
Hanaria, Ibu Muri, dan Jonly kembali masuk keruang tamu setelah menidurkan bayi Mizha dan bayi Randi dikamar Hanaria.
Segala pernak - pernik hantaran menurut adat istiadat di Dusun kelahiran Hanaria, yang diberikan dari keluarga Willy sebagai bukti pria itu melamar Hanaria untuk menjadi isterinya telah diletakan dihadapan orang tua Hanaria, dan para tua - tua kampung.
"Apa ini tuan Moranno?" Tanya pak Muri, saat melihat beberapa orang suruhan Moranno mengangkat beberapa koper berbagai macam warna memasuki rumah dan menaruhnya dihadapan semua orang banyak, disisi hantaran - hantaran yang ada. Bagi mereka tidak pernah ada hal yang seperti itu dalam hantaran lamaran di Dusun mereka.
"Itu...... " Moranno sempat bingung sesaat untuk mengatakan yang sebenarnya, ia menatap kearah Hanaria yang tertunduk menatap lantai dihadapannya, lalu beralih pada Yurina isterinya yang duduk disebelahnya. Yurina hanya menganggukan kepalanya menatap wajah suaminya, ia percaya bila Moranno mampu berkata sesuai batasannya.
Sementara semua yang hadir terus menatap Moranno menanti kelanjutan kalimatnya.
"Itu..... hantaran tambahan pak Muri..." Lanjut Moranno sambil tersenyum dengan pembawaan tenangnya.
"Apakah saya boleh melihat isinya tuan?" Tanya pak Muri meminta ijin, sambil menatap calon besannya itu.
"Tentu saja boleh pak Muri....." Sahut Moranno mempersilahkan.
Pak Muri memajukan duduknya berapa inchi kedepan mendekati koper. Ia lalu membuka resleting salah satu koper yang memang sengaja tidak terkunci.
Begitu resleting terbuka, pak Muri langsung terperanjat melihat isi didalam coper, begitu pula ibu Muri dan para tua - tua kampung yang duduk dekat dengan pak Muri.
Pak Muri lalu membuka koper satunya lagi, isinya juga sama. Karena masih penasaran, pak Muri kembali membuka koper yang ketiga, juga isinya sama, gepokan lembaran ratusan ribu satu koper penuh.
Tangan pak Muri terlihat sedikit gemetar, ia menatap nanar wajah Moranno yang duduk berseberangan dengannya. Sementara Moranno masih bersikap tenang, ia sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
"Apa semua koper - koper lainnya itu isinya juga sama tuan Moranno?" Tanya pak Muri menatap puluhan koper yang sudah tersusun rapi sehingga membuat penuh sesak.
"Iya pak Muri....." Sahut Moranno hati - hati.
"Apa maksud anda tuan Moranno....?" Suara pak Muri sedikit bergetar, suasana nampak hening dan tegang.
__ADS_1
Penerangan lampu dari saluran mesin genset yang sengaja digunakan diacara lamaran malam itu sangat jelas memperlihatkan wajah - wajah tegang semua keluarga dari kedua belah pihak calon pengantin, juga para pengurus dan tua- tua kampung yang turut hadir diacara itu.
Sementara Hanaria yang duduk didekat ibunya, hatinya sudah berdebar - debar, perasaannya sudah kacau balau tidak menentu, moment yang ia takutkan ini akhirnya tiba. Ia hanya bisa pasrah, terjadilah saja sesuai berjalannya sang waktu, batinya.
"Saya tidak berniat menjual putri kesayangan saya Hanaria tuan Moranno........" Ungkap tuan Muri melanjutkan kalimatnya yang sempat tertahan sebelumnya.
"Maafkan kami pak Muri..... Mohon jangan salah faham dulu, kami bisa jelaskan mengapa kami sampai melakukan hal ini." Moranno berusaha meluruskan, ia sudah bisa menangkap apa yang sedang pak Muri fikirkan.
Mendengar dialog ayahnya dan Moranno, Hanaria semakin merasa takut. Tangannya saling bertautan satu sama lain, berusaha menghilangkan rasa gemetar yang diakibatkan oleh rasa takut yang tiba - tiba saja menjalar keseluruh tubuhnya.
"Willy.... tugasmu memberi penjelasan....." Bisik Moranno pada Willy yang duduk disebelahnya.
"Kok Willy lagi dad..... Ini semua maunya daddy dan mommy kan?" Sahut Willy ikut berbisik pada ayahnya.
"Daddy tidak mau tahu, ini tugasmu Willy..... Yang akan menikah itu dirimu bukan daddy....... Apakah kau mengerti......?" Ucap Moranno penuh tekanan pada putra keduanya itu.
Willy merasa gemas pada ayahnya itu. Saat mengambil keputusan, ayahnya yang selalu lebih dominan, giliran masalah rumit seperti sekarang ini selalu dirinya lah yang dipaksa maju.
Ia menatap sesaat kearah Hanaria yang menjadi sumber ketegangan ini, gadis itu masih tertunduk ditempat ia duduk sambil meremas tangannya sendiri.
Setelahnya, Willy berpaling dari Hanaria, dan memandang kearah pak Muri yang masih menunggu penjelasan dari pihak keluarganya.
"Selama dua minggu lalu, saya berada di Dusun ini. Dan hampir satu minggu lebih saya ikut bapak dan ibu menanam padi disawah.' Ucap Willy mulai membuka suaranya. Semua yang hadir turut memperhatikan.
