HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 121 Pembahasan Berat


__ADS_3

"Menikah? Bagaimana bisa tuan? Bukankah kedua orang tua saya belum tahu? Dan juga persyaratan yang saya ajukan juga belum ada satupun dipenuhi oleh tuan muda tuan." Ucap Hanaria bingung. Ini tidak bisa dibiarkan fikirnya.


"Semua syarat yang nona Hana ajukan itu, kami siap memenuhinya. Itu sebabnya, putra saya Willy sudah datang kepada kedua orang tua nona didusun, sudah dua minggu ini dia berada disana, untuk mempersiapkan segala sesuatunya mengenai pernikahan kalian, sesuai adat istiadat yang ada didusun anda nona, seperti yang anda tulis pada point 3 dan 4." Jelas Moranno.


"Tuan muda Willy berada didusun saya? Bukankah menurut tuan Doffy, bahwa tuan muda Willy sedang ditugaskan keluar kota mengurus beberapa proyek yang sedang berjalan?" Ucap Hanaria dengan wajah terkejut.


"Lagi pula, kenapa kedua orang tua saya tidak mengatakan sesuatu apapun, kalau tuan muda bertemu dengan mereka? Padahal kami selalu saling bertukar kabar lewat telepon dalam dua hari sekali." Ucap Hanaria masih dalam keterkejutannya.


"Mungkin setelah ini, nona Hana bisa menelpon kedua orang tua nona untuk memastikan perkataan saya ini." Ucap Moranno memberi ide.


"Sebenarnya saya ingin Willy sendiri yang memenuhi semua persyaratan nona Hana itu, terutama point 1 dan point 2, sesuai permintaan nona Hana mengharuskan Willy yang memenuhinya sendiri."


"Namun mengingat pengajuan surat pengunduran diri nona Hana dari perusahaan Agatsa Properti Group ini yang tinggal menghitung hari, saya harus membantu putra saya itu."


"Tidak mungkin Willy bisa memenuhinya seorang diri dalan waktu singkat, mengingat ia baru saja berkerja di perusahaan ini, satu tahun pun belum genap."


"Nona Hana memang adalah seseorang yang pandai. Tapi tidak mudah menjadi pegawai dari nyonya Mingguana. Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada nona Hana sebelum pernikahan terjadi, bila harus menunggu kemampuan Willy seorang diri."


"Saya selalu berusaha menjaga nama baik keluarga besar kami ini agar tetap selalu terjaga dengan baik. Dan nona Hana akan masuk menjadi salah satu anggota keluarga kami. Dan cara terbaik untuk melindungi nona Hana dari rencana kecurangan nyonya Mingguana adalah menikah secepatnya dengan Willy, agar dia bisa melindungi nona Hana dengan mudah karena sudah menjadi isterinya."


"Karena saya merasa, nyonya Mingguana mau memanfaatkan nona Hana."


"Mungkin nona merasa ini seperti memaksa. Hanya jalan ini yang bisa menjadi pilihan. Saya tidak mungkin membiarkan nona Hana yang akan menjadi menantu saya di curangi oleh nyonya Mingguana demi kepentingannya."


"Besok nona Hana akan menghadiri undangan tender di Hotel Mega Surya sebagai presentator dari perusahaan kita. Lusa, kita akan sama - sama berangkat kedusun nona Hana." Ucap Moranno.


"Asisten Rudi..... Bawa kemari jadwal acara yang sudah kau persiapkan tadi." Panggil Moranno pada asisten pribadinya. Asisten Rudi segera membawa selembar kertas ditangannya mendekat pada Moranno.


"Berikan pada nona Hana......" Perintah Moranno.


"Ini nona Hana......" Asisten Rudi segera memberikan kertas yang ia bawa dan memberikannya pada Hanaria.


Gadis itu menerimanya , lalu membacanya. Tangannya langsung gemetar setelah membaca semua jadwal yang telah tersusun rapi dilembaran yang masih dipegangnya.


"Ini...... sungguhan tuan??" Tanya Hanaria tidak percaya.


"Iya..... Apakah nona pernah melihat saya bercanda?" Ucap Moranno dengan wajah datarnya.


"Tapi..... Saya......." Hanaria merasa begitu gugup.


""Siap tidak siap..... Nona Hana harus siap." Potong Moranno cepat.


Hanaria terdiam, ia nerasa bingung harus berbuat apa. "Kenapa bisa jadi begini?" Batin Hanaria. Ia melirik sekilas wajah Moranno yang menatap wajahnya lekat, seperti sedang memperhatikan kegugupan yang tengah ia alami.


"Apa nona Hana fikir kami akan mundur teratur, saat nona Hana mengajukan persyaratan itu beberapa minggu lalu?" Ucap Moranno yang seolah mengetahui isi pikiran Hanaria.


"I.... Iya tuan..... Permintaan itu terlalu banyak......" Tidak terasa mulut Hanaria mengakui, akan persyaratan yang sengaja ia buat tak masuk akal itu supaya Willy dan kedua orang tuanya itu mengurungkan niat mereka tentang pernikahan itu.


