
Dua hari penuh Hanaria mendapatkan pelatihan khusus dari ibu mertuanya, mengenai tata cara kehidupan keluarga Agatsa, dan banyak lagi yang lainnya, termasuk diajarkan memasak makanan kesukaan Willy, dan juga apa saja tentang Willy, apa yang disukai ataupun yang tidak disukai suaminya itu.
Sebagai menantu dirumah itu, Hanaria berusaha menyerap semua pelajaran itu dalam kepalanya, ia-pun tidak mendapatkan banyak kesulitan. Ditambah lagi cara Yurina membimbing menantunya itu sama seperti ia memperlakukan Hanaria seperti putrinya sendiri.
"Hanaria, besok resepsi pernikahan kalian," ucap Yurina menatap wajah menantunya itu, keduanya sedang berada dibalkon kamar milik Hanaria dan Willy sambil minum teh, setelah melakukan kegiatan yang melelahkan dihari itu.
"Setelah menikah kalian akan tinggal sendiri dirumahmu, lalu diapartemen Willy sesuai permintaanmu pada point-point yang kau buat itu." ucap Yurina.
"Kami tidak keberatan atas semuanya itu Hana, walau sebenarnya, kami sangat mengharapkan kau dan Willy bisa tinggal bersama kami dirumah ini, karena kau adalah menantu pertama kami," ujar Yurina. Ia menjedah ucapannya, meneguk teh dari cangkirnya dengan elegan.
Hanaria juga ikut meminum tehnya, dan meniru gaya ibu mertuanya itu, walau sebenarnya ia sangat canggung melakukan hal yang seolah bukan dirinya, tapi ia tetap patuh karena aturan rumah itu mengharuskan seperti itu.
"Mommy titip Willy padamu Hanaria, karena kau sudah menjadi isterinya." Yurina meraih kedua tangan Hanaria dan meletakannya diatas pangkuannya. Hanaria menatap wajah lembut sang ibu mertuanya itu.
"Berusahalah membuat dirimu jatuh cinta pada Willy, karena mommy tahu pernikahan kalian bukan dilandasi dasar cinta," ucap Yurina sambil menggenggam tangan Hanaria yang ada diatas pangkuannya.
"Willy, dia banyak kekurangannya, kadang suka sembrono, ngomongnya kadang asal, tanpa di pilter, itulah sebabnya ia sering bertengkar dengan daddy-nya," ujar Yurina tersenyum tipis sambil mengingat putranya yang sering bertengkar hal-hal yang terbilang sepele dengan suaminya.
"Sedikit banyaknya, kau pasti juga sudah tahu Hana, salah satunya alasan kalian menikah karena perbuatan Willy yang pernah kurang ajar padamu,"
"Tapi walaupun begitu, dia anak yang baik, bila narah tidak lama, cepat melupakan," kata Yurina lagi sambil tetap tersenyum tipis.
"Hanya Willy yang selalu tinggal bersama kami, sedangkan kakaknya Billy dan kedua adiknya, tinggal bersama nenek dan kakek Morgan."
"Namun saat ia menyelesaikan program study magisternya diluar negeri, saat kembali, ia minta tinggal sendiri diapartemennya dengan alasan belajar mandiri, kami tidak keberatan, karena masih dalam satu kota,"
Hanaria tetap menyimak semua penuturan ibu mertuanya itu dengan sabar, tanpa banyak berkomentar.
Didalam hati, Hanaria merasa bersyukur, karena mendapatkan mertua yang baik, ia dapat merasakannya, mulai awal Yurina mengajaknya bertemu untuk makan malam dengan tujuan melamarnya. Hingga kini, tidak sedikitpun kata-kata, ataupun sikap dari orang tua Willy itu yang pernah menyinggung perasaannya.
"Berjanjilah pada mommy Hanaria, untuk tetap sabar berada disisi Willy, jangan pernah meninggalkannya. Karena keluarga kami menganut pernikahan hanya sekali, sesuai janji pernikahan yang kalian ikrarkan pada pemberkatan nikah digereja beberapa hari yang lalu," kata Yurina dengan mengeratkan genggaman tangannya.
