
Pagi - pagi sekali, Willy sudah tiba dikantor, seperti biasanya ia memarkirkan mobilnya dilahan parkir khusus owner. Ia sengaja tidak segera keluar, saat melihat Hanaria sedang memarkirkan mobilnya dilahan parkir pegawai yang tidak jauh dari mobilnya sedang diparkir.
Suasana kantor masih terlihat sepi, karena jam baru menunjukkan pukul 7 pagi. Hanya beberapa petugas cleaning service yang kesana - kemari membersihkan lingkungan kantor yang berada diatas lahan 70 ribu meter persegi.
Willy segera keluar, dan berdiri disamping mobilnya, saat terlihat olehnya Hanaria berjalan kearahnya menuju lobby samping. Ia pura - pura sedang menerima telepon, dengan menempelkan ponsel didaun telinganya.
Dengan langkah santai dan ringan, Hanaria melewati CEO muda itu begitu saja tanpa membungkuk hormat. Kibasan angin lembut menerpa wajah Willy saat pegawainya itu lewat tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
"Tidak sopan.......!" Seru Willy sambil menatap tajam Hanaria yang melewatinya begitu saja. Sementara Hanaria tetap berlalu, ia berfikir Willy sedang memarahi orang yang sedang berbicara dengannya ditelepon.
Willy segera mengejar Hanaria, hatinya merasa tidak terima melihat sikap acuh pegawai perempuannya itu padanya yang jelas - jelas melihat keberadaannya disamping mobilnya.
Willy semakin mempercepat langkahnya saat melihat Hanaria seorang diri sedang menunggu lift pegawai terbuka. Namun terlambat, begitu ia berada tepat dibelakang Hanaria, pegawainya itu langsung masuk ke lift pegawai yang sudah terbuka.
Willy yang tidak mau apa yang ia lakukan sia - sia, tanpa berfikir panjang langsung melompat masuk dan berdiri disamping Hanaria, dan lift langsung tertutup.
"Tuan muda Willy..... Apakah anda tidak salah masuk lift??" Tanya Hanaria melirik sekilas kearah Willy disampingnya, sambil sedikit memundurkan tubuhnya kebelakang, spontan Willy turut memundurkan tubuhnya mensejajarkan tubuhnya dengan posisi Hanaria beridiri.
Hanaria mengernyitkan keningnya melihat tingkah aneh sang majikannya itu. Sementara Willy yang menyadari dirinya yang tidak sengaja mengikuti Hanaria mundur dan mensejajrkan dirinya dengan Hanaria menjadi salah tingkah sendiri.
"Aku..... Itu..... Hemm...... Maksudku...... Aku mau menemui Edrine........ Iya, aku mau menemui Edrine adikku......" Sahut Willy tergagap, namun syukurlah ia cepat menemukan alasan mengapa harus satu lift dengan pegawainya itu, sehingga tidak kehilangan muka.
"Ini semua gara - gara aku terlalu memikirkan perkataan Rosalia semalam, huuuhh..... Pasti aku terlihat seperti manusia bodoh kalau begini....." Gumam Willy didalam hatinya.
Hanaria yang mendengar alasan Willy tidak bertanya lagi, walau hatinya merasa ada yang ganjil, bisa saja bosnya itu memanggil Edrine keruangannya bila itu sangat diperlukan.
__ADS_1
Tapi Hanaria memilih tidak berkomentar lagi, apalagi sekarang ia hanya berdua saja dengan bosnya itu didalam lift. Ia tidak mau hal yang pernah terjadi pada dirinya itu terulang lagi pada dirinya. Hanya ada keheningan diantara keduanya setelah itu.
"Ting - tong.......!" Lift terbuka, Hanaria kembali memundurkan tubuhnya satu langkah kebelakang. Willy turut memundurkan dirinya mengikuti Hanaria membuat wanita itu heran.
"Kenapa tuan muda ikut mundur? Kita sudah tiba dilantai enam, bukankah tuan muda ingin bertemu dengan noda Edrine?" Ucap Hanaria masih pada posisi berdirinya.
"Saya fikir ada pegawai yang akan masuk, jadi saat nona Hana mundur saya pun ikut mundur. Kalau sudah tiba dilantai enam kenapa nona tidak langsung keluar?" Sahut Willy kembali bertanya.
Hanaria langsung maju dua langkah dan menekan tombol saat melihat pintu lift akan tertutup.
