
"Apa yang terjadi Rosa?" tanya Willy bingung saat tiba-tiba Rosa memeluknya sangat erat. Sore itu ia baru saja tiba dihalaman rumah dan turun dari mobilnya.
Rosa tidak langsung menjawab, ia semakin membenamkan wajahnya didada bidang milik Willy, entah apa yang ada didalam benak gadis itu, Willy juga tidak mengerti, hanya saja ia merasakan tubuh Rosalia sedikit berguncang seperti sedang menangis. Willy masih berdiri kaku seperti semula, tidak membalas pelukan Rosalia walau mereka adalah sahabat dekat.
Yurina memberi isyarat dengan gerakan matanya menunjuk pada Hanaria saat Willy melihat kearahnya, sementara Moranno memperhatikan ibunya yang tengah melangkah mendekati Willy dan Rosalia.
"Rosa apa yang terjadi Sayang?" tangan nyonya Agatsa menyentuh lembut punggung Rosalia yang masih mengenakan jas dokternya itu.
Mendengar suara nyonya Agatsa, Rosalia perlahan menjauhkan wajahnya dari dada Willy dan menoleh kearah sang Oma yang menyentuh lembut punggungnya.
"Kau menangis?" tanya Willy terperangah, ia memang sedikit kaget karena Rosalia yang ia kenal bukanlah gadis yang cengeng.
Geplak!
"Aduh!" pekik Willy tertahan.
Rosalia memukul Willy dengan tas kerjanya. "Sudah tahu pake nanya!" kesalnya, membuat yang lainnya menahan senyum melihat hidung dan kelopak mata Rosalia yang memerah. Sangat terlihat bila gadis itu memang usai menangis tapi masih sanggup bertengkar dengan Willy.
"Makanya punya pacar biar ada dada yang bisa kau pakai untuk menangis," ejek Willy lagi.
"Kau--," Rosalia kembali mengambil ancang-ancang ingin menghempaskan tas kerjanya pada tubuh Willy didekatnya.
"Sudah-sudah, ayo kita ngobrol dulu disana," lerai nyonya Agatsa, ia meraih pergelangan tangan Rosalia dan membawanya menuju gasebo taman.
__ADS_1
"Kau tidak cemburu padaku?" Willy mendekati Hanaria yang masih berdiri disisi mobilnya, meraih tangan mulus itu dan menciumnya.
"Tidak," sahut Hanaria sembari menggeleng.
Willy merangkul bahu tinggi Hanaria yang setara dengannya dan berjalan menyusul Rosalia dan neneknya yang berjalan lebih dulu bersama Yurina dan Moranno.
"Padahal aku berharap kau cemburu. Apa aku masih kurang tampan sehingga tidak layak dicemburui?" bisik Willy pelan supaya tidak terdengar orang lain, raut wajahnya pun dibuat memberangut.
Hanaria tertawa kecil. "Sayang, aku tidak mungkin cemburu pada dokter Rosalia, dia 'kan calon kakak iparku."
"Oh, kukira diriku masih kurang tampan sehingga kau tidak pernah cemburu padaku. Tadinya aku berpikir akan kesalon lagi buat perawatan," ungkap Willy ikut tertawa.
"Sekarang ceritakan pada Oma, kenapa kau menangis Sayang, heum?" tanya nyonya Agatsa lagi, begitu mereka sudah duduk santai di gasebo taman.
"Tidak ada Oma. Rosa kepengen nangis aja."
"Tak perlu bingung, orang yang jomblonya kelamaan memang kadang suka aneh-aneh," ledek Willy, seketika wajahnya meringis menahan rasa perih diperutnya merasakan cubitan Hanaria yang mendarat disana.
Rosalia tidak mengambil hati perkataan Willy, iapun tidak berniat menghajarnya seperti biasa karena Hanaria sudah melakukannya untuknya.
"Boleh Rosa tidur dirumah ini lagi seperti dulu Oma?"
"Tentu saja boleh Sayang, tapi Mamahmu sudah menjemputmu, lihat itu," semua mata memandang kearah mobil yang baru saja memasuki gerbang dan berhenti dijejeran mobil yang belum disimpan dalam garasi.
__ADS_1
Yurina buru-buru menghampiri dokter Rosalie yang turun seorang diri dari mobilnya tanpa membawa supir bersamanya.
"Selamat sore nyonya Yurina, maaf saya datang mengganggu," dokter Roslie menampilkan senyumnya.
"Jangan bilang begitu, Dokter tidak mengganggu sama sekali. Ayo kita minum teh bersama, ada Rosalia juga disini," ucap Yurina setelah memberi pelukan hangatnya pada Rosalie yang sudah dianggap sebagai keluarga.
Di gasebo, Rosalie menyapa semua orang yang ada disana termasuk putrinya.
"Rosa Sayang, kenapa tidak langsung pulang atau memberi kabar kalau berkunjung kemari, Mamah khawatir," ucapnya memandang putrinya.
"Maaf Mah, sepulang kerja tadi Rosa buru-buru, kemari, kangen rumah tua ini dan semua orang yang ada didalamnya," ucapnya dengan raut memelas, supaya tidak mendapat omelan dari ibu sambungnya itu. "Terutama kengen Billy," batinya sembari mendesah pelan.
"Tidak apa-apa Dokter, Rosalia sudah biasa ada disini, tak perlu sungkan, kami juga merindukannya. Semenjak Willy menikah dia tidak pernah lagi datang kemari, kenapa?" nyonya Agatsa memandang serius wajah ibu sambung dari Rosalia itu.
"Tidak apa-apa Oma, Rosa saja yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kadang ada dinas malam juga," Rosalia segera menjawab, walau sebenarnya ayahnya yang sering memperingatkan dirinya untuk tidak sering berkunjung dengan berbagai alasannya.
"Oma pikir ayahmu yang keras kepala itu yang melarangmu. Kalau benar laporkan saja pada Oma. Oma penasaran juga bagaimana rasanya memelintir telinga seorang jendral."ketusnya kembali menatap Rosalie.
Rosalie hanya bisa terdiam, walau ia sudah terbiasa dengan gaya bahasa menohok wanita tua konglomerat itu, bahkan pernah beradu argumen saat membantu persalinan Yurina ketika melahirkan Billy dan Willy, tapi tetap saja ucapan yang ia dengar terasa tak nyaman ditelinganya.
"Hana, Willy, ajak Rosalia mandi dulu sebelum kita makan malam. Oma mau mengobrol dengan dokter Rosalie, kami lama tidak bertemu seperti ini." perintahnya.
"Baik Oma,".Hanaria dan Willy bergegas, keduanya menggandeng tangan kanan dan kiri Rosalia dan segera membawanya pergi.
__ADS_1
Melihat putrinya diperlakukan bagai cucu rumah itu, Rosalie hanya bisa pasrah, padahal dirinya sudah ingin beranjak dan membawa pulang Rosalia bersamanya.
Bersambung...👉