
Hanaria mengerutkan dahinya begitu mendengar penuturan Rudolf.Bong, ia memandang ke arah asisten David yang juga tengah menatap kearahnya.
"Asisten David, periksa status saham milik tuan Rudolf Bong, juga nyonya Miasa Laura sekarang."
"Baik Nona." Dengan cekatan, asisten David membuka file dari laptopnya.
"Saham milik tuan Rudolf Bong dan nyonya Miasa Laura sudah terjual dan terbayar lunas oleh perusahaan Mega Otomotif, tepat disaat mereka meminta pembayaran cash ketika itu Nona," terang asisten David menatap layar laptop dihadapannya.
Hanaria kembali mengarahkan pandangannya pada Rudolf Bong juga Miasa Laura yang duduk dihadapannya. "Sudah terjual, dan telah dibayar lunas oleh Mega Otomotif. Tuan dan Nyonya sudah mendengarnya sendiri kan?"
"Itu benar Nona. Tapi kami berfikir akan mengembalikan semua uang yang kami terima atas penjualan saham-saham kami itu. Dan bila perlu, kami sanggup membeli kembali saham-saham yang telah kami jual itu dengan harga tinggi, sesuai harga yang ditetapkan pihak Mega Otomotif." ujar pria itu, sementara Miasa Laura, wanita itu hanya duduk disebelahnya dengan sikap tenangnya.
Hanaria kembali menoleh pada asistennya untuk sesaat, sementara asisten David yang dipandang hanya memaku diri didepan laptopnya, laki-laki itu hanya merasa aneh pada sikap plin-plan kedua manusia yang pernah menjadi orang penting di perusahaan tempatnya berkerja itu.
"Nona Hana, apa boleh saya ikut berbicara?" Miasa Laura menatap Hanaria. Sejujurnya ia benci harus meminta izin berbicara pada perempuan muda yang memang harus ia akui keberadaannya itu.
Mendengar suara Miasa Laura, Hanaria mengalihkan eksistensinya pada wanita berpenampilan elegan yang masih terlihat sisa-sisa kecantikan masa mudanya itu.
"Silahkan," sahut Hanaria datar.
"Saya dengar, ada empat perusahaan tambang nyonya Mingguana yang beralih ke atas nama Nona, kini sedang dalam masalah yang begitu konflik."
"Dengan demikian, tentu Nona sangat membutuhkan finansial yang menunjang. Tapi maaf, saya berbicara seperti ini bukan bermaksud meremehkan finansial Nona Hana. Karena saya sudah melihat power finansial keluarga Agatsa, dalam sekejap mampu membeli semua saham milik Mega Otomotif." ucap wanita itu dengan mulut manisnya.
__ADS_1
"Namun saya juga tahu, untuk empat perusahaan tambang itu, tentu tidak sedikit dana yang diperlukan. Kami siap membantu, itulah tujuannya kami membeli kembali saham-saham kami di perusahaan Mega Otomotif, dan kami menyanggupi bila Nona menjualnya pada kami dengan harga tinggi." imbuh Miasa lagi dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
Mendengarnya, tidak membuat Hanaria kaget. Kekomplikan masalah dalam perusahaan tambang yang tengah dipegangnya memang sudah menjadi konsumi publik di media, bahkan pihak media sengaja memberi opini-opini yang tidak lazim berkembang di masyarakat sehingga semakin memperkeruh masalah yang sudah ada.
"Terima kasih." Hanaria tersenyum tipis diujung bibirnya. Melihatnya, Miasa Laura dan Rudolf Bong merasa itu pertanda baik. Ada angin surga yang akan menghantarkan mereka melenggang kembali ke perusahaan Mega Otomotif.
"Tapi maaf, saya tidak sedang membutuhkan dukungan finansial atau apapun itu, terutama dari anda nyonya Miasa Laura, juga dari anda tuan Rudolf Bong," putus Hanaria.
Seketika wajah Miasa Laura memerah, tidak terima bila penawarannya ditolak begitu saja, namun ia tetap berusaha menahan diri. Keinginannya menjadi bagian dari Mega Otomotif kembali, mengalahkan segala rasa yang saat ini ia rasakan.
