi.
"Nona Hana, kau disini rupanya...... Tadi kau katakan dirimu sangat sibuk, kenapa sekarang ada disini?" Ucap Willy menatap Hanaria. Sementara Hanaria dan tuan Doffy saling berpandangan sesaat, ada kebingungan diwajah keduanya melihat sikap Willy yang tidak biasa.
Edrine duduk sekursi dengan Stefhany, kedua gadis magang itu turut memperhatikan dari meja kerja Stefhany, mereka pun ikut bingung melihat sikap Willy pada Hanaria, namun tidak berani melakukan apa - apa.
"Saya memang sibuk tuan muda. Saya berada disini karena sedang menyelesaikan pekerjaan bersama tuan Doffy. " Jelas Hanaria yang masih merasa bingung.
"Nona Hana, kau sudah memiliki ruang kerja sendiri yang nyaman, dan kau juga bisa melakukan pekerjaanmu seorang diri disana. Lalu, tanpa sepengetahuanku, kenapa kau menyelinap kemari? Menghilang begitu saja, hingga membuatku bingung mencarimu." Ucap Willy menggeram tanpa sadar.
__ADS_1
"Mmmmpppp......." Edrine dan Stefhany berusaha keras menahan tawa, mendengar ucapan Willy yang mirip pacar ABG mereka dikampus, yang selalu posesif pada keduanya.
"Ada yang lucu......! Kalian berdua......! Anak magang....! Berani mentertawakan seorang CEO??" Tunjuk Willy pada kedua gadis belia, yang tengah membekap kedua mulut mereka masing - masing.
Edrine dan Stefhany langsung memasang wajah serius. " Tidak tuan muda...... Maafkan kami....." Sahut keduanya langsung menunduk.
"Ehemm...... Kenapa saya merasa ucapan tuan muda kedengarannya seperti sedang menjalin hubungan dengan nona Hanaria. Sepengetahuan saya, bukankah tuan muda sekarang sedang menunggu jawaban seorang gadis bersama tuan dan nyonya. Jangan bermain api tuan. Nanti anda akan terbakar......" Ledek tuan Doffy sedikit berani dengan senyum menggoda, karena sudah terbiasa bergaul dengan Willy. Ia berusaha mencairkan suasana yang terasa tegang didalam ruang kerjanya itu.
Willy langsung tersadar, wajahnya langsung merona, menatap wajah Hanaria dan tuan Doffy dihadapannya. Sementara Hanaria berpura - pura tidak mendengar, ia duduk dan menatap berkas - berkas diatas meja tuan Doffy yang menjadi bahan diskusi dirinya dan atasannya itu.
"Bukan begitu tuan Doffy........." Ucapan Willy terputus, saat ponselnya tiba - tiba berbunyi. Ia segera melihat nama ayahnya menelpon dirinya.
"Hallo dad......." Ucap Willy saat mengangkat telepon dari ayahnya.
"Kau dimana? Kenapa sejak tadi belum keruangan daddy?"
"Aku..... Sedang diruang tuan Doffy. Sebentar lagi aku kesana dad......" Ucap Willy seraya memutuskan sambungan teleponnya.
"Tuan Doffy..... Saya permisi dulu......" Pamitnya pada pria paruh baya itu.
"Iya tuan....... " Sahut tuan Doffy sambil membungkuk hormat, dengan sikap masih berdiri sejak tadi.
"Nona Hana..... Ikut aku, tas dan tabletku ada diruanganmu, sekarang.......!" Ucap Willy dengan nada tidak mau dibantah.
Walau Hanaria bisa menolak perintah Willy, karena pria itu bisa saja masuk keruangannya tanpa ada dirinya, sama seperti saat Willy keluar mencarinya bersama Edrine. Hanya saja untuk sekarang ini, Hanaria berusaha menghindari pertengkaran dengan CEO tempat ia berkerja, karena sebentar lagi ia akan resign dari perusahaan itu dalam waktu dekat.
Edrine lalu mengekor Willy dan Hanaria dari belakang, saat keduanya akan keluar dari ruangan tuan Doffy secara bersamaan.
"Edrine..... Kenapa kau mengikuti kami??" Tanya Willy menghentikan langkahnya, saat menyadari Edrine ada dibelakang dirinya dan Hanaria.
"Bukankah...... ruang kerjaku ada diruang kerjanya nona Hana tuan muda?" Ungkap Edrine polos.
__ADS_1
Tuan Doffy kembali mengulas senyumnya dari belakang meja kerjanya, mendengar dialog antara Willy dan Edrine, anak magang yang masih belia itu. Ia semakin yakin, ada yang tidak beres dengan CEOnya itu, sepertinya, pria muda itu sedang memiliki urusan hati, fikirnya sambil menatap kepergian ketiga orang itu dari ruang kerjanya.
...***...