"Lihatlah...... tidak sampai dua minggu saya turun kesawah, kulit saya sudah berubah lebih gelap dan kering....." Ucap Willy tertawa kecil berusaha mencairkan suasana, membuat semua yang hadir langsung terkekeh, termasuk pak Muri dan ibu Muri. Hanya Hanaria saja yang masih diliputi rasa tegang, karena dirinya tahu pasti, begitu Willy menyebutkan namanya yang meminta uang sebanyak itu, ia pasti akan menerima amarah dari kedua orang tuanya.
"Kau benar nak Willy....... Apalagi kami yang sudah berpuluh - puluh tahun menjadi para petani di Dusun ini." Sahut pak kepala Dusun ikut menimpali sambil masih terkekeh, ia pun menyaksikan bagaimana Willy begitu rajin mengikuti kedua calon mertuanya itu turun kesawah. Akhirnya, suasana sudah tidak setegang seperti sebelumnya.
"Selama ikut menanam padi, saya sering membuat bapak dan ibu harus membenarkan hasil pekerjaan saya menanam benih padi yang banyak miring dan tidak jarang rebah karena kurang dalam." Lanjut Willy tenang dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Tapi sekarang nak Willy sudah lebih pandai menanam padi, sehingga pekerjaan kami sangat terbantu dengan adanya nak Willy, sehingga cepat selesai." Puji Ibu Muri tulus. Pihak keluarga Agatsa tersenyum mendengar ucapan ibu Muri, sambil menatap kearah Willy.
"Ya.... itu semua berkat kesabaran dari bapak dan ibu mengajari saya." Ujar Willy merendah.
"Pekerjaan menjadi petani disawah terlihat mudah, tapi sangat sulit dilakoni oleh saya. Menurut bapak dan ibu juga para warga yang sempat saya tanya, dalam satu tahun, panen bisa dilakukan 2 sampai 3 kali, itupun kalau terpelihara dengan baik dan dapat mengatasi hama yang ada. Kalau tidak, panen bisa - bisa gagal." Ucap Willy mengungkapkan pengalamannya yang berada kurang lebih dua minggu selama berada di Dusun Rimba itu.
"Dari pekerjaan membuat sawah inilah keluarga pak Muri mencari nafkah termasuk memberikan pendidikan pada putra putinya, yaitu kak Jonly dan nona Hanaria. Itu yang saya dengar dari bapak dan ibu selama kami bersama saat berada disawah sambil menanam padi."
"Saya bertemu dengan nona Hanaria, saat kami berdua sudah sama - sama dewasa. Dan saya memutuskan untuk menikahinya. Mengambilnya sebagai isteri saya tanpa pernah berlelah - lehah merawat, membesarkan, dan memberikan pendidikan." Ungkap Willy, hatinya mendadak bergetar saat mengatakan hal itu.
"Saya sangat berterima kasih pada bapak dan ibu yang sudah membesarkan, dan memberikan pendidikan yang layak dan terbaik pada nona Hanaria sampai menjual banyak tanahnya, sehingga tinggal sebidang tanah untuk bersawah itu saja,"
"Mungkin, bapak dan ibu akan berkata bahwa..... itu memang adalah tugas kami sebagai orang tua."
"Tapi sebagai seorang laki - laki, saya tidak mungkin mengambil begitu saja, anak gadis dari kedua orang tuanya yang telah berjerih lelah menyiapkan putrinya menjadi isteri saya tanpa memberikan penghargaan sebagai rasa terima kasih saya."
"Saya mohon...... bapak dan ibu mau menerima rasa penghargaan saya ini. Ini tidak sebanding dengan semua kasih sayang dan seluruh harta benda milik bapak dan ibu yang telah dihabiskan demi menjadikan nona Hanaria seperti sekarang ini." Ungkap Willy sambil merundukkan tubuhnya dihadapan kedua calon mertuanya itu.
Pak Muri dan Ibu Muri saling berpandangan, mereka tidak menyangka bila Willy selama ini begitu menyimak setiap kisah yang mereka ceritakan padanya. Rasa haru meliputi hati kedua orang tua Hanaria itu, bagaimana tidak, calon menantu mereka terlalu memberi penghargaan yang teramat tinggi pada putri kesayangan mereka.
Tidak jauh berbeda dengan para pengurus kampung dan para tetua, setelah mendengar penuturan Willy, merekapun ikut terharu, sungguh bijak pemikiran pemuda itu, fikir mereka.
Para pengurus dan tetua kampung itu jadi terinsfirasi oleh perkataan Willy, bahwa mereka pun harus mempersiapkan putra - putri mereka, seperti halnya pak Muri dan ibu Muri, sehingga orang yang akan menikahi putra - putri mereka pun tidak merasa kecewa karena putra - putri yang akan menikah, benar - benar siap untuk menikah.
Sering kali yang terjadi dalam masyarakat, pasangan muda - mudi banyak yang tidak siap memasuki rumah tangga yang baru.
Hanaria tiba - tiba merasakan perasaan yang berbeda pada Willy. Selama ini ia memandang Willy sebagai bos yang harus dituruti semua perintahnya dan sukanya menang sendiri. Perasaan itu kini mulai terkikis setelah mendengar semua penuturan Willy yang seolah - olah memberi pembelaan pada dirinya sehingga ia merasa terbebas dari rasa khawatirnya akan amarah kedua orang tuanya.
Moranno menepuk - nepuk punggung Willy putranya, demikian pula dengan Yurina. Mereka senang, dua minggu berada di Dusun Rimba membuat Willy menjadi lebih bijak dari sebelumnya.
__ADS_1
...***...