Hanaria mengangguk,"Iya mom, Hana akan berusaha," sahut Hanaria lirih.
Yurina tersenyum mendengar ucapan menantunya itu.
"Setelah resepsi pernikahan kalian dihotel besok, kau dan Willy akan pergi berbulan madu," ujar Yurina mengagetkan Hanaria.
"Apa, ber-berbulan madu?" Hanaria tersentak.
Yurina tertawa kecil, ia sudah menduga respon menantunya akan seperti itu.
"Kenapa? kau sepertinya kaget Hana?" tanya Yurina yang berusaha menemukan suatu alasan dari menantunya itu.
"Bukankah setiap pasangan suami-isteri yang baru menikah akan berbulan madu?" imbuh Yurina lagi dengan sengaja.
__ADS_1
"I-iya, mommy benar, tapi,-" Hanaria tidak melanjutkan ucapannya, ia berusaha mencari alasan yang tepat. Saat itu ia memaksa otaknya berkerja keras untuk menemukan alasan yang tepat untuk penolakannya nanti.
"Tapi apa Hana?" kejar Yurina berusaha mengulik isi hati menantunya itu.
"Perjanjianku dengan nyonya Mingguana mommy," Hanaria akhirnya menemukan alasan yang tepat. Dalam hati ia bersorak, karena perjanjiannya dengan nyonya Mingguana sepertinya bisa membantunya untuk tidak melaksanakan acara bulan madu bersama Willy.
"Sesuai perjanjian, Senin lusa aku akan mulai berkerja di perusahaan nyonya Mingguana mommy, dan itu-pun telah aku tuangkan dalam sepuluh point persyaratan pernikahanku." terang Hanaria.
Ia merasa sangat yakin hanya alasan ini sajalah yang paling tepat baginya untuk tidak pergi berbulan madu, tanpa menyinggung Willy ataupun keluarganya. Karena sebelumnya, kedua mertuanya itupun sudah mengetahuinya.
Mendengar ucapan Hanaria, Yurina terdiam sejenak, terlihat ia sedang berfikir untuk mengeluarkan kata-kata yang tepat dari mulutnya.
"Iya kau benar Hana, dan kami telah mengetahuinya." Ucap Yurina kemudian.
"Itu sebabnya, daddy-mu membuat resepsi pesta pernikahan kalian bukan hanya didusunmu saja, tapi dikota ini juga Hana," imbuh Yurina
"Semua kenalan keluarga besar kami, para pemegang saham perusahaan, dewan direksi, rekanan kerja, termasuk nyonya Mingguana akan diundang pada acara resepsi besok."
"Dan daddy-mu sudah mengatur semuanya. Dan kau tidak perlu khawatir akan hal itu, karena nyonya Mingguana memang harus menambah waktu liburmu untuk beristirahat sekalian berbulan madu untuk beberapa hari, setelah acara resepsi besok," Jelas Yurina.
"Bagaimana Hana?" tanya Yurina dengan senyum keibuannya.
Hanaria mendesah pelan, agar tidak terlihat oleh ibu mertuanya itu. Alasannya telah mampu disangkal, jadi dirinya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menerimanya.
Yurina tersenyum didalam hatinya, dengan meminjam nama suaminya, ia akhirnya berhasil membuat Hanaria setuju pergi berdua bersama Willy untuk berbulan madu.
"Baiklah, kalau begitu mommy akan mempersiapkan semua keperluan kalian selama berbulan madu nanti," ucap Yurina dengan wajah gembira.
"Mommy?" suara Hanaria nampak ragu.
"Ada apa sayang?" tanya Yurina menatap lekat wajah Hanaria yang terlihat ragu.
"Bolehkah Firlita ikut denganku? Aku takut dia melahirkan tapi aku tidak ada disisinya. Aku sudah berjanji padanya," ucap Yurina memandang ibu mertuanya itu dengan tatapan penuh harap.
Giliran Yurina yang mendesah pelan, ia berusaha hati-hati untuk berucap supaya tidak menyinggung perasaan menantunya itu.
"Hana sayang, ini moment kebersamaanmu dengan suamimu,"
"Disinilah kau harus memupuk rasa cintamu pada Willy. Kau dan Willy bisa saling mengenal satu sama lain lebih dekat lagi," ucap Yurina berusaha memberi pengertian pada menantunya itu.