Menarik semua saham miliknya dan saham orang-orangnya, hanya siasatnya saja ketika itu. Namun sayangnya, ia terjebak sendiri didalamnya, sehingga sekarang ia berupaya untuk meraihnya kembali sekalipun harus mempermalukan diri sendiri didepan orang yang pernah ia remehkan.
"Mungkin Nona masih mengingat apa yang pernah saya dan tuan Bong lakukan beberpa waktu lalu, saya mohon maaf," ucapnya tidak tulus.
"Itu benar," sahut Rudolf Bong memberi dukungan.
"Sekali lagi terima kasih," Kali ini Hanaria tidak lagi bermanis wajah, ia lelah melihat kepalsuan diwajah kedua tamunya. Dirinya tidak pernah lupa bagaimana sikap dan perlakuan mereka padanya ketika itu.
"Saya cukup kaget. Nyonya Miasa Laura yang terhormat ternyata sanggup meminta maaf pada pemimpin perusahaan bau kencur seperti saya."
"Hmf," perkataan Hanaria sontak membuat Miasa Laura menahan nafasnya sesaat, ucapan itu memang pernah ia lontarkan secara kejam dimasa-masa sulit Hanaria membangun dan mengurai kekusutan Mega Otomotif kala itu.
"Dan saya rasa kita tidak bisa menjalin kerjasama lagi dalam bentuk apapun." tegas Hanaria lalu gegas berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Nona Hana! Kita belum selesai. Saya tahu, Nona Hana adalah orang yang selalu memikirkan orang lain, dan tidak rela melihat orang yang kesusahan, apalagi menderita," Miasa Laura ikut berdiri, berusaha tetap menahan Hanaria disana.
"Bila ke empat perusahaan itu gulung tikar! Tentu ada banyak kepala keluarga yang akan kehilangan pekerjaan. Dan sudah bisa dipastikan, akan ada banyak keluarga yang menderita kelaparan!" imbuhnya berapi-api.
Mendengar perkataan Miasa Laura, Hanaria menahan langkahnya, seketika ia tersenyum geli. "Nyonya Miasa Laura sepertinya sangat perduli pada seluruh pegawai saya. Bagaimana kalau saya buat penawaran, Nyonya saja yang membeli perusahaan-perusahaan itu dan mengelolanya supaya tidak bangkrut." tantangnya.
"B-bukan begitu maksud saya Nona Hana," wanita paruh baya itu tergagap, merasa salah bicara.
"Jadi Nyonya tidak perlu lagi membeli kembali saham yang telah Anda jual di Mega Otomotif, Nyonya. Dan satu lagi, saya memang perduli pada orang yang mengalami kesusahan dan membutuhkan bantuan saya Nyonya, tapi bukan tugas saya menjaga semua orang." datarnya.
" Asisten David tunjukan pintu keluar pada nyonya Miasa Laura dan tuan Rudolf Bong. Bila mereka berminat pada penawaran saya untuk membeli perusahaan-perusahaan tambang itu, siapkan saja semua dokumennya," setelah berkata demikian Hanaria beranjak dari kursi tamu, kembali ke meja kerjanya.
Hiruk pikuk drama Miasa Laura dan Rudolf Bong tidak sedikitpun Hanaria hiraukan lagi, sepenuhnya ia menyerahkannya pada asisten David yang mengurusnya, ia terlalu sibuk bergulat dengan berkas yang menumpuk diatas mejanya.
"Maaf Tuan dan Nyonya, saya terpaksa memanggil security untuk membawa Anda berdua keluar dari sini."
"Asisten David! Kau tidak bisa melakukan ini pada kami!" marah Miasa Laura, saat seorang security menyeret tangannya dengan kasar keluar dari ruangan Hanaria.
"Kami bukan penjahat! Sehingga harus diperlakukan seperti ini!" teriak Rudolf Bong juga marah.
Asisten David tidak berkata apapun, ia hanya melihat keduanya yang terus meronta dibawa menuju lift lalu menghilang didalam bilik besi yang menutup perlahan.
Hingga kini, dirinya masih tidak mengerti, mengapa dua manusia itu sangat ingin kembali ke Mega Otomitif, padahal setahunya, keduanyalah yang paling bersikeras untuk menarik semua dana milik mereka dari perusahaan Otomotif milik Hanaria.
__ADS_1
Bersambung...👉