HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
163. Ekor


__ADS_3

Hanaria masih setengah mengantuk, belum sadar sepenuhnya, dan tangannya masih sibuk menarik benda menjulur yang semakin keras menyundul panggulnya.


"Willy..." panggil Hanaria yang masih dikuasi rasa kantuknya karena baru saja terbangun.


"Apaan..." suara Willy terdengar serak.


"Tolong aku," pinta Hanaria dengan suara lemas tak bertenaga.


"Minta tolong apa?" sahut Willy sambil mengeliat-geliat kegelian, merasakan tangan Hanaria yang terus memegang miliknya dibalik handuk yang ia bawa tidur.


"Singkirkan benda pengganggu ini, aku merasa tidak nyaman, ia selalu menyundul panggulku," keluh Hanaria dengan suara terdengar seksi ditelinga Willy.


"Benda pengganggu yang mana Hana?" tanya Willy sambil mendesah merasakan tubuhnya yang bergetar.


"Ini, benda yang sedang ku pegang Willy," Hanaria memegang semakin kuat, dan berusaha memberi penjelasan pada suaminya itu.


"Cepat bantu aku, aku sulit menyingkirkannya. Lemparkan saja benda keras pengganggu ini kesembarang tempat, aku sudah sangat lelah dan mengantuk," ucap Hanaria tanpa perasaan dan merasa jengkel.


"Hana, aku tidak bisa melemparkannya ke sembarang tempat," sahut Willy. Ingin sekali rasanya ia menerkam, mengunyah, dan menelan isterinya yang seenaknya saja mau melemparkan aset berharga yang selalu ia jaga dengan sangat baik selama ini.


"Kenapa?" tanya Hanaria bingung.


"Itu ekorku," sahut Willy, ia merasa menderita saat miliknya semakin digenggam erat oleh Hanaria.


"Ekor? Kau memiliki ekor?" tanya Hanaria. Kesadarannya mulai pulih, ia merasa aneh, bagaimana suaminya yang seorang manusia bisa memiliki ekor seperti hewan, mungkinkah suaminya itu manusia jadi-jadian, fikir Hanaria. Ia berusaha mengumpulkan semua kesadarannya.


"Iya, aku memiliki ekor didepan Hana," jawab Willy memperjelas.


Hanaria berbalik, namun tangannya tidak dilepaskan dari benda mengeras yang sedang dipegangnya. Ia menatap wajah Willy dalam keremangan lampu tidur. Tangan satunya lagi mulai ia ulurkan untuk membantu. Perasaannya mulai curiga karena benda itu tidak mau menjauh dari ************ suaminya walau ia berusaha menarik dan menjauhkannya.


"Hana, kau memijat ekorku terlalu keras, sakit, hhhsss-," suara Willy mendesis kesakitan.


"Willy!" teriak Hanaria kaget, ia menarik sambil mencekik junior Willy tanpa ampun.


"Hana! Lepaskan ekorku!" Willy tidak kalah kaget, ia ikut berteriak karena kesakitan, tangannya berusaba melepaskan tangan Hanaria yang menempel bagaikan magnet pada juniornya.


"Hana, kau menyakiti ekorku," ucap Willy yang baru saja melepaskan dirinya dari Hanaria, ia tergulung-gulung didalam selimut sambil mengusap miliknya yang masih terasa ngilu. Kelopak-kelopak mawar sudah runtuh-lantah berserakan tidak karuan dari atas selimut.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk tidur menggunakan piyamamu, bukan dengan handuk itu Willy," omel Hanaria yang kini tengah duduk memperhatikan Willy yang masih tergulung-gulung kekiri dan kanan menahan rasa sakit yang masih mendera.


"Hana, kau terlalu kejam padaku, kau sudah menganiaya ekorku, lalu kau memarahiku tanpa memikirkan apa yang aku rasakan setelah pencekikan yang kau lakukan," ucap Willy memelas sambil masih merintih kesakitan.


Mendengar ucapan Willy, Hanaria mencernanya sejenak, sambil memperhatikan Willy yang masih meringkuk dibalik selimut dan tidak lagi berguling-guling seperti sebelumnya.


"Apa ekormu masih sakit?" tanya Hanaria ragu, mengikuti penyebutan yang disebut Willy, ia tahu kalau dirinya sudah melakukan kekejaman pada aset suaminya itu. Willy tidak menjawab, ia hanya berdiam diri sambil mengatur nafasnya yang mulai teratur.


"Maafkan aku, aku kali ini benar-benar tidak sengaja Willy. Aku fikir ekor yang kau maksud bukan itu-," Hanaria merasa canggung melanjutkan kalimatnya.


"Katakan padaku Willy, apa yang harus aku lakukan supaya bisa membantumu, atau perlukah aku mengantarmu kedokter?" ucap Hanaria. Ia khawatir suaminya itu marah, karena dirinya telah melakukan kesalahan lagi dan lagi.


"Tidak perlu, lagi pula ditempat ini tidak ada dokter yang dekat." sahut Willy.


"Benar kau mau menolongku?" tanya Willy berbalik kearah Hanaria yang sedang duduk menghadapa kearahnya.