"Selain itu, kasihan Firlita kalau dia ikut, karena akan melelahkannya diperjalanan nanti,"
"Percayakan adikmu Firlita pada mommy Hana. Mommy akan mengurusnya dengan baik, dan akan menggantikanmu untuk menemaninya saat ia bersalin, bila kau dan Willy belum kembali."
"Bila waktunya bersalin, kami akan cepat membawanya kerumah sakit,"
__ADS_1
"Bagaimana?" ucap Yurina membuat penawaran.
Hanaria kembali berfikir, "baiklah mommy," ucapnya pada akhirnya.
Yurina kembali tersenyum, ia tahu betapa besarnya rasa sayang Hanaria pada saudara angkatnya itu. Bahkan Yurina menilai bila Hanaria memposisikan dirinya seperti seorang ibu bagi Firlita, berusaha melindungi Firlita dari orang-orang yang berniat jahat padanya, itu dapat dilihat dari cara Hanaria selalu berusaha membawa Firlita yang statusnya sebagai isteri orang kemanapun ia pergi, termasuk mencantumkan nama Firlita dalam sepuluh point persyaratannya.
"Sudah larut malam," ucap Yurina sambil melirik arloji pada dinding kamar dari posisi ia duduk bersama Hanaria.
"Kau tidurlah dulu, jangan banyak fikiran."
"Besok kau harus bangun dengan tubuh yang lebih segar, karena besok adalah hari spesialmu dan Willy."
"Kalian berdua harus tampil sempurna sebagai sepasang pengantin,"
"Mommy pamit dulu," Yurina tersenyum memandang wajah Hanaria lalu mendekatkan wajahnya pada menantunya itu, dan mendaratkan ciuman dipipi kanan Hanaria.
Wajah Hanaria bersemu merah, mendapatkan perlakuan manis penuh kasih sayang dari sang ibu mertua.
"Selamat malam Hana," ucap Yurina, ia berdiri lalu melangkah masuk kekamar putra dan menantunya untuk menuju pintu keluar diikuti Hanaria.
"Selamat malam juga mommy," sahut Hanaria, ia membuntuti ibu mertuanya, untuk mengantarkan hingga kepintu kamar.
Hanaria terkesiap, saat melihat Willy sudah tertidur diranjang mereka.
"Bukannya mommy katakan Willy sedang menjemput ayah dan ibu?" tanya Hanaria pada ibu mertuanya itu.
"Iya Hana, sepertinya mereka tiba lebih cepat dari perkiraan," ucap Yurina berusaha memberi alasan.
"Kau tidurlah Hana ini sudah larut. Besok kau bisa menemui kedua orang tuamu, mereka pasti lelah setelah melakukan perjalan jauh." Ucap Yurina lagi.
Ia segera keluar dari kamar Willy dan Hanaria, untuk memberi ruang bagi mereka beristirahat.
Hanaria menutup rapat pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam, denikian pula dengan pintu yang menghubungkan dengan balkon.
Hanaria menghampiri ranjang mereka, dan dengan hati-hati naik keatasnya dan membaringkan tubuhnya perlahan disamping Willy, supaya jangan sampai gerakannya membangunkan suaminya yang sudah terlelap.
Mata Hanaria masih terbuka, banyak hal yang ia fikirkan. Acara resepsi besok, bulan madunya, Firlita, sampai pada pekerjaan barunya diperusahaan nyonya Mingguana yang sudah menantinya.
Setelah lama berfikir sambil membolak-balikan tubuhnya kekiri dan kanan, akhirnya Hanaria lelah dan tertidur pula.
Setelah dirasa Hanaria sudah tidur, karena tidak ada gerakan-gerakan lagi, Willy membuka matanya, ia mengubah posisinya, berbaring menyamping menghadap tubuh Hanaria yang tidak sadar sedang menghadap kearahnya. Ia menatap wajah Hanaria yang sudah berangkat ke alam mimpi.
Ternyata Willy berpura-pura tidur, dan ia sudah mendengar semua percakapan antara isterinya itu dengan ibunya.
...***...
__ADS_1