
Willy memperhatikan asisten David yang meraih barang-barangnya satu persatu dari atas meja yang ada dihadapan keluarga besarnya. Ia tidak ingin berkomentar apapun dulu, mengingat keluarga besarnya hadir di rumah sakit karena turut berbahagia menyambut kelahiran dua putra kembarnya.
Setelah berpamitan dengan keluarga besar sang nona Majikannya, asisten David bergegas menuju parkiran tetap diantar oleh Willy.
Pria yang notabenenya lebih tua dari Willy itu tentu saja merasa sedikit risih, ini kali pertama baginya diperlakukan istimewa, karena diantar oleh seorang suami sang majikan.
Tapi hal itu tidak lantas membuat asisten David besar kepala, tentu ada sesuatu yang membuat suami majikannya melakukan itu.
"Terima kasih banyak Tuan, Anda sudah repot-repot mengantar saya hingga kemari." Asisten David membungkuk hormat sebelum membuka pintu mobil penumpang bagian depan untuk memasukan barang-barang bawaannya.
"Hanya melihat dari semua peralatan kerja yang kau bawa ini, aku yakin bila ada laporan penting sebenarnya yang ingin kau sampaikan pada isteriku. Bukankah begitu asisten David?" todong Willy tanpa menjawab ucapan asisten David sebelumnya, mengemukakan tujuannya mengantar pria itu.
__ADS_1
Asisten David tidak langsung menjawab, Willy dapat melihat ada keraguan dari air muka pria itu, membuatnya semakin yakin bila memang ada sesuatu yang tidak beres.
"Saat anak pertama kami lahir, isteri saya tidak memiliki ASI yang cukup untuk diberikan pada bayi perempuan kami itu." asisten David menatap kosong kedepan.
"Perekonomian kami yang cukup sulit saat itu, membuat isteri saya turut berfikir untuk mencari jalan keluar hingga ia harus turun tangan berkerja membantu menambah pemasukan. Alhasil, bayi kami yang tidak mendapatkan asupan ASI yang cukup dari ibunya hingga sering sakit-sakitan, membuat tumbuh kembangnya terganggu. Di bandingkan adik-adiknya, anak pertama kami itu sampai sekarang harus mendapat perlakuan yang lebih istimewa dari kami selaku orang tuanya."
Willy lumayan ngeri mendengarnya. Ia berharap apa yang di alami anak pertama asisten David itu jangan sampai menimpa anak-anaknya.
"Itu sebabnya saya tidak keberatan saat paman Tuan meminta saya meninggalkan semua benda-benda ini diatas meja tadi, karena ucapan nenek Tuan, nyonya Agatsa, mengingatkan saya pada masa lalu kami." sambung asisten David menyiratkan kesedihannya.
"Terima kasih atas kepedulianmu pada isteri dan anak-anakku asisten David." Willy menepuk pelan punggung asisten pribadi isterinya itu.
__ADS_1
"Untuk saat ini, Hanaria memang harus beristirahat total, bebas dari segala hiruk-pikuk permasalahan pekerjaan, karena masih dalam masa pemulihan paska persalinannya, juga menjaga asupan ASI untuk kedua bayi kembar kami itu, tentu itu tidak mudah baginya," terang Willy. Ia kembali menatap lekat asisten David yang berdiri dihadapannya.
"Aku memang bukan majikanmu, tapi kau bisa bicara denganku untuk saat ini. Aku merasa ada yang tidak beres sedang terjadi pada perusahaan yang dipegang isteriku itu."
"Kalau tidak, mana mungkin kau akan membawa semua benda-benda itu kerumah sakit bila hanya berniat menjenguk Nona majikanmu itu," Willy menunjuk beberapa berkas, tas laptop yang tersampir pada punggung beserta ponsel dan tablet yang dibawa pria itu.
Asisten David kembali terdiam, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu, sampai akhirrnya ia memutuskan untuk membukanya saja.
"Bila tuan Willy tidak keberatan, ikutlah dengan saya masuk kedalam mobil, saya akan tunjukan apa yang memang ingin saya laporkan pada nona Hanaria."
Setelah berkata demikian, asisten David bergerak menuju pintu kabin tengah mobilnya lalu segera masuk kesana dan diikuti oleh Willy.
__ADS_1
"Dengan menyampaikan laporan penting ini, semoga saja saya sudah bisa tidur, " ucap asisten David bersemangat membuka laptopnya.
Bersambung...👉