"Hmm," sahut Hanaria sambil mengangguk.


"Ekorku cuma perlu kau elus Hana," ucap Willy menatap wajah Hanaria.


"Maksudnya di usap?" tanya Hanaria memastikan.


"Itu-, itu pasti berbahaya," Hanaria sudah menerawang jauh kedepan apa yang akan terjadi.


"Berbahaya? Berbahaya bagaimana maksudmu?" Willy pura-pura tidak memahami apa yang dikatakan oleh Hanaria.


"Ekormu itu bisa menyerangku, aku tidak mau," Hanaria langsung beranjak turun dari tempat tidur.


"Kau mau kemana Hana?" Willy panik melihat Hanaria beranjak dari ranjang mereka.


"Mengambil piyama dan CD-mu dilemari pakaian," sahut Hanaria bergegas. Setelah tangannya sibuk sebentar memilah-milah pakaian yang sudah terlipat dan tersusun rapi didalam lemari, Hanaria segera kembali menghampiri Willy.


"Ini, pakai CD-mu, ekormu harus segera dibungkus, supaya tidak menyundul ke sembarang arah," ucap Hanaria sambil, menyodorkan pakaian dalam bagian bawah milik suaminya.


"Berani sekali kau berkata seperti itu pada seorang CEO perusahaan besar dan ternama." ucap Willy dengan perasaan gemas atas perlakuan Hanaria padanya.


"Kau benar tuan CEO, tapi dirumah aku adalah isterimu, dan kau harus menurut padaku-," Hanaria terdiam sejenak mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri, "huff, salah, terbalik," batin Hanaria sambil mengatupkan mulutnya.

__ADS_1


"Ayo suamiku pakai CD-mu! Atau aku akan menarik dan mencekiknya lebih kuat dari yang tadi," ucap Hanaria sambil membesarkan bola matanya.


Willy melongo mendengar ucapan Hanaria padanya, ia tidak membantah apa yang dikatakan isterinya itu padanya, dengan terpaksa menurut saja, khawatir bila yang didengarnya akan benar-benar dilakukan padanya.


Willy langsung menyambar CD miliknya yang telah disodorkan Hanaria, segera mengenakannya didalam selimut tebalnya sambil duduk dipembaringan.


"Sekarang lanjutkan kenakan piyamamu ini," Hanaria kembali menyodorkan sepasang baju tidur milik suaminya.


"Apakah kau tidak bisa membantuku mengenakan baju tidurku itu?" ucap Willy menunjuk dengan wajahnya kearah tangan Hanaria yang terulur padanya.


"Kau sudah dewasa, masakan tidak bisa mengenakan piyamamu sendiri," kilah Hanaria berusaha menolak.


"Kau benar Hana, aku memang sudah dewasa, dan sudah mempunyai isteri yang seharusnya melayani segala keperluanku, bukankah seperti itu tugasmu Hana? Hmm?" ucap Willy menatap lekat wajah Hanaria.


"Mm-, maafkan aku. Kau benar Willy," sahut Hanaria gugup.


"Kalau begitu, lakukan tugasmu sekarang," ucap Willy datar.


Hanaria melatakan piyama Willy ditepi tempat tidur, ia mulai mengambil baju atasannya dan menggelarnya diatas tempat tidur.


"Aku akan membantu mengenakan baju tidurmu." Hanaria langsung memasukan tangan panjang Willy pada lengan baju tidurnya, kemudian giliran lengannya yang satunya lagi. Ia menelan salivanya saat melihat tubuh atletis dengan bentuk kotak-kotak yang tergambar disana saat akan mengancing baju suaminya itu.


"Keras sekali," gumam Hanaria yang tidak sadar menyentuhkan beberapa jarinya ke perut dan dan dada Willy yang berotot.


Willy yang mendengar gumaman Hanaria berusaha tidak bereaksi apa-apa, walau didalam hatinya ingin sekali membanting Hanaria ketempat tidur mereka dan memposisikan tubuh isterinya itu dibawahnya.


"Sudah selesai, sekarang bawahannya," ucap Hanaria yang baru menyelesaikan mengancing baju tidur suaminya dan akan memakaikan celananya.


Willy keluar dari selimut tebalnya lalu berdiri diatas tempat tidur dihadapan isterinya. Hanaria menahan nafasnya, matanya langsung mengarah pada pusat CD suaminya yang mengembung lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa.


"Kenapa kau tidak menyentuhnya juga," kata Willy memancing, saat dilihatnya tatapan Hanaria terpatri pada pusat tubuhnya itu.


Hanaria menggeleng rusuh," Ekormu pasti sedang meringkuk didalam sana, kalau aku menyentuhnya sedikit saja dengan jariku, dia pasti akan menjulur dengan otot-otot kerasnya untuk menyerangku,"


Willy mendadak merasakan sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya dengan kompak, baik sakit pada kepala atasnya maupun pada kepala bawahnya, saat mendengar ucapan Hanaria yang memukau tanpa disaring terlebih dahulu.


"Hana, kau membuat ekor berbisaku bisa benar-benar mematukmu," ucap Willy dengan wajah memerah berusaha menahan gejolak rasa dalam dirinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2