Hanaria semakin gugup, wajahnya terlihat pucat, kepalanya tiba - tiba terasa pusing. Ia sama sekali tidak menyangka masalah pernikahan itu masih berlanjut, ia fikir sudah selesai dan tidak akan pernah dibahas lagi.

__ADS_1


"Anda baik - baik saja nona Hana?" Tanya Moranno, saat melihat wajah Hanaria berubah pucat. Ia menatap asisten Rudi yang langsung menoleh kearahnya saat mendengar perkataan majikannya itu.


"Nona Hana..... Apakah anda baik - baik saja?" Ulang Moranno lagi, saat Hanaria tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia tiba - tiba merasa khawatir melihat Hanaria yang mematung dengan tatapan mata menerawang.


"Saya...... Saya tidak apa - apa tuan. Saya hanya lapar, tidak bisa terlambat makan?" Sahut Hanaria akhirnya memberi alasan. Ia merasa sudah tidak sanggup berlama - lama diruangan itu.


Moranno melihat arlojinya," Maafkan saya nona, saya tidak menyadari kalau sudah waktunya makan siang." Ucapnya merasa tak enak.


"Asisten Rudi, tolong pesankan makan siang untuk nona Hana untuk dibawa kemari sekarang." Perintah Moranno.


"Baik tuan....." Sahut asisten Rudi, dan segera meraih gagang telepon diatas mejanya.


"Tidak perlu tuan...... Saya kekantin saja, saya sudah biasa makan disana." Tolak Hanaria sambil segera berdiri, padahal pembicaraan mereka belum ditutup Moranno.


"Baiklah...... Apakah kita akan melanjutkan pembicaraan ini setelah makan siang nanti nona Hana?" Tanya Moranno lagi.


"Saya rasa cukup tuan, semuanya sudah jelas." Sahut Hanaria asal, ia sudah tidak bisa berfikir jernih, pembahasan itu terlalu berat untuk otaknya saat itu. Sedetikpun ia sudah tidak sanggup berada diruang kerja Moranno yang serasa memberi banyak tekanan padanya.


"Bagus......! Itu artinya semua akan berjalan sesuai jadwal yang ada ditanganmu nona Hana....." Ucap Moranno tersenyum tipis. Hanaria hanya mengangguk, ia sudah tidak bisa fokus pada perkataan Moranno, sang majikannya itu.


"Saya boleh keluar sekarang tuan?" Tanya Hanaria yang sudah dalam posisi berdiri ditempatnya.


"Silahkan nona Hana...... Asisten Rudi, tolong antar nona Hana hingga tiba dikantin." Perintah Moranno pada asistennya.


"Tidak perlu tuan, saya bisa sendiri....." Ucap Hanaria menolak, sambil membungkuk hormat, lalu pergi.


Moranno merasa sedikit aneh melihat sikap Hanaria. Ia menatap wajah asistennya lalu beralih pada Hanaria yang melangkah tergesa - gesa keluar dari ruang kerjanya, dan menutup pintu dibelakangnya.


Ia mulai tersenyum sumringah, pasti sesuatu yang tidak baik telah terjadi, fikirnya. Ada kepuasan tersendiri saat melihat Hanaria yang kelihatannya menyimpan beban yang besar.


"Kau fikir mudah menjadi isteri tuan muda? Lalu masuk kedalam kehidupan keluarga Agatsa yang terhormat itu? Tidak nona Hanaria. Kau salah! Kau tidak pantas......!" Gumamnya, lalu tersenyum lebar dengan perasaan yang tiba - tiba bahagia, setelah dilihatnya Hanaria sudah masuk kedalam lift pegawai.


"Apa yang membuatmu tersenyum sendiri seperti itu sekretaris Morin?" Tegur asisten Rudi yang tiba - tiba berdiri disebelah meja wanita itu.


Sekretaris Morin terlihat sangat terkejut, dan senyumnya mendadak hilang. " Tidak ada asisten Rudi, maafkan saya, tidak menyadari kehadiran anda." Ucapnya.


"Tuan Moranno meminta anda keruangannya sekarang." Ucap asisten Rudi kemudian.


"Baik asisten Rudi....." Sahut sekretaris Morin sigap.


...***...


Bukannya menuju kantin, Hanaria malah kembali kelantai 6, ruang Divisi Arsitecture. Ruang kerja yang luas itu nampak sepi, karena semua pegawai yang ada didalamnya sedang pergi makan siang.


Hanaria segera menuju ruang kerja pribadinya. Tubuh, hati, jiwa, dan otaknya terasa begjtu lelah siang itu. Yang ingin dirinya lakukan saat ini adalah beristirahat saja di kamar dalam ruang kerjanya untuk menenangkan diri.


