
"Aku ingin temanmu, yang ayahnya seorang detektif itu datang menemuiku besok bersama ayahnya juga." Hanaria berfikir sejenak berusaha mengingat dalam memorinya beberapa temannya. Tentu Shasa yang dimaksud oleh sang Oma, batinnya.
"Bagaimana Oma bisa tahu tentang Shasie dan tuan Gun ayahnya?" walau sebenarnya tidak merasa heran bila nenek suaminya itu tahu banyak hal, tapi dirinya cukup penasaran juga.
"Usiaku sudah hampir mencapai 70 tahun, dan lebih dari separuh umurku bergelut dengan dunia bisnis. Bisnis halal dan gelap sudah bukan rahasia bagiku, termasuk Shasie temanmu itu yang diselundupkan ayahnya masuk ke perusahaan keluarga Agatsa," ucapnya tersenyum samar.
"Moranno awalnya juga tidak percaya, setelah orangku membuka fakta tentang tuan Gun dan orang-orangnya, dan melihat bagaimana Shasa dalam waktu singkat dapat memberi informasi akurat padamu tentang nyonya Mingguana kala itu, barulah ia menyadari bila ada musuh yang sedang menyusup di perusahaan keluarga kita ini."
Hanaria terperangah, ia menatap wajah nyonya Agatsa seolah tak percaya, mengingat Shasie dan dirinya seumuran, bagaimana bisa sahabatnya itu memiliki profesi ganda, arsitek dan juga detektif gelap. Apalagi Shasa terlihat begitu imut dan sedikit alay dibandingkan tiga sahabatnya yang ada di divisi arsitek.
"Apa yang temanmu itu bongkar tentang nyonya Mingguana padamu, itu masih kulit luarnya saja Hana. Dia masih menyimpan beberapa rahasia yang belum kau ketahui tentang monster wanita itu," gumam nyonya Agatsa.
Hanaria meraih cangkir tehnya yang sudah mulai dingin, obrolan yang cukup menegangkan itu membuatnya tidak ingin beralih dari wajah sang Oma yang ternyata jauh melebihi ekspektasi dari apa yang ia kira.
"Pastikan mereka berdua datang besok untuk menemuiku. Aku akan mengirimkan alamat dan waktunya padamu besok pagi Hana."
"Baik Oma," sahut Hanaria menyanggupi. Ia lalu kembali menyesap tegukan terakhir tehnya yang semakin dingin.
...***...
"Saya cukup tercengang, diusia Nyonya ini, Nyonya bahkan tidak mengidap penyakit gula darah maupun kolesterol," puji pria berwajah tegas, dengan perawakan tinggi dan gempal itu.
__ADS_1
"Saya bahkan tidak berani mencicipinya, itulah sebabnya saya beralih pada vegetarian ini," pria itu menunjuk pada makanan dalam piring dihadapannya.
Nyonya Agatsa tersenyum, ia kembali memasukan satu potongan daging kedalam mulutnya dan mengunyahnya nikmat.
"Saya bersyukur sampai sekarang masih bisa makan bebas, tidak ada pantangan, Tuan. Sejak dulu saya berusaha makan seimbang, supaya yang saya makan jangan sampai menjadi penyakit," ucapnya sambil tetap tersenyum.
"Anda benar Nyonya, dulu saya memang suka sekali makan daging dan seafood secara berlebihan, makanya diusia ini saya tidak bisa bebas mengkonsumsinya seperti Nyonya," ucapnya ikut tersenyum santai.
"Oya, apa yang membuat Nyonya ingin bertemu saya siang ini?" tanya Giran, mengingat pagi-pagi dirinya sudah ditelepon untuk makan siang bersama oleh wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.
"Katakan saja Nyonya, jangan sungkan. Saya akan berusaha membantu semampu saya," imbuhnya lagi.
"Apa ini suatu hukuman? Bila iya, tentu saya akan sulit melakukannya Nyonya. Cucu Anda terlalu disiplin sehingga tidak ada celah untuk mendapatkan kesalahannya. Apalagi atasannya adalah Jendral Hartawan, dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh bawahannya," terang pria itu.
"Justru aku sedang ingin memberikan hukuman kecil pada atasan cucuku itu." ucap nyonya Agatsa dengan memperlihatkan wajah datarnya.
"Hukuman kecil pada Jendral Hartawan?" pria itu mengerutkan keningnya.
"Bukankah Jendral Hartawan dan isterinya begitu dekat dengan tuan Moranno dan nyonya Yurina. Apa lagi ada kabar angin, mereka akan berbesanan?" ungkapnya.
"Kabar angin itulah yang membuatku meminta bantuan Anda tuan Giran. Yah, ini memang menyangkut masalah pribadi."
__ADS_1
"Jadi kabar angin itu benar?" Giran menatap nyonya Agatsa yang masih mengunyah makanan dalam mulutnya dengan santai.
"Cucuku menyukai putri tuan Hartawan, begitu pula sebaliknya. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Tapi ayah gadis itu terkesan menggunakan kekuasaannya untuk menekan cucuku." nyonya Agatsa membuka ceritanya setelah selesai menelan apa yang dikunyahnya.
"Seperti yang kukatakan diawal, ini memang masalah bersipat pribadi, dan akupun tidak ingin mengganggu pekerjaan cucuku sebagai abdi negara, itu sebabnya aku minta Anda mengirim Billy ke perbatasan, dan buatlah dia sibuk dengan tugasnya disana sampai batas waktu yang kuanggap cukup."
"Dan untuk tuan Hartawan--, itu urusanku."
"Aku yakin, kau bisa melakukannya tuan Giran, Dan aku ingin itu secepatnya," ia menatap pria dihadapannya yang nampak berfikir setelah mendengar penuturan singkatnya itu.
Pria yang memiliki jabatan tertinggi dalam institusi dimana dirinya bernaung saat ini memang sangat sulit menolak permintaan wanita dihadapannya.
Sekitar 30 tahun silam, ia pernah berhutang nyawa isterinya pada wanita konglomerat itu, ketika dirinya belum menjadi siapa-siapa dan ekonominyapun cukup sulit kala itu. Uluran tangan dermawan nyonya Agatsa ketika itu bagai air hujan ditengah kekeringan ekonomi yang melandanya.
Dan hingga kini, hutang budi itu belum sempat terbalaskan. Apakah ini waktunya? Batin pria itu, walau ia tahu hutang budi dimasa dirinya sulit dan kesusahan tidak akan sebanding bila ia membalasnya dimasa sekarang dimana dirinya sudah menjadi seseorang yang tidak dipandang sebelah mata lagi oleh orang-orang sekitarnya.
"Baiklah, saya akan melakukannya untuk Nyonya," sahut Giran menyanggupi.
"Terima kasih tuan Giran, tidak salah bila saya mengandalkan Anda," nyonya Agatsa tersenyum, ia tahu pria dihadapannya itu tidak akan menolak untuk membantunya.
Bersambung...👉
__ADS_1