
Ting! Tong!
Lift pegawai terbuka, Hanaria melangkah keluar dan melintas dengan santai didepan meja sekretaris Morin sambil membawa tentengan ditangannya menuju ruang kerja Willy.
"Selamat siang nona Hana," sapa sekretaris Morin dengan senyum liciknya, dengan posisi berdiri dibelakang mejanya.
"Selamat siang juga sekretaris Morin," sahut Hanaria, ia turut membalas senyuman sekretaris pribadi suaminya itu dengan tulus, sambil terus melangkah.
"Sebenarnya kantor ini tidak kekurangan makanan sampai nona Harus mengantarkan tuan muda Willy makan siang," ucap sekretaris Morin sambil melirik paper bag yang ditenteng Hanaria.
Spontan, Hanaria menghentikan langkahnya, tanpa berbalik ia memundurkan beberapa langkahnya hingga berdiri tepat didepan meja sekretaris Morin. Dengan gaya santainya sambil tersenyum manis penuh arti, Hanaria meletakkan peper bag yang ditentengnya diatas meja sekretaris Morin.
"Disni memang banyak makanan sekretaris Morin, tapi tuan muda sudah memiliki isteri yang akan selalu mengurus keperluannya, termasuk makan siangnya," ucap Hanaria masih dengan senyum manisnya.
"Sepertinya nona Hanaria , sang gadis dusun yang sudah naik kelas, sangat bangga bisa menjadi isteri dari tuan muda penerus Agatsa Group," timpal wanita itu dengan nada mengejek.
"Bukan bangga, tapi lebih tepatnya adalah bersyukur. Dan semuanya ini dapat terwujud berkat niat burukmu sekretaris Morin,," Hanaria balas menimpali, ia mulai tertawa kecil, membuat wajah sekretaris Morin sangat sebel melihatnya.
"Manusia boleh merancangkan kejahatan pada sesamanya, tapi Yang Maha Kuasa mampu mengubahnya menjadi suatu kebaikan, seperti yang telah terjadi padaku contohnya," kembali Hanaria memperlihatkan senyum manisnya sambil mengangkat kedua bahunya.
"Karena terlalu sibuk mempersiapkan diri untuk menikah dengan tuan muda, aku sampai lupa berterima kasih padamu sekretaris Morin. Maka dari itu, hari ini aku harus berterima kasih padamu, karena aku tidak ingin berhutang ucapan terima kasih," ucap Hanaria lagi dengan nada balas mengejek.
Sekretaris Morin bungkam, karena semua yang dikatakan Hanaria memang benar. Dari hasil perbuatan buruknya ia tidak mendapatkan satupun yang baik, malah Hanaria yang diuntungkan karena perbuatannya itu.
"Kalau aku boleh memberimu nasihat, berhentilah melakukan hal yang tidak benar, karena kau tidak akan mendapatkan satupun kebaikan dari padanya. Malah kau akan menuai sesuatu yang tidak kau harapkan," kata Hanaria dengan wajah berubah datar.
"Saya tidak perlu nasihat anda nona, lagi pula saya tetap baik-baik saja sampai hari ini," ketus sekretaris Morin.
"Terserah anda saja sekretaris Morin, saya juga tidak memaksa anda menerima nasihat saya," sahut Hanaria mengulas senyum tipisnya.
__ADS_1
"Dan jangan bilang anda sedang baik-baik saja, karena kasus penyebaran video itu belum selesai.Saya yakin, anda sudah mendapatkan surat panggilan mediasi sama seperti saya untuk dua hari lagi dikantor polisi."
"Jika pada pertemuan mediasi lusa saya menyatakan keberatan, dan meminta pihak kepolisian terus memproses tindak pidana yang telah anda lakukan itu, saya pastikan bahwa anda akan menjadi penghuni jeruji besi selama beberapa tahun kedepan," kata Hanaria disela-sela senyum tipisnya.
"Nona Hana mengancam saya?" Wajah sekretaris Morin nampak tidak senang, dan sedikit memucat.
"Ini bukan ancaman, dan anda tahu itu sekretaris Morin," sahut Hanaria lugas.
"Saya tahu anda tidak ingin tinggal dalam sangkar besi itu sekretaris Morin. Jadi, saya ada satu penawaran untuk anda?" kata Hanaria menatap lekat wajah sekretaris Morin yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Penawaran? Apa itu?" tanya sekretaris Morin sok acuh.
"Aku punya sahabat kecil, dia sedang sakit dan perlu pendonor sumsum tulang belakang. Bila kau bersedia menjadi pendonornya, datanglah kerumah sakit Pemerintah, beremu dengan dokter Domianus. Jika hasil pemeriksaan dokter menyatakan sumsum tulang belakangmu cocok, aku akan memberikanmu imbalan satu M," jelas Hanaria.
