
"Dokter Rosalie, apa yang telah terjadi pada putrimu Rosalia?" nyonya Agatsa menyesap tehnya dengan gayanya yang elegan, tatapannya mengarah lurus pada Rosalie yang duduk berhadapan tepat didepannya.
Suasana minum teh yang seharusnya terasa santai sore itu tapi bagi Rosalie terasa begitu canggung. Ia melirik Moranno dan juga Yurina sebelum dirinya menjawab pertanyaan nyonya Agatsa.
"Rosalia--, putriku itu baik-baik saja," Rosalie meletakan cangkir tehnya yang baru ia reguk isinya.
"Aku tahu kau berbohong," nyonya Agatsa menarik sedikit senyum diujung bibirnya. "Tidak mungkin gadis yang sudah menjadi seorang dokter akan menangis begitu saja kalau tidak ada penyebabnya."
Rosalie hanya menatapnya kaku, dari raut wanita tua yang masih enerjik itu menunjukan bahwa ia tahu sesuatu, bahkan mungkin lebih banyak dari yang bisa Rosalie tafsir.
Namun Rosalie tetap berpendirian, masalah keluarga tidak akan pernah ia umbar keluar, kalaupun orang luar sampai mengetahuinya entah dengan cara yang bagaimana asal saja bukan dari mulutnya.
"Putrimu terdidik dengan sangat baik, baik olehmu maupun oleh ayahnya, dia bukan gadis manja dan cengeng. Jadi bila ia sampai menangis datang kemari tentu ada yang serius terjadi," nyonya Agatsa melanjutkan ucapannya.
Rosalie kembali terdiam. Putrinya memang sangat kesal saat berbicara ditelepon pada dirinya dan suaminya siang tadi, namun ia tidak menduga bila putrinya bisa sampai menangis datang kekeluarga ini. Ada rasa perih saat mendengar hal itu, ternyata putri mereka lebih merasa nyaman dengan keluarga Agatsa dibandingkan keluarganya sendiri.
"Maafkan kami, juga putri kami, bila sudah merepotkan keluarga Anda disini Nyonya," hanya itu yang bisa dikatakan Rosalie, situasi itu memang membuatnya merasa sangat canggung dan tidak nyaman.
"Jangan bilang begitu Dokter, Rosalia sudah seperti putri rumah ini dalam keluarga kami, dia besar bersama Billy dan Willy, dan mereka sering menghabiskan waktu bersama." Yurina berusaha membuat suasana canggung itu supaya lebih santai.
__ADS_1
"Iya itu benar Rosalie, jadi kau tak perlu sungkan, bukankah Rosalia memang sudah dekat dengan kami sejak dulu," Moranno ikut bersuara menatap santai pada sahabatnya itu.
"Rasanya, aku jadi merindukan saat-saat dimana anak-anak kita masih kecil dulu, " Yurina menatap jauh kedepan, senyumnya terkembang mengingat masa lalu.
"Dan sekarang, mereka semua sudah dewasa. Dan Willy sudah mendahului kakaknya, menikah dan memiliki dua bayi kembar," ucap Yurina masih tersenyum lembut
"Dan tugas kalian berdua sebagai orang tuanya adalah mencari pasangan buat Billy," nyonya Agatsa cepat menimpali.
"Mom, biarkan Billy menemukan pasangannya sendiri," Moranno terlihat keberatan dengan ucapan ibunya.
"Mommy benar Sayang, empat tahun lagi Billy sudah berusia 30 tahun, sedangkan anak itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia tidak sempat memikirkan untuk berkeluarga."
"Aku fikir, kita bisa memikirkan Stefhany, sahabat Edrine yang pernah magang di perusahaan kita. Gadis itu cantik, pintar, dan berasal dari keluarga baik-baik juga." sambung Yurina pada Moranno.
"Mommy ingin melihatnya, suruh Edrine mengajak gadis itu dari Singapura kemari akhir pekan ini," titah nyonya Agatsa melirik sekilas pada Rosalie.
"Uhuk! Uhuk!" Rosalie yang sedari tadi hanya mendengarkan tiba-tiba saja tersedak dan menyemburkan teh yang sedang ia minum dari mulutnya hingga mengenai sedikit wajah nyonya Agatsa yang duduk persis dihadapannya.
"Dokter, Anda tidak apa-apa?" Yurina kaget, ia buru-buru menuangkan air putih dan memberikannya pada Rosalie.
__ADS_1
"Rosalie, hati-hati," Moranno ikut khawatir, laki-laki itu segera menggeser kotak tisue kehadapan Rosalie.
"T-tidak, saya baik-baik saja, terima kasih" ucapnya melihat kearah Yurina dan Moranno setelah meneguk air putih yang diberikan Yurina padanya.
"M-maafkan saya Nyonya," ucap Rosalie merasa tak nyaman dan merutuki kecerobohannya. Dokter kandungan itu berusaha mendekati untuk membersihkan wajah wanita tua itu.
"Tidak masalah," nyonya Agatsa mengusap wajahnya sendiri menggunakan beberapa lembar tisue.
"Tapi Nyonya--,"
"Sudahlah, tidak apa-apa," ucap nyonya Agatsa lagi, ia masih mengusap wajahnya, membersihkan sisa-sisa air semburan yang ada dibeberapa bagian wajahnya.
"Sekali lagi, mohon maafkan saya yang sangat ceroboh ini," ulang Rosalie lagi masih dengan rasa bersalahnya walau nyonya besar rumah itu sudah memakluminya. Ia dapat merasakan ada banyak perubahan pada wanita terhormat dihadapannya itu.
Rosalie tahu benar, andai saja kecerobohan yang ia lakukan itu dimasa lalu, jangan harap dirinya akan selamat dari caci maki dan hinaan bahkan bisa jadi lebih dari itu, batinnya.
"Sebaiknya kita masuk dulu, hari sudah mulai gelap. Kita lanjutkan obrolan kita dimeja makan," nyonya Agatsa bangkit dari duduknya.
"Ayo dokter kita masuk," ajak Yurina sambil meraih tangan Rosalie untuk mengikuti ibu mertuanya yang berjalan lebih dulu dari mereka.
__ADS_1
Bersambung...👉