
Pagi itu, Willy memaksa untuk mengantarkan Hanaria pada hari pertama isterinya itu berkerja, walaupun Hanaria sudah melarangnya.
"Pasang sabuk pengamanmu," ucap Willy. Hanaria hanya menurut tidak banyak membantah.
"Hana, bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku sebelum kita berangkat? kata Willy, ketika ia mengingat rasa penasarannya yang ia simpan sedari kemarin.
"Menjelaskan sesuatu? Memangnya apa sesuatu itu?" tanya Hanaria mengulang perkataan Willy, tangannya sibuk memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Untuk keperluan apa kau meminta ayah mengirimi-mu dana dalam jumlah besar Hana? Apakah kau memintanya?" tanya Willy tanpa basa-basi sembari menatap lekat wajah Hanaria yang duduk disebelahnya.
"Itu-, dari mana kau bisa tahu kalau ayah mengirimi aku uang?" Hanaria tampak terkejut, ia tidak menyangka Willy mengetahuinya, padahal ia sudah berusaha menyembunyikannya dari suaminya itu.
"Dari sumber yang terpercaya." sahut Willy masih menatap lekat wajah Hanaria yang terlihat kikuk dan gugup ditempat duduknya.
"Katakan dengan jujur Hana, untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Willy, Hanaria masih terdiam. Willy meraih ponselnya, setelah beberapa detik ia mengetuk dan mengusap ponselnya untuk menemukan apa yang ia cari, Willy lalu memberikan ponselnya pada Hanaria yang menatapnya penuh tanda tanya.
Tangan Hanaria terlihat sedikit gemetar, ketika melihat apa yang tertera dilayar ponsel Willy, semua transaksi yang ia lakukan kemarin terlapor jelas disana secara detail.
"B-bagaimana kau bisa mengakses setiap transaksi direkeningku hingga sedetail ini Willy?" tanya Hanaria gugup sehingga suaranya terdengar sedikit bergetar, sambil menatap layar ponsel Willy.
"Semua yang berkaitan tentangmu sudah ada dalam genggamanku, termasuk tentang rekeningmu yang telahku daftarkan dalam sistem keluarga Agatsa, itu tidak sulit bagiku."
"Sama seperti semua transaksi yang aku lakukan pada rekeningku akan terlapor secara detail ponselmu, demikian pula sebalilnya, semua transaksi yang kau lakukan akan ada notifikasinya masuk dalam ponselku," jelas Willy dengan lugas.
__ADS_1
"Apa itu artinya, aku sebagai isterimu tidak memiliki privasi?" kata Hanaria setelah mendengar penjelasan singkat dari suaminya itu.
"Hana, privasi apa yang kau inginkan dalam hubungan suami isteri kita ini, hmm?" tanya Willy lirih, ia masih menatap wajah Hanaria yang duduk disampingnya. Hanaria terdiam ia belum bisa mengatakan apa-apa, takut salah bicara.
"Hana, aku tidak main-main dalam pernikahan kita. Aku ingin kita berjalan bersama, tidak berjalan sendiri-sendiri, tidak ada rahasia ataupun masalah yang ditutupi dengan alasan apapun," tegas Willy.
"Kita berdua bukan lagi dua Hana, tapi satu. Menanggung beban bersama, merasa sedih bersama, senang dan bahagia juga bersama, semuanya harus serba bersama," ungkap Willy sambil meraih tangan Hanaria yang masih memegang ponsel miliknya.
"Setelah ini, kembalikan uang yang telah ditransfer oleh rekening ayah ke rekeningmu kemarin. Kau adalah isteriku, dan telah menjadi tanggung jawabku, jadi semua keperluanmu, aku-lah yang harus memenuhinya, bukan ayahmu lagi Hana," kata Willy dengan wajah seriusnya.
"Tapi, uangnya sudah habis kutransfer ke rekening orang lain, dan kau juga sudah memeriksanya bukan?"
"Aku meminta sekretaris Morin menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk seorang anak kecil yang membutuhkannya, karena ia harus segera dioperasi. Jadi bagaimana caranya aku bisa mengembalikannya pada ayah," sahut Hanaria, ia tiba-tiba merasa pusing atas permintaan Willy, padahal suaminya itu tahu bila uang yang ia terima sudah habis ia transfer ke rekening sekretaris Morin dan rumah sakit.
"Gunakan saldo yang ada direkeningku, bukankah semuanya ada padamu?" sahut Willy enteng.