"Semua keputusan ada ditanganmu sekretaris Morin. Kalau penawaranku kau terima, maka aku kan memberikan kesaksian yang akan meringankanmu dikantor polisi lusa, bahkan aku bisa membebaskanmu dari jerat hukum." kata Hanaria.
"Dan sahabat kecilku itu, kau pasti mengenalnya dengan sangat baik. Namanya Lania," kata Hanaria setengah berbisik, sambil memajukan sedikit wajahnya kearah sekretaris Morin yang berdiri kaku ditempatnya.
Sekretaris Morin masih terpaku berdiri dibelakang mejanya. Ia berusaha bersikap tenang memandang kepergian Hanaria yang meninggalkan mejanya. Namun didalam hatinya terasa sangat bergemuruh.
"Bagaimana mungkin wanita itu bisa tahu rahasia yang aku simpan dengan sangat rapi selama ini," gumanya, ia mendudukkan tubuhnya dengan lemas dikursi kerjanya.
...***...
"Kau sudah datang Hana?" kata Willy dari belakang mejanya, saat melihat Hanaria muncul dari balik pintu kerjanya. Ia berdiri, dan mendekati Hanaria yang berjalan menuju sofa.
"Aku menunggumu Hana, kau terlalu lama. Aku sangat lapar," ungkap Willy berlebihan sembari mengambil duduk merapat pada Hanaria yang sedang mengeluarkan kotak-kotak makanan dari paper bag dan meletakkannya diatas meja.
"Maafkan aku ya, tadi ada sedikit urusan," sahut Hanaria. Ia membuka penutup kotak makanan dan meletakaknnya dihadapan suaminya itu.
__ADS_1
"Urusan? Urusan apa?" tanya Willy menatap wajah Hanaria.
"Urusan wanita," sahut Hanaria singkat.
"Bergeserlah sedikit, bagaimana kita bisa makan kalau kau duduknya merapat seperti ini," kata Hanaria yang merasa tidak ada ruang baginya untuk bergerak.
"Aku sebenarnya mau memakanmu," ungkap Willy menatap Hanaria dengan pandangan tidak biasa, ia tidak mau bergeser sedikitpun dari posisi duduknya.
"Apa maksudmu mau memakanku?" Hanaria mulai waspada, ia melihat gelagat mencurigakan dari suaminya itu, belum sempat ia bangkit dari duduknya, Willy sudah merangkul dan mengunci tubuhnya dalam pelukannya.
"Willy, apa yang kau lakukan, ini waktunya kita makan siang," sergah Hanaria berusaha berontak.
"Diamlah, jadilah isteri yang penurut jangan selalu melawan pada suamimu, mengerti?" kata Willy, ia semakin kuat memeluk tubuh Hanaria dan berusaha menumbangkannya.
"Tapi ini masih siang Willy," Hanaria berusaha memberi alasan.
"Aku tahu kau mau memberi seribu satu alasan lagi, ini salah satu ritual makan siang kita, aku sudah tidak menerima penolakan apapun lagi,"
"Bagaimana kalau ada orang yang tiba-tiba masuk dan melihat kita seperri ini." ucap Hanaria menatap wajah Willy yang semakin mendekatkan wajahnya padanya.
"Itu salah mereka, kenapa masuk tanpa permisi keruanganku saat aku sedang melakukan ritual penyemaian benih," sahut Willy sesukanya.
"Berarti Daddy salah masuk keruangan ini? Karena ada yang mau menyemaikan benihnya disiang bolong dan di jam kerja kantor, begitu?" ucap Moranno menatap tajam wajah putranya.
Sontak Willy langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Hanaria. Sepasang suami isteri itu sama-sama kaget, karena tiba-tiba saja Moranno muncul didekat mereka.
"B-bagaimana Daddy bisa tiba-tiba masuk?" tanya Willy merasa bingung, sebab ia tidak mendengar ada suara ketukan pintu, apalagi bunyi derit pintu yang terbuka.
"Kau pikir Daddy seperti hantu, yang bisa menembus dinding? Hmm?" omel Moranno pada putranya.
__ADS_1
"Lain kali jangan lupa menutup pintu, supaya Daddy tidak melihat apa yang kalian lakukan," imbuhnya lagi sambil ikut duduk disofa, berhadapan dengan anak dan menantunya.
Wajah Hanaria bersemu merah menahan malu, karena dirinya-lah yang lupa menutup pintu, sementara Willy bersikap biasa saja, karena sudah terbiasa pada sikap Daddy-nya yang seperti itu.