HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
205. Buah Ceri


__ADS_3

"Ternyata kehamilan nona Hana sudah memasuki usia tujuh minggu," kata dokter Rosalia dengan senyum mengembang sambil menatap layar monitor dihadapan mereka memulai penjelasannya.


Willy menggenggam telapak tangan Hanaria erat, menyalurkan rasa bahagia dihatinya sambil memperhatikan layar monitor didepan mereka tanpa berkedip, demikian pula dengan Hanaria, keduanya seolah tidak mau melewatkan sedikitpun informasi tentang calon buah hati mereka yang sudah ada didalam rahim Hanaria.


"Memasuki usia kehamilan tujuh minggu ini, ukuran janin masih sangat mungil, kira-kira sebesar buah ceri," lanjut dokter Rosalia mengibaratkan.


"Kecil sekali," celetuk Willy masih menatap serius layar monitor dihadapan mereka. Hanaria hanya melirik wajah suaminya sebentar lalu kembali menatap pada layar monitor yang menampilkan bayi mereka yang memang masih teramat sangat kecil itu.


Dokter Rosalia mendesah, membuang napasnya kasar, menatap Willy gemas, karena sudah membuyarkan konsentrasinya yang akan menjelaskan lebih lanjut.


"Namanya juga baru tujuh minggu tuan WILLY MORANNO AGATSA, jelas saja masih sangat kecil, kecuali kalau tujuh bulan, bayi itu pasti sudah bisa mendelikan matanya melihat ayahnya yang tidak sabaran," ucap dokter Rosalia menatap tajam pada sahabat mulai bayinya itu.


Perkataan Willy memang sering membuatnya emosi sejak dulu, tapi anehnya dirinya masih saja betah bersahabat dengan pria tampan yang dianggapnya suka mengisengi dirinya itu.


Willy terkekeh tanpa beban mendengar ucapan dokter Rosalia dan penyebutan namanya secara lengkap penuh penekanan, ia sudah sangat hapal, bila sudah demikian, sahabatnya itu pasti sedang kesal padanya.


"Iya, aku lupa. Kalau bayi didalam rahim perlu proses pertumbuhan dan perkembangan hingga beberapa bulan, setelah itu baru siap dilahirkan," ujar Willy lagi masih dengan mode terkekeh.


"Semoga saja nona Hana selalu dianugerahi kesabaran yang tidak ada batasnya, karena memiliki suami seperti tuan Willy," kata dokter Rosalia berusaha mengontrol emosinya.

__ADS_1


Hanaria hanya ikut tertawa kecil menanggapi ucapan dokter Rosalia dan keusilan Willy mengganggu pekerjaan sahabatnya itu. Perlahan ia mulai terbiasa melihat keusilan Willy pada semua orang-orang terdekatnya. Bagi Hanaria, itu menjadi hiburan yang tanpa sadar ia tunggu-tunggu, karena membuatnya semakin bersyukur memiliki suami seperti Willy.


"Apakah kita bisa melanjutkannya lagi, atau stop sampai di buah ceri saja?" ancam dokter Rosalia menatap Willy yang belum menghentikan tawanya.


"Oke, oke. Kita lanjutkan lagi, maafkan aku." Willy berusaha menutup mulutnya untuk mengentikan tawanya melihat raut kesal dokter Rosalia.


"Jangan biarkan aku penasaran pada si buah ceri kecil itu," kata Willy yang masih merasa geli pada dokter Rosalia yang mudah marah pada setiap ucapannya.


"Aku heran, bagaimana ada seorang dokter kandungan seperti dia. Pemarah dan tidak sabar," bisik Willy ditelinga Hanaria sambil melirik wajah dokter Rosalia yang masih menatapnya tajam.


"Sudah, dan diamlah, nanti dokter Rosalia mendengarmu," tegur Hanaria ikut berbisik pada suaminya.


"Di usia tujuh minggu ini, bayi nona Hana dan tuan Willy sedang berjuang untuk beradaptasi dengan kehidupan di dalam rahim. Dalam minggu ini, ari-ari yang menghubungkan ibu dengan sang bayi selama kehamilan sudah terbentuk," kata dokter Rosalie melanjutkan penjelasannya sambil menunjuk menggunakan sinar merah pada layar monitor.


Willy sudah tidak tertawa lagi, ia dan Hanaria sudah kembali serius memperhatikan layar monitor dihadapan mereka dan menyimak kata demi kata yang dijelaskan oleh dokter Rosalia.


"Ari-ari inilah yang akan menyediakan oksigen dan nutrisi serta pembuangan kotoran untuk bayi. Tidak hanya itu saja, jantung dan hati janin juga berkembang menjadi semakin kompleks dan sepasang ginjal permanennya sedang berkembang. Pada minggu ini, sumsum tulang janin belum terbentuk, sehingga organ hati lah yang akan memproduksi sel darah merah dalam jumlah besar." jelas dokter Rosalia secara detail.


" Untuk nona Hana, mulai sekarang harus rajin mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat," kata dokter Rosalia menatap kearah Hanaria.

__ADS_1


"Apa gunanya Dok?" tanya Willy tanpa bermaksud mengusili sahabatnya itu, namun tetap saja dokter Rosalia mendesah kesal melihat wajah Willy seolah ingin mengusilinya.


Namun ia cepat mengenyahkan perasaannya itu mengingat tugasnya sebagai dokter kandungan yang wajib memberi penjelasan pada pasien maupun suaminya sebagai pembelajaran dan pengetahuan supaya pasangan suami isteri bisa saling berkerja sama pada masa-masa kehamilan sang isteri.


"Pada usia tujuh minggu ini, perkembangan yang dialami janin ada banyak sekali. Salah satunya terjadi pada bagian otak. Otak janin berkembang dengan kecepatan luar biasa di minggu ini dan menghasilkan sel-sel baru setiap menitnya. Janin juga sedang mengalami pembentukan gigi, langit-langit mulut, dan sendi. Disitulah asam folat sangat dibutuhkan bayi." kata dokter Rosalia.


"Asam folat bisa didapatkan dari makanan, suplemen maupun susu kehamilan. Dan sepertinya, tuan Willy waktu dalam kandungan kelebihan asam folat," ujar dokter Rosalia sambil tersenyum, mengingat keisengan yang sering dilakukan oleh sahabatnya itu padanya.


Willy hanya memasang wajah cengir-nya, ia tahu bila sahabatnya itu sedang membalasnya. Sementara Hanaria yang turut mendengar kembali tersenyum ditempat dirinya berbaring.


"Sekarang adalah saatnya bagi nona Hana untuk mengenakan pakaian yang sedikit longgar. Karena perut Nona akan membesar, sehingga pakaian yang biasanya Nona pakai akan mulai terasa sempit dan tidak nyaman bagi Nona," lanjut dokter Rosalia lagi.


"Kau dengarkan Hana, tidak boleh berpakaian ketat dan seksi lagi," ujar Willy cepat.


"Kapan aku mengenakan pakaian ketat dan seksi?" tanya Hanaria bingung, karena setiap pergi berkerja ia selalu menggunakan pakaian kerja sesuai standar kesopanan.


"Waktu itu, saat pertama kali kita membuat bayi ini, kau datang-" Hanaria langsung membekap mulut Willy hingga tidak bisa melanjutkan kata-katanya yang akan membuat dirinya malu pada dokter Rosalia.


"Sudah, diam! Aku mengerti," ucap Hanaria dengan wajah memerah.

__ADS_1


Bersambung... 👉


__ADS_2