"Aku tahu Hana. Sebagai suamimu, aku malu kalau kau masih meminta pada ayahmu, aku harap kau mengerti," setelah berkata demikian, Willy melepaskan tangan Hanaria dari genggamannya, ia mulai menghidupkan mesin mobilnya, lalu menginjak gas dan menjalankan mobilnya dengan perlahan.
Ada perasaan malu dan bersalah begelayut dihati Hanaria, walapun Willy tidak menunjukan kemarahan padanya, namun sikap Willy cukup membuatnya menyadari kesalahannya.
"Maafkan aku Willy, aku salah, telah bertindak tanpa seijinmu," ucap Hanaria merasa bersalah, sambil melirik Willy yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Baiklah, aku memafkanmu Hana. Setelah menikah denganmu, aku tahu bahwa kau adalah wanita yang baik, selalu berusaha menolong orang lain,"
__ADS_1
"Bahkan kau berusaha melakukannya lebih dari apa yang mampu kau lakukan Hana. Seperti hari ini, kau mulai berkerja di perusahaan nyonya Mingguana karena Firlita. Mengorbankan dirimu, meninggalkan cita-citamu sebagai seorang arsitek."
"Lalu kau membayar sekretaris Morin untuk menjadi seorang pendonor sumsum tulang belakang, untuk sahabat kecilmu yang sakit. Dan perlu kau ketahui, apapun tindakan yang kau lakukan, aku sebagai suamimu akan turut menanggung akibatnya," Willy berusaha mempertegas posisi dirinya pada isterinya itu.
Hanaria hanya terdiam, ia mencerna semua ucapan yang ia dengar dari mulut Willy suaminya. Sebenarnya, sebagai wanita yang juga mengenyam pendidikan, dan sudah sering mendengarkan nasihat-nasihat orang tuanya, juga petuah-petuah penting dari para sesepuh Dusun, saat pernikahan yang dilakukan di Dusun-nya, Hanaria sudah tahu apa yang boleh ataupun tidak boleh dilakukannya sebagai seorang isteri.
Willy memelankan mobilnya, lalu membelokan kemudinya menuju pos jaga security. Ia menghentikan mobilnya, sambil membuka kaca jendela saat seorang security menghadang mobilnya dengan menggunakan tongkat ditangannya.
"Selamat pagi tuan, anda tidak diperkenankan masuk ke area perusahaan Mega Otomotif karena tidak mengantongi ijin masuk," kata seorang security bertubuh tegap dengan nada tegas.
Hanaria membuka mulutnya hendak membantu memberi penjelasan, namun Willy menyentuh lengan isterinya itu supaya tidak ikut bicara.
"Beginikah caranya petugas keamanan nyonya Mingguana menyambut pegawai baru yang masuk berkerja dihari pertamanya?" kata Willy dengan senyum sinisnya menatap tajam wajah sang security.
"Saya hanya menjalankan tugas tuan. Setiap plat mobil yang tidak terdaftar dilarang masuk tanpa ijin oleh manajemen perusahaan," sahut security itu lagi masih bernada tegas.
"Hana, telepon nyonya pemilik perusahaan otormotif ini, biarkan aku yang berbicara padanya," kata Willy sengaja didengar pleh sang security itu. Sementara belasan mobil berbaris panjang dibelakang mobil Willy yang masih ditahan masuk.
Hanaria segera melakukan apa yang dikatakan Willy padanya, setelah terdengar nada sambungan ia segera menyerahkan ponselnya pada Willy.
"Hallo nona Hanaria, aku harap kau tidak lupa bahwa hari ini adalah hari pertamamu berkerja diperusahaanku," terdengar suara wanita dari seberang sambungan telepon. Willy melirik sekilas wajah security yang langsung memucat mendengar suara majikannya.
"Tentu saja ingat nyonya Mingguana yang terhormat," sahut Willy datar.
__ADS_1
"Tuan muda Willy? Maaf, saya fikir nona Hana yang menelpon saya," ungkap suara wanita itu setelah mendengar suara Willy yang menjawab perkataannya.
"Nyonya Mingguana, saya terbiasa masuk keperusahaan saya dengan bebas hambatan. Terus terang saya merasa tidak nyaman dengan situasi perusahaan Anda nyonya, sebaiknya isteri saya tidak perlu berkerja diperusahaan yang tidak mengutamakan kenyamanan bagi para pegawainya," ucap Willy datar dan penuh penekanan.