"Rasanya tidak sopan, bila saya keluar lebih dulu, padahal ada tuan muda di dalam lift ini. Silahkan anda keluar duluan tuan muda." Ucap Hanaria sambil membungkuk hormat.
Melihat sikap Hanaria padanya, Willy langsung tersenyum senang didalam hatinya. Ia lalu melangkah keluar diikuti Hanaria dibelakangnya.
Mereka menatap heran saat melihat Willy mengekor Hanaria dari belakang. Tapi tidak ada yang berani bertanya, ataupun bergosip lagi dikantor itu, karena kejadian antara Shasie dan Riana beberapa hari yang lalu, sempat dipanggil oleh pihak HRD, sudah diketahui oleh semua pegawai dikantor itu.
"Hana.......!" Panggil Linda yang baru muncul bersama Harison didepan pintu ruang Divisi Arsitecture, saat melihat Hanaria sedang mengabsen wajahnya didepan mesin absen.
"Begitu caramu memanggil seorang Wakil Ketua Divisi Arsitecture? Apakah kau tidak tahu aturan dan beretika dikantor ini?" Ucap Willy yang menatap dingin kearah Linda.
Linda yang tidak mengetahui kehadiran Willy langsung membungkuk hormat bersama Harison disebelahnya. Ia merasa sangat malu, karena Willy menegurnya didepan semua pegawai di Divisi Arsitecture yang sudah hadir pagi itu.
"Maafkan saya tuan muda......" Ucap Linda berdiri terpaku ditempatnya dengan wajah menunduk. Sementara Harison yang berdiri disamping Linda ikut menunduk pula.
"Disini kantor...... Ada aturan yang harus ditaati. Biasakan memanggil nona Hana dengan diawali 'ibu', karena dikantor ini temanmu itu sekarang adalah atasanmu. Apakah kau mengerti?" Ucap Willy menatap Linda yang masih terus tertunduk.
__ADS_1
"Saya mengerti tuan muda...... " Sahut Linda yang merasa bersalah dan sekuat tenaga menahan rasa malunya.
Hanaria yang mendengar semuanya itu merasa kasihan pada Linda, namun ia tidak berani membantah ucapan Willy, karena etika dikantor itu adalah aturan yang sangat dijunjung tinggi. Ia mengurungkan niatnya mendekati Linda karena waktu yang tidak tepat.
Hanaria bergegas menuju pintu ruangannya, dan membukanya dengan anak kunci yang sudah ia siapkan ditangannya, Willy kembali mengekorinya dari belakang.
"Linda....... Bukankah aku sudah pernah mengingatkan kalian akan hal ini. Jangan memanggil nona Hana hanya dengan menyebut namanya saja. Kalau nona Hana, dia tidak keberatan, tapi orang lain yang mendengarnya, apalagi seperti pemilik perusahaan, mereka pasti menegur seperti tuan muda tadi." Ucap Harison, setelah dilihatnya Willy sudah masuk keruangan Hanaria.
"Iya , saya memang salah pak Harison." Ungkap Linda dengan wajah lesunya karena masih merasa malu.
"Sudahlah, anggap ini pelajaran buatmu dan teman - temanmu. Sekarang, ayo mulai berkerja......." Ucap Harison lagi. Ia lalu meninggalkan Linda, menuju meja kerjanya yang berada didekat Norsa dan Laras.
Sementara didalam ruangan Hanaria.
"Silahkan duduk tuan muda. Nona Edrine mungkin sebentar lagi akan datang. Maafkan saya, tidak bisa menemani anda duduk, ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini sebelum jam makan siang." Ucap Hanaria kembali membungkuk hormat.
"Heum......" Sahut Willy hanya bergumam. Ia melirik sekilas, saat Hanaria melangkah menuju meja kerjanya sambil menggendong ranselnya yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Tok..... Tok..... Tok....." Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuklah......." Ucap Hanaria sambil menyalakan laptop diatas mejanya sambil mulai berkerja.
"Selamat pagi kak Hana.......!!" Seru Edrine dengan suara girangnya, sambil menutup pintu dibelakangnya.
"Pagi juga nona Edrine..... Sepertinya hari ini nona begitu bahagia ......." Sahut Hanaria sambil mengulas senyum manisnya memandang kearah Edrine. Willy terpesona melihatnya. Hanaria tidak pernah tersenyum seperti itu padanya.
__ADS_1