Edrine terkejut, saat Hanaria membuka pintu ruang kerjanya. "Kak Hana? Kakak tidak makan siang?" Tanya Edrine menghentikan pekerjaannya sejenak, melirik sebentar kearah Hanaria.


"Nona Edrine sendiri, kenapa tidak makan siang?" Ucap Hanaria balik bertanya.

__ADS_1


Sebentar lagi kak Hana, aku masih merampungkan pekerjaanku yang tinggal sedikit ini." Sahut Edrine sambil kembali menatap layar laptop dihadapannya.


Hanaria berlalu melewati meja kerja Edrine menuju kamar peristirahatannya. Ia membaringkan tubuhnya disana. Tubuhnya terasa begitu nyaman sesaat, setelah menyentuh pembaringan empuknya.


Pembicaraan dirinya dengan sang Dirut, diruang kerja majikannya itu, kembali terngiang - ngiang ditelinganya. Rasa gelisah kembali menghampirinya. Dirinya sungguh tidak menduga bila keluarga majikannya itu sangat serius dengan rencana pernikahan yang pernah mereka bicarakan bersamanya.


Kini, Hanaria tidak bisa menolak sedikitpun, tidak ada celah baginya untuk berusaha lari dari masalah itu, setelah Moranno mengungkapkan kebersediaan dari Willy dan pihak keluarganya untuk memenuhi semua persyaratan yang pernah dirinya ajukan 2 minggu lalu.


"Kak Hana sakit?" Tanya Edrine yang tiba - tiba muncul dikamarnya. Ia mendekati Hanaria, menyentuh dahi Hanaria dengan punggung tangannya.


"Sedikit hangat......." Lirih Edrine yang duduk ditepi ranjang, sambil menatap wajah Hanaria yang terlihat pucat.


"Kurang enak badan saja...... Setelah beristirahat sejenak, pasti akan baikan lagi." Sahut Hanaria dari pembaringannya.


"Kakak tadi sudah makan siang belum?" Tanya Edrine sambil membantu menyelimuti tubuh Hanaria.


"Belum, kak Hana lapar tapl tidak berselera." Ucap Hanaria menatap wajah Edrine.


"Tidak boleh begitu, nanti kak Hana sakit. Aku pesankan makan siang ya buat kak Hana? Kakak mau makan apa?" Tanya Edrine.


Hanaria berfikir sejenak, ia tidak boleh sakit, karena sore ini harus menjemput Firlita pulang dari rumah sakit.


"Apa saja, yang penting ikan......" Sahut Hanaria akhirnya sambil mengulas senyum tipisnya.


"Baiklah..... Aku tinggal dulu ya kak, kakak istirahat aja dulu. Nanti aku minta pelayan yang akan mengantarkan makan siang kak Hana kemari." Ucap Edrine sambil berdiri.


"Terima kasih nona Edrine..... Maaf, sudah merepotkan." Ucap Hanaria lagi.


"Sama - sama kak Hana, tidak perlu sungkan. ini hanya hal kecil yang kulakukan buat guruku yang sudah banyak mengajariku." celotehnya sambil tersenyum dan meninggalkan Hanaria seorang diri dikamarnya.


Sepeninggal Edrine, Hanaria tetap tidak bisa beristirahat. Hatinya tetap merasa gelisah, ia meraih ponselnya dan menelpon kedua orang tuanya.


Untuk beberapa detik berlalu, teleponnya tidak diangkat, ia mencobanya lagi hingga beberapa kali namun masih tidak diangkat.


"Ayah dan ibu pasti masih disawah." Gumamnya seorang diri. Hanaria menggeletakkan ponaelnya begitu saja disebelah ia berbaring.


Hanaria bangkit dari ranjangnya, saat terdengar suara ketukan pintu. Ia melangkah keluar kamar dan menuju pintu ruang kerjanya. Seorang pelayan kantin muncul didepan pintu saat Hanaria berhasil membuka pintu ruang kerjanya.


"Permisi bu...... Saya membawakan pesanan makan siang......" Ucap perempuan muda itu dengan senyum ramahnya.


"Berapa mba.......?" Tanya Hanaria sambil menerima beberapa kotak makanan dari sang pelayan itu.


"Sudah dibayar oleh nona Edrine bu....." Sahutnya sopan.


"Terima kasih kalau begitu mba....." Ucap Hanaria ikut tersenyum.


"Sama - sama bu...... Saya permisi dulu......" Pelayan itu segera pergi setelah melihat Hanaria menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Hanaria membawa beberapa kotak makanan ditangannya kesofa tamu dan membukanya disana. Sesuai yang ia minta, Edrine memesan ikan bakar, sup ikan dan tumisan sayuran.

__ADS_1


Ia mulai menyantap makan siangnya yang terasa hambar dilidahnya, apakah kurang garam atau memang karena lidahnya yang bermasalah? Entalhah, yang pasti, sepanjang ia menikmati makan siangnya, pikirannya terus memikirkan apa yang dikatakan Moranno padanya beberapa jam yang lalu.


...***...


__ADS_2