
"Selamat sore Tuan," asisten David kembali membungkuk hormat, begitu melihat Willy muncul didepan pintu, membukakan pintu untuk dirinya.
Tidak ada jawaban dari salamnya, asisten David kembali mendongakan wajahnya mendapatkan asistensi Willy yang sedang memperhatikan apa yang dibawa olehnya.
"Untuk siapa bunga anggrek yang kau bawa itu?" tanya Willy, mengalihkan fokusnya pada asisten pribadi isterinya itu.
"Heum," asisten David terlihat sedang berfikir, dirinya merutuki kecerobohannya mengapa harus membawa sebuket angrek segar itu, pasti suami nona majikannya itu akan marah dan mungkin akan menghukum dengan caranya karena salah faham.
"Jangan bilang anggrek segar itu buat isteriku, asisten David," Willy kembali bersuara, membuat asisten David semakin bingung harus menjawab apa karena bunga itu memang diperuntukan bagi sang nona majikan.
"Bunga ini--, ini untuk bayi kembar Tuan dan Nona," ucap asisten David cepat, ia sedikit lega karena sudah menemukan pada siapa bunga itu ia bawa.
"Untuk bayi kembar kami?" Willy terlihat memastikan.
__ADS_1
"Iya, benar Tuan. Untuk bayi kembar Tuan dan Nona," jawab asisten David yakin sembari mengangguk pasti.
"Apa kau tahu jenis kelamin bayi kembarku dan Hanaria, asisten David?" Willy mengerutkan kedua keningnya karena merasa heran.
"Tahu Tuan, mereka berdua adalah bayi laki-laki. Bahkan saya tahu nama keduannya, baby Jonathan dan baby Elnathan," sahut asisten David bangga, karena dirinya pasti tidak akan salah dalam hal ini, bila salah tentu akan sangat memalukan, tidak mungkin seorang asisten pribadi bisa keliru mendapat informasi apapun mengenai sang majikannya.
"Heum, bagus. Kau sudah menyebutkan nama bayi kembar kami dengan sangat benar," Willy tersenyum tipis, membuat asisten David turut tersenyum bersamanya.
"Apa kau terbiasa membawa bunga untuk bayi laki-laki? Dan berwarna pink pula seperti itu?" tunjuk Willy dengan isyarat tatapan matanya pada anggrek segar dipelukan asisten David.
"S-sebenarnya--, sebenarnya--," asisten David terbata-bata, namun tatapan Willy seolah sedang memaksanya untuk tetap memberi penjelasan. Jantung dalam dadanya berdegup semakin kencang.
Ya, penyesalan membawa buket anggrek segar semakin asisten David rasakan. Laki-laki itu memang selalu bingung bila akan membawa buah tangan untuk sang majikannya, mulai ia menjadi asisten Nyonya Mingguana dulu, takut peristiwa seperti sekarang ini akan terjadi.
__ADS_1
"Sebenarnya buket anggrek pink segar itu buat isteriku bukan?" lanjut Willy, begitu asisten David tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
"M-maafkan saya Tuan. Saya benar-benar tidak ada maksud apapun, selain bersungguh-sungguh membawa benda-benda ini sebagai buah tangan saja, sungguh Tuan," ucap asisten David berusaha memberi penjelasan supaya suami sang majikan jangan sampai salah faham padanya.
"Baiklah, aku percaya padamu untuk kali ini asisten David, tapi jangan diulangi lagi. Berikan saja bunga anggrek pink dan hampernya padaku" Willy mengulurkan tangannya dihadapan asisten David.
"Walau sebenarnya aku tahu, Hanaria tidak akan mungkin naksir padamu, karena suaminya ini jauh lebih tampan dan menarik dari asisten pribadinya, tapi aku musti harus waspada, karena kau tidak jelek-jelek amat," ucap Willy sembari menerima bunga dan hamper yang diberikan asisten David padanya.
Ucapan Willy tidak urung membuat asisten David tersenyum simpul mendengarnya. Selain isteri, anak-anak dan kedua orang tuanya baru Willy yang memuji ketampanannya.
"Kenapa kau tersenyum jelek seperti itu?" Willy mengernyitkan keningnya lagi, ketika menangkap senyum samar-samar diwajah asisten David.
"Saya tersanjung Tuan, saya baru sadar kalau wajah saya ini terbilang tampan setelah mendengar pujian dari anda, Tuan," ujar asisten David tidak tersinggung sama sekali dan masih menampakan senyum simpulnya.
__ADS_1
"Kasian sekali kau kalau begitu," sahut Willy prihatin. "Ayo masuklah. Kita lanjutkan didalam." ucap Willy ramah, ia berjalan masuk lebih dulu, dan asisten David mengikutinya dari belakang.
Bersambung...👉