
"Selama beberapa hari ke depan bayi Jonathan dan Elnathan, mereka memang harus lebih sering menyusui untuk menambah berat badanya. Dan sang ibu harus bisa meluangkan waktu untuk istirahat supaya tidak kelelahan dan jatuh sakit."
"Dalam hal ini peran ayah sangat dibutuhkan," ujar Rosalia memberi wejangan, sekedar mengingatkan walau ia tahu Willy dan Hanaria sudah bisa berkerja sama selama dua hari ini.
"Mengerti kakak ipar," celetuk Willy sekenanya. Ia memang suka sekali menggoda sahabatnya itu walau Rosalia sering mengomelinya.
"Kakak ipar? Apa dokter Rosalia memiliki hubungan spesial dengan kak Billy?" Hanaria nampàk antusias. Selama ini dirinya tidak pernah tahu kalau kakak iparnya itu sudah punya calon isteri.
"Aduh! Duh!" Willy memekik, merasakan perihnya cubitan Rosalia yang mendarat di perutnya.
"'Jangan percaya ucapan Willy Nona, dia hanya asal bicara. Saya dan Billy hanya berteman, sama seperti dengan Willy. Kami bertiga bersahabat sejak kecil," terang Rosalia.
Walau ia pernah berbicara pada Willy tentang perasaannya terhadap Billy, tapi ia merasa tidak enak bila Hanaria mengetahuinya. Ia tidak ingin dicap wanita murahan oleh Hanaria, mengingat kisah Willy mendapatkan isterinya itu dengan susah payah dan harga yang selangit.
"Oh, saya pikir tadi Dokter dan kak Billy beneran ada hubungan asmara. Padahal saya sungguh berharap kalau yang dikatakan Willy itu benar," ucap Hanaria penuh harap.
Rosalia hanya bisa tertawa canggung mendengarnya.
"Baiklah, sepertinya saya harus pamit dulu. Nona Hana silahkan istirahat saja mumpung dua bayi Nona sedang tidur." Rosalia buru-buru berpamitan, ia sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membahasnya lebih lanjut.
"Iya Dok, terima kasih banyak," sahut Hanaria mengulas senyum manisnya.
__ADS_1
"Boleh saya pinjam Willy sebentar Nona, saya ada sedikit keperluan dengannya?" ijin Rosalia, ia masih tidak tenang sejak kemarin karena masih ada rasa penasaran yang mengganjal dihatinya.
"Tentu saja boleh Dokter," sahut Hanaria tidak keberatan. Sebagai isteri Willy, ia sudah sangat mengenal dokter Rosalia yang merupakan sahabat suaminya sejak mereka bayi.
"Terima kasih Nona."
"Ayo Willy cepat, nanti keburu bayi-bayi kalian bangun," Rosalia menarik tangan Willy yang tidak segera bergegas.
"Kau duluan saja keluar, aku mau berpamitan dulu dengan isteriku." sahut Willy.
"Oh, maafkan aku. Aku lupa, kalau kau harus berpamitan dengan isterimu dulu," kekeh Rosalia merasa konyol.
"Willy, kau jangan kelewatan mengganggu dokter Rosalia, kasihan dia. Bukankah dia sahabatmu?" tegur Hanaria menasehati suaminya yang kadang berlebihan bila bercanda dengan sahabatnya itu.
"Justru karena kami sahabat, guyonan seperti tadi hal yang biasa saja Hana. Lagi pula, Rosalia sebenarnya juga menyukai kak Billy sejak lama," ucap Willy membuka rahasia.
"Benarkah?" Hanaria merasa kaget. Tapi dirinya senang bila keduanya berjodoh. Ia merasa dokter kandungannya itu wanita yang sangat baik selama ia mengenalnya.
"Sepertinya mereka memang cocok. Apa kak Billy tahu?" tanya Hanaria penasaran, ia sangat berharap keduanya benar-benar memiliki hubungan yang bukan hanya sebagai seorang sahabat.
"Sepertinya tidak." Duga Willy sembari mengangkat kedua alis dan bahunya berbarengan.
__ADS_1
"Kak Billy bahkan ingin melamar seorang gadis, itu sebabnya ia rajin menabung." ucapnya, mengingat pembicaraannya dengan ayahnya waktu itu.
"Melamar seorang gadis?" Hanaria nampak berfikir sejenak.
"Jangan-jangan uang yang masuk ke rekening perusahaan Mega Otomotif beberapa hari lalu itu sebagiannya adalah tabungan milik kak Billy untuk melamar gadis pujaan hatinya?" Hanaria ingat ia sempat melihat nama Billy Agatsa dalam daftar uang yang masuk guna membeli saham para petinggi di perusahaannya.
"Mungkin," sahut Willy sambil mengedikkan kedua bahunya lagi.
"Dan jangan-jangan gadis itu adalah dokter Rosalia, Willy," ucap Hanaria menduga dengan raut sedikit tegang.
"Tapi bila mereka belum punya hubungan, lalu siapa yang memberi cap pada leher kak Billy itu?" Hanaria kembali bingung, mengingat dirinya pernah beberapa kali melihat noda kissmark pada leher kakak iparnya itu.
Willy menatap Hanaria, "Entahlah, yang jelas itu bukan Rosalia, Hana. Aku tahu persis, Rosalia tidak mungkin melakukannya, apalagi mereka saat ini tidak memiliki hubungan asmara," tandas Willy.
"Yah, untung saja aku cepat meminjam uang kak Billy, aku juga tidak mau kalau kakakku itu sampai melamar seorang gadis yang tidak jelas." ungkap Willy yang benar-benar tidak tahu siapa wanita yang akan dilamar oleh kakaknya itu.
"Lebih baik dia melamar Rosalia saja, aku pasti mendukungnya. Baiklah, nanti kita sambung lagi. Beristirahatlah dulu, aku akan segera kembali. Kasihan Rosalia lama menungguku diluar. Aku ingin tahu apa yang ingin ia katakan padaku." Willy membenarkan selimut Hanaria lalu mencium lembut kening isterinya itu.
Setelah melihat senyuman diwajah isterinya, Willy bangkit dan bergegas keluar untuk menemui Rosalia.
Bersambung...👉